Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
Egois


__ADS_3

Pernah dengar, katanya, di balik perceraian orang tua akan ada anak yang menjadi korban, akan ada anak yang lebih terluka karena perpisahan orang tuanya. yaa, itu bukan hanya sekedar Cerita, itu fakta adanya, orang tua yang berpisah anaklah yang akan paling berdampak, berdampak pada mentalnya, berdampak pada sosialnya, berdampak pada pola pikirnya, berdampak pada jiwanya.


sebegitu berpengaruhnya seorang anak akan perceraian orang tua mereka, karena keegoisan orang tua.


...


tangan Vin bergetar saat menggendong tubuh anaknya yang sudah bersimpuh darah. naera yang masih ada di atas bahkan tak sanggup lagi untuk sekedar berdiri dari tempatnya.


"NAERAAA CEPAT KITA HARUS BAWA KAI KE RUMAH SAKIT"


Naera menggeleng kuat, naera masih berharap apa yang ia lihat tidaklah nyata adanya., semua itu hanya mimpi saja.


"NAERAAAAA SADARLAH, APA KAU INGIN KEHILANGAN ANAKMU UNTUK YANG KE DUA KALINYA " Vin masih berusaha menyadarkan Naera meski ia sendiri juga sudah tak sanggup lagi untuk berdiri dan menatap wajah anaknya yang terbujur kaku.


"NAERAAAAAAA"


naera sadar dan berlari menyusul Vin keluar, Vin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak lagi menghiraukan mengendara lain di sebelahnya, sedangkan Naera yang duduk di bangku belakang, memeluk erat tubuh anaknya, tangis naera pecah , berkali kali ia meminta anaknya untuk membuka mata , tapi sayang anak itu sudah kehilangan kesadarannya.


"VIIIIN CEPAAAT"


...


Tangis naera pecah saat anaknya di bawa masuk ke dalam ruangan. vin memeluk Naera yang terisak, baju kemeja putih yang Vin gunakan, sekarang sudha di penuhi darah anaknya.


"kaiiii, viin, kai anak kita viin"


Vin pun sama terlukanya, ia juga menangis memeluk Naera.


"kita duduk dulu nae" Vin membawa tubuh naera agar duduk di kursi tunggu, Vin terus mengusap punggung naera yang bergetar, padahal ia sendiri juga sama terguncangnya.


"Kai viin kaii"


selang beberapa menit dokter keluar dengan raut wajah tegang, meminta kedua orang tua itu ikut masuk ke dalam ruangan


"anak kalian mengalami pendarahan hebat "


naera hanya bisa menutup mulutnya, tak sanggup lagi ia mendengar kelanjutan yang dokter itu ingin katakan.


"jadi gimana keadaan anak saya dok"

__ADS_1


"kita perlu darah, sayangnya stok darah yang cocok habis"


"gunakan darah saya dok, saya ayahnya, darah saya pasti cocok"


"kalo gitu bapak ikut saya untuk pemeriksaan lebih lanjut" Vin mengangguk sedangkan Naera Hanya bisa menangisi kebodohan, juga kelalaiannya.


Vin sudah melaksanakan pemeriksaan sekarang menunggu hasilnya


"naera diamlah, kau membuat ku ikut panik kalo kau terus menangis seperti ini"


"KAIII , ANAK KITA HAMPIR MEREGANG NYAWA DI DALAM SANA VIIIN, DAN KAU MEMINTA KU UNTUK TETAP TENANG, DI MANA AKAL MU VIN, DI MANA"


"AKU JUGA SAMAAA, AKU JUGA TAKUT, AKU SAMA SEPERTI KAMU NAEE, TAPI INI, DENGAN TERUS MELIHAT MU MENANGIS SEMAKIN MEMBUAT KUUUU SULIT UNTUK BERPIKIR KALO ANAK KITAAA PASTI AKAN BAIK BAIK SAJAAAA, BERHENTILAH MENANGIS NAEEE, BERHENTIIIII"


