
Hari ke 2 di Lombok Vin sedang menikmati teh hangat di balkon kantor nya. Menatap langit yang begitu cerah sebelum memulai pekerjaan nya.
Vin merasakan tangan halus melingkar di lehernya, siyapa lagi kalo bukan Clara
"Clara lepas, apa yang kamu lakukan kalo orang liat apa kata mereka"
"Tenang aku sudah mengunci pintunya,toh kita sering melakukan ini dulu"
"Jangan membahas masalalu lagi"
"Kenapa Vin"
"Karena keadaan kita sekarang berbeda, aku sudah menikah,jadi lepaskan tanganmu ini"
Vin melepas paksa tangan Clara dari lehernya berjalan masuk kedalam ruangan nya meninggal kan Clara dengan wajah yang sudah memerah karena di acuhkan
Clara mencoba mengatur emosinya , ikut masuk dan duduk di samping Vin yang duduk dengan ponsel di tangannya.
Clara, menggandeng lengan kiri Vin tapi dengan cepat Vin melepaskannya
"Jaga batasan mu Clara"
Apa Clara ini tidak memiliki urat malu sedikitpun seberapa kerasnya Vin mengusirnya Clara masih saja bersikap seperti wanita gatal yang kurang belaian , menggelikan
Clara mengarahkan wajah Vin untuk menghadap padanya, wajah mereka benar benar dekat, di tambah Clara mulai mengikis lagi jarak yang tersisa,
Clara sedikit memiringkan kepalanya, menempel kan bibir nya dengan bibir Vin tidak ada penolakan, Vin hanya membolakan matanya dengan aksi Clara yang tanpa aba aba itu sedangkan Clara tersenyum
Clara memulai permainan nya entah apa yang merasuki Vin, dia malah terbuai dengan permainan Clara, mengambil alih permainan hingga akhirnya ia tersadar dengan apa yang ia lakukan dengan cepat Vin mendorong tubuh Clara menjauh dengan cukup kuat, sampai Clara meringis kesakitan karena punggungnya yang terbentur dengan lengan sofa
Vin keluar meninggalkan Clara sendiri di ruangan nya
........
Suara pintu ruangan Vin terbuka tanpa ada ketukan lebih dulu, bukan Clara tapi Rifqi sekertaris Vin yang datang dengan nafas yang baik turun, keringat terlihat jelas dari wajahnya.
"m ___ mbaa" dengan nafas yang belum normal Rifqi kesusahan menjelaskan apapun pada Vin
Vin menatap sekertaris nya itu bingung
"Mba, Clara di ata____atas atap"
"Clara di atas atap?"
"Iyaa"
Dengan cepat Vin berlari ke atas atap kantor nya, sudah paham maksut dari Rifqi.
Clara takut dengan ketinggian, Vin tau betul itu, jadi apa yang di lakukan Clara di atas atap jelas bukan ingin duduk santai
"Clara, turun"
Teriak Vin yang melihat Clara sudah duduk di pinggiran bangunan
Tapi Clara enggan juga turun
"Clara itu bahaya, kamu bisa celaka"
"Apa peduli mu Vin, aku mati juga kamu tidak akan peduli"
__ADS_1
"Jangan mendekat Vin, kalo kamu tidak mau mendengar aku tinggal nama "
Langkah Vin terhenti mendengar ucapan Clara.
"Clara aku mohon turun itu bahaya"
"Aku lelah Vin, lelah meminta maaf padamu, lelah mencoba masuk lagi kedalam hatimu, lelah dengan rasa bersalah ini, lelah dengan semua penolakan mu Vin" Clara terisak di tengah ucapan nya
"Jangan seperti ini Clara, aku sudah memaafkan mu,jadi sekarang turun yaa"
Clara tertawa hambar mencoba membalik sedikit wajah nya untuk melihat Vin, salah sedikit Clara benar benar tinggal nama saja
Vin yang melihat itu benar benar ketakutan melihat nya.
"Kenapa Vin , kamu Takut aku jatuh, bukannya kamu senang yaa, dengan begini aku tidak bisa lagi mengganggu mu"
"Clara aku mohon turun "
Vin perlahan mendekat ,menyadari Vin yang mulai mendekat, dengan cepat Clara berdiri dari duduknya.
