
hari ini Vin harus kembali ke Indonesia, sebenarnya Vin enggan meninggalkan anak dan istrinya lagi, tapi pekerjaannya juga tidak bisa ia tinggalkan begitu saja, Vin sudah membujuk naera untuk pulang bersamanya tapi Naera menolak dengan alasan masih banyak berkas yang harus ia urus sebelum pindah, akhirnya Vin menyerah dan di sinilah mereka sekarang, naera dan kai mengantar keberangkatan Vin untuk pulang ke Indonesia .
Vin memeluk Naera yang sedang menggendong kai, cukup lama Vin melakukan itu, satu tangan nya ia letakkan di pinggang naera sedangkan satu tangannya lagi di belakang kepala Naera, Vin mengusap kepala sang istri.
Vin mengurai pelukannya, ia tatap dalam wajah putranya yang terlihat lebih kurus dari biasanya, Vin mencium pipi yang tidak lagi gembul itu, Vin mengambil alih kai dari gendongan Naera
"papah Pulang dulu yaa nak, nanti papah ke sini lagi jemput kai sama mamah"
"janji yaa pah"
"iyaa nak, kai sama mamah dulu yaa, nanti kita tinggal di Indonesia lagi bareng bareng".
"yeeee, kita tinggal di Indonesia lagi, kai senang, di sini kai cuman Sama Mamah, gak ada papah, gak asik, Kai gak Suka, di ejek terus sama teman teman kai di sekolah"
Vin tersenyum simpul, ia menatap Naera yang juga tersenyum menatap putra nya
Vin menurunkan kai , ia meraih tangan Naera untuk di genggam, Vin mengusap punggung tangan Naera menggunakan ibu jarinya, satu tangannya lagi mengusap lembut pipi kanan naera lembut
"aku pulang dulu yaa "
naera mengangguk
"iyaa, kamu hati hati yaa"
"iyaa, sayang, nanti aku jemput yaa"
"emm, nanti aku kabarin kalo semua nya sudah beres"
"satu lagi enggak usah balik ke perusahaan itu lagi "
"iyaaa"
"kalo dia masih deketin kamu, langsung kabarin aku"
"ya ampun viin, segitunya, daffa orang baik ko gak mungkin juga dia mau Berni jahat sama aku"
"yaa kita gak tau nae, dia kelihatan suka banget sama kamu "
"udaah ah, gak usah bahas daffa terus"
naera melingkar kan tangan nya di pinggang Vin, sedangkan Vin meletakkan dagunya di atas kepala Naera.
"kenapa gak pulang aja sih nae sama aku, urusan kamu di sini gampang, biar orang aku aja yang ngurus nya"
terdengar helaan nafas berat naera
__ADS_1
"berapa kali lagi sih aku harus bilang, ada beberapa yang harus aku urus dan gak bisa di wakili"
'iyaa, iyaa"
Naera mendongak sedangkan Vin menatap wajah sang istri yang lebih rendah darinya itu
"lucu banget sih " Vin mencium bibir ranum naera singkat"
"gombaal"
"cantik"
"emang, aah sudah ayhh, sana kamu harus berangkat "
"sebentar aku masih pengen peluk"
naera memutar matanya jengah ia , melepaskan pelukannya.
"kenapa di lepas pelukannya "
"aku engap di peluk terus viiin "
Vin mencium kening naera sebelum melepas pelukannya, sebentar lagi pesawat nya berangkat, hal terberat dalam hidup Vin yaitu kembali berpisah dengan anak dan istrinya.
"iyaaa, sayang, kamu juga, jaga diri jaga hati buat kami disini, awas aja bikin aku kecewa lagi, aku ketek kepala kamu"
Vin terkekeh kecil, di usap nya pucuk kepala Naera
"iyaa, sayang, iya aku gak akan ngulang kesalahan yang sama lagi, aku gak mau kehilangan kalian lagi, sudah cukup penantian aku, sudah cukup hukuman aku"
"aku pegang kata kata kamu , awas aja"
"iyaaa"
"ya udah Sana, pergi, udah mau berangkat, kamu mau ketinggalan pesawat"
Vin memajukan bibirnya, terlalu lucu di mata Naera, naera mengecup singkat bibir Vin yang maju
"geli viin, jangan kaya gitu"
"yaa udah aku berangkat dulu"
"dari tadi katanya mau berangkat, mau berangkat tapi gak jalan jalan"
"iyaa ini mau jalan" Vin kembali menggendong kai, setelah puas menciumi anaknya, Vin menyerahkan kai ke Gendongan naera.
