Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
cucu pertama


__ADS_3

Naera menyuapi Vin makan dengan manik yang masih berkaca-kaca, Vin tau naera sekarang begitu takut , tapi dengan melihat naera yang menangis membuat Vin bingung juga semakin kawatir di buatnya.


Vin menggenggam tangan Naera yang bergetar saat menyodorkan sendok padanya


"Nae tenanglah, KAI akan baik baik saja" Naera menggigit bibir bawahnya menyalurkan rasa sakit yang sekarang ia rasakan, naera kembali menyuapi Vin makan, Vin menghela nafas kasar .


"Semua salah ku Vin , anak kita kaya gini semua karena keegoisan ku Vin, aku terlalu egois, aku hanya mentingin diri aku sendiri tanpa melihat anak kitalah yang paling terluka akan keputusan ku"


jatuh sudah air mata yang tadi menggenang di pelupuk mata, naera tidak sanggup lagi , rasa bersalah selalu menghantui naera, seolah ia lah penyebab anaknya terbaring lemah di rumah sakit.


Vin bangun duduk meski kesusahan, memeluk Naera yang terisak dengan wajah tertutup.


"huuuss, jangan salah kan diri kamu sendiri nae, aku juga salah, kita lalai sebagai orang tua, bukan waktunya menyalahkan diri nae, berapa kali lagi aku harus katakan padamu, ini semua karena kesalahan kita, karena ke egoisan kita sebagai orang tua, yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa untuk kesembuhan kai, juga saling menguatkan" Vin tidak melepaskan pelukannya, ia mengusap punggung naera , Vin bisa merasakan tangan Naera yang membalas pelukannya,naera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Vin.


"Viiin" naera semakin mengeratkan pelukannya, baju Vin ia remas dengan kuat , menyalurkan rasa takut yang sekarang ia rasakan.


...


"Bundaaa, ayahhh" naera mendekati orang tuanya yang baru saja tiba, naera memeluk erat tubuh sang bunda.


"Gimana kabar anak kamu sekarang nae"


"masih belum sadar Bun"


"kamu yang sabar ya nak" naera mengangguk


"naee" panggilan itu, naera melupakan orang tua Vin yang juga datang bersama orang tuanya, naera melepaskan pelukannya, perlahan ia tatap dua paruh Bayah yang sudah memberikannya begitu banyak luka


naera bingung harus memberikan respon seperti apa, pandangnya tak lepas dari mereka terutama keren.


"Vin ada di dalam mah" naera mencoba memberanikan diri, terlalu canggung memulai obrolan yang sudah kaku sejak awal, naera kira keren akan masuk setelah ia memberitahu ruangan Vin tapi nyatanya wanita itu justru memeluknya, naera jelas kaget dengan apa yang baru saja keren lakukan.

__ADS_1


"Maafin mamah nae"


"maafin mamah, mamah sudah jahat banget sama.kamu nae, mamah selalu cari cara buat misahin kalian, maafin mamah nae"


naera masih mencerna apa yang keren lakukan, tangan nya bahkan hanya menggantung, tidak membalas pelukan keren, naera masih mengira itu semua hanyalah mimpi.


keren mengurai pelukannya, ia tatap wajah bingung naera, wajah menantu yang selalu ia rendahkan.


"naee"


"hah" jawab Naera sedikit gagap


"maafin mamah nae, mamah yang salah, andai mamah enggak egois kalian tidak harus berpisah seperti sekarang"


"mah, nae, sudah memaafkan mamah, jauh sebelum hari ini mah, tanpa mamah meminta maaf pada nae, nae pasti akan memaafkan mamah "


keren begitu terharu mendengar ucapan menantunya, ia kembali memeluk Naera, kali ini naera membalas pelukan keren


orang tua Naera sebenarnya tidak Suka melihat keren bersikap Manis pada putrinya, terlalu dalam rasa sakit yang keren berikan pada Naera, hingga kata maaf tidak pantas naera berikan untuk keren.


