Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
Nafsu dan cemburu


__ADS_3

...kau jadikan tubuhku sebagai pelapisan hawa nafsumu semata, ...


"Daf ini semua laporan perusahaan hari ini"


"makasih nae, kamu langsung pulang"


"iya daf, kasihan kai pasti sudah menunggu"


"Ikut aku aja nae, sekalian aku juga udah mau pulang"


"enggak usah daf, nanti ngerepotin__ kamu lagi"


"Santai aja nae, aku juga nggak ngerasa kamu ngerepotin aku"


naera tidak enak untuk menolak , ada aja alasan daffa untuk tetap mengantarnya pulang, akhirnya Naera setuju dan di sinilah ia sekarang, di dalam mobil Daffa.


"Daf bisa mampir ke supermarket sebenar?"


sebenarnya naera tidak enak meminta Daffa menghentikan mobilnya, Daffa itu bosnya bukan temannya, naera merasa tidak sopan, tapi Naera perlu berbelanja keperluan dapur.


"kenapa enggak nae!!


"maaf ya daf, ngerepotin, aku jadi nggak enak, jadi kurang sopan ke bos aku sendiri "


"nae aku kan pernah bilang ke kamu jangan sungkan minat bantuan ku, anggap aku teman kamu nae, aku akan selalu ada buat bantuin kamu, jangan merasa tidak sopan karena aku bos kamu "


naera tersenyum singkat.


..


Naera membeli 2 bungkus ayam, karena malam ini Naera ingin memasak menu asam manis, naera juga membeli beberapa bumbu cepat saji. naera memutari area perbelanjaan dengan Daffa yang selalu ada di samping nya, mereka sudah terlihat seperti suami istri yang sedang belanja bulanan.


Daffa juga membantu Naera mendorong trolinya.


"ada lagi yang mau di beli nae"


"emm, kayanya itu aja deh"


mungkin karena habis turun hujan jalanan menjadi licin, naera yang menggunakan sepatu hak tinggi tergelincir dengan cepat Daffa yang sudah hampir masuk ke dalam mobil berlari menolong naera, Tangan Daffa merangkul pinggang naera, getaran jantung Daffa sudah tidak terkontrol lagi__ begitu pula dengan Naera.


naera bergegas membenarkan posisi tubuhnya, tapi tangan daffa masih setia merangkul pinggangnya, matanya pun tidak lepas memandangi naera.


Daffa akhirnya sadar dan melepaskan rangkulannya.


"Hati hati nae, jalannya licin"

__ADS_1


Daffa menautkan jemarinya dengan jemari naera, jelas hal itu membuat Naera kaget bukan kepalang


"ayoo" naera hanya bisa membolakan matanya.


di dalam mobil __suasana menjadi canggung, keduanya diam, mungkin karena kejadian di depan supermarket tadi, entah dari mana datangnya keberanian Daffa tadi.


naera tinggal di perumahan yang ada di kota ******, daffa mengantarkan naera sampai ke depan pintu gerbang rumahnya, padahal naera sudah minta di turunkan di depan pagar depan saja, naera jadi gugup takut Vin melihat dan berpikir macam macam


naera langsung turun dengan membawa kresek belanjanya, bukannya pergi__ Daffa malah ikut turun juga, naera keheranan apa yang di inginkan pria di depannya ini


"kenapa daf" tanya naera bingung


"apa kai di rumah, kamu tidak menjemputnya nae?"


"enggak__ kai di rumah Hana, aku mau main ke sana nanti " terpaksa naera berbohong, padahal naera jelas tau Vin ada di rumah mobil Vin sudah terparkir di garasinya.


"emm, nae itu siapa" matilah naera , naera memejamkan matanya membalik tubuhnya menghadap Vin yang berjalan mendekati mereka.


"itu bapak Kevin areksa?" Daffa menebak


naera hanya bisa meneguk salivanya susah payah, oksigen seakan Hilang dari udara, naera merasa sesak, seperti kedapatan berselingkuh dari Vin, naera juga merasa sudah sangat membohongi bosnya.


Vin mendekat dengan raut wajah datar, menyalami partner bisnisnya,


deg


istri


Daffa menatap Naera dan Vin secara bergantian,


"kalian suami istri "


Vin mengangguk dengan tangan di dalam saku celana, sedangkan Naera bungkam


"Nae ini ayahnya kai "


"i__iya daf, dia suami ku, Papahnya kai"


bagaikan di hantam batu beton, sakit yang sekarang Daffa rasakan, Daffa memang tidak pernah bertanya dimana dan kemana suami naera, Daffa mengira naera berstatus sama dengannya, single parent , tapi nyatanya naera maish bersuami, hilang sudah harapan daffa untuk bisa dekat dengan naera, Daffa lebih memilih pergi dari pada terus merasa sesak di antara suami istri itu.


