Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
Aku mencintaimu


__ADS_3

Vin mengusap perut rata naera secara abstrak, mereka masih berada di bawah selimut tebal, menyembunyikan tubuh polos mereka.


"Nae berhentilah bekerja aku yang akan menanggung kehidupan kalian, kau masih istriku nae, dan aku akan terus menjadi Papahnya kai, aku punya tanggung jawab untuk menafkahi kalian"


Vin bisa merasakan gelengan naera


"kenapa?" Vin menghentikan usapan tangannya di perut Naera


"Aku perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan ku Vin"


"tapi kau istriku, aku yang bertanggung jawab memenuhi hidup mu"


"iyaa, tapi setelah kita berpisah, aku perlu biaya hidup"


"aku yang akan menanggung kehidupan mu nae, hingga kau mendapat penggantiku"


"enggak Vin aku nggak bisa, aku nggak bisa menerima uluran tangan mu setelah kita berpisah"


"kalo gitu kita nggak usah pisah nae, kita hidup lagi seperti yang dulu, atau kamu mau kita pergi yang jauh , pergi ke tempat di mana tidak ada satupun orang yang mengenal kita, kita tinggal di rumah yang kecil dan hidup bahagia, tanpa ada campur tangan juga gangguan dari siapapun"


"sekarang, aku tidak menginginkan hal itu, dulu aku sangat ingin mengajakmu pergi, pergi jauh dari orang orang yang mengenal kita, aku ingin keluarga kita hidup sederhana tapi di penuhi dengan cinta jauh dari gangguan siapapun, termasuk mamah kamu, tapi itu dulu, sekarang semuanya berubah, kisah kita akan menjadi kenangan "


Vin tidak sanggup lagi melanjutkan obrolan mereka, ia lebih memilih mengeratkan pelukannya.


...


Naera tidak akan lupa untuk meminum obat anti hamilnya, untuk berjaga jaga dari hal yang tidak ia inginkan.


naera bersiap berangkat bekerja, hari ini ia setuju di antar Vin sampai ke kantor, Vin begitu keras kepala sampai naera tidak dapat menolak permintaannya.


tinggal Vin dan Naera yang ada di dalam mobil, kai sudah mereka antar ke sekolah.


Tidak terjadi obrolan apapun di mobil Vin sampai akhirnya mobil Vin berhenti di depan gerbang kantor naera. banyak karyawan yang berlalu lalang seperti biasa, naera sedikit ragu untuk turun. takut, mereka yang ada di sana memandangnya aneh, takut banyak pertanyaan akan hubungan naera dengan Vin, naera juga tidak bisa mengatakan pada mereka Jika Vin adalah suaminya, karena sebenar lagi mereka berpisah, apa kata mereka jika tau naera yang mereka kenal Hanya tinggal berdua, sekarang mengaku sebagai istri dari pemimpin perusahaan ternama, tapi setelah satu bulan justru kabar perpisahan naera yang mereka dengar.


sungguh naera sangat menghindari hal seperti itu, kabar burung tentang dirinya juga keluarganya.


"kenapa?" tanya Vin yang melihat naera masih duduk di mobilnya.

__ADS_1


"ah__ennggak" naera lebih memilih turun dari pada menjawab pertanyaan Vin


Vin sebenarnya tau apa yang di rasakan naera, Vin dengan sengaja ikut turun menyusul Naera yang sudah berlalu dari sana.


"naera" teriak Vin cukup keras, sengaja memang ia lakukan untuk memancing perhatian orang orang yang ada di sekitar mereka


"nae" naera mengacuhkan panggilan Vin dan mempercepat langkahnya, beberapa pasang mata kini sudah mulai mengalihkan tatapannya pada mereka berdua


Vin yang merasa di abaikan mencekal tangan Naera, naera rasanya ingin lari dari Sana Sekarang juga, bukan hanya karyawan biasa tapi dari kejauhan Daffa juga ada di sana, berdiri tidak jauh dari mereka.


naera meraup kasar oksigen di sekitarnya, sebelum berbalik menghadap Vin


"kamu kenapa sih Vin" naera melepas cekalan tangan Vin dengan kasar


"aku cuman mau ngasih ini , kamu meninggalkannya di mobil"


naera baru sadar ia turun tanpa membawa berkas laporan yang sudah ia kerjakan, naera merebut dengan kasar tas berisi laporan dari tangan Vin, kemudian kembali berjalan dengan langkah yang besar meninggalkan Vin


"semangat kerjanya sayang" teriak Vin keras, orang orang yang tadi sudah acuh, kembali memandangi mereka. Vin menyunggingkan senyum kemenangannya, berjalan sambil menautkan kancing bajunya yang terlepas, Vin berpapasan dengan Daffa , Vin mengulurkan tangannya.


