
Pagi yang cerah, namun tak secerah wajah seorang gadis yang tengah berjalan dengan sedikit tergesa menuju ke ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ mobil tempatnya bekerja.
"Pagi, Mbak Fafa," sapa seorang ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ yang melihat kedatangan Fatiya. Laki-laki paruh baya tersebut mengerutkan kening, kala melihat wajah gadis yang disapa tak secerah biasanya.
"Tumben, Mbak Fafa terlambat?" tanya ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ itu kemudian.
"Pagi, Pak. Iya, nih. Jalanan ramai dan angkotnya juga lama tadi," balas Fatiya dengan tersenyum ramah, tetapi buru-buru menundukkan wajahnya kembali menekuri lantai halaman ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ yang dia tapaki.
"Fafa masuk dulu ya, Pak," pamitnya sambil berlalu dari hadapan ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ tersebut.
"Iya, Mbak Fafa. Hati-hati kalau jalan, awas pintu ka -- " belum selesai laki-laki paruh baya yang merupakan ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ di tempat Fatiya bekerja itu berkata, Fatiya telah menjerit kecil.
"Aw," Fatiya terpekik tertahan, kala dirinya menabrak seseorang tepat di depan pintu kaca.
Fatiya yang hampir jatuh, merasakan ada tangan kekar yang memeluk pinggangnya. Gadis berhijab itu buru-buru melepaskan diri.
"Maaf, saya enggak lihat jalan, Mas. Terimakasih sudah menolong saya," ucap Fatiya dengan tulus, seraya menatap sekilas pemuda yang baru dilihatnya pagi ini di tempatnya bekerja.
Pemuda bertubuh tinggi tegap dengan wajah tegas dan sorot mata tajam namun bersahaja itu tersenyum. "Iya, tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati, Nona," balasnya dengan ramah.
Fatiya sempat terpana melihat wajah yang enak dipandang itu, tetapi buru-buru Fatiya menundukkan wajahnya kembali untuk menyembunyikan mata sembabnya karena semalaman menangis.
"Ada apa, Bro?" tanya seseorang yang baru saja keluar menyusul pemuda yang ditabrak Fatiya, yang diikuti oleh dua orang berbadan tegap.
"Tuan Muda, apa Anda tidak apa-apa?" tanya salah seorang yang berbadan tinggi tegap seperti tentara itu, seraya mendekati tuan mudanya.
Pemuda tersebut hanya mengedikkan bahu, seraya menunjuk Fatiya dengan dagunya.
"Ada apa, Fa?"
"Eh, Pak Angga. Maaf, Fafa enggak sengaja tadi. Fafa menabrak Masnya," ucap Fatiya gugup, apalagi setelah menyadari bahwa pemuda yang barusan dia tabrak bukanlah orang sembarangan. Terbukti, ada dua orang pengawal yang menjaganya dan memanggil pemuda tersebut dengan sebutan tuan muda.
Laki-laki yang bernama Angga, yang merupakan pemilik ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ tersebut mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa, Fa?" tanya Angga yang mendapati wajah pegawainya itu nampak sembab.
"Enggak apa-apa kok, Pak. Fafa hanya kurang tidur karena banyak tugas di kampus," jawab Fatiya berbohong. Gadis itu rupanya tidak mau jika masalah yang sedang dia hadapi diketahui oleh orang lain, meskipun itu sang bos.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu langsung masuk sana," titah Angga. "Oh ya, Fa. Tadi kamu dicariin sama Didi," imbuh Angga memberitahukan.
"Baik, Pak. Fafa akan langsung menemui Mbak Didi," pamit Fatiya, yang bergegas masuk ke dalam ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ mobil mewah tersebut yang diiringi tatapan pemuda yang tadi ditabraknya.
"Bro, penasaran?" tanya Angga seraya mengibaskan tangan di depan pemuda tersebut. Pemilik ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ itu tersenyum menggoda pada pemuda di hadapannya.
"Ck, Bang Angga, nih," decak pemuda tersebut seraya tersenyum samar, seperti ada yang disembunyikan dibalik senyum menawannya itu.
"Ayo Bro, kita ngopi dulu! Sudah ditungguin sama Adit," ajak Angga sambil bergegas menuju cafe resto yang terletak di samping ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ mobil miliknya.
Pemuda itu mengikuti langkah Angga yang diiringi oleh dua orang pengawal pribadinya.
Sementara Fatiya yang langsung menuju ke ruangan bosnya di lantai dua, mengetuk pintu dengan perlahan.
"Masuk," terdengar suara lembut dari dalam ruangan yang tidak tertutup rapat.
"Pagi, Mbak Didi," sapa Fatiya dengan sopan. "Maaf Mbak, Fafa datang terlambat," ucap Fatiya dengan jujur.
