
Di dalam kamar, Vin menatap kosong ke arah luar, di temani naera yang duduk di sampingnya, naera menatap kedua tangannya yang saling terpaut.
Terlalu rumit untuk menjelaskan semuanya, emang dari awal seharusnya mereka tidak pernah datang ke rumah itu lagi.
"Vin harusnya kita emang ga pernah nikah"
Vin mengalihkan pandangannya, menatap Naera dengan raut wajah bingung,
" kamu ko ngomong kaya gitu"
"kamu ga bakalan di tampar sama papah, kalo kamu ga nikah sama aku Vin"
"jangan pernah menyalakan pernikahan kita nae, kita di takdir kan bersama, begitu pula dengan ujiannya"
"tapi ini terlalu berat Vin , aku ga sanggup "
"terus kamu mau apa, kamu mau aku kaya gimana "
wanita itu hanya diam, semuanya terlalu pelik untuk di selesaikan, masalah keluarga yang sejak 5 tahun tidak ada ujung keluarnya, kebencian orang tua Vin yang tidak ada habisnya, semua cara sudah naera lakukan tapi tetap saja salah di mata mereka, kehadiran Clara menambah masalah baru untuknya, kepala Naera hampir meledak setiap hari , memikirkan cara menyelesaikan semuanya termasuk datang kembali ke rumah Vin, ia kira naera bisa memulai sesuatu yang baru setelah 3 tahun lamanya, tapi nyatanya itu angan belaka, belum sempat ia tertidur di ranjang hangat milik Vin, belum juga ia ikut bergabung duduk di meja makan bersama keluarga Vin, tapi mertuanya sudah memulai peperangan.
"Viiin"
Vin kembali menatap Naera, sakit hati Vin melihat orang yang ia sayangi terus saja di sakiti seperti ini, istrinya itu seakan memang tidak pernah mendapatkan tempat di keluarganya, entah dengan cara apa lagi Vin lakukan, semuanya tidak pernah berhasil membuka hati orang tuanya untuk Naera, tangan Vin terulur menghapus air mata di pipi naera, memeluk wanita Malang itu dalam dekapannya, naera terisak di dalam pelukan Vin, hati Vin seakan di tusuk benda tajam mendengar tangisan naera yang terdengar pilu.
"mafin aku nae, harusnya dari awal kitaga datang lagi ke rumah ini, harusnya kita ga usah ikut acara ini"
"apa kita pergi aja nae, pergi ke tempat sejauh mungkin dengan kai, kita hidup bahagia tanpa ada yang tau kita siapa"
"atau kita ikuti kemauan papah, memutus ikatan dengan mereka "
naera menggeleng di pelukan Vin
__ADS_1
"bukan ini yang aku mau Vin, jika bukan hari ini mungkin besok , aku yakin suatu hari nanti orang tua kamu akan restuin pernikahan kita Vin, aku yakin"
Vin mengeratkan pelukannya, mengusap kepala Naera, Vin membelalak matanya melihat Clara yang dengan lancangnya membuka ruang pribadinya, Clara menatap tajam kevarah Vin, naera yang ikut melihat siyapa yang datang
"Vin dokter itu keluarga kamu ya, kenapa bersikap seenaknya seperti itu"
"kamu tunggu sini biar aku bicara dulu"
"kamu belum jawab pertanyaan aku Vin , dia siapa, keluarga kamu?"
"iya, di anak keluarga ku, dari mamah"
jelas semuanya hanya bohong belaka, naera juga tidak mengharapkan kejujuran dari Vin, sangat tidak mungkin Vin mengakui Clara adalah wanita yang pernah mengisi hidupnya.
"ooh" naera hanya ber oh ria
"kalo aku minta tetap di sini gimana"
"maksud kamu"
"sebentar aku tutup pintunya dulu"
Dari kejauhan naera melihat tangan Vin di tarik Clara, ingin rasanya naera menemui Clara , menarik rambut wanita itu, tapi ia sadar di mana posisinya sekarang.
naera membiarkan Vin bersama Clara, entah apa.ynav mereka lakukan tapi Naera percaya dengan kesetiaan Vin.
