
Naera mendorong kursi roda Vin, mereka menuju ruangan kai, anak malang itu masih terbaring lemas di atas ranjangnya, tidak ada yang boleh masuk menemui kai termasuk Vin dan Naera. mereka Hanya bisa melihat anaknya dari luar, anak yang begitu mereka sayangi, anak yang selalu mengutkan naera dalam menjalani harinya, anak yang begitu di rindukan Vin
"anak ku mamah kangen nak, mamah pengen cium kai" sungguh naera tidak bisa menahan agar air matanya tidak tumpah melihat Putra semata wayangnya terbaring lemah.
Vin menguatkan dirinya untuk berdiri, memeluk wanita yang begitu rapuh itu.
"viin, kapan anak kita sadar, aku mau dongengin kai Vin, aku mau peluk dia"
"kamu yang sabar yaa nae, kita berdoa aja yang terbaik untuk kai"
hari hari berlalu, keadaan kai masih belum membaik juga anak itu masih dalam kondisi kritis, setiap hari naera berdoa untuk kesembuhan anaknya, setiap hari naera berharap ia datang anaknya sudah membuka mata, ia berharap anaknya kembali memanggil nya mamah, meminta Naera membacakan dongeng untuk nya, meminta Naera memeluknya ketika takut, tapi setiap hari juga naera harus terus melihat anaknya tidur dengan mata tertutup, alat bantu hidup masih terpasang di tubuh sang anak, ibu mana yang bisa melihat buah hatinya harus menahan sakit seperti itu.
Vin yang baru datang membeli sarapan , mengusap air mata sang istri yang terus ia lihat mengalir selama anak mereka ada di dalam rumah sakit.
"Makan dulu Yo" naera mengangguk, mengambil alih bawaan Vin.
mereka makan di taman rumah sakit, naera kehilangan banyak berat badan selama kai masuk rumah sakit, terlalu sulit menelan makanan saat melihat anaknya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"makan yang banyak nae, kamu kelihatan kurus banget" lagi lagi Naera hanya mengangguk
"naera" keduanya sama-sama mendongak mendengar panggilan yang tidak asing di telinga Naera.
"Daffa"
"boleh saya duduk"
"i__iya kenapa nggak" Vin mulai menampakkan ketidaksukaannya pada Daffa, ia menatap Daffa dengan tatapan dingin.
'maaf ya nae baru sempat jenguk Kai, beberapa hari ini aku harus ngurus kerjaan di luar kota"
"iyaa daf, nggak papa__aku ngerti ko"
"yang sabar ya nae" tanpa di duga entah sengaja atau tidak, Daffa menggenggam tangan Naera, Vin yang melihat itu tersulut emosinya, tangan nya mengepal di bawah meja.
naera sekilas menatap suaminya, hawa tidak enak bisa ia rasakan, naera menarik tangannya dari genggaman daffa, ia jadi salah tingkah.
"i__iya daf"
__ADS_1
naera yang tau Vin tidak suka dengan Daffa, menggenggam tangan Vin yang ada di balik meja, naera mengusap lembut tangan suaminya dengan sesekali menimpali ucapan Daffa, Vin menatap naera sesaat, ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan naera, Vin sengaja mengumbar kemesraan di depan daffa, ia merangkul pinggang naera posesif,Vin juga mengusap sudut bibir naera dengan alasan ada bekas Makanan padahal tidak ada apapun di sana, Vin yang mengusap kepala Naera , Sampai daffa muak melihat nya, daffa berpamitan pada mereka berdua.
Vin menyunggingkan senyum kemenangan
"kamu kenapa sih Vin"
"kenapa apanya nae?"
"bertingkah kaya anak kecil aja"
"aku nggak suka liat dia natap kamu, dengan beraninya dia memegang tangan istriku, nggak liat ada suaminya duduk di depan, kurang aja banget, kalo bukan dia partner bisnis perusahaan, sudah ku tendang mukanya "
naera tersenyum singkat melihat kecemburuan suaminya itu, hati Vin menghangat, akhirnya Naera bisa sedikit tersenyum di tengah getir keadaan keluarga mereka.