Diandra yang merupakan istri pemilik ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ tempat Fatiya bekerja tersenyum ramah. "Tidak mengapa, Fa. Tapi jika boleh aku tahu, kenapa? Ada apa, Fa? Tidak biasanya lho kamu seperti ini?" tanya Didi dengan tatapan lembut, membuat Fatiya terhipnotis dan merasa diperhatikan oleh istri sang bos.
Tanpa sadar, air mata gadis berhijab itu menetes membasahi pipi putihnya yang berlesung pipit dan menambah daya tarik Fatiya kala tersenyum.
Fatiya menurut, gadis itu kemudian duduk tepat disamping Diandra.
"Kalau kamu tidak keberatan berbagi denganku, dengan senang hati aku akan mendengarkan kisahmu, Fa," ucap Didi seraya mengelus lengan Fatiya, pegawai yang sudah dianggap seperti adik sendiri.
Ya, Fatiya adalah pegawai di ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ milik Angga. Gadis berkulit putih bersih dan berhidung mancung itu bekerja paruh waktu karena dia masih kuliah.
Angga mau menerima Fatiya karena melihat keseriusan gadis sederhana itu dalam mencari pekerjaan, demi untuk membiayai kuliahnya sendiri.
"Ibu, Mbak. Ibu tiba-tiba tidak setuju Fafa melanjutkan hubungan dengan Daniel," ucap Fatiya sambil menyeka air matanya.
"Padahal, Mbak Didi 'kan tahu sendiri kalau Fafa sama Daniel udah lama menjalin hubungan," lanjutnya dengan bibir mengerucut.
"Mungkin, ibu punya pertimbangan sendiri, Fa. Coba deh, kamu bicarakan lagi sama ibu secara baik-baik," saran Didi.
__ADS_1
Fatiya menggeleng. "Susah, Mbak. Ibu itu kalau sudah mengambil suatu keputusan, tidak mudah untuk digoyahkan," ucap Fatiya yang mulai putus asa.
"Memangnya, ibu mengatakan bagaimana, Fa?' tanya Didi.
Fatiya kemudian menceritakan obrolannya dengan sang ibu semalam, yang membuat hati gadis itu bersedih hingga Fatiya menangis semalaman memikirkan keberlangsungan hubungannya dengan Daniel.
"Ibu tidak setuju jika kamu masih berhubungan dengan pacar kamu itu, Nak," tutur sang ibu, setelah Fatiya menerima telepon dari sang kekasih.
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu baru mengatakannya sekarang?" cecar Fatiya seraya menatap sang ibu tak mengerti.
"Karena ternyata keyakinan Daniel berbeda dengan kita, Fa dan ibu baru mengetahui sekarang," balas sang ibu dengan menatap dalam netra bulat putri semata wayangnya.
"Tidak sah dimata hukum agama kita, pernikahan beda keyakinan dan aqidah, Fa. Kamu juga sudah mengerti dan paham hal itu, bukan?"
Fatiya mengangguk. "Benar, Bu. Tapi ...."
"Ibu takut, kamu akan terbawa dan menggadaikan keyakinan serta aqidahmu demi cinta, Nak," sergah sang ibu, memotong perkataan Fatiya.
Fatiya menggeleng. "Tidak, Bu. Fafa tidak selemah itu," sanggahnya tegas.
"Daniel juga tidak akan membiarkan hal itu, Bu. Dia pemuda yang baik dan selalu menomorsatukan Fafa," bela Fatiya pada kekasih yang sudah dipacarinya hampir empat tahun ini.
"Bu, Daniel pernah berjanji pada Fafa, kalau dia akan mengikuti keyakinan kita jika kami menikah nanti," ucap Fatiya kemudian, mencoba meyakinkan sang ibu.
"Daniel laki-laki yang bertanggung jawab, Bu. Dia pasti akan menepati janjinya untuk pindah keyakinan," kekeuh Fatiya seraya menatap sang ibu.
"Tidak, Nak. Kamu harus dengarkan ibu," tegas sang ibu. Wanita paruh baya yang guratan lelah di wajahnya terlihat jelas itu menghela napas panjang.
"Jika Daniel melakukan semua itu demi cintanya padamu, itu pertanda tidak baik, Nak. Kecuali, jika dia melakukannya karena Daniel percaya bahwa itu adalah sebuah kebenaran yang datang dari Sang Pencipta."
"Jangan berpikir naif, Nak. Jika keyakinannya saja bisa dia tukar, ibu khawatir Daniel juga bisa berubah pikiran dan melakukan hal yang sama untuk cintanya," pungkas sang ibu dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
๐๐๐๐๐ tbc ๐๐๐๐๐
Note : Bagi yang baru saja gabung di lapakku, jangan lupa tinggalkan jejak kalian, yah ๐ฅฐ
__ADS_1
Bintangโญ lima dan ulasan, jempol dan komentar, plus hadiah tentunya.
Jangan lupa subscribe, yah...di atas kanan cover klik titik tiga...(mode malak, lagi kambuh, Best ๐๐คญ)