Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
ujian


__ADS_3

Ujian cinta mereka, juga ketulusan Vin masih berlanjut, orang tua Naera masih kekeh akan memisahkan mereka berdua, hari ini Vin akan menyusul istri dan anaknya ke Bandung, tidak peduli seperti apa respon orang tua Naera, Vin akan memperjuangkan kembali Restu mertuanya dan mendapatkan kembali istri dan anaknya.


"Vin... kamu yakin mau ke Bandung"


"iya, sayang"


"aku sudah berusaha membujuk ayah, Vin, tapi beliau tetap nggak ngasih restu" naera mendudukkan diri di meja riasnya


"begitu juga dengan ku, nae. aku akan berusaha buat dapatin kembali duniaku, anggap aja semua ini hukuman untuk ku, kerena sudah nyakitin kamu" Vin memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya


"kalo kamu gak berhasil?"


"aku tetap akan berusaha, sayang... aku akan lakukan semua agar kita bisa berkumpul lagi"


"viiin... aku kangen kamu"


Vin menyunggingkan senyum, ia tarik resleting tas yang akan ia bawa ke Bandung


"pengen di elus yaa, perut nya" naera Mengangguk seakan Vin Melihat anggukan nya,


"iyaa, bawaan hamil kayanya Vin, Sama waktu hamil kai dulu"


"Hem, bawaan hamil, yaaa"


"iyaa, anak kamu niyh"


"bilang ke anak aku yaa, tunggu papah nya datang, papahnya bakalan datang"


"Dede, dengerin tuh apa kata papah, di ingat Dee, kalo papah nggak datang, nggak usah di ajak main"


"Kayanya, mamahnya deh yang kangen, iya kan dek"


"mamahnya kangen juga, sedikit" Vin turun dengan menenteng tasnya, ia tertawa mendengar ucapan sang istri.


"naeraa, makan dulu nak"


"iyaa Bu"


"sayang, aku tutup telpon, ibu manggil buat sarapan"


"iya, sayang, makan yang banyak, aku juga udah mau jalan ini"


"kamu hati hati di jalan jangan ngebut"


"iyaa"


"daah"


....


Naera membantu ibunya menyajikan masakan yang sudah mereka masak bersama, berbagai macam masakan rumahan kesukaan naera tersaji di atas meja

__ADS_1


"hari ini Vin mau ke Bandung Bu, mungkin akan sampai malam"


tangan yang tadi ingin membuka lemari es terhenti, Farah berbalik menatap Putri nya


"Naera, ibu nggak salah dengar, Vin mau datang?"


"iyaa Bu, suami Vin hari ini ke Bandung


"kamu tau kan nak, Gimana ayah kamu, ayah pasti nggak suka"


"ibu percaya lah dengan Vin, Vin sudah berubah Bu, vin bersungguh sungguh, naera juga nggak bisa tanpa Vin, apalagi sekarang... naera sedang hamil anak ke dua kami Bu"


"kamu hamil" naera mengangguk sambil mengelus perutnya yang masih rata


"selama di Singapura kalian tinggal satu rumah"


"iyaa"


"apa kamu bilang naera,selama ini kamu masih berhubungan dengan pria itu, dan sekarang kamu hamil" ucapan lantang sang ayah mampu membuat Naera takut, naera memang tidak pernah memberitahu orang tuanya mengenai hubungan mereka, naera tau seberapa besar rasa kecewa orang tuanya pada Vin, apalagi sang ayah. setau orang tua Naera, anak dan cucunya memang sering di kunjungi Vin tapi tidak sampai tinggal di rumah yang sama lagi, apalagi sampai naera mengandung, mereka benar-benar tidak menyangka hubungan anak dan menantunya sudah kembali normal


"ayah gak salah dengar, naera"


"naera hamil, yah, sekarang sudah jalan 2 bulan"


terlihat jelas ke parustasi an dari Ali, niatnya ingin memisahkan keduanya,tapi dengan kehamilan naera, apa mungkin Ali Setega itu memisahkan mereka


"ayaah" dengan takut-takut naera mendekati Ali, menyentuh lengannya


"ayah, maafin Vin ya, yah, naera yakin Vin sudah berubah yah" Ali bungkam, sulit untuk memutuskan semuanya sekarang.


