
boleh Naera egois, boleh Naera meminta kebahagiaan keluhannaya tidak pernah hilang, boleh Naera memohon agar tidak ada yang merebut bahagianya, boleh Naera terus merasakan kehangatan seperti sekarang, apa boleh?
"nae kalo kamu belum siap ga papa, kita ga usah pergi"
"jangan Vin, keluarga kamu pasti sudah menunggu".
naera menyusun baju baju yang akan ia dan keluarganya kenakan saat di rumah mertuanya, mereka rencananya akan menginap 2 hari di sana, naera hanya berdoa 2 hari itu tidak akan seperti 2 bulan.
"yang ini di bawa nggak Vin"
naera menunjukan baju kaus berwarna hitam
"emm, bawa"
" papah" keduanya sama sama berbalik mendengar teriakkan kai , kai berlari masuk ke dalam kamar orangtuanya, kai mengangkut tangan meminta Vin untuk menggendongnya
'kenapa nak"
Vin menggeleng dan terus bersembunyi di celuk leher ayahnya
"kai kenapa sayang" naera mengelus lembut rambut kai, keduanya saling tatap, mereka bingung ada apa dengan anaknya
"papah ga akan kemana-mana kan,papah bakalan terus sama kak juga mamah kan" keduanya semakin di buat bingung dengan pertanyaan Tiba tiba sang anak
"Lo ko kai ngomong gitu sih"
"iya kai kenapa nak, papah ga akan kemana-mana, kan kita pergi bareng ke rumah nene"
kai kembali menggelar, pelukan di leher Vin semakin mengerat
anak kecil itu sungguh membuat orang tuanya bingung, ada apa sebenarnya, Kenapa pertanyaan itu tiba tiba keluar dari mulut polos kai, naera sesekali memandangi Vin, kenapa ia merasakan ketakutan yang sama dengan kai.
....
tepat pukul 4 sore mereka berangkat kerumah orang tua Vin, kegugupannya tergambar jelas di wajah Naera,
"sayang kamu ga papa"
"emm, aku gapapa"
"yakin"
naera menghembuskan nafas, melirik ke belakang, kai sudah tertidur di sana, mungkin kelelahan
"iyaa"
mobil Vin akhirnya terparkir di rumah mewah kediaman orang tuanya. beberapa pelayan mendekat untuk membantu mereka menurunkan barang, mereka juga ingin membantu Naera menggendong kai tapi Naera menolak.
"ga papa biar saya aja"
"mba pasti capek, biar saya bantu"
__ADS_1
"ga usah ga papa"
Vin akhirnya ikut turun tangan mendengar sedikit perdebatan kedua wanita itu
"nggak papa, kalian masuk aja"
mereka akhirnya menurut dan masuk, Vin mengambil alih kai dari gendongan Naera, satu tangannya menggandeng tangan Naera, mereka berjalan memasuki rumah mewah yang lebih kenangan itu.
"mamah papah mana" tanya Vin pada salah satu pelayan
"bapa sama ibu tadi Kelu, saya juga ga tau tuan"
Vin mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya, tapi langkah mereka terhenti, melihat jrn berdiri di depan mereka
"Hay Vin , gue kira Lo ga bakal datang"
"hai nae, seneng bertemu lagi" Jen mengulurkan tangannya, tapi tidak ada sambutan dari Naera, naera mengandeng lengan Vin kuat
"ka erja mana ka"
Jen menarik tangannya yang tidak terbalas, tersenyum miring ke arah keduanya
"ikut mamah kayanya "
Vin berjalan melewati Jen, dengan tangan Naera yang terus ia genggam erat,
detak jantung naera berdetak kencang sesaat setelah melalui Jen, masuk ke dalam kamar milik Vin, ia termenung trauma itu kembali muncul di ingatan, rasa sakit itu kembali berputar di pikiran, bagaimana ia akan melewati waktu dua hari yang teramat singkat itu , jika hanya berpapasan dengannya membuka naera bak kehilangan pungsi tulangnya.