"kamu cemburu yaa Vin"
"iyaa aku cemburu, cemburu banget, puas kamu "
naera kembali menikmati sarapannya, sarapan itu tidak berakhir hening, mereka saling bertukar cerita, sedikit mengenyampingkan perasaan kawatir di hati masingmasing.
selesai makan , mereka kembali menunggu kai, menunggu anaknya membuka mata, entah kapan hari itu tiba, mereka menghabiskan waktu Hanya duduk di depan ruangan kai, naera yang mulai mengantuk tidur bersandar di lengan Vin.
....
tepat di hari ke 10 kai di rawat, mereka sedikit bisa bernafas lega, ada perubahan dengan kondisi kai, kai sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa, mereka juga sudah boleh menjenguk anaknya masuk ke dalam ruangan.
naera duduk di samping kiri anaknya, menggenggam telapak tangan mungil itu, ia usap kening putra kesayangannya.
"nak, kamu nggak capek tidur terus, kamu nggak kangen mamah, kai nggak mau liat mamah sama papah yah, ko betah banget sih tidur si situ"
naera tidak sendiri hari ini keren dan areksa juga datang menjenguk cucunya, keren berpindah duduk di samping Naera, keren bisa merasakan apa yang Naera rasakan sekarang, ia juga seorang ibu, ia juga pernah berada.di posisi yang sama dengan Naera, ia pernah melihat anaknya terbaring Lemah tak berdaya.
keren tidak akan meminta Naera bersabar, keren tidak akan meminta Naera berhenti menangis, keren merangkul Naera meletakkan kepala Naera agar bersandar di lengan nya, naera terisak di tengah pelukan keren
"mamah yakin kai anak yang kuat, kai pasti bisa sembuh , mamah yakin nak"
...
__ADS_1
"kamu sudah makan nae "
"emm, sudah, kamu __sudah?"
"iyaa"
Vin merapikan bawaannya di lemari ruangan kai. naera yang melihat itu ikut membantu Vin , setelah nya mereka duduk di sofa, Vin menepuk nepuk pahanya, mengisyaratkan naera tidur di atas pahanya.
naera yang paham akhirnya tidur di sofa dengan paha Vin menjadi bantalnya. Vin mengusap rambut panjang Naera, mereka tidak mengobrol banyak hal, keduanya hanya diam.
naera mengubah posisinya, naera menghadap ke arah perut Vin , tangannya ia lingkaran ke pinggang Vin.
"nae"
"emm"
"kamu tidur"
"enggak" naera kembali mengubah posisinya menjadi terlentang, tangannya terulur mengusap wajah Vin, Vin menahan tangan Naera , ia mencium telapak tangan dingin itu.
"aku sayang banget sama kamu nae, aku cinta banget sama kamu"
"a__aku bodoh banget pernah nyakitin perasaan kamu, pernah nuduh kamu yang enggak enggak, kamu kehilangan anak kita juga karena sikap egoiss ku nae, aku nggak mau mendengar penjelasan kamu, aku tersulut emosi akan kecemburuan ku"
naera menggigit bibir bawahnya, ia rubah kembali posisinya menjadi duduk di samping Vin, naera memeluk Vin.
"Jangan bahas itu lagi yaa, please"
"mendengar itu saja sudah cukup membuat ku sakit, apa lagi dengan mengingat nya, aku nggak sanggup Vin" lanjut Naera
Vin juga mengubah posisinya menjadi duduk bersila di hadapan Naera, Vin yang kali ini memeluk tubuh istrinya, menenggelamkan wajahnya di celuk leher Naera.
"Aku kangen banget momen momen kaya gini nae, aku kangen banget kita yang berbagi cerita"
"satu bulan ini kita memang tinggal di satu atap, Kita juga selalu menghabiskan waktu di atas ranjang, tapi semuanya terasa berbeda, seakan apa yang kita lakukan itu hanyalah untuk menyalurkan nafsu belaka"
Vin mengirup dalam oksigen sebelum melanjutkan ceritanya.
__ADS_1