
"Kamu jadi ikut pamit, Nak?" Wanita berwajah sendu itu menoleh ke arah Fatiya yang berjalan di belakangnya.
"Iya, Tan. Fafa juga buru-buru soalnya," balas Fatiya.
"Oh ya, Tan. Maaf, Fafa enggak bisa besuk Santi. Fafa nitip ini, ya." Fatiya mengambil tangan ibunya Santi dan menyimpan lembaran uang merah berjumlah satu juta rupiah ke tangan wanita paruh baya tersebut.
"Tidak perlu membantu dan bersikap baik pada mereka!" seru Daniel yang baru saja tiba di rumah sakit.
Fatiya mengerutkan dahi, sementara ibunya Santi menunduk. Wanita paruh baya itu merasa sangat malu dan sangat bersalah pada Daniel karena putri sulungnya yang terobsesi pada pemuda yang berdiri di sampingnya itu, telah membuat sebuah kesalahan pada Daniel.
"Biarkan saja wanita itu gila dan berada di RSJ untuk selamanya!" lanjut Daniel yang memang mengetahui persis keadaan Santi karena ketika temannya itu sedang mengamuk, Daniel sedang berada di rumah Santi.
Ya, semalam setelah Daniel lepas dari kejaran kaum laki-laki menyimpang itu, dia yang tengah berada di dalam taksi dikejutkan dengan kabar dari Santi melalui pesan, yang mengatakan bahwa ibunya mendadak pingsan karena mengetahui bahwa Santi sudah berhubungan intim dengan Daniel.
Pemuda yang sedang kalut itu tidak dapat berpikir panjang, Daniel langsung mengarahkan sopir taksi untuk menuju rumah Santi.
"Pak, tolong Bapak tunggu sebentar, ya. Saya akan lihat keadaan ibu teman saya, jika memang harus dibawa ke rumah sakit nanti bisa langsung kita bawa ke sana," pinta Daniel kepada sopir taksi online yang tadi dia pesan ketika berada di dalam minimarket.
Daniel kemudian segera turun dan bergegas melangkah menuju rumah Santi yang berjarak satu rumah dari tempat taksinya berhenti.
Sengaja Daniel menyuruh pak sopir agar menunggu di sana karena tempatnya yang agak luas, dibanding depan rumah Santi yang halamannya sempit.
Daniel tidak perlu mengetuk pintu karena pintu rumah itu sudah terbuka lebar, seolah memang menyambut kedatangan dirinya.
"San," panggil Daniel pada Santi, sang empunya rumah seraya melangkah masuk dengan perlahan.
Baru saja beberapa langkah Daniel memasuki pintu rumah Santi yang lampunya temaram tersebut, tiba-tiba Daniel disergap dari belakang dan tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang.
"Nikahi gue, Niel," pinta Santi dengan berbisik di telinga Daniel. Santi kemudian menghujani tengkuk Daniel dengan ciuman yang liar, dengan kedua tangan yang semakin memeluk erat tubuh pemuda yang sangat dicintainya itu karena Daniel berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"Lepaskan gue, San!" seru Daniel tertahan karena khawatir membangunkan penghuni rumah yang lain.
Entah kekuatan dari mana, Santi begitu kuat memeluk tubuh Daniel hingga pemuda itu kesulitan melepaskan diri. Meski Daniel sudah mengeluarkan kekuatan sepenuhnya, tetapi usahanya seperti sia-sia belaka.
"Turuti kemauan gue atau gue akan berteriak dan orang-orang akan langsung menangkap dan menikahkan kita dengan paksa karena kita dianggap pasangan mesum!" ancam Santi.
"Silahkan, San. Berteriaklah sekeras yang lu mampu," balas Daniel yang mengira bahwa Santi hanya menggertak dirinya saja.
"Jadi, lu enggak percaya dengan ancaman gue?" Santi menggeser tubuhnya dan kini berada di hadapan Daniel, wanita ambisius itu masih memeluk tubuh Daniel dengan erat.
Daniel membulatkan mata, ketika baru menyadari bahwa Santi ternyata tidak memakai apapun. "Apa-apaan lu, San!"
"Jangan sok menolak gue, Niel. Gue tahu, lu ketagihan sama tubuh gue, kan?" goda Santi.
Daniel membuang kasar napasnya. Melihat tubuh polos Santi, membuat pemuda itu tiba-tiba saja menjadi sangat muak.
"Cih." Daniel berdecih. "Meskipun di dunia ini wanita itu hanya tinggal lu satu-satunya, gue tetap tidak akan sudi sama lu, San!" tegas Daniel yang menolak Santi, tidak seperti malam itu yang dengan sukarela jatuh ke pelukan wanita ambisius tersebut.
Daniel yang sudah kehabisan tenaga, reflek berteriak dengan kencang hingga membangunkan seisi rumah termasuk tetangga sebelah karena rumah Santi berdempetan dengan rumah tetangga kanan dan kiri.
Mendengar Daniel berteriak, Santi langsung menjatuhkan dirinya sambil mendekap tubuh. Santi terisak penuh drama seolah dirinya adalah korban yang hendak dinodai oleh Daniel.
Orang-orang yang berdatangan, tentu saja langsung menatap Daniel dengan tatapan tajam, tak terkecuali ibunya Santi yang baru saja terbangun.
Wanita paruh baya tersebut segera mendekap erat tubuh polos sang putri dengan berlinang air mata. Ibunya Santi nampak sangat marah pada Daniel.
Para tetangga hendak menghakimi Daniel karena disangka pemuda itu akan mencabuli Santi, beruntung sopir taksi yang mendengar keributan dan melihat orang-orang berlarian menuju rumah yang juga tadi dituju oleh penumpangnya, kemudian segera keluar dari mobil dan ikut mendekat.
"Berhenti!" seru sopir tersebut.
__ADS_1
Semua orang kini menatap sopir taksi online yang sudah cukup berumur itu, mereka menatap dengan pak sopir dengan tatapan penuh tanya.
"Pemuda itu adalah penumpang taksi saya, dia mampir ke sini karena mendapat kabar dari temannya yang meminta tolong agar membawa ibunya yang pingsan ke rumah sakit," terang sopir tersebut, yang membuat Daniel bernapas dengan lega.
Daniel benar-benar merasa bersyukur karena Tuhan kembali menyelamatkan dirinya dan ini adalah kali ketiga dalam satu malam, Daniel berhasil selamat dari musibah. Pemuda itu semakin meneguhkan niat, untuk segera mengucapkan kalimat syahadat.
"Kalian lihatlah pakaian pemuda itu, masih utuh bukan? Kalau dia memang punya maksud untuk memperkosa mbak itu, pasti pakaiannya sudah dibuka," lanjut sopir taksi seraya menunjuk Daniel dan Santi yang masih menangis penuh drama.
Pak RT yang juga sudah berada di sana, kemudian menginterogasi Daniel dan juga Santi. Daniel memberikan keterangan sesuai apa yang dikatakan sopir taksi tersebut. Sementara Santi hanya terisak dan tak mau membuka suara.
Wanita ambisius yang kini tubuhnya sudah tertutup meski hanya dengan selembar kain sarung itu tiba-tiba histeris, ketika Daniel dinyatakan tidak bersalah oleh Pak RT dan warga setempat. Santi mengamuk, dia mencakar apa saja yang ada di hadapannya, termasuk sang ibu.
Atas saran warga, Pak RT yang memiliki mobil segera membawa Santi