__ADS_1
dengan berat hati vin melangkah meninggalkan keluarga nya, berulang kali Vin membalik tubuhnya untuk sekedar menatap istri dan anaknya, melambai pada mereka.
"Sanaa" naera menekan Kalimantan Nya meminta Vin untuk kembali berjalan, meski tidak di dengar jelas oleh vin, tapi Vin bisa mengerti maksud gerakan bibir naera, sampai akhirnya Vin tidak terlihat lagi.
melihat dari jauh di pesawat yang di tumpangi Vin pergi, naera juga pergi dari sana, ia mengendong kai untuk kembali ke rumah.
...
Vin berjalan lesu masuk ke rumah nya yang baru saja tiba. Vin tidak ada memberitahu siapapun termasuk orang tuanya mengenai kepulangan nya, keren yang baru saja turun dari atas terlihat bingung juga kaget melihat Vin berjalan lunglai.
"viin?"
Karen mempercepat langkahnya, ia ikut duduk di samping Vin yang baru saja mendudukkan bokongnya di sofa
"kamu pulang nak, terus di mana anak dan istri kamu, kenapa pulang sendiri?"
"naera gak mau pulang mah"
"kenapa nak"? jujur karen mulai takut sekarang, takut anaknya tidak mendapatkan kesempatan kedua dari Naera
"katanya nunggu keadaan KAI lebih baik dulu, masih ada beberapa berkas yang harus naera urus sebelum pulang"
"tapi nanti Naera dan kai akan pulang kan nak"
"iyaa mah, mereka akan pulang tapi nanti "
"syukurlah" karen merasa lega
"mamah kira naera gak mau pulang lagi sama kamu Vin, sana istirahat kamu kelihatan capek banget" Vin hanya mengangguk singkat.
sedangkan di tempat lain naera sedang menidurkan anaknya, matanya menatap kosong ke arah lain, sebenarnya tidak ada yang harus ia selesaikan di sini, hanya saja Naera kurang yakin untuk pulang sekarang dengan Vin, belum yakin dengan segala hal bersangkutan dengan Vin, baik restu dari orang tua Vin ataupun dari ketulusan Vin, entah lah naera juga tidak tau apa yang sebenarnya ia rasakan, hanya saja Naera masih butuh waktu untuk menerima semuanya, masalah vin-- naera sungguh sudah memaafkan nya, naera juga sudah menerimanya kembali, naera hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menyakinkan dirinya.
"Aku kan pulang Vin, tapi nanti" naera ikut menidurkan diri di samping anaknya, naera memeluk tubuh kecil itu.
besok harinya naera menyiapkan sarapan untuk anaknya, terpaksa aktivitas itu terhenti karena pintu rumahnya dari tadi di ketuk, entah siapa yang datang sepagi ini ke rumah nya
"d--dafa" pria itu tersenyum hangat melihat naera yang membuktikan pintu untuknya
"aku boleh masuk nae"
"i--iya silahkan daf" terpaksa naera mengijinkan,tidak mungkin rasanya naera meminta pria itu pergi dari rumah nya
"aku bawa sesuatu untu kai, di mana kai nae, di mana anak ku, aku merindukan anak ku"
naera menelan salivanya susah payah, apa yang sebenarnya pria ini inginkan, naera meremas kuat jemarinya, apa yang Vin katakan sungguh akan terjadi, naera menggeleng, ia yakin Dafa hanya datang menjenguk putranya, tapi karena ucapan Vin lah yang membuat Naera berpikir buruk tentang dafa
__ADS_1