"pagi pak, habis ngantar istri saya" Vin menekankan kalimat istri, ia berharap Daffa sadar Vin lah yang memiliki naera


"lain kali aja pak, saya juga harus ke kantor , saya duluan pak, mari " Vin berlalu melewati Daffa dengan senyum mengembang.


sementara naera terlihat canggung melewati beberapa karyawan yang mendengar ucapan Vin saat di bawah tadi, satu dari mereka mendekati Naera berjalan beriringan di samping Naera


"nae, itu tadi suami kamu yaa ?"


naera merapikan rambutnya ke belakang telinga sedikit mengalihkan rasa gugupnya


"i__iya"


"ko baru keliatan sih nae, dari mana aja" naera kesusahan menelan salivanya, kenapa pertanyaan itu seperti pertanyaan jebakan untuk Naera, naera hanya diam enggan menanggapi berpura-pura tidak mendengar apapun


"Nae" wanita tadi menepuk pundak naera cukup keras


"Kenapa jadi bengong, dia kemana aja kenapa aku baru melihatnya ?"

__ADS_1


"Dia di Jakarta, dia kerja di sana"


"jadi selama ini Kalian pisah negara, dia di Indonesia kamu di Singapura " naera hanya mengangguk


"oooo"


"Kenapa kamu nggak ikut dia aja nae, dari pada hidup berdua dengan kai di negara orang "


naera sudah muak dengan pertanyaan yang tiada hentinya ia dapatkan, naera berhenti tiba tiba, menatap tajam wanita di sampingnya


"nggak semua kamu harus tau tentang keluargaku ca, nggak semua kamu harus tanyain dengan ku, aku juga nggak bisa menceritakan semuanya dengan mu, jadi aku mohon berhentilah bertanya, ia dia suamiku, dan alasan kenapa kami berpisah, itu aku rasa kamu gak perlu tau" naera pergi dengan emosi yang memuncak, wanita tadi hanya diam, tertegun dengan apa yang Naera ucapkan, baru kali ini ia melihat naera semarah itu.


"Aku hanya bertanya, kenapa dia semarah itu" gumam wanita tadi .


...


naera menyandarkan punggungnya di punggung kursi, tangan lentiknya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut, terlalu pusing kepalanya memikirkan kehidupannya yang begitu pelik, di tambah pekerjaan yang menumpuk.


naera meletakkan kepalanya di atas mejanya, ia jadikan tangannya sebagai bantal, mungkin karena terlalu lelah naera sampai ketiduran, ia juga tidak mendengar lagi ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Itu Daffa, ia datang karena naera tidak ada menemuinya padahal banyak berkas yang harus naera berikan padanya.


Daffa bersandar di meja Naera, ia tatap dalam wajah Naera yang kelelahan, Daffa menyingkirkan rambut naera yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalo kamu masih seorang istri nae"


"Hem"


,"kenapa kamu biarkan aku jatuh terlalu dalam dengan pesona"


"andai kau bilang kalo Kau memiliki suami, mungkin aku nggak akan merasa sesakit ini"


"apa boleh aku cemburu, apa boleh aku bilang kalo aku nggak suka liat kamu dengannya"


Daffa tanpa sadar mengusap lembut wajah Naera, hingga sang empu terbangun, naera membolakan matanya melihat Daffa di depannya di tambah tangan Daffa yang menyentuh pipinya.


Daffa juga sama kagetnya ia tidak menyangka tidur naera terganggu karena ulahnya

__ADS_1


"maaf nae" ucap Daffa dan berlalu begitu saja Tanpa mau menjelaskan apapun pada Naera,. naera masih belum bisa mencerna apa yang baru saja Daffa lakukan, otaknya masih berusaha berpikir.


__ADS_2