
Naera yang sudah lelah mendengar obrolan menyakitkan di ruang keluarga Vin , masuk lebih dulu dengan alasan meniduri kai. naera sudah berkali-kali mencoba menyingkirkan semua yang terjadi selama ia berada di rumah mertuanya, tapi justru memorinya justru semakin berputar di kepala, naera mengusap air matanya yang kembali jatuh, naera memeluk erat tubuh mungil anaknya berharap bisa meluluhkan sedikit kegundahan dalam hatinya, tidak lama Naera mendengar bunyi pintu yang terbuka, kemudian di kunci, naera merasakan tangan kekar menindih perutnya
"Sudah tidur" bisik Vin di telinga Naera, naera hanya diam,
"Hemm"
"nae"
"apa sih Vin, aku ngantuk, tidurlah"
"kamu marah"
"iyaa aku marah, marah saat ini , rasanya aku ingin pergi jauh , pergi di mana tidak ada seorang pun yang mendengar teriakan ku Vin" naera bergumam dalam hatinya
Vin mengeratkan pelukannya
"Kamu ga macem macem di belakang ku kan Vin"
Vin menggeleng, naera bisa merasakannya
"jangan hiraukan perkataan mamah nae, percayalah dengan ku"
"aku sudah berusaha mempercayai kamu Vin, aku menutup mata dari semua hal ganjal di rumah tangga kita, aku hanya takut , jika fakta yang sesungguhnya kamu sembunyikan dengan rapat " lagi lagi semua itu hanya saling beradu di batinnya
"Naera"
"em"
"kamu ga anggap serius ucapan mamah kan"
"diam Vin, kai bisa bangun kalo kamu terus mengajak ku bicara"
"ga kita harus selesaiin ini , kita duduk di balkon
"aku ngantuk Vin"
"nae, aku mohon "
naera mengalah dan lebih dulu turun ke balkon kamar Vin
langit malam hari ini terlihat mendung, seakan langit pun bisa merasakan apa yang Naera rasakan, naera bertumpu di pagar balkon, menatap wajah Vin yang juga dengan posisi yang sama dengannya
tangan Naera terukur, mengusap wajah Vin, Vin bisa merasakan kehangatan dari usapan naera, Vin memejamkan matanya sesaat setelah Naera mengusap lembut wajahnya
"nae"
"emm"
"kamu percaya kan dengan ku"
naera hanya mengangguk, tidak memberikan respon lebih.
"masuk yu, sebentar lagi turun hujan"
__ADS_1
"Vin"
"iyaa kenapa nae"
naera mengepal jemarinya, menutup mata, kemudian menatap yakin pada Vin
"apa hubungan kamu dengan Clara sekedar sodara dari mamah"
Vin kesusahan menelan salivanya, pertanyaan naera mencekat tenggorokannya
"aku sudah bilang kan nae , kami sodara "
"ga lebih"
"iyaa nae"
naera tidak tahan lagi ia berjalan-jalan melewati Vin, berbaring memeluk putranya.
...
lagi lagi Naera berusaha tetap terlihat baik baik saja meski hatinya hancur akan sikap Vin, untuk kesekian kalinya naera menutup mata dari semua bukti jika Vin memang masih berhubungan dengan Clara.
Malam ini hujan turun dengan deras, selimut tebal seakan tidak bisa menghangatkan perasaan naera.
naera menatap wajah tenang Vin yang tidur menghadapnya, entah berapa lama lagi ia sanggup menutup mata dari semua hal yang mengenai hubungan Clara dan suaminya, entah berapa lama ia bisa tetap terlihat baik baik saja padahal semua terlihat begitu jelas.
Vin memang tidak kembali menjalin hubungan dengan Clara, tapi Vin terus saja goyah jika sudah bertemu dengannya, singkatnya saat beberapa waktu lalu, di mana Clara menarik nya masuk ke dalam kamar,. menciumnya seakan mereka masih menjalin kasih, apa Vin menolak hal itu?, tidak ! tidak ada penolakan dari Vin, Vin justru terbuai akan tindakan Clara, hal itu terjadi cukup lama sampai bau tubuh Clara menempel jelas di tubuh Vin, untungnya Vin terbayang wajah teduh naera , senyum wanita itu menyadarkan dosa yang baru saja ia perbuat, tawa riang kai seakan mampu membuatnya kembali sadar.
