Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
anak perempuan


__ADS_3

Naera mengelus punggung polos Vin yang memeluk tubuhnya yang juga tidak jauh berbeda , naera hanya menggunakan baju kaos oversize setelah melakukan pergulatan panjang di atas ranjang, untung aja kai tidak terjaga dari tidurnya


"Aku pengen banget punya anak cewe nae "


"Kamu sangat ingin aku hamil lagi ya Vin"


Vin mengganguk di dalam pelukan naera


"Iya sayang, aku ingin punya anak perempuan pasti dia juga tidak kalah cantik sama seperti ibunya"


"Iya kalo perempuan gimana kalo ternyata laki laki lagi"


"Yah gak papa, berarti kai punya teman bermain"


"Kamu ga keberatan kan kalo hamil lagi"


"Enggak kai juga sudah besar"


Ada kekwatiran tersendiri di benak naera jika memikirkan kehamilannya lagi, ada rasa takut yang sulit untuk di jelaskan hanya mampu ia simpan untuk dirinya sendiri


" Lepas dulu Vin aku mau mandi,badanku lengket"


"Sebentar nae, kamu ga capek"


"Aku lapar kamu gak lapar"


"Bentar dulu sayang, kamu ga capek apa kita hampir sampai pagi Lo melakukannya "dengan jahil Vin menggoda naera


"Atau kita terusin sampai pagi aja sekalian"


"Kalo kamu terusin sampai pagi, kamu ga bakalan liat aku buka mata lagi" Vin mengerutkan keningnya, apa yang Naera ucapkan, sungguh sangat tidak ia sukai


"Kamu ngomong apa sih nae, jangan asal ngomong gitu, ga baik"


"Lah, emang aku ngomong apa"


"Kalo kamu ga bakal buka mata lagi"


"Pikiran kamu Kemana sih Vin, kan bisa aja aku ketiduran ke capean"


"Tapi tetap aja aku ga suka dengarnya "


"Iya , iyaa, maaf" naera mengecup singkat bibir Vin , hal itu tidak di sia siakan olehnya, Vin kembali menindih tubuh mungil naera, kecupan yang naera berikan ia balas dengan ciuman panas.


Vin benar benar melakukannya sampai pagi, kalo sudah begini ceritanya.


....


Kelelahan membuat dua insan yang berstatus suami istri itu kesiangan, bahkan tangisan dari kamar sebelah tidak ia hiraukan lagi.


"Mamaaaah" teriak kai di iringi isakan tangis, terdengar samar di telinga Naera.

__ADS_1


Naera memincingkan matanya, tubuhnya masih tertutup selimut tebal tanpa sehelai benang, di rengkuh erat oleh Vin.


"Mamaaaah" kali ini naera menyadari teriakan anaknya,  naera bangun tergesa menyingkirkan tangan Vin dari atas perutnya, Vin tersentak kaget dan ikut bangun.


"Kenapa nae"


"Kamu sih, liat kita jadi kesiangan kan, kai udah nangis di kamarnya,  baju ku mana Vin, kamu lempar kemana"


Vin menoleh ke kanan ke kiri ikut mencari pakaian istrinya yang ia lempar ke sembarang arah tadi malam


"Mamaaaah" suara kai tepat berada di depan pintu kamar mereka, menggedor pintu dengan kuat, naera semakin kawatir tangan anaknya akan sakit jika seperti itu.


"Itu di samping kamu"


Naera lekas memakai pakaiannya kembali, meninggalkan Vin yang masih mencari pakaiannya.


Naera tidak akan membiarkan anaknya melihat kekacauan di kamar mereka, di tambah Vin yang belum juga mengenakan pakaian.


"Cup cup cup" naera menenangkan kai di dalam gendongannya.


Naera turun sambil menggendong kai karena bel pintu nya berbunyi.


Naera bingung harus memberikan respon seperti apa melihat tamu yang datang, keren dan Clara, entah apa yang mereka inginkan sekarang.


"Mana anak saya"


"Di kamar mah"


"Masuk dulu mah, biar nae panggilkan"


Keren membuang wajahnya jengah melihat tanda kebiruan di leher Naera akibat ulah Vin tadi malam, sedangkan Clara yang mengerti maksud dari tanda itu terlihat menahan amarahnya, tangannya sudah terkepal di kedua sisi.


Naera meninggalkan mereka menuju ke lantai atas, sebelumnya naera memasukkan kembali kai yang kembali tidur di gendongannya.


Naera berdiri di depan cermin melihat sekeliling lehernya, ada 2 tanda kebiruan di sana.


Naera kembali ke kamar menutup kamarnya tidak lupa ia kunci , takut kalo tiba tiba mertuanya masuk , naera tidak pernah berniat masuk untuk membangun kan Vin , istri mana yang rela melihat suaminya bertemu dengan masa lalu tidak ada.


Naera mendekati Vin,  naera merangkak naik ke atas tubuh Vin yang tidur dengan posisi terlentang,naera mengelus wajah Vin , merapikan rambutnya, menciumi pipi Vin hingga sang empu terbangun.


Vin membalas pelukan naera


...



...


"Tumben pagi pagi sudah manja, tadi aja marah marah"


"Kenapa emang ga boleh yah"

__ADS_1


Vin mempererat pelukannya


"Bolehh banget, aku suka lagii"


"Aku cantik gak Vin"


"Cantiiiiiik banget"


"Banget banget banget"


"Iyaa, cantik banget"


Naera memberikan ciuman bertubi-tubi ke wajah Vin


"Gemes banget suami aku, cuman punya aku, ga boleh ada yang ambil suami aku"


Vin terkekeh mendengarnya, Vin bingung sendiri ada apa sebenarnya


"Iyaa, Vin punya naera, naera punya Vin"


"Selamanya "


"Selama lamanya "


Naera menurunkan ciumannya di perpotongan leher Vinn, hingga meninggalkan bekas kebiruan di sana, tadi malam naera tidak melakukannya, takut tanda kebiruan itu akan menggangu pekerjaan Vin, tapi melihat sikap ibu mertuanya tadi, naera sedikit berulah dengan sengaja meninggalkan bekas di leher Vin, sebagai tanda dia lah pemilik sesungguhnya dari Vin areksa.


"Kenapa kamu jadi agresif gini nae" Vin membalas perlakuan naera, Vin melakukan hal yang sama, hingga terdengar eluhan dari Naera, naera menahan dada Vin untuk menghentikan aksinya, kemudian berbisik di telinga Vin.


"Bangun gih, ada mamah di bawah nungguin kamu"


Gairah yang tadi sudah terbakar, kembali redup,


"Mamah "


"Iyaa mamah kamu "


"Dari tadi"


"Iyaa"


"Ko enggak bilang sih"


"Niyh aku bilang "


Naera masih berada di atas tubuh Vin, tidak beranjak sama sekali dari sana


"Gimana aku bangunnya kalo kamu nimpa aku kaya gini "


"Bentar dulu, aku lagi pengen kaya gini"


"Mamah gimana "

__ADS_1


"Mamah ga bakal bosan ko nunggu kamu turun, kan di bawah, Mamah bareng dokter cantik, Clara "


Vin kesusahan menelan ludahnya, ucapan Naera mencekat pernapasannya.


__ADS_2