
Vin kembali keruangan kai, membawa makanan yang tadi ia beli,
Tapi tidak ada Naera di dalam ruangan kai hanya ada kai yang berbaring di atas ranjang.
"ak papah, ga tidur" kai menggeleng, Vin meletakkan paper bag berisi makanan tadi ke atas meja, duduk di samping kiri anaknya. Vin mengusap pelan kepala kai.
"mamah mana, na"
"Mamah di kamar mandi"
Vin be oh ria
"Kai sudah makan"
Kai mengangguk sebagai jawaban
Suara decitan pintu menandakan kalo Naera sudah selesai dengan urusan nya
Pandangan pasutri itu bertemu tapi Naera dengan cepat menundukkan pandangan nya , berjalan mendekati kai dengan senyum yang begitu tulus di wajahnya
"Kenapa belum tidur" tanya Naera
"Belum ngantuk mah"
"Mau mamah bacain dongeng"
Kai mengangguk antusias
Naera ikut bergabung di atas ranjang, tanpa mau berbicara dengan Vin yang sejak tadi memperhatikan nya, begitu pula dengan Vin.
5 menit setelah bercerita kai akhirnya tidur, di dalam pelukan Naera. Suasananya kini menjadi canggung di antara keduanya.
Naera turun dari ranjang kai, mengambil jaket dengan kunci mobil di dalam lemari, berniat keluar mencari makan
"Mau kemana" tanya Vin
"Mau cari makan sebentar"
"Aku sudah beli makanan kita makan bareng"
Naera meletakkan kembali kunci mobilnya, membuka paper bag berisi makanan di dalam nya
Mereka makan berdua, tanpa ada pembicaraan hangat seperti sebelumnya. Hanya sendok dan garpu yang saling beradu, sesekali juga terdengar jelas bunyi jam dinding di ruangan kai
"Nae"
"Hem"
"Maaf tadi aku membentak mu"
"Tidak masalah lupakan"
"Aku benar benar emosi waktu dokter Clara bilang kai menangis sendirian di ruangan nya"
Tidak ada Jawaban Naera masih fokus dengan makanan nya enggan menatap Vin
"Nae"
"Apa Vin, kamu mau aku kaya gimana"
"Nae aku minta maaf karena sudah membentak mu aku tidak berniat, aku hanya terlalu emosi"
"Iya Vin, tidak papa, sekarang habiskan makanan mu"
__ADS_1
Vin mendekap Naera menenggelamkan wajahnya di pundak sang istri
"Plis jangan seperti ini,jangan bersikap cuek,aku minta maaf"
Terdengar helaan nafas jelas dari Naera
Naera Membalik badannya menghadap Vin, membalas dekapan Vin,
..............
Karena ranjang pasien nya tidak terlalu besar,Vin tidur di sofa, Untungnya Sofanya lumayan besar jadi Vin bisa tidur dengan nyaman , sedangkan Naera tidur di ranjang bersama kai
Jam 2 dini hari Naera terbangun merasa tenggorokan nya kering.
Naera mendekati Vin membenarkan selimut yang hanya menutupi bagian kaki Vin, Naera juga mengusap pelan rambut Vin,
Saat ingin kembali Naera di kejutkan dengan Vin yang tiba tiba memegang tangan nya.
"Vin, kenapa"
Vin menepuk Sisi yang kosong di sebelahnya, meminta Naera ikut bergabung dengan nya
"Sini" ucap Vin
"Mana muat Vin"
"Muat sayang, sini"
Akhirnya Naera menuruti ucapan Vin, ikut bergabung di atas sofa,
Vin memeluk erat tubuh Naera didalam dekapan nya, kakinya mengunci kaki Narea, posisi mereka sekarang saling berhadapan, Naera mencari kehangatan di dada bidang Vin. Sesekali Vin membubuhkan kecupan di kepala Naera.
"Vin"
"Hem"
"Apa sayang"
"Jangan bentak aku lagi ya, jujur hatiku sakit , aku sudah terbiasa dengan bentakan ibumu tapi kalo kamu yang membentak jujur aku ngga kuat Vin"
"Maaf" ucap Vin penuh dengan rasa bersalah
...........
Hari ini orang tua Naera yang datang menjenguk kai, suasana kamar jelas terasa hangat tawa kai bahkan terdengar jelas di pendengaran Naera.