"Buk, ayah lapar "


"iya yah, nae panggil anak kamu nak"


"iyaa Bu"


"jadi gimana yah, naera mengandung, apa mungkin kita memisahkan mereka "


"nggak tau buk, ayah pusing, ayah hanya nggak mau anak satu satu yang kita beri kasih sayang di sakiti lagi Bu, bukan hanya Vin tapi kelurahan nya juga, ayah gak rela"


Farah mengusap punggung suaminya memberikan ketenangan, ia tau suaminya sekarang sedang tersulut emosinya.


"menurut ibu gimana"


"ibu juga sebenarnya gak mau mereka balik lagi yah, ibu yakin naera akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Vin, tapi melihat ketulusan anak itu, ibu jadi berpikir lain, di tambah kondisi Naera yang sekarang sedang mengandung "


"Anak itu mau ke Bandung ya buk"


"iya yah, paling malam ini Sampai nya"


"ayah mau lihat seberapa besar sayang Vin ke

__ADS_1


naera"


...


sebelum ke Bandung Vin memutuskan ke rumah orang tuanya dulu, mobil mewah miliknya kini terparkir di halaman rumah yang tak kalah mewah, kediaman areksa cukup sunyi, karena memang hanya di huni areksa dan keren saja, dan beberapa pekerja di sana.


"mamah mana"


"ada di kamar den"


"mamaah" teriak Vin mencari ibunya karena keren tidak ia temukan di dalam kamar


"mamaah"


"viin" mendengar namanya di panggil Vin menoleh


"mbak" Ersa berdiri dengan mata sembab


"mbak disini, terus ka jehan mana" Vin berjalan mendekati iparnya, penampilan ersa dengan mata sebab membuat nya penasaran


"ke kantor sama papah, mamah ada di kebun belakang"


"mbak habis nangis?" Ersa menggeleng, sudut bibirnya terangkat


"mbak ke atas dulu ya" ersa berlalu melewati Vin yang masih diam dengan rasa penasaran yang belum terjawab


"mbak habis nangis kan, Jangan bohong Mbak, aku bisa lihat mata bengkak Mbak " ersa tidak menghiraukan, ia terus melangkah dengan langkah lunglai, tidak bohong ada rasa iba melihat iparnya dengan kondisi seperti itu, apa karena ka Jen"


"pergilah Vin, temui mamah, mamah sudah kangen sama kamu" suara itu Hilang bersama si pemilik yang juga ikut menghilang di balik pintu kamar


"Vin" pikirannya tentang sang ipar buyar, setelah panggilan juga sentuhan lembut di pundaknya


"mamah" Vin langsung berhambur di pelukan keren


"papah mana mah"


"ke kantor sama Kaka kamu " Vin mengangguk, kedua tangan keren ia genggam dengan erat


"Kenapa nak?" Vin tidak bisa menyembunyikan kekwatiran, ketakutan mengenai rumah tangganya, Vin Hanya berusaha terlihat tenang di hadapan Naera, padahal ia takut, takut Ali sungguh akan memisahkan mereka


"mah, ayah Ali membawa naera dan kai ke Bandung, ayah nggak mau Vin balik lagi sama naera, hari ini Vin mau nyusul naera ke Bandung, Vin takut kehadiran Vin di tolak ayah naera, mah" Vin menunduk dalam


"mamah akan temani kamu ke Bandung nak, ini semua juga karena mamah, mamah akan berusaha membujuk Ali untuk memberikan kembali Restu nya" Vin menggeleng, ia tatap wajah keren dengan sendunya


"kenapa, nak"


"Vin gak mau mamah ikut kecewa, biar Vin aja yang mengahadapi ayah naera"


"tapi nak"


"jangan ya mah, Vin ke sini cuman mau ngasih tau mamah, biar mama doa'in Vin, agar semuanya di lancarkan " keren mengangguk, ia mengerti maksud sang anak,keren mengusap kepala anaknya, meski harus sedikit menjinjit karena tinggi tubuh Vin jauh di atas tubuhnya

__ADS_1


"mamah selalu mendoakan kebahagiaan Kalian nak, mamah tunggu kamu bawa pulang menantu mamah"


"iya mah, Vin janji akan bawa naera pulang"


__ADS_2