Clara menarik Vin masuk ke dalam kamar yang ia tempati, kamar yang posisi tepat berada di sebelah kamar Vin dan neera, dengan lancang Clara memeluk Vin, Vin tidak membalas pelukan Clara tidak juga mencoba melepaskannya,
"apa yang kamu mau dengan datang lagi di hidup ku Ra, kamu yang memutuskan untuk pergi, tapi sekarang kamu datang mencoba menghancurkan keluarga ku, kenapa Ra, kenapa"
"maaf kan aku Vin, iya aku salah telah pergi, tapi aku tidak pernah sekalipun memutuskan hubungan kita, kamu yang memutus nya secara sepihak"
__ADS_1
"sudah lah Ra, tidak ada yang perlu di salahkan, kita jalani saja seperti mana mestinya, aku yakin kamu akan dapat pria yang jauh lebih baik dari aku Ra"
"GA, GA AKAN ADA YANG BISA MEREBUT KAMU DARI AKU VIN AKU GA AKAN BIARKAN ITU"
"raaa, sadarlah aku mohon, apa yang kamu lakukan ini salah, aku sudah bahagia dengan Naera, cari lah bahagia mu sendiri"
"gaa, Vin, aku ga bisaa, aku mohon jangan minta aku untuk menjauh , aku ga sanggup Vin " Clara terisak di tengah tangisannya, sungguh Vin tidak tega mendengar suara tangisan itu, Vin membalas pelukan Clara, menenangkan wanita itu dengan mengusap punggungnya, Vin bahkan meletakkan dagunya di atas kepala Naera.
"gaa bisa Vin aku ga bisa hidup tanpa kamu"
"huus, diamlah, kamu akan kelelahan jika terus menangis seperti ini" dulu saat masih bersama, jika Clara sudah menangis akan berakhir tertidur di pelukan Vin, seperti sekarang entah sejak kapan wanita itu sudah lelah di dalam dekapan hangat Vin, Vin memastikan jika Clara tertidur, kemudian memindahkannya di atas ranjang. Vin membenarkan selimut menutupi tubuh Clara, saat ingin kembali tangan nya di cekal di tarik kuat oleh Clara , membuat Vin jatuh di atas tubuh Clara, Vin membolakan matanya berniat berdiri tali Clara lebih dulu mencium bibirnya, bukan hanya menempel Clara melakukan hal lebih, entah apa yang ada di kepala Vin malam itu , ia terbuai , mengambil alih permainan yang di mulai Clara.
di dalam kamar, naera mulai merasa gelisah suaminya belum juga kembali ke dalam kamar, naera sudah seperti setrika mondar mandir di dalam kamar Vin, merasa tidak tahan lagi naera berniat menyusul Vin tapi Vin lebih dulu masuk ke dalam kamarnya
"Vin" Vin memeluk Naera erat, menenggelamkan wajahnya di celuk leher Naera, air matanya tumpah, perasaan bersalah berkecamuk di dalam raga, Vin merasa telah bermain api di belakang Naera, naera tidak mengatakan apapun air matanya ikut tumpah di sana,
"apa yang kamu lakukan di belakang aku Vin" ucap Naera dalam hati
"setauku ini bukan bau tubuhmu Vin, bau siapa yang melekat di tubuhmu " naera membatin
"kenapa belum tidur"
"aku menunggu mu, dari mana aja"
"maaf tadi mamah meminta ku melakukan sesuatu"
"emm, kamu mandi dulu Vin, aku ga suka bau tubuhmu malam ini"
"aku bau ya nae" Vin melepaskan pelukannya,menciumi tubuhnya sendiri
"iyaa, bau banget, kamu mandi aku siapkan Baju kamu "
__ADS_1
"Bau banget ya nae"
naera mengangguk, di selingi senyuman, meski hatinya sudah kalut, pikirannya memberontak, masih berharap apa yang ia pikirkan salah