
Naera dan kai benar benar pergi meninggalkan Vin, sudah hampir satu tahun kepergian mereka, entah kemana perginya mereka, Vin selalu mencari keberadaan istri dan anaknya tapi nihil sampai sekarang Vin belum bisa menemukan naera, seolah mereka menghapus semua jejak agar tidak ada yang bisa menemukannya, orang tua Naera masih tetap di Bandung, tapi jelas mereka tidak akan pernah memberitahu keberadaan anak dan cucunya, Vin sering datang mengunjungi mertuanya, selain berkunjung vin berharap menemukan sedikit saja berita tentang keluarganya.
Vin mencabut gugatan perceraiannya, sampai saat ini mereka masih sah menjadi suami istri, Hari ini tepat ulang tahun pernikahan mereka yang ke 6 tahun, Vin duduk di pinggir pantai memandangi ombak, dulu saat awal-awal menikah, naera Selalu mengajak Vin ke pantai, ia suka mendengar sahutan ombak pantai, naera juga suka wajahnya terkena hembusan angin pantai, Vin mengingat semua kenangan mereka, naera yang tidur dan menjadikan paha Vin sebagai bantalannya.
Vin begitu merindukan mereka, tanpa ia sadari sudut matanya kembali basah, Baju kantor masih melekat di tubuh Vin, ia memang tidak pernah langsung pulang setelah bekerja, Vin lebih suka mendatangi tempat-tempat yang menjadi kenangannya dengan Naera.
Vin memandang wajah istri dan anaknya di layar ponsel miliknya, seutas senyum nampak terlihat di wajah tampannya.
"kalian di mana?"
"nae pulang lah, aku merindukan kalian, aku mohon pulang lah"
foto naera dan kai terganti dengan panggilan masuk dari keren, Vin membuang nafas kasar sebelum menerima panggilan dari ibunya
"*di pantai mah"
"pulang lah nak, mamah sudah masakin makanan di rumah kamu, nanti dingin ga enak lagi dimakannya"
"iya mah Vin pulang sekarang*"
semenjak Vin di tinggalkan naera, hidup Vin menjadi hiling arah, Vin menjadi uring uringan, makannya pun tidak terurus, tubuh tegaknya terlihat kurus, keren sering datang menemui anaknya, keren tidak tega melihat keadaan putra bungsunya, perasaan bersalah kian menghantui keren, ia juga sering datang menemui orang tua Naera , memohon pada besannya untuk di beritahu di mana keberadaan menantunya, tapi sama saja orang tua Naera memilih bungkam.
Di perjalanan pulang Vin mampir ke toko bunga langganannya, Vin memang tidak pernah absen membeli bunga Daisy setiap minggunya, dengan seperti itu, sedikit bisa mengobati rasa rindu Vin dengan Naera.
Tidak jauh dari toko bunga itu ada penjual permen kapas, permen kapas itu mengingatkan Vin saat ia marah besar pada Naera karena mengijinkan kai makan permen kapas , Vin enggan mendengar penjelasan naera, kenapa naera membelikan kai permen kapas, Vin memang egois.
Vin membeli permen kapas yang sama seperti milik kai waktu itu.
__ADS_1
...
"Vin turunlah nak setelah mandi, mamah siapkan makan malam untuk mu" Vin hanya mengangguk berjalan menuju kamarnya
Vin mengganti bunga yang mulai mengering dengan bunga baru yang ia beli tadi, Vin melonggarkan dasinya yang begitu mencekik leher, Vin duduk di pinggir ranjang menatap dalam permen kapas berbentuk panda.
Sekalipun seumur hidup Vin belum pernah memakan makanan manis itu, pola makan dan gizinya begitu terjang sejak kecil , dan Vin juga menerapkan hal yang sama pada putranya, dan untuk pertama kalinya Vin ingin mencoba Makanan manis itu
"Pantas saja kai suka permen ini begitu manis" Vin makan sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang malam , berharap Naera juga seperti dirinya duduk di balkon kamar memandangi langit yang di penuhi bintang.
