Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
Amarah


__ADS_3

...Lantas dengan cara apa harus menjelaskan jika hanya mempercayai apa yang terlihat...


...Bukan sekedar tentang rasa, tapi semuanya bermuara karena saling percaya. Jika ada yang mencoba menggoyahkan satu tiang kepercayaan bagaimana dengan kepercayaan yang lain...


...Apa kah akan ikut runtuh dengan kepercayaan yang sudah dinodai...


...Bukan sekedar tentang rasa ingin memiliki yang paling penting rasa ingin saling menjaga satu sama lain....


...Semua berawal dari kesucian lantas atas dasar apa harus ternodai dengan rasa pura pura....


...Sakit jangan di tanya, tentu sakit...


...Rusak jangan di tanya semua rusak hanya karena ikatan lama...


...Melepas jelas susah...


...Untuk Bertahan juga terlalu rumit...


............


Naera kembali ke rumah sakit berjalan terburu-buru agar cepat sampai di ruangan kai


Hal yang pertama kali ia lihat suasana kamar kai yang ramai. Ada mertua juga suaminya


Semua orang yang ada di dalam ruangan menatap Naera yang baru masuk dengan tatapan seakan Naera seorang buronan


Kenapa sekarang Naera merasa takut hanya sekedar untuk mendekat, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun, tapi dia jelas tau mereka yang ada di dalam menganggap nya sudah melakukan dosa besar termasuk Vin


"Dari mana saja kamu" tanya Vin pada Naera yang sudah berdiri di sampingnya dengan tangan masih memegang tas juga kotak bubur kai


"Dari rumah, kai mau makan bub......"


Ucapan Naera lagi lagi di potong


"Dan baru pulang sekarang, kamu tau seberapa lama anak aku kamu tinggal sendiri"


"Maaf Vin, aku tadi ketiduran"


"Astagaa naera" Vin terlihat begitu prustasi dengan jawaban Naera, Vin memijat kepalanya yang mungkin terasa pening


"Apa kamu tidak bisa menahan sedikit saja rasa ngantuk mu itu"


"aku ga habis pikir sama apa yang ada di kepala kamu nae, kamu bisa bisanya tidur, ninggalin anak kamu di rumah sakit sendiri, ketakutan, ya ampun nae"


"Ibu macam apa kamu , anak di tinggal tidur"


Kali ini ibunya Vin yang bersuara, Naera juga tidak bisa melawan, dia tau dia salah tapi semuanya bukan keinginan Naera, ingin jujur apa mereka percaya.


Hanya diam yang bisa Naera lakukan mendengar semuanya caci maki yang di lontarkan untuknya.


"Kamu memang tidak becus mengurusi anak dan cucu saya"


"Mending kamu pergi ga usah datang sekalin, saya muak melihat wajah so lugu kamu"


Naera mati Matian menahan sesak di dalam hatinya, apa pantas dia di usir dari ruangan putranya sendiri. Apa memang semua karena kesalahannya.


Apa tidak ada pihak yang salah selain dia.


"Maaf, mah" ucap Naera


"Untung ada dokter Clara yang mendengar tangisan kai"

__ADS_1


"Andai terjadi sesuatu pada cucu saya , saya tidak segan menuntut mu"


Iya Naera melupakan satu sosok yang berdiri tepat di sebelah kiri suaminya, sosok dokter cantik, penuh wibawa yang sejak tadi juga ikut menyaksikan drama terbaru keluarganya.


Kenapa si dokter tidak keluar, bukannya lancang jika menguping pembicaraan keluarga orang lain


Naera melirik ke arah si dokter.


"Vin mamah sama papah pulang dulu nanti kami kesini lagi, jujur Vin mamah muak melihat wajah wanita itu"


Ibunya Vin menunjuk tepat di hadapan Naera, beranjak dari sana yang sebelumnya tersenyum hangat pada sosok dokter Clara . Senyum yang belum pernah sekalipun ia berikan untuk Naera menantinya, senyum yang menggores luka di hati naera.


Naera meletakkan tas kai di atas nakas, mengecek suhu tubuh anaknya.


