
...Aku ingin menua bersama mu, aku ingin habiskan sisa waktu ku dengan mu...
Selain Vin , keren juga sering datang menjenguk naera. Seperti sekarang keren datang bersama areksa. di luar ruangan naera ada Ali juga Farah, mereka enggan menatap atau sekedar saling sapa dengan mertua anaknya, terlalu sulit melupakan rasa sakit yang di alami naera.
"nae mafin mamah ya nak, mamah tau mamah banyak salah sama kamu, mamah sudah berusaha membuat Vin meninggalkan kamu, padahal mamah tau Vin begitu menyayangi kamu, karena gengsi, mamah tega menyakiti wanita sebaiknya kamu, maafin mamah nak"
keren mengusap pucuk kepala Naera, menatap wajah menantu yang ia selalu sakiti hatinya,
wanita yang rela mengorbankan hidupnya dengan anaknya.
keren sadar akan semua hal yang ia lakukan pada Naera, hatinya terenyuh saat melihat naera duduk bersimpuh di hadapannya, memohon pada keren untuk di pertemukan dengan kai waktu itu, tapi ego juga gengsi yang teramat tinggi, menutup hati kecil keren.
sekarang ia hanya ingin naera sadar dari komanya ingin memohon maaf pada Naera, jika mungkin ia akan bersimpuh di bawah kakinya.
"nak, cepatlah bangun, mamah ingin peluk kamu nak, mamah ga akan lagi misahin kamu dengan Vin, mama sadar semua kejadian ini salahnya mamah"
tidak lama Vin juga datang, seperti biasa ia mengganti bunga Daisy di ruangan naera.
Vin duduk di samping kanan naera, mengusap kepala Naera, sedangkan keren dengan areksa duduk di sebelah kirinya.
"kai mana Vin"
"ada di depan sama neneknya "
"kamu yang sabar ya nak, naera pasti sembuh"
Vin hanya mengangguk pandangannya tidak teralihkan dari Naera,
"mamah sama papah pulang dulu, kamu jangan lupa makan nak, jaga kesehatan,mamah lihat kamu makin hari makin kurus, jangan sampai mamah juga lihat kamu terbaring di ranjang rumah sakit"
lagi lagi Vin Hanya mengangguk.
Vin yang kelelahan tertidur sambil menggenggam tangan Naera, naera yang memang sudah sadar beberapa hari yang lalu. membuka matanya, tangannya terangkat menyentuh pucuk kepala Vin, air matanya jatuh lagu, semua kenangan menyakitkan yang Vin lakukan padanya berlomba di otaknya.
naera belum bisa menatap wajah Vin, naera belum bisa melupakan semua yang Vin lakukan, ia juga menyadari kehadiran ibu mertuanya, naera tidak bohong hatinya menghangat ketika keren mengusap kepalanya, tapi Naera butuh waktu untuk semuanya.
Vin yang ternyata tidak tidur menggenggam pergelangan tangan Naera yang masih ada di atas kepalanya, Vin mengangkat wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"viin" panggilan yang begitu di rindukan Vin, Vin memeluk Naera , ia tumpahkan semua air matanya di hadapan Naera, begitu pula dengan Naera .
Vin melepaskan pelukannya tapi Naera mengalihkan tatapannya ia tidak ingin melihat Vin, Vin tau naera sudah sadar, ia pernah tanpa sengaja melihat orang tua Naera berbicara dengan Naera , ia juga mendengar naera yang tidak ingin kembali Padanya, jangankan kembali menatap wajahnya saja Naera enggan.
"Nae, aku mohon lihat aku nae"
"viin, beri aku waktu sendiri, pulang lah Vin"
__ADS_1
"jangan kaya gini nae, kita selesaikan masalah kita sekarang, yaa,". naera menggeleng, ia menutup matanya, sebegitu besar rasa kecewa yang Vin berikan untuknya.
Vin mengalah ia tau naera membutuhkan waktu untuk sendiri, Vin mengusap pucuk kepala Naera, ia juga mencium kening naera.
"aku akan datang lagi sampai kamu siap Nerima aku lagi nae"
"nae, aku menyayangimu, aku merindukanmu"
Vin pergi dengan air mata berderai, naera pun sama terlukanya disini, ia kehilangan calon anaknya, di tuduh berselingkuh, padahal naera tau Vin lah yang telah mempermainkan rumah tangga mereka, naera rapuh ia membutuhkan Vin saat itu, tapi apa ?, pria itu justru membuatnya semakin terpuruk.
naera juga begitu merindukan Vin, ia ingin mengusap punggung lelaki itu, tapi rasa benci dan kecewa teramat besar untuk di lupakan begitu saja.