Kai bercanda ria dengan kakeknya. Selera humor mereka sama, Naera dan Vin tersenyum dari jauh memandangi mereka yang asik bercanda dari kejauhan.
"Nae, aku kekantor ya, ada rapat soalnya, sebenarnya aku pengen di sini, tapi rapatnya juga ga bisa di tunda lagi, aku usahain hari ini pulang cepat"
Naera mengangguk, seperti biasa ritual mereka sebelum Vin berangkat kerja , Vin selalu memberikan kecupan di dahi Naera.
Vin juga berpamitan pada mertua nya, setelah nya keluar.
"Nae"
"Iya mah"
"Kamu sudah cerita ke Vin tentang sakit kamu"
"Belum mah"
"Kenapa,dia suami kamu sayang dia perlu tau"
__ADS_1
"nae takut mah"
"Takut?"
"Takut Vin akan pergi setelah tau nae wanita berpenyakit"
"Vin mencintai mu nae, Vin tulus"
Naera tertunduk menatap kedua tangan nya yang saling menyatu.
"Entah lah mah, Naera bingung"
"Donor yang kemarin kenapa" kali ini ayahnya yang bertanya.
"Keluarga nya tiba tiba menolak"
"mah"
"Kenapa nak"
"Kalo aku tidak dapat donor apa aku masih bisa bertahan"
"Hus jaga ucapan mu nae, jangan asal ngomong sembarangan"
"Akhir akhir ini aku ngerasa sakitnya aku semakin parah mah"
Sang bunda memeluk putri bungsunya itu.
"aku hanya takut tidak bisa melihat kau tumbuh menjadi pria dewasa mah"
"Naera takut tidak bisa memberi kebahagiaan untuk Vin mah"
Naera terisak di dalam dekapan sang bunda. Takdir seakan mempermainkan nya.
"Naera takut jika suatu hari nanti Naera tidak bisa lagi melihat kalian"
"Naera takut tidak bisa bangun lagi dari pingsan nya Naera"
"Kamu akan sembuh sayang, mamah yakin"
"mamah yakin kamu bisa melihat putra mu tumbuh dewasa, mamah yakin kalian akan hidup bahagia sebagai keluarga"
Entah apa yang akan terjadi kedepannya, tidak ada yang tau kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dengan takdir yang sudah ada
Entah takdir hidupnya berakhir bahagia, atau berakhir sebaliknya.
Naera menderita kerusakan ginjal, sekarang Naera hanya bertahan dengan satu ginjal di tubuhnya, Naera mendonorkan satu ginjal nya untuk orang yang ia sangat sayangi Siyapa lagi kalo bukan Kevin areksa suaminya sendiri.
Entah takdir apa yang sudah di persiapkan untuknya , beberapa bulan setelah menikah,v Vin jatuh sakit, tidak sadarkan diri , Naera baru tau kalo suaminya itu sakit bgagal ginjal dia memerlukan donor ginjal saat itu juga, tanpa ragu Naera mendonorkan satu ginjal nya untuk Vin, tanpa sepengetahuan Vin atau pun keluarga suaminya, kecuali Hana, jevan, juga orangtuanya.
Saat Vin jatuh sakit mertua juga kakaknya sedang berlibur ke Paris.
Naera memohon pada mereka bertiga agar tidak memberitahu Vin juga mertuanya tentang ini, Naera takut mertuanya meminta Vin meninggalkan nya setelah tau Naera hanya hidup dengan satu ginjal di tubuhnya.
Setelah hari itu Naera bertahan hidup dengan satu ginjal yang ia miliki, tapi keadaan semakin memburuk untuk Naera, tubuhnya tidak bisa jika hanya hidup dengan satu ginjal,
Kesehatan nya menurun, berat badan nya menurun drastis, sakit kepala karena efek sakitnya bisa datang saat Naera merasa kelelahan.
Hanya satu harapan Naera mendapatkan donor ginjal untuk dirinya sendiri.
Sudah berulang kali sebenarnya Naera hampir di operasi tapi ada aja masalah, seperti beberapa Minggu yang lalu pendonor tiba tiba menolak untuk mendonorkan ginjal anaknya
......
__ADS_1