"kalian berdua apa apa an sih, ini rumah sakit, kalo mau bertengkar sana kelapangan, bawa parang sekalian, terserah kalian, jangan di sini, anak kalian sekarang sedang berjuang melawan maut, tapi orang tuanya justru saling meninggikan suara, di mana akal kalian, di mana hati nurani kalian sebagai orang tua"


Jehan yang juga datang bersama Hana setelah Naera menelpon Hana jika kai masuk rumah sakit, mereka bergegas menyusul kerumah sakit tapi justru melihat pertengkaran orang tua kai yang tidak ada ujungnya itu, Hana duduk di samping Naera memeluk sahabatnya, menguatkan naera dalam dekapannya, sedangkan jehan yang tersulit emosi berusaha tetap tenang, membuat ke-dua orang tua kai sedikit sadar , jika mereka terlalu egois sampai mempertaruhkan nyawa anak mereka sendiri.


"kalian egoiss, kalian berdua sama aja, sama sama mementingkan ego, sekarang liat, liat anak kalian di dalam sana, LIAAAT, bukannya Sadar kalian justru semakin menjadi"


Hana yang melihat suaminya semakin emosi, berusaha menenangkan Jehan, ia Tuntun tubuh jehan duduk di sampingnya.


"sayang sudah" Hana berusaha menenangkan suaminya, naera masih terisak, sedangkan Vin merubah posisinya jadi duduk bersandar.


...


Vin akhirnya di minta untuk masuk ke ruangan, sebelum Vin melangkah naera mengehentikan langkah Vin, memeluk pria itu, Vin membalas pelukan naera , mereka saling menguatkan dalam keadaan seperti sekarang.


"kamu tunggu sini, berdoa untuk anak kita, aku akan lakukan untuk apapun untuk kai , untuk keluarga kita"


naera mengangguk


"nae kabari orang tua kamu, kabari juga orang tua ku, sekarang yang kamu perlukan dukungan dari mereka, aku takut tidak bisa mengontrol emosiku di saat seperti ini" naera kembali mengangguk dan melepaskan pelukannya.


"doakan kami"


"pastii"


setelahnya Vin masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


...


"Lo yang sabar yaa nae" naera mengangguk


"ini salah gw Han, karena keegoisan gw anak kami menjadi korban, andai aku bisa kembali menerima tawaran Vin untuk hidup lagi seperti dulu, anak ku nggak akan mengalami hal seburuk ini, anak ku nggak akan kaya gini hann" naera menahan sesak di hatinya, melihat kondisi buah hati yang begitu ia kasihi


"sekarang bukan saatnya saling menyalahkan nae, kalian sebagai orang tua harus bisa menguatkan, kalian harus saling support"


naera hanya bisa menunduk menutup wajahnya, terisak untuk kesekian kalinya.


"kamu sudah kabarin orang tua sama mertua kamu nae


"iyaa sudah"


"apa kata mereka "


"mereka ambil penerbangan siang ini"


"tegar lah nae ini lah cobaan untuk kalian"


"cobaan atau hukuman Han" naera mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya, Hana iba melihat kondisi sahabatnya, Hana juga seorang ibu, ia bisa merasakan betapa hancur hati naera melihat anaknya terbujur kaku di dalam sana, Hana hanya bisa memeluk sahabatnya, tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang, selain saling menguatkan


...


transfusi darah telah selesai, naera masuk ke ruangan rawat Vin, pria itu masih lemah karena baru saja kehilangan banyak darah


"kamu nggak papa Vin"


"emm"


Vin sebisa mungkin mengangkut tangannya, menghapus jejak air mata di wajah Naera


"jangan menangis, kalo kau menangis aku semakin terluka, melihat orang-orang yang aku sayangi sedang tidak baik baik saja"


naera tidak sanggup lagi, ia memeluk Vin menumpahkan semua air matanya.


"huuuss"


"maafkan aku Vin, maaf, ini semua salah ku , aku yang salah, andai aku tidak mementingkan ego anak kita nggak akan menjadi korban, kamu benar Vin , kamu benar aku terlalu egois, aku mementingkan ego ku dari pada kebahagiaan anak kita"

__ADS_1


"maafkan aku viin maaf"


__ADS_2