"Claraa" teriak Vin
Sekarang Clara sudah berdiri di atas membatas, menghadap Vin yang ada di bawah
"Kenapa Vin, kamu takut aku lompat dari sini"
"Apa yang kamu lakukan Clara, turun"
"Jangan pura pura bodoh Vin aku ingin kamu , aku ingin kamu ada untuk ku seperti dulu, aku ingin kamu selalu ada untuk ku, aku ingin setiap perhatian an mu, aku juga tersiksa Vin aku sakit saat aku harus pergi , yaaa aku salah meninggalkan mu begitu saja, aku minta maaf, kau tau Vin aku hampir gila setelah tau kau sudah memiliki putra yang pasti kau juga sudah menikah, aku berharap kau masih setia menunggu kepulangan ku dan kita menikah setelah nya, tapi apa , kenyataan pahit yang aku temui, orang yang aku cintai kini memiliki kebahagiaan nya sendiri"
"Aku mencoba melupakan mu Vin tapi sulit hanya ada kamu di sini Vin"
"Ok, kita jalani lagi tapi aku mohon turun dari sana" Vin tidak punya pilihan lagi , terpaksa kata kata terkutuk itu keluar begitu saja dari mulutnya
"Benarkah, kamu mau menerimaku lagi"
Vin mengangguk mengulurkan tangannya, meminta Clara untuk turun, saat Clara mencoba melangkah, kakinya keseimbangan nya , dengan cepat Vin menarik tangan nya hingga mereka sama sama terjatuh ke bawah, dengan posisi Clara di atas tubuh Vin
........
Vin memeluk erat tubuh Clara di dalam pelukannya , menangkan Clara yang syok berat karena kejadian tadi
"Jangan pernah melakukan nya lagi"
"Aku hampir gila saat kamu pergi, jangan pernah pergi lagi jangan menghilang lagi"
Vin tidak tau apa itu kata kata penenang atau memang tulus dari hatinya
"Vin, maaf kan aku"
"Iyaa, aku memaafkan kamu"
Flashback of
.........
"Enak ga"
"Emmm"
__ADS_1
"Rasanya masih sama kan"
"Iyaa"
"Aku kira kamu sudah punya makanan kesukaan lain ternyata masih sama"
Dreet
Dreet
Dreet
Dengan cepat Vin meraih ponselnya dari saku zasnya melihat Nama naera di dalam sana
Perasaan bersalah kini berkecamuk dalam hatinya, apa dia sudah menduakan naera dengan duduk makan bersama Clara, apa naera marah jika dia tau.
Bukan nya mengangkat , Vin hanya menatap ponselnya hingga panggilan ke 3 , Vin juga tidak berani mengangkat panggilan Naera.
Dia sadar sudah 1minggu kepergian nya dan belum juga menghubungi Naera.
"Vin"
"Hem yaa" Vin tersadar dari lamunannya
"Makan, nanti Dingin ga enak lagi loh"
..........
"Mah, telpon papah dong kai kangen"
"Nanti yaa sayang papah masih sibuk kayanya"
"Yaaah". Anak manis itu cemberut, tapi terlihat menggemaskan
"Nanti nanti terus, kai mau papah"
ini anak itu sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, kai benar benar merindukan Vin, sudah hampir 1 bulan Vin belum juga mengirimkan kabar, hanya sekertaris nya yang terus mengiringi naera kabar kalo vin baik baik saja.
"Iya, iyaaa kita telpon papah yaa, tapi janji kalo papah tidak angkat kai harus tidur yaa"
"Iyaa kai janji"
Bukan hanya tidak mengangkat panggilan nya sesekali panggilan Naera di tolak mentah mentah dari sebrang sana di putus secara sepihak.
Semoga kali ini vin mau meluangkan sedikit waktu berharga nya untuk kai,
1 panggilan belum ada respon, 2, 3,4, sampai panggilan ke 5 lagi lagi panggilan nya di tolak dari Vin.
Ada apa sebenarnya, jujur istri Mana yang bisa tenang tanpa mendapat kabar apapun dari suaminya.
Apa lagi sekarang, naera mencoba membujuk kai untuk bisa paham dan mengerti keadaan papah nya yang super sibuk, sudah banyak kebohongan yang naera lakukan agar kai percaya, segala jenis bujuk rayu sudah ia lakukan,
"Sayang, papah kayanya sudah Tidur deh, kai juga harus tidur yaa,besok Mamah telpon lagi papah nya "
Kai hanya mengangguk, kecewa jelas , kai benar benar merindukan Vin
"Mau di bacain dongeng apa anak mamah yang ganteng ini"
"Engga mau dibacain dongeng maunya di peluk mamah"
__ADS_1
"Anak mamah manja yaa ternyata"