
"Tuh istri yang kamu bangga banggain turun"
ucap ibu mertuanya melihat naera yang baru turun setelah mandi , mereka sudah selesai makan, naera sengaja mengulur waktu biar tidak ikut makan, masih sakit hati dengan ucapan sang mertua
Toh dia juga tau ibu mertuanya mana mau menunggunya, benar saja kan sekarang mereka sudah selesai, Naera bergegas membantu Vin membereskan meja makan, sedangkan mertuanya bermain dengan kai di ruang keluarga
"Biar aku aja Vin "
Naera mengambil alih piring kotar dari tangan Vin, memasukkan nya ke dalam alat pencuci piring otomatis
Bukan nya pergi, Vin malah berdiri melihat kesibukan Naera. Berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, rambut yang menutup sebagian wajahnya benar-benar terlibat sempurna
"Astaga" hampir saja Naera menabrak Vin dia mengira Vin sudah pergi ternyata berdiri tepat di belakangnya
"Kenapa berdiri disini, sana temanin orang tua kamu vin"
"Kenapa ga ikut makan"
"Aku tadi keasikan berendam "
"Aku tau kamu sengaja"
"Maksud kamu"
Vin berdecak kesal merubah posisinya jadi duduk di kursi makan, melihat Naera menatapnya
"Kalo sikap kamu kaya gini terus, orangtuaku mana bakalan mau membuka hatinya"
"Pulang telat, ngebiarin mamah ku masak sendiri, ga ikut makan , apa kata mereka tentang mu nae"
"Vin, kami tau apa yang mamah mu katakan benar benar melukai perasaan ku Vin"
Naera bukan gadis berhati malaikat dia tidak segan mengatakan perlakuan menyakitkan yang dia terima, terserah Vin ingin percaya atau tidak yang penting Naera sudah mengatakan semuanya
"Harusnya kamu bisa lebih sabar lagi nae, pern......"
Ucapan Vin terpotong
"Yaa, pernikahan kita mendadak, dan orangtuamu sudah mempersiapkan seorang wanita karir, cantik,baik hati, sempurna , kaya, sedangkan anaknya lebih memilih menikah dengan gadis kantoran biasa sebagai pelarian agar tidak di jodohkan dan ibu mu tidak terima sampai sekarang"
Naera tidak tahan lagi , setiap mertuanya datang pasti saja terjadi perdebatan, Vin hanya menatap Naera , Naera sebisa mungkin memelankan ucapannya, agar pertengkaran ini hanya di dengar mereka berdua
"Yaa Vin , aku salah, aku tidak menyambut orang tuamu, yaaa aku salah aku memberi anak ku makanan tidak bergizi, yaa aku salah membiarkan ibu mu memasak sendiri, yaa aku salah tidak bisa memahami perasaan ibu mu aku minta maaf Vin aku bukan wanita sempurna aku punya perasaan, perasaan itu akan terluka Jika terus mendengar ucapan cerai dari orang tuamu Vin "
Air mata kini kembali jatuh , Naera tidak tahan lagi , dia meletakkan puding susu yang tadinya ingin dia sajikan untuk orang tua Vin, walaupun dia tau orang tua Vin mana mau memakan masakan nya. Naera meninggalkan Vin yang sejak tadi hanya diam mendengar keluh kesah Naera ,
Ini yang tidak diinginkan Naera, ibunya Vin sejak tadi mendengar pertengkaran mereka, bahkan wanita paru baya itu tersenyum puas
Vin menarik napas kasar , berdiri, meraih puding yang tadi di letakkan Naera, belum sempat Vin melangkah, ibunya sudah mengahdang di depan sana,
__ADS_1
"Istri macam apa yang membentuk suaminya"
"Ceraikan dia Vin dia tidak pantas untuk mu
"Mah , stop"
"Kata cerai yang selalu mamah ucapkan, melukai perasaan istriku"
Vin melangkah keluar meninggalkan ibunya, dengan puding di tangan kirinya,
Sedangkan wanita paru Bayah itu menyunggingkan senyum penuh arti
"Aku akan merebut anak ku dan cucuku dari wanita tidak tau diri itu"
"Yaa hanya satu caranya"
..........
