
...Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain bisa kembali berkumpul bersama orang yang di kasihi...
Bukan siyapa yang datang lebih dulu,tapi Siyapa yang bisa bertahan hingga akhir
Melihat senyum dari orang yang disayangi salah satu kebahagian tersendiri
Tawa yang sempat tertahan, kini kembali menggema di setiap pendengaran
Panggilan mungil yang hilang beberapa hari, kini kembali bisa didengar
Suara tangisan bangun tidur, entah kenapa terdengar merdu di telinga.
Mari lupakan sejenak semua kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
Jalani aja seperti kehendak takdir, jangan di paksa, boleh di coba
.........
Sudah 5 hari kai di rawat di rumah sakit, dan hari ini kai di ijinkan pulang. Naera merapikan semua perlengkapan kai kedalam tas, sambil menunggu perawat melepaskan infus kai, Vin duduk di atas ranjang bersama kai, mereka bermain, tertawa, bercerita, intinya bersenang senang, naera yang juga sibuk dengan pekerjaan nya sesekali ikut menimpali celotehan dua pria yang berbeda generasi itu.
Tawa kai terdengar di setiap sudut ruangan. Dan etensi mereka beralih pada seorang wanita cantik dengan jas dokter di tubuhnya siyapa lagi kalo bukan Clara.
Clara menyapa Naera dan mendekati kai di atas ranjang. Vin menatap Clara dengan tatapan yang dingin mengintimidasi .
Untuk apa Clara masuk ke ruangan kai padahal kai tidak di tangani olehnya.
"Kai, sudah mau pulang yaa" tanya Naera sambil mengelus pelan kepala kai.
"Maaf saya cuman datang untuk menjenguk kai tidak masalah kan"
Ucap nya lagi pada Naera yang sudah berdiri di depan nya lebih tepatnya di samping Vin, Naera tersenyum tulus pada Clara tanpa tau kalo suaminya pernah menjalin hubungan dengan dokter cantik di hadapannya
"Oh, tentu tidak masalah,saya juga mau Berterima kasih karena beberapa hari yang lalu dokter menemani anak saya"
"Tidak masalah, waktu itu saya kebetulan lewat, mendengar suara tangisan ternyata kai, tidak lama setelah nya suami anda datang"
Clara menekan kan kalimat terakhir, entah apa maksudnya tapi yang pasti Clara juga menatap Vin saat berucap demikian
"Apapun itu saya makasih sekali"
"Kai bilang makasih nak sana dokter Clara"
"Makasih dokter"
"Ga usah panggil dokter panggil aja Tante biar lebih akrab"
Kai, mengangguk, Nara juga ikut tersenyum, sedangkan Vin hanya diam enggan mengeluarkan sepatah katapun
.........
Naera meletakkan secangkir gelas teh hangat di atas meja, di sana ada Vin yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Vin ,di minum dulu tehnya entar dingin ga enak lagi loh"
"Makasih nae"
"Banyak kerjaan yaa Vin"
"Hem"
Dengan setia naera duduk di samping Vin, walaupun Vin hanya sibuk dengan laptopnya, sesekali Naera mengajak nya berbicara tapi jawaban Vin hanya berdehem, atau menganguk.
Vin terlalu sibuk dengan pekerjaan nya hingga tidak menghiraukan Naera yang duduk di sebelahnya, Naera bahkan sampai mendengus kesal karena merasa di abaikan.
Sama akhirnya Naera menyerah, meninggalkan Vin dengan rasa kesal, ini belum terlalu malam jadi Naera belum ngantuk, kai juga sudah tidur , mengajak Vin ngobrol malah sibuk dengan pekerjaan nya , Naera mengambil buku yang akhir akhir ini dia baca, tidak lupa kaca mata baca
Naera lebih memilih turun kebawah dari pada membaca di dalam kamar,kesal sebenarnya melihat Vin yang sibuk sendiri.
Sebelum kebawah Naera masuk ke kamar kai memastikan kondisi anak nya.
Kai sakit hampir 1 Minggu, pipi yang biasanya terlihat gembul kini terlihat lebih kurus. Miris hati seorang ibu melihat keadaan anaknya seperti itu
__ADS_1
Naera kembali menutup pintu kamar kai dengan hati hati, kemudian turun ke lantai dasar, Naera biyasanya membaca sambil tiduran di atas kasur,tapi merasa kesal dengan Vin Naera sekarang lebih memilih membaca di taman rumah nya
Halaman rumah mereka cukup luas, terdapat taman di samping pekarangan rumah, Naera suka menanam banyak jenis bunga di taman nya, biyasa Naera meminta Vin membelikan bunga kalo sedang ada di luar kota atau dia sendiri yang pergi membelinya.
Sekarang bunga bunga itu sudah tumbuh cantik, berjajar di halaman rumah, dengan tertata rapi .
Naera duduk di kursi taman depan meja bundar di depan nya sengaja mereka letakan meja kursi di sana, karena mereka suka bersantai di halaman sambil menikmati secangkir teh hangat,
Akhir akhir ini Naera memang suka menghabiskan waktunya dengan membaca, Naera terkadang bingung kegiatan apa yang ia lakukan jika kai sudah berangkat sekolah, pekerjaan rumah semuanya sudah selesai, menonton tv bosan, makanya sekarang Naera lagi suka membaca buku.
Naera yang sedang serius membaca kata demi kata di dalam buku di kagetkan dengan tangan yang melingkar di lehernya, bahkan kepalanya terasa berat .
