Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
Penolakan ali


__ADS_3

"pulang Vin"


"ayah saya mohon, jangan pisahkan saya dengan Naera"


"saya nggak pernah memisahkan kalian... kamu sendiri lah yang meminta pisah dengan anak saya, kamu kan menggugat cerai anak saya, keluarga kamu yang nggak pernah bisa menerima anak saya karena anak saya berasal dari keluarga sederhana nggak sebanding dengan keluarga kalian"


Vin menunduk, satu tangannya menahan kenop pintu yang ingin di tutup sang mertua


"ayahh" Suara panggilan naera membuat keduanya menatap masuk kedalam rumah.


sudut bibir Vin terangkat, pria itu begitu merindukan keluarga nya.


"naera" gumam Vin yang hanya di dengar dirinya sendiri.


"ayah, nae mohon jangan larang Vin masuk, kesian yah, Vin pasti butuh istirahat" naera mendekat, ingin menghampiri Vin, tapi Ali dengan sigap menahan lengannya, naera menatap Ali penuh harap


"ayaaah" lirih naera, perlahan ia lepaskan genggam tangan sang ayah yang sudah berpindah di pergelangan tangannya


Ali luluh, melihat tatapan mata sayu putri tercinta, egonya kalah akan rasa sayang untuk sang putri, bukan hanya itu Ali juga tertegun mendengar cerita naera, di mana ia menemukan kembali ketulusan Vin saat mereka menghabiskan waktu di Singapura bersama.


"baiklah ayah beri sekali lagi kesempatan, jika Suami mu berani membuat air mata putri ayah turun lagi... jangan harap ada kesempatan yang sama" Ali menghapus air mata Naera dengan ibu jarinya


"makasih ayah--makasih" naera berhamburan ke pelukan Ali, satu tangan Ali mengusap bagian belakang kepala sang putri dengan lembut.


"makasih ayah" Vin memberanikan diri mencium punggung tangan Ali, Ali tersenyum, membalas senyuman menantunya


"saya bukan lah manusia sempurna... ayah, tapi saya janji, saya nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, saya akan buat keluarga saya bahagia, saya akan berusaha ayah" Ali mengangguk satu tangan nya ia buka , meminta Vin ikut bergabung dengan mereka, dari kejauhan Farah, menghapus air matanya, ia terharu dengan apa yang ia lihat, Farah tau seberapa kecewanya Ali melihat putri terkasih mereka disakiti secara berulang, Ali yang kekeh ingin memisahkan anak dan menantunya, namun akhirnya ia luluh dengan ketulusan dan cintanya pada sang putri. Ali tau bahagianya naera ada bersama Vin.


"ibu nggak mau gabung" celetuk Ali yang ternyata mengetahui keberadaan Farah di belakang mereka, Farah tersenyum dan ikut bergabung dengan mereka.


....


Naera mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang, ia menunggu Vin keluar dari kamar mandi, baju kaos oblong dengan celana rumahan sudah naera siapkan untuk Vin.


tangan kanannya terus berputar abstrak di perut yang mulai membuncit, usia kandungannya telah masuk usia 3 bulan.


Vin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuh, rambut yang basah ia kibas, Tanpa sengaja air percikan dari kibasan rambut mengenai naera.


"Mending kamu pakai baju Vin, nanti rambutnya aku keringkan, jangan di kibas pakai tangan kena aku" gerutu naera kesal karena ulah Vin


"iya, iyaa"


baju yang sudah Naera siapkan ia raih, naera sedikit terkejut dengan Vin yang Tiba tiba mendaratkan satu ciuman di pipi sebelah kiri naera.


"jangan ngomel, nanti anak aku suka ngomel juga , kalo ibunya ngomel terus"


"CK" naera berdecak kesal, ia berdiri, berjalan kearah meja rias, alat pengering rambut ia ambil dari dalam laci penyimpanan.


"kalo sudah, duduk sini"


"iyaaa, sayang" Vin duduk di kursi, sedangkan naera berdiri di belakangnya, dengan satu tangan ia gunakan menyisir rambut Vin, satu tangan yang lain dengan telaten mengeringkan rambut Vin, hal seperti itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka, Vin Suka jika naera sudah mengusap, membelai, mengeringkan rambutnya, ada perasaan hangat di hati Vin,ia tatap naera dari pantulan cermin, naera menyadari dengan Vin yang Terus menatap Nya.


"kenapa"


sudut bibir Vin terangkat, ada apa sebenarnya, naera terlihat ketus, tapi bagi Vin tingkah naera begitu menggemaskan. Vin menggenggam lengan naera yang Masih setiap menyisir rambutnya.

__ADS_1


"kamu kenapa, aku ada salah sama kamu" Vin mendongak menatap wajah Naera yang menunduk.