"Pah ,kai ngantuk"
"Anak papah ngantuk" Vin menggendong Kai yang sudah setengah sadar ,kai membenamkan wajahnya di celuk leher sang papah
"Pah, mah ,Vin tinggal bentar ya, kamar juga sudah di bersihin sama naera , kalo kalian mau istirahat"
Kedua paru Bayah itu mengangguk sebagai jawaban
"Mamah di kamar sayang"
"Pah kai mau di bacain dongeng"
"Dongeng yaa, dongeng yang mana papah yang bacain malam ini"
Vin sebenarnya tidak pernah membacakan dongeng, entah lah Vin hanya mencoba semoga saja anaknya tidur setelah mendengarnya membacakan dongeng .
Satu dongeng sudah di bacakan Vin, tapi kai enggan juga masuk kealam mimpi, apa mungkin vin membaca dongeng layaknya membaca buku sejarah, membosankan bagi kai.
"Kai kenapa belum tidur" suara Naera yang baru saja masuk kedalam kamar kai
Naera ikut bergabung di atas ranjang bersama kai , mendekap hangat kai dalam pelukannya, Vin yang tadinya hanya duduk di samping ranjang juga ikut bergabung tidur disamaping sang istri , Vin membenarkan posisi selimut untuk menutupi tubuh mereka bertiga
Nara mengusap lembut kepala kai Hinga sang empu tertidur pulas, biyasanya Naera membaca kan dongeng sambil tiduran di samping kai, satu tangan nya memegang buku, satun tangan nya mengusap kepala kai
Sedangkan Vin hanya duduk di samping ranjang benar benar membosankan untuk kai
Selang beberapa menit kai akhirnya masuk kealam mimpi. Naera merasakan pelukan Vin di pinggang rampingnya,mendekap posesif bahkan kakinya kini terasa terkunci dengan kaki vin
"Vin, kamu bisa membangun kan kai kalo seperti ini"
"Emm, aku memeluk kamu nae, bukan kai"
__ADS_1
"Iyaa tapi dia bisa terganggu "
Kai Sangat sensitif saat tidur mendengar bunyi decitan kasur aja dia bisa bangun.
"Makanya kita kekamar,kesian kan kalo kai terganggu" ucap Vin
"Malam ini aku ingin tidur di sini ,kamu bisa kembali ke kamar"
"Ga lah, kalo kamu tidur disini aku juga Disini".
"Terserah Vin, tapi lepaskan tanganmu aku sesak Vin"
Naera tidak berbohong dia memang merasa sesak dengan pelukan Vin yang posesif
Bukanya melepas, Vin malah mendekap lebih erat ,tersenyum puas dan membenamkan kepalanya di pundak sang istri
Seakan tadi pertengkaran hebat tidak pernah terjadi
Naera hanya bisa pasrah, Vin memang keras kepala, dari pada terus berdebat takut nya kai bangun lagi, mendengar perdebatan yang tiada hentinya
"gimana anaknya mau tidur, kalo baca dongeng, kaya baca buku sejarah" ledek naera , dengan suara sepelan mungkin, tapi masih bisa didengar Vin
"kamu ngeledek aku nae"
"enggak, itu kenyataan"
"awas aja kamu, kalo bukan di kamar kai, sudah habis kamu malam ini nae"
naera berdigik ngeri mendengar ucapan Vin
"tadi mamah bilang apa aja?"
"aku ngantuk , males berdebat"
"aku nanya, tadi mamah ngomong apa aja ke kamu, sampai kamu Semarah itu, bukan ngajak berdebat nae"
"mamah bilang, kalo aku ga bisa ngurus kamu sama kai, mamah bisa bilang ke kamu ,buat pisah sama aku" rasa sesak kembali ia rasakan, bulir bening mulai keluar dari pelupuk matanya, omongan mertuanya sungguh sangat melukai perasaannya.
"sakit banget Vin, sakiit, sumpah, aku bisa Nerima semua caci maki mamah kamu, tapi dengan hanya mendengar kata perpisahan dari mamah kamu , sungguh Vin , aku ga sanggup, aku ga bisa hidup tanpa kamu Vin, aku ga mau kita di pisah, aku ga mau vin"
naera berbalik menghadap Vin , dengan mata yang sudah banjir dengan air mata.
"ga akan ada yang bisa memisahkan kita, selain maut nae, ga akan aku biarkan siapapun misahin kita , walaupun itu mamah ku sendiri"
"kamu percaya kan sama aku" naera mengangguk
"udah jangan nangis, cantiknya Hilang, mauu" Vin menghapus jejak air mata yang membasahi pipi naera.
..........
__ADS_1