...
"Nae sudah kita harus berangkat pagi sayang"
"iyaa dikit lagi"
"Viin, bisa cepat ga sih Lo, kita udah mau berangkat" teriak jehan dari luar
"kalian duluan aja , gue belakangan"
"terserahh Lo deyh"
....
"Vin, Clara ikut sama kamu"
"mah kenapa harus sama Vin, mobil kalian kan masih kosong "
"udah ga papa Vin" bisik naera
di dalam mobil hanya ada keheningan tidak sehangat biasanya, sejak tadi para penumpang itu hanya diam , kecuali kai, yang duduk di pangkuan ibunya,
"Mamah sakit lagi yah , ko dari tadi diem aja"
"hemm, enggak ko sayang"
__ADS_1
"terus kenapa diam"
naera menatap Vin yang juga menatap nya bingung, memang sejak tadi naera tidak banyak bicara dan banyak diam
"terus kenapa diam aja, mama marah sama kai yaaa"
"siyapa yang bilang, mamah ga marah ko"
"mamah jangan diam aja kai takut, kalo mamah diam"
naera tersenyum tidak memberitahu jawaban lagi
Clara yang duduk di belakang tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Vin, sesekali Vin juga melirik dari kaca mobilnya
sampai lah mereka di tempat acara pesta, gedung besar dengan tamu tamu berpakaian rapi, para wanitanya berdandan menandakan ia adalah seorang sosialita.
Vin turun dengan menggandeng tangan Naera, sedangkan kai ia gendong di tangan satunya, anaknya itu memang sedikit risih jika sudah di ajak ke tempat keramaian seperti sekarang, naera sudah membujuknya untuk berjalan karena kalo di gendong zas Vin bisa kusut, tapi kai justru menangis, mereka akhirnya pasrah dan kai berakhir di gendongan Vin
mereka melupakan sosok wanita yang juga ada di dalam mobil, Clara dengan marah keluar merasa di abaikan oleh Vin
areksa meminta Vin untuk berkenalan dengan teman bisnisnya, awalnya Vin ingin mengajak Naera, tapi Naera menolak merasa minder dengan mereka, kai masih ada di gendongan kai, sedangkan Naera duduk di kursi yang tidak jauh dari suaminya berdiri, keren yang juga ada di sana memanggil Clara , keren memperkenalkan Clara di hadapan teman-teman bisnis suaminya.
naera hanya bisa menatap hal tu dari jauh, naera juga tidak berharap banyak akan hal itu.
naera yang duduk melamun di kejutkan dengan Jehan yang tiba tiba duduk di hadapannya
"Kenapa di sini ga gabung sama Vin"
naera gugup , bercampur takut, tangannya saling meremas di bawah meja.
"Kamu masih takut nae, aku kan gigit kamu"
naera ingin beranjak tapi Jehan lebih dulu mengucapkan kalimat yang mampu membuatnya kehilangan cara untuk berjalan Tegap
"Vin main sama Clara di belakang Lo nae"
"maa__maksut Kaka apa"
Jehan menyunggingkan senyum liciknya, berjalan mendekati Naera , berdiri di samping wanita itu
"Lo cantik nae, kenapa Lo ga nikah sama gue aja, Lo ga akan makan hati terus kaya gini, ditambah suami Lo yang kaya gitu" Jehan mengelus wajah Naera , naera dengan cepat menepis tangan Jehan dari wajahnya
"Kaka jangan macam-macam yaa, aku bisa teriak sekarang "
"teriak ajaaa nae, teriiiak, emang ada yang mau belaain Lo selain Vin"
"mending Lo tinggalin tu Vin, dia dah main api di belakang Lo nae, sadarr nae, sadar, cinta Lo bertepuk sebelah tangan, Vin begitu mencintainya Clara dan Lo cuman di jadiin pelariannya sama Vin"
"gue juga tau sekarang Lo hidup hanya dengan satu ginjal, Lo kan yang udah donorin ginjal Lo buat Vin?"
naera menggeleng, berangsur mundur karena Jehan terus melangkah maju, Jehan benar benar tidak merasa takut
"ga ada gunanya juga Lo donorin tu ginjal, kalo akhirnya Vin bakal balik lagi sama Clara, mending Lo nikah Ama gue, gue bakal bikin Lo bahagia, naeee"
__ADS_1