
kehadirannya benar benar tidak anggap di acara besar itu, naera kembali duduk setelah Jehan juga di minta bergabung dengan ayahnya, tinggal lah ia sendiri, duduk di kursi lalu belakang jauh dari meja VIP, naera menggigit bibir bawahnya merasakan sesak di dada yang kian semakin dalam
Vin beserta keluarganya tertawa riang di atas panggung, mengabaikan kehadirannya, Vin juga seakan lupa atas hadirnya di acara yang sama.
anaknya sudah berpindah tangan di gendongan Clara, sungguh sakit hati naera melihat hal itu, Clara Vin dan kai sudah terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, sedangkan ia hanyalah tamu yang bahkan tidak pernah di harapkan ke hadirannya
naera berulang kali mencoba menghubungi ponsel Vin, tapi pria itu tidak pernah menjawab sekalipun panggilannya
Rasa nyeri yang sejak tadi sudah ia rada Semakin terasa, naera tidak kuat lagi, menahan sakit di hati di tambah sakit di fisik, naera berjalan lunglai mencari kamar mandi untuk menyalurkan rasa sakitnya,
Didalam naera menjambak kuat rambutnya, di tarik sekencang mungkin , tidak peduli jika sekarang rambutnya akan berantakan, tidak peduli riasannya yang rusak karena air mata yang terus menggenang
naera lupa membawa obat pereda nyerinya, sekarang ia hanya bisa menahan hingga rasa sakit itu sedikitnya berkurang, naera bersandar di punggung wastafel, perlahan tubuhnya terduduk di lantai yang dingin.
ia tarik nafas mencoba mengontrol udara yang masuk ke paru-parunya, merasa membaik naera kembali berdiri menatap wajahnya, ia rapikan rambut yang tadi ia buat berantakan, sedikit bedak dan pemerah bibir untuk menutupi wajah pucat nya
"viiin jujur kamu masih cinta kan sama aku"
suara itu samar Samar terdengar di telinga Naera, naera tidak pernah berniat menguping apapun hanya saja mendengar suara Clara menyebutkan nama suaminya, membuat kakinya enggan untuk beranjak
"viin, jujur, aku mohon"
"iya aku ga bisa lupain kamu , aku hampir gila saat kamu memilih pergi dari hidupku, a__aku kehilangan kewarasan ku, akuu hidup tanpa tujuan setelah kamu pergi begitu aja"
naera menutup mulutnya, kakinya melemas, tulang kakinya seakan hilang, naera terduduk di balik pintu kamar mandi
"iyaaa kamu benar, aku ga bisa lupain kamu Ra, 7 tahun kita bersama dan kamu pergi gitu aja, tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi"
sungguh naera bisa kehilangan oksigen jika terus ada di sana, ia tidak sanggup lagi mendengar pengakuan suaminya yang menyakitkan, naera memilih pergi dengan luka yang sudah menganga lebar
naera mendekati anaknya yang sedang berdiri bersama areksa, naera Merapikan baju kai yang sedikit berantakan, mata sembab naera ia tutupi dengan senyum di wajahnya
"anak mamah senang ikut pesta "
kai mengangguk
"kai sudah makan "
"sudah tadi makan sama dokter Clara, mamah kemana aja ko kai cariin ga ada"
"ada ko , mamah duduk di belakang "
"naera "
__ADS_1
naera menutup matanya mendengar panggilan dari sosok yang ia kenal, tetap berusaha terlihat baik baik saja, meski bukan hanya goresan yang di berikan Vin di hatinya tapi pukulan yang amat sangat menyakitkan
"kenapa Vin "
"aku cariin kamu nae, kamu dari mana aja sih"
"ada ko aku duduk di sana "
naera menunjukan kursi yang ia duduki
"kamu sudah makan "
naera mengangguk, menggendong kai setelah ia berdiri di samping Vin
bohong adanya jika ia sudah makan, naera terlalu rapuh jika harus di minta menelan makanan di kerongkongannya yang tercekat
Vin mengambil kai dari gendongan Naera, mengajak Naera ikut bersamanya, tapi cekalan tangan keren menghentikan langkahnya, Vin sudah terlalu jauh berjalan tanpa ia sadari naera tidak ada di belakangnya
"mamah kenapa"
"ikut saya" keren menarik naera keluar dari keramaian, menyusuri lorong hotel yang di penuhi pintu pintu yang tertutup
keren membuka satu pintu kamar dan mendorong naera masuk ke dalam
tidak ada air mata meski sakit yang ia rasakan, naera menatap punggung keren yang berjalan keluar meninggalkannya
naera terduduk di tepi ranjang, kedua tangannya ia tutupi untuk menutupi wajahnya.