"nae kamu lagi apa, apa sekarang kamu juga sedang di balkon menatap langit malam yang begitu indah, lihatlah nae, aku memakan permen manis ini"
Vin menunduk setelah bergumam sendiri.
Vin bisa merasakan tangan keren di pundaknya,
"nak"
"mandi lah, mamah sudah masak, nanti dingin kalo di biarkan"
"naera biasanya menyiapkan air hangat untuk Vin mah,naera pasti sudah mengomel karena Vin membiarkan airnya menjadi dingin kerena sibuk melanjutkan pekerjaan kantor, naera biasanya juga menyiapkan pakaian untuk Vin, Vin suka saat Naera berdiri di depan Vin dengan pengering rambutnya"
"Kamu yang sabar ya nak, kalian pasti akan kembali bertemu kalian akan kembali berkumpul "
"sudah satu tahun mah, Vin ga tau gimana kabar anak sama istri Vin, Vin melewatkan satu tahun tanpa mereka itu berat mah"
"iyaa Vin mamah tau , mamah ngerti perasaan kamu nak, hidup terus berjalan kamu ga boleh gini terus, mamah yakin naera juga ga akan Suka kalo liat keadaan kamu kaya gini nak, naera memberikan waktu untuk kita semua agar bisa saling memperbaiki diri, bukan malah menyiksa diri seperti ini Vin, mamah yakin jika memang kalian di takdir kan untuk bersama, naera akan kembali, kamu akan menemukannya lagi Vin"
__ADS_1
Vin menatap langit langit, menyibak rambutnya ke belakang, ia juga menghirup kasar oksigen di sekitarnya.
"bersabarlah nak"
...
Vin bersandar di punggung ranjang, selimut menutupi tubuhnya hingga pinggang, beginilah cara Vin mengobati sedikit rasa rindunya dengan membuka album foto keluarga kecilnya, dari awal mula pertemuannya dengan Naera, hari lamaran, pernikahan, hamil, kelahiran anak pertama mereka, Semuanya terabadikan di album foto itu, naera yang biasanya paling Suka mengabadikan momen, katanya "setiap waktu yang lewat akan jadi kenangan di hari tua"
Di lembar terakhir Vin meletakkan hasil USG naera , hasil USG janin yang belum pernah ia sapa di dalam perut Naera, janin berusia 6 Minggu yang memilih pergi meninggalkan orang tuanya, meninggalkan sejuta luka karena di tinggalkan.
walaupun usianya hanya 6 Minggu tapi ia pernah hidup di perut Naera.
Vin membenarkan posisi tidurnya, ia menghadap di mana sisi sebelahnya kosong, sisi ranjang yang biasanya di isi naera kosong sudah satu tahun lamanya, Vin merindukan saat-saat dimana naera menceritakan harinya pada Vin, dengan setia Vin mendengarkan keluh kesah Naera, tapi semua hanyalah kenangan tidak ada lagi naeranya yang cerewet.
...
"siapkan semua berkas yang harus di bawa besok"
"iya pak, ini ada beberapa berkas yang harus bapa tandatangani"
"besok berangkat jam berapa"
"10 pak, kita sudah harus menghadiri rapat jam 2 siang"
"baiklah, siapkan semua untuk keperluan besok"
sekertaris Vin mengangguk berlalu meninggalkan Vin di ruangannya, besok Vin akan melakukan penerbangan ke Singapura, ada rapat yang harus ia pimpin di perusahaan cabang di sana.
__ADS_1
Bukan perjalanan singkat mungkin Vin akan menetap selama satu bulan di sana, Vin juga pernah mencari naera ke sana, berharap Hana tau di mana naera tapi tetap sama hasilnya nihil.
Vin tidak mengenal kata lelah mencari naera, kemana pun ia pergi tidak akan pernah ia lupakan untuk mencari naera.