Orang tua Naera lebih memilih menjauh dari sana, dari pada terus melihat keren yang sudah menyakiti putrinya.


"Mah ayo, Vin sudah menunggu" keren mengangguk mengikuti naera masuk ke dalam ruangan Vin.


"mamah, papah, baru datang" Vin berusaha duduk , dengan cepat Naera membantu Vin yang kesusahan.


"iya nak, kami baru aja sampai, gimana keadaan kamu"


"Vin nggak papa mah, cuman lemas aja, tapi sudah mendingan"


"syukurlah kalo gitu, kenapa kai bisa jatuh dari tangga" areksa yang bertanya kali ini, Vin dan Naera saling pandang, mereka takut menceritakan kebenarannya.

__ADS_1


"kalian tinggal satu rumah atau pisah" kali ini keren yang bertanya


"kami tinggal satu rumah mah, semenjak Vin di Singapura, Vin tinggal bersama naera di rumahnya" Vin meraih tangan Naera , ia genggam tangan itu di hadapan orang tuanya, Vin seakan memberitahu mereka jika ia sudah kembali bersama naera.


"terus kenapa cucu papah bisa jatuh kalian di mana waktu itu" areksa sebenarnya menahan emosi, ia marah juga terluka mendengar cucu satu satunya yang mereka miliki celaka, areksa bahkan ingin memecat semua pekerja yang ada di rumah nya setelah mendengar kabar itu.


iya__ benar cucu mereka hanyalah kai, putra dari Naera dan Vin, sedangkan jehan dan istrinya sampai sekarang belum memberikan kabar baik pada mereka, akan hadirnya anak di tengah keluarga mereka.


"i__ini salah naera pah"


Vin menggeleng menggenggam erat tangan Naera.


"ini salah kami pah, salah kami berdua, Vin dan Naera terlalu egois sebagai orang tua, kami hanya mentingin ego masing-masing tanpa memperdulikan perasaan kai"


"kami terlibat perdebatan hebat, vin lupa kehadiran kai di sana, kai melihat pertengkaran kami , kai takut dan berlari sampai ke anak tangga" naera menutup matanya tidak kuat mendengar cerita Vin , bayang bayang kai yang terbujur kaku bersimpah darah kembali berputar di kepalanya.


areksa berusaha sekuat mungkin menahan emosinya yang ingin meledak, keren mengusap punggung suaminya, menenangkan pria paruh baya itu


"maafin kita mah, pah, kami nggak becus jadi orang tua"


"Jangan kalian nak, kami aja yang sudah lanjut ini lalai menjadi orang tua juga mertua yang baik"


naera tidak kuat menahan air matanya, ia memeluk ibu mertuanya itu, meski tidak terhitung berapa banyak luka juga rasa sakit yang keren berikan, naera tidak bisa melihat wanita paruh baya itu bersedih.


"Maafin mamah nak, maaf"


"Nae sudah maafin mamah, nae sayang mamah, tulis dari hati nae"


"kamu wanita baik nae, mamah buta akan harta hingga menyia-nyiakan menantu sebaik kamu, sekarang mamah sadar kenapa Vin bisa begitu mencintai kamu, kamu wanita baik nae"


Vin ikut merangkul tubuh dua wanita kesayangannya itu, ada rasa haru melihatnya, bukan hanya Naera yang begitu berharap agar keren mau menerimanya tapi Vin juga begitu bermimpi suatu hari nanti ibunya mau menerima istrinya, dah ini lah waktunya, kesabaran naera membuahkan hasil, keren bisa menerima hadirnya di hidup Vin.

__ADS_1


areksa juga bisa merasakan kebahagiaan melihat kehangatan di depannya, areksa memang dari awal tidak ikut campur dengan rumah tangga Vin, ia awalnya memang tidak merestui hubungan anaknya dengan Naera, tapi hatinya Luluh saat Naera memberikan cucu pertama untuknya.


__ADS_2