kepalanya berputar seperti gasing, perlahan penglihatannya menghitam, hilang sudah kesadaran naera.
di lantai bawah, Vin di buat sibuk mencari istrinya, kai sudah merengek minta pulang, kai ingin membawa istri dan anaknya pulang, tapi batang hidung naera tidak ia temukan keberadaannya, Kemana perginya naera
"mah liat naera nggak"
keren menaikkan bahunya acuh
"pulang kali Vin"
"ayoo Vin kita pulang, kesian kai"
Clara seakan bertingkah seperti ibu dari kai
"bener Vin, istri kamu bukan anak kecil dia bisa pulang sendiri"
__ADS_1
"sebentar mah Vin cari naera dulu"
"Vin ga usah, palingan sudah pulang, sudah mamah bilang wanita itu, bukan anak anak dia tau jalan pulang "
"kamu ga Kesian liat anak kamu"
Vin masih celengak celenguk mencari naera, tempat itu sudah kosong hanya tersisa Vin dan keluarganya
karena Kesian melihat anaknya yang sudah setengah sadar, Vin akhirnya pulang, berharap Naera sudah di rumah lebih dulu.
...
Entah berapa lama Naera pingsan, lantai dingin menyadarkan Naera, kepalanya masih nyeri, kesadarannya belum sepenuhnya kembali, melihat jam dinding, membuat Naera bergegas bangun,
alangkah terkejutnya naera melihat lantai dasar sudah bersih, semuanya pulang, ia di tinggal begitu saja, teganya Vin meninggalkannya
naera mengambil ponselnya untuk menghubungi Vin, tapi nihil ponsel itu tidak dapat di hubungi.
"viin, angkat, aku masih di sini aku mohon Vin"
namun nihil, apa Vin sudah tidur ?, pikir naera,
mau tidak mau naera harus pulang sendiri ke rumah mertuanya, sudah sangat larut, sudah hampir pukul 11 malam, jujur naera takut jika harus di suruh pulang sendiri, selarut ini, nyeri di kepalaku juga tidak Hilang, mungkinkah faktor Belum makan
cuaca juga Semaki dingin, dress sebawah mata kaki tidak dapat membantu mengurangi rasa dinginnya, naera masih berusaha menelpon Vin, tapi tidak ada jawaban, bahkan panggilan terakhirnya di putuskan secara sepihak oleh Vin
"kenapa ga ada taxi sih, aku harus gimana, Vin ga angkat telponnya"
naera masih berusaha memesan angkutan online, untungnya ia dapat,
"makasih ya mas"
"iya neng"
naera sudah tiada tahan lagi dengan udara di luar, tulangnya seperti di tusuk tusuk, pagar rumah sudah terkunci, tapi untungnya satpam penjaga rumah orang tua Vin , menyadari kedatangannya
"makasih pak, suami saya ada di dalam pak"
"iya Bu, kayanya ga Kemana mana lagi deh , habis pulang dari hotel"
"oh iya kalo gitu saya masuk ya pak"
"dari mana aja kamu" suara dingin menyapa pendengaran Naera setelah menutup pintu
__ADS_1