Clara juga pamit keluar setelah orang tua Vin pulang


Sekarang Tinggal lah mereka bertiga


"Vin , kamu sudah makan" tanya Naera lembut tersirat rasa takut dari setiap pertanyaan nya


Sedangkan yang di tanya hanya diam


"Vin"


"Apaa, aku lelah bisa kah kamu diam" sarkas Vin berhasil membuat air mata Naera jatuh tanpa seijin nya


Bentakan Vin benar benar melukai perasaan Nya


"Nae, apa yang kamu pikirkan, bisa bisanya kamu tidur dengan lelap di rumah, sedang anak kamu terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit


"Maaf Vin" suaranya bergetar hanya kata maaf yang mampu ia lakukan, dia memang salah , Naera mengakui itu. Memang pantas dia di salahkan.


"Coba aja Clara , tidak mendengar teriakkan kai , apa yang terjadi dengan nya aku benar benar tidak bisa membayangkan nya Nae"


"Maafin mamah sayang"


Di ciumannya tangan kecil kai, yang ada di genggaman nya


"Aku harap kamu bisa sadar kesalahan yang kamu lakukan"


Vin yang tadi duduk di kursi memilih keluar meninggalkan Naera.


Apa Vin tidak sadar dia juga harusnya di salah kan , kemana saja dia saat Naera sangat membutuhkan nya, andai Vin ada saat kai meminta di buatkan bubur sudah pasti kan Naera tidak harus pulang.


Kenapa hanya Naera yang di salahkan.


"Mamah jangan nangis" suara kai menyadarkan Naera dari lamunannya


"Anak mamah sudah bangun"


"Mamah jangan nangis, kai sedih kalo liat mamah nangis" anak pintar itu mengerti perasaan ibunya.


Naera memaksa senyumannya mengusah kasar air mata menggunakan punggung tangan nya


"Iyaa, mamah ga nangis"


"Maafin mamah ya, sudah tinggalin kai,kai mau makan bubur mamah sudah buatin bubur terenak kesukaan kai"


Kai menganguk antusias


"Mah, mamah ga makan"

__ADS_1


"Engga, kai aja yang makan dulu"


"Kai suka"


"Iya kai suka"


"Mah mau nonton"


Untungnya Naera tadi juga membawa tablet kai saat pulang


Naera kembali menyuapi kai, walaupun tidak habis Naera bersukur anaknya itu mau makan.


...........


Vin yang sedang duduk sendiri menunggu pesanan nya datang di hampir Clara , Clara ikut duduk di samping Vin bukan hanya duduk, Clara bahkan menggandeng lengan Vin dan menyandarkan kepalanya di bahu Vin


"Clara, ada apa dengan mu, lepas"


"Apa an sih Vin, jangan seperti orang yang baru saling mengenal"


"Tapi sekarang berbeda,aku sudah menikah"


Vin dengan paksa melepas tangan Clara dari lengannya.


"Ya, menikah dengan wanita yang tidak becus menjaga anaknya"


"Kamu tidak berhak menilai Naera seperti itu"


"Vin kita bisa kembali seperti dulu"


"Kembali" Vin tertawa remeh, menertawakan ucapan Clara lebih tepatnya


"Iya, kita bisa hidup bahagia"


"Maaf tapi aku sudah jauh lebih bahagia dengan istri dan anak ku"


"Vin maaf"


"Untuk"


"Karena aku meninggalkan kamu"


"Tidak masalah aku sudah mendapatkan ganti yang jauh lebih baik"


"Apa tidak ada tempat lagi untuku di hatimu Vin"


Vin diam, dia sendiri bingung dengan pertanyaan Clara, apa mungkin vin masih menyimpan rasa pada masa lalunya.


Bahkan saat pertama kali bertemu, terlihat jelas kebahagiaan di wajah Vin, air matanya bahagian bahkan bisa turun jika Vin tadi tidak menahannya mati Matian


Vin juga Tanpa ragu membalas dekapan Clara, memperlakukan Clara sama dengan dia memperlakukan Naera.


Bahkan Vin mengajak nya pergi , melupakan tujuan awalnya ingin bertemu sang putra yang terbaring lemas


Dan berakhir dengan kesadaran Vin kalo dia sudah melakukan kesalahan.


"Kita sudah bicarakan ini kan, apa kurang jelas untuk mu"


Clara berdecak kesal, pergi meninggalkan Vin yang juga sudah selesai dengan pesanan nya


"Ingat Vin aku akan merebut mu kembali" gumam. Clara sendirian

__ADS_1


........


__ADS_2