"Vin" naera berjalan mendekat, memeluk Vin yang baru saja bangkit setelah meletakan tubuh mungil Vin di atas ranjang
"tenang sayang tenang, aku ga akan ninggalin kamu"
"kamu istirahat aja dulu , pasti capek kan, aku mau turun bentar "
naera menggeleng, enggan Vin pergi meninggalkannya
"sebentar nae, kunci aja pintunya, aku ga lama ko"
"aku ikut turun"
"kamu ga capek"
"enggak, aku juga mau bantu bantu"
"ya udah ayo"
di sepanjang jalan naera terus saja menggandeng lengan Vin, bergelantungan seakan takut di tinggalkan,
"kamu kenapa sih nae, aku ga akan pergi ko" sudut bibir Vin terangkat terbentuk senyum, agak lucu melihat naera bergelantungan di lengannya,
"kenapa kamu ga suka dekat dekat aku ya"
__ADS_1
"Iis, enggak gitu ko nae,lucu aja liat kamu kaya gini"
"istri kamu kenapa Vin, di rumah ini ga ada monster nya ko" keduanya berbalik mendapati keren bersama Clara
"mamah, dari mana" naera melepaskan pegangannya, tapi tangannya justru beralih menggenggam ujung baju yang kenakan Vin
"dari jemput Clara, kamu dari tadi, mana kai"
"baru aja, kai ketiduran mah"
"emm, Vin antar Clara ke kamar tamu , di samping kamar kamu, dan untuk kamu " keren menunjuk lekat wajah Naera
"ikut saya ke dapur "
naera tertegun mendengar perintah itu, ia seakan di anggap seperti pelayan di rumah mertuanya, di tambah mertuanya itu secara terang terangan meminta suaminya agar bisa lebih dekat dengan mantannya.
naera sudah ingin melangkah tapi lengannya di cekal.
"kenapa haru Vin yang nunjukin kamarnya, di sini banyak pelayan mah"
"apa susahnya si Vin nurut, sama.mamah sekali aja, semenjak kamu kenal wanita ini, kamu itu ga pernah sekalipun mengikuti apa kata mamah,kamu masih nganggqp mamah orang tua kamu kan Vin"
"kenapa mamah ngomong kaya gitu, kenapa juga mamah terus menyalahkan naera, belum ada setengah hari Vin sekeluarga tiba , mamah udah nyalahin naera dengan berbagai macam alasan"
"VIN" Bentak areksa
"Jangan kurang ajar kamu Vin, sejak kapan kamu berani membentak mamah kamu kaya gini hah, apa kami pernah ngajarin kamu jadi anak yang ga sopan hah"
Vin menyibak rambutnya ke belakang, membasahi bibir bawahnya,
"pah mah, Vin datang bukan untuk cari masalah, Vin datang buat ikutan acara pernikahan kalian, Kenapa kalo Vin datang selalu aja kaya gini"
"SEMUANYA KARENA WANITA ITU VIN, WANITA ITU SUDHA MERUSAK KELUARGA KITA, WANITA ITU YANG SUDAH MERUBAH ANAK MAMAH MENJADI PEMBANGKANG KAYA GINI"
naera ta kuasa menahan sesak di hatinya mendengar semua yang ibu mertuanya ucapkan, tidka ada satupun yang membelanya kecuali Vin,pria itu rela menjadi benteng antara istri dan keluarganya,.
"Vin udah" lirih naera
"aku ga bisa nae liat mereka selalu aja ngerendahin kamu kaya gini"
"GA ADA YANG MERENDAHKAN WANITA ITU VIN, WANITA ITU SUDAH RENDAH SEJAK AWAL"
"MAMAH"
PLAK
Tamparan mendarat mulus ke wajah Vin, naera berteriak histeris
"viiiin"
"kita pulang nae" Vin menarik pergelangan tangan Naera
__ADS_1
"selangkah kamu keluar dari rumah ini Vin, hubungan kita selesai" langka Vin tertahan
"sekali kamu berani keluar dari rumah ini sebelum acara di mulai, kamu bukan anak kami lagi"