"Ngapain di luar"
"Lagi baca" jawab Naera ketus
"Dingin Lo sayang di luar jam segini"
Tidak ada jawaban, naera masih sibuk dengan bacaan nya
"Masuk Yo"
"Kamu aja aku masih mau disini"
"Marah ya"
"Idih siyapa yang marah"
"Ketahuan Lo kalo lagi marah"
"Apa sih Vin, lepas ,ini kamu berat"
Vin melepas tangannya, ikut duduk di samping Naera,
"Nae"
"Apa, Vin"
"Biarin, biar sekalian sakit aja ga papa , biar bisa di perhatiin"
"Ish, kami ngomong apa sih nae"
Vin menarik kursinya agar lebih dekat dengan Naera, menatap dalam mata sang istri yang fokus dengan bacaan nya, tangan nya terukur untuk Merapikan anak rambut Naera yang keluar dari ikatan ke belakang telinga
"Masuk Yo cantik nya aku , di sini dingin"
Naera menutup bukunya, pergi begitu saja tanpa mempedulikan Vin di sana, sengaja emang, biar Vin tau rasanya di abaikan. Vin menarik nafas kasar, menyusul Naera masuk kedalam.
Naera yang tiba lebih dulu di dalam kamar, meletakkan buku nya di atas meja mematikan lampu utama , menutup gorden kamar dan berbaring di atas kasur, Naera menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut setelah mendengar bunyi pintu kamar yang terbuka.
Vin ikut bergabung di atas ranjang, memeluk Naera dari belakang.
"Kamu bisa kehabisan nafas nae, kalo seperti ini"
Vin menurun kan sedikit selimut Naera,
Naera bisa merasakan hembusan nafas Vin tepat menerpa bagian belakangnya, Naera juga merasa pundaknya di hirup dengan kuat, tingkah Vin membuatnya tidak karuan.
Naera menyikat perut Vin agar menghentikan aksinya.
"Vin, jangan seperti ini, geli"
Naera bisa merasakan gelengan dari vin
Bukanya berhenti, Vin malah semakin jadi, memeluk Naera begitu erat, mengunci pergerakan kakinya, tangan nya tidak tinggal diam , bergerak menyapu bagian perut Naera dalam bentuk abstrak.
"Vin,akhh"
Tingkah Vin benar benar membuat Nara tidak karuan, darahnya mendesir, saat Vin mengecup bagian lehernya dengan kuat.
Tangan nya mulai masuk kedalam pakaian Naera, meraba setiap hal yang bisa di raba di dalam sana
__ADS_1
"
Vin, hentikan akhh"
"Naera memegang tangan Vin, mengelus tangan Vin dari dalam bajunya"
"Vin hentikan"
"Kenapa nae"
"Aku lelah ingin tidur"
Vin menghentikan aksinya, pelukannya juga melonggar, kini Naera berbalik menghadap Vin memeluk erat tubuh Vin
Vin menyisir rambut Naera yang tergerai berantakan, menghirup wangi tubuh sang istri yang menjadi candunya
"Nae"
"Em"
"Aku mau ke luar kota"
"Keluar kota lagi"
Naera yang tadinya membenamkan kepalanya di dada bidang Vin, kini wajahnya terangkat menatap Vin, berharap apa yang dia dengar salah.
"Iya"
"Berapa lama"
"Entah lah nae, kalo pekerjaan an ku di sana selesai aku akan cepat pulang"
"Kalo misalnya 2 bulan pekerjaan nya ga selesai kamu bakalan di sana sampai 2 bulan"
"Vin, menganguk"
"Kenapa Lama sekali"
"Ada masalah di kantor cabang di Lombok aku harus kesana memastikan semuanya berjalan lancar.
Naera mengeratkan pelukannya
Lagi dan lagi Nara harus di tinggal berdua dengan kai, Naera bisa apa , meminta kai untuk tidak pergi Naera bukan wanita yang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri, walaupun jujur Naera tidak rela Vin pergi, tapi apa boleh buat Vin punya kewajiban lain.
Apa lagi Vin belum bisa memastikan berapa lama dia akan pergi, biyasa kalo Vin tidak menentukan jadwal kepulangan nya Vin bisa sampai berbulan-bulan.
"Mau di bawakan apa kalo aku pulang"
"Emmm, ga usalah , cukup kamu pulang dengan sehat aku sudah bahagia"
Vin tersenyum mendengar ucapan Naera, Naera bukan wanita yang banyak maunya, tapi Vin suka kalo Naera meminta sesuatu padanya.
"Sekarang tidur tadi katanya ngantuk"
"Iya emang ngantuk tapi kamunya ngajakin ngobrol"
Vin terkekeh, benar juga dia yang pertama kali berbicara , sebenarnya Vin ingin menunggu besok, takut Naera kepikiran apa lagi kepergian Vin kali ini bisa di bilang cukup lama, tapi momen nya pas untuk Vin bicarakan
"Ok, ok, padahal aku tadi pengen buatin adik untuk kai, sebelum pergi, akh"
Nara mencubit perut kai, prontal sekali mulutnya Vin, seakan tidak ada remnya ,bisa bisanya dia membicarakan ingin membuat adik ,di momen sedih seperti ini
"Sakit nae"
"Kamu sih,ngeselin"
"Lucu deh kalo lagi kesel, kaya gini"
Vin mengeratkan pelukannya, setia memeluk Naera Hinga sama sama masuk ke alam mimpi .
Tapi tiadak ada yang tau mimpi apa yang akan mereka temui kedepannya.
__ADS_1