
Mamah, hi___hi__hidung mamah berdarah"
Dengan cepat tangan naera menutup bagian wajah dan hidung nya, berdiri meninggalkan kai yang ketakutan melihat darah yang keluar dari hidung mamahnya.
Sudah 3 hari naera merasa kurang sehat, badannya lemas , bohong jika dia bilang sehat dengan Vin.
Mungkin karena gagal ginjal yang dia derita, tubuhnya sudah tidak bisa lagi sesehat yang dulu, semakin hari semakin lemah, apa yang bisa naera lakukan selain menunggu ada donor ginjal yang cocok untuknya.
Naera bahkan sempat berpikir jika suatu hari dia pergi siyapa yang akan merawat putranya, siyapa yang akan membangun kan Vin dari tidurnya.
Siyapa yang akan mendongeng untuk kai, Vin tidak pandai mendongeng.
Siyapa yang akan menemukan dasi yang Vin letakkan sembarangan.
Siyapa yang akan menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya, apa Vin akan mencari pengganti naera, apa naera rela melihati orang orang yang ia kasihi hidup dengan orang lain, apa naera sanggup posisinya di gantikan.
Apa naera bisa melihat putranya digendong Wanita lain, apa naera sanggup Vin bertingkah manja dengan wanita lain.
Apa naera sanggup anaknya memanggil ibu selain untuknya
Apa naera sanggup Vin memberikan cinta untuk orang lain
Air mata naera kini jatuh lagi, mengingat betapa tidak beruntung nya dia, mengingat betapa menyedihkannya dia.
Naera menatap nanar wajahnya dari pantulan cermin kamar mandi, wajahnya begitu pucat andai tidak menggunakan pemerah bibir sudah kasti naera terlihat mengerikan.
Setiap malam Naera terus saja menangis , menangisi takdir hidupnya
Untuk sakit nya sekarang biarlah naera menahan sebisanya , naera harus tetap kuat demi kai, jika dia lemah siyapa yang akan menjaga putranya , naera juga tidak ingin merepotkan orangtuanya, jika kai di titipkan di sana atau mereka berdua menginap di rumah orangtuanya bisa bisa orangtuanya kwatir bukan main melihat keadaan naera.
Selesai membersihkan darah dari wajahnya, naera juga mengganti pakaian nya, sekarang naera harus mempersiapkan jawaban yang akan dia berikan pada kai. Jelas anaknya itu pasti bertanya banyak hal.
Belum semput kakinya melangkah keluar , kai datang dengan berderai air mata, tangannya terangkat minta digendong
"Mamah, hiiks"
"Kenapa menangis sayang nya mamah"
Kai mengeratkan pelukannya, tangisan nya semakin kencang , tapi suaranya sedikit tertahan karena kai menenggelamkan wajahnya di celuk leher naera
Naera Mengusap kepala kai menenangkan putranya
"Kenapa anak mamah"
"Ma... mamah sakit yaa" kai terbata
"Engga ko sayang mamah sehat"
"Tapi hidung mamah berdarah , itu pasti sakit, tangan kai juga pernah berdah, darahnya sedikit tapi sakit sekali, tadi hidung mamah banyak sekali darahnya pasti sakit sekali, hwaaaaa"
"Engga sayang,mamah ga sakit, itu cuman kaya di gigit semut , sama waktu kai tangan nya berdarah, tidak terlalu sakit kan"
Kai mengangkat wajahnya menatap naera dengan derai air mata yang terus mengalir
"Apa sekarang masih sakit"
__ADS_1
Naera menggeleng,memeluk erat tubuh kai.
"Kai, maungga janji sama mamah"
"Iya, kai mau "
"Jangan bilang papah yaa, kalo hidung mamah berdarah, kalo kai bilang ke papah, hidung mamah pasti berdarah lagi, gimana, janji"
"Iya mah kai janji engga kasih tau papah kalo hidung mamah sakit"
"Anak mamah pintar, kita kekamar Yoo mamah bacain dongeng"
..........
Terhitung sudah dua bulan lamanya Vin di luar kota, kapan Vin kembali tidak ada yang tau , terakhir Vin menelpon beberapa hari yang lalu tapi Vin sendiri tidak bisa memastikan kapan dia akan pulang.
Sekarang naera sedang berada di supermarket untuk belanja bulanan.
Banyak keperluan dapur yang mulai habis, sekalian jalan jalan sambil menunggu jam pulang sekolah kai
Naera paling suka berbelanja seperti ini biyasalah seorang ibu rumah tangga.
Dari kecap, sambal,bumbu bumbu cepat saji, buah buahan, sayur, ikan, telur, ayam, daging, semuanya sudah memenuhi troli belanjaan naera
Sekarang naera menuju rak perlengkapan mandi,memilih sabun yang cocok untuk kai.