....
Naera selalu menutup matanya saat Vin datang menjenguknya, Vin juga tidak memaksa naera untuk bisa memaafkannya begitu saja.
keadaan naera semakin membaik, ia di ijinkan untuk pulang hari ini, naera sudah siap di kursi roda duduk sambil memangku kai , sedangkan orang tuanya membersihkan barang barang naera.
"kai lapar nak"
"iya mah, kai mau dibikinin bubur sama mamah" naera menciumi pipi gembul kai bertubi tubi, ia gemas melihat anaknya
"iyaa, nanti mamah bikinin bubur yang enak kesukaan kai"
"yeeeyy,mah, kita nggak nunggu papah"
"nanti kalo papah cariin kita Gimana"
naera saling pandang dengan orangtuanya
"nanti papah nyusul ok"
"iyaa" jawab kai di sertai dengan anggukan
Mereka berpapasan dengan Vin yang datang menjenguk naera seperti biasanya, Vin tidak tau jika hari ini Naera pulang
"papaaah" panggil kai polos
"Yah, bawa kai dulu, nae mau ngomong berdua dengan Vin sebentar"
...
Sekarang mereka ada di taman rumah sakit, keduanya hanya diam keduanya fokus mengamati satu keluarga yang bahagia, dimana istri dan anaknya duduk di kursi roda sedangkan suaminya mendorong kursi roda itu mengelilingi taman
"Aku bawain bunga kesukaan kamu nae"
__ADS_1
naera menerima bunga itu, jika biasanya naera merasa bahagia saat Vin membawakan bunga untuknya,tapi kali ini ia merasa hambar tidak ada perasaan hangat seperti biasanya.
"Nae" keduanya saling berhadapan, sorot mata mereka menggambarkan hal yang berbeda.
"Aku minta maaf untuk semuanya"
"Aku mengaku, aku belum bisa melupakan Clara seutuhnya" naera menutup matanya sesaat, kalimat Vin begitu melukai perasaannya.
"Aku bodoh mempercayai begitu saja foto yang mamah dan Clara tunjukkan"
"Aku salah, sekarang aku sadar , aku masih bisa hidup tanpa Clara tapi satu hari tanpa kamu, sungguh aku ga bisa nae"
"Jujur dengan ku Vin , apa kamu tidur dengan Clara" Vin menggeleng cepat ia menggenggam tangan Naera
"Aku bersumpah nae, aku ga pernah tidur dengannya, aku mengakui, aku sempat terbuai olehnya, tapi itu sekedar ciuman "
Tumpah sudah air mata Naera, apa Vin bilang sekedar ciuman?, Ciuman endas mu.
Naera menarik tangannya , ia mengusap air matanya dengan kasar.
"Vin kayanya kita ga bisa sama sama lagi"
"Kamu ngomong apa sih nae, kita akan tetap bersama , kita akan menua bersama"
"Enggak Vin, aku enggak bisa, aku butuh waktu sendiri, aku butuh waktu untuk menenangkan diri"
"Baiknya kita berpisah dulu Vin, kita jalani hidup ini masing-masing, aku butuh menyembuhkan semuanya, aku butuh waktu untuk melupakan semuanya "
"Enggak nae kita bisa bersama, aku yakin kamu bisa lupakan semuanya, aku janji aku akan buat kamu bahagia nae, aku ga akan mengecewakan kamu lagi, aku janji nae" Vin kembali menggenggam tangan Naera, ia letakkan tangan pucat itu di depan dadanya.
Naera menggeleng, bergeser agar lebih dekat dengan Vin, naera memeluk Vin, mengusap punggung pria itu
"Maaf kan aku nae"
"Iya Vin aku sudah memaafkan kamu, tulus dari hati ku"
"Apa ga ada kesempatan untuk ku lagi nae" naera lebih memilih bungkam.
"Apa kita ga bisa kaya dulu lagi nae"
"Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, saling mencintai Hingga maut memisahkan aku yakin kita akan bertemu lagi, meski di sebrang sana akan ada badai yang menjadi penghalangnya "
"Kalo pun kita tidak di takdir kan untuk menghabiskan waktu bersama, aku yakin suatu hari nanti kamu bisa menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari pada aku "
Vin menggeleng ia mengeratkan pelukannya
__ADS_1
"Aku akan menunggu mu nae, entah sampai kapanpun itu, aku akan menunggu mu, aku menunggu kamu kembali, kita akan bersama"