"sini " Vin menuntun naera untuk berdiri di depannya


"sini" di tepuk nya pahanya, meminta naera duduk di sana, tidak menunggu lama, naera duduk di pangkuan Vin, tangan nya ia kalung kan di leher vin, wajah nya menempel di dada bidang sang suami.


"kenapa, Hem"


"nggak tau" Jawab naera ketus


Vin menghela nafas panjang, ternyata Naera nya masih sama, saat mengandung kai pun, naera bertingkah seperti ini, atau memang semua wanita hamil memang seperti itu, entahlah Vin tidak mengerti, Vin hanya perlu menyiapkan semua, lebih banyak sabar dalam menghadapi istri yang sedang mengandung.


Vin mengusap punggung naera, wanita itu diam di atas pangkuannya suaminya., sesekali Vin mengusap kepala Naera.


"Vin"


"Hem"


"Hem, Hem Hem, teruuus, ngomong apa ke, selain Hem"


Vin menyibak rambutnya yang sedikit menutup wajah.


"iya, iyaa... kenapa sayang nya aku"


"nggak tau" ok sekarang Vin seperti membutuhkan bantuan seseorang untuk memahami wanita hamil di depannya ini.


"mau makan sesuatu" naera menggeleng


"mau jalan jalan" kembali naera menggeleng


"udah deh, jangan tanya terus, aku mau kaya gini dulu, di peluk kamu, bikin aku tenang, kamu ngerti kan" ucap Naera dengan tatapan tajam. Vin membungkam mulutnya, bahanya memang membuat wanita hamil marah


"iya, iya maaf"


hening sesaat, naera terus menempelkan wajah nya di dada bidang Vin, begitu juga Dengan Vin yang terus mengusap usap punggung wanitanya


tapi tiba tiba pertanyaan naera membuat kening Vin berkerut


"Clara apa kabar" ucap Naera dengan enteng


"pertanyaan kamu nae bisa di ganti nggak" naera menggeleng lagi, membuat Vin menghembuskan nafas panjang.


"kenapa tiba tiba Nanya in dia sih"


"penasaran aja sama kabar nya, sejak kita ada masalah aku nggak pernah liat dia lagi"


"terkahir aku dengar sih dia lanjutin pendidikannya ke Inggris "


"emm, hebat dong "


"udah yaah, jangan bahas lagi"


"kenapa?, bukan nya... "


"bila bla BLA BLA" Vin sengaja memeng, ia tidak ingin mendengar apapun tentang Clara lagi, apa lagi keluar dari mulut wanita yang pernah terluka akan dirinya

__ADS_1


"viiiin"


"bla bla bla"


"viiin" naera memukul dada Vin hingga sang empu meringis


"auw sakit nae"


"bodo amat"


"isss, aku aduin ke ayah tau rasa kamu, aku bilang ke ayah kalo kamu ngejek aku" Vin memeluk erat tubuh naera, ia takut sungguh, meski Vin tau istrinya itu hanya bercanda


"jangan yaah"


"kamu takut "


"banget "


naera mempererat pelukannya, wajahnya ia gesek gesekan di dada bidang Vin


"kamu sayang aku Vin" mereka bukan suami istri yang baru menikah kemaren, tapi pertanyaan naera


seakan mempertanyakan kebalikannya


"kok nanya gitu sih, sayang "


"apa susahnya sih tinggal jawab "


"sayang banget naee, sayang, sayang, sayaaaaang banget " naera mendongak menatap wajah Vin yang menunduk menatap wajah Nya


tangan kurus putih pucat nya terulur mengusap wajah Vin.


"pantas aja Clara ngejar ngejar suami ku, orang kamu setampan ini"


"kamu gimana "


"emm, tau ah" naera bangun dari pangkuan Vin, ia ingin keluar kamar tapi lagi lagi pergelangan tangannya di tahan oleh Vin


"aku mau ke kamar kai, Vin"


"nae, kalo aku ajak kamu nginep di rumah mamah gimana?" mendengar permintaan Vin, naera bergeming di tempatnya, meskipun ia tau mertua juga keluarga suaminya telah menerimanya, tapi rasa trauma akan masa lalu yang kelam masih sering membuat Naera terjaga dari tidurnya, takut jika ia kembali di pisahkan dengan pria yang begitu ia kasihi, ia takut kejadian yang sudah terjadi di keluarganya kembali terulang lagi


"nae"


"aa--aku" naera gelagapan, ia bingung harus mengatakan apa


Vin tau apa yang istrinya rasakan, Vin berdiri memeluk sang istri erat, kepalanya ia tenggelam kan di celuk leher Naera.


"kalo kamu nggak siap, aku nggak akan maksa"


"Vin, kasih aku waktu untuk memikirkan semua nya"


"iya nae, aku nggak akan maksa kamu"


"makasih sudah mau mengerti aku"

__ADS_1


"iya sayang "


__ADS_2