Samar samar naera mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
"Naera"
Bukan sabar lagi , naera jelas mendengar namanya di panggil , naera menoleh tepat di samping kirinya. Mata naera membulat sempurna, senyumnya mengembang
"Kamu apa kabar nae,ga nyangka bisa ketemu di sini"
"Baik, Kaka sendiri bagaimana"
"Aku juga baik"
"Kaka di Jakarta, bukannya di Korea yah"
"Iya aku sekarang di Jakarta, ibuku meminta untuk menetap di Jakarta, terpaksa aku tidak memperpanjang kontrak ku di sana"
"Wah wah, Tante apa kabar"
"Baik, orang tua kamu bagaimana"
"Baik , ka, sekarang Kaka dinas di mana"
"Rumas sakit _______"
"Waww, itu rumah sakit terbaik di Indonesia, Kaka hebat"
"Kamu kebiasaan deh dari dulu ga pernah berubah sukanya memuji berlebihan"
"Laah, emang benar ko"
__ADS_1
"Maaf ya nae waktu kamu nikah aku ga bisa datang"
"Iya ka, aku paham ko Kaka kan super sibuk"
Naera terkekeh, dia memang suka sekali menggoda Kaka tingkat nya itu
Naera dan Yuga dulunya satu sekolah saat SMA , saat itu Yuga menjadi ketua OSIS di sekolah sedangkan naera juga tergabung dalam organisasi.
Sejak saat itulah keduanya menjadi akrab. Bahkan mereka masuk ke universitas yang sama cuman beda fakultas saja.
Setelah lulus Yuga mencoba peruntungan nya di Korea dan berhasil bekerja menjadi dokter di sana. Tapi karena ibunya ingin dia kembali ke tanah air Yuga tidak memperpanjang kontrak nya di sana
Yuga pria tampan dengan senyum semanis gula, Yuga waktu sekolah murid yang cerdas, aktif di organisasi bahkan menjadi ketua OSIS, banyak murid yang tergila-gila depan nya bahkan mereka cemburu dengan naera yang bisa dekat dengan Yuga
"Kamu sendiri?" Yuga menatap di sekitar naera , mencari seseorang yang datang dengan nya
"Aku sendiri ka, habis dari sini mau jemput anak aku di sekolah"
"Anak kamu umur berapa nae, udah sekolah aja tuh"
"4 tahun ka Yuga, dia masuk ketaman bermain"
"Ohhh" yuga ber oh ria dia paham maksut naera
"Nae, aku jalan dulu yaa, mamah ku sudah nunggu di rumah, kapan kapan kita ketemu lagi "
"Iya ka , hati hati"
...........
Selesai berbelanja naera langsung ke sekolah kai, seperti biasa kai sudah menunggu dengan satu guru di depan gerbang sekolah nya.
Naera turun menjemput kai, bertema kasih dengan guru yang setia menemani kai menunggu dirinya datang
Tidak langsung pulang naera mengajak kai ketoko mainan dulu, naera bukan tipe Orang tua yang membatasi anak nya untuk membeli mainan,apapun itu, selagi tidak salah naera akan berikan termasuk membeli mainan baru , Vin selaku ayahnya juga tidak pernah melarang naera memanjakan anaknya dengan membeli mainan. Tapi beda cerita kalo soal makan Vin akan sangat ketat kalo sudah membahas gizi untuk anaknya.
"Mah ini boleh"
Kai menujuk satu mainan robot berbentuk kotak warna hijau. Robot dengan ukuran mini tapi terlihat lucu jika sudah berada dalam genggaman tangan mungil kai
"Iyaa sayang, masih ada kalo sudah puas kita pulang yaah"
"Engga mah ini aja"
Kai mengambil robot satu robot yang tersusun rapi dengan robot lainnya.
"Kai senang"
"Iya mah" kai mengangguk antusias , membuka kotak robot yang ia beli tadi"
Naera langsung pulang setelah dari toko mainan tadi.
Di samping naera , kai sibuk dengan mainan nya, naera tersenyum hangat melihat putra semata wayangnya itu.
Ada rasa sedih yang tiba tiba muncul di hati naera, perasaan sedih jika suatu hari naera sudah tidak bisa lagi melihat senyum itu, perasaan sedih jika suatu hari nanti naera sudah tidak bisa lagi mengajak kai ke toko mainan, menjemput kai dari sekolah
__ADS_1
Naera mati Matian menahan agar tetes air mata yang sudah ada di ujung tidak jatuh.
Sebut saja naera lebay, mengkwatirkan hal yang tidak segaris, tapi di sini naera yang merasakan, pura pura kuat untuk menutupi sakitnya.