"kalo gitu aku pulang dulu nae, pak, saya pamit dulu"


"i__ iya daf hati hati" Daffa masuk ke dalam mobilnya dengan cepat meninggalkan kediaman naera.


Vin menatap naera dengan tatapan dingin, Vin berlalu masuk meninggalkan naera tanpa mengatakan apapun, naera mengekor di belakang

__ADS_1


"Kai mana Vin" tangan naera sedikit takut


"di kamarnya"


"naera menyusun belanjaannya


"kalian sudah makan?" tanya Naera lagi canggung, naera seperti kedapatan sudah selingkuh di hadapan Vin, tapi pria itu terlihat acuh tidak ada pertanyaan apapun namun wajahnya mengartikan hal yang lain


Vin mengepal kedua tangannya hingga urat uratnya terlihat menonjol, Vin benar benar marah melihat naera di antar pulang dengan pria lain, Vin menahan sekuat mungkin untuk tidak melayangkan pukulan di wajah Daffa, Vin ingin meminta penjelasan naera tapi ia urungkan, takut ia hilang Kendali dan berakibat buruk bagi hubungan mereka, Vin takut Naera semakin menjauh, Vin berusaha menahan gejolak cemburu di hatinya, Vin berusaha setenang mungkin.


"kai sudah makan" jawab Vin


"kamu?"


"aku gak lapar, aku ngantuk" Vin berlalu meninggalkan naera, Vin masuk ke dalam kamar naera menenggelamkan tubuhnya di balik selimut tebal naera, naera yakin pria itu sedang menahan amarahnya sekarang. sebenarnya naera ingin memasak untuk Vin , tapi ia urungkan karena Vin sedang dalam mode marah.


naera masuk ke dalam kamar, membersihkan diri sebelum beristirahat.


naera tidur di samping Vin, membelakangi pria itu, tanpa ia duga Vin menariknya masuk kedalam dekapannya, Vin merengkuh naera posesif, kakinya mengunci kaki naera.


"Aku cemburu nae" bisik Vin di telinga Naera


"aku ga suka liat kamu dekat dengannya" naera bisa merasakan hawa panas di ruangan dingin itu.


"K__kita kan juga akan pisah, kamu ga seharusnya bersikap seperti itu"


"tapi kita belum pisah nae, kita masih sah__ ingat itu"


Vin membalik tubuh naera menghadapnya, tatapan mereka bertemu, Vin ingin menyatukan bibir mereka__tapi Naera menghindar, Vin beralih ke celuk leher Naera, menghirup dalam aroma tubuh naera , mungkin besok akan ada tanda biru lagi di sana.


"v__vhin" ucap Naera kesusahan.


Vin merubah posisinya jadi berada di atas naera, tersirat kemarahan dari sorot mata Vin, naera sampai ngeri menatapnya, naera lagi lagi menghindar saat Vin ingin menyatukan bibir mereka, Vin kembali menghirup dalam perpotongan leher Naera, menciptakan desiran di tubuh naera .


"kamu jadikan tubuhku untuk menyalurkan hawa nafsu mu Vin, aku biarkan kau melakukannya, aku hanya tidak ingin melihat amarah mu lagi, aku takut Vin" monolog naera,


naera bisa melihat nafsu juga amarah di wajah Vin yang sekarang berada di atas tubuhnya, keringat bercucuran di wajah Vin , tanpa Vin tau wanita yang ia tiduri sekarang menahan sesak di hatinya, naera menangis dalam diam.


malam ini kembali menjadi malam yang panjang untuk mereka, Vin menyalurkan emosinya dengan menyatukan tubuh mereka, naera tidak menolak , ia membiarkan apapun yang Vin lakukan padanya,sampai mereka kembali bangun dengan keadaan tanpa busana di pagi harinya.


vin yang merasakan gerakan naera dengan cepat mempererat pelukannya, tidak membiarkan Naera beranjak dari tidurnya


"aku harus bekerja Vin, kau juga harus bekerja"


"Aku ingin seperti ini dulu, aku gak akan bisa merasakan ini lagi setelah kita berpisah, aku ingin mendekap mu lebih lama lagi nae"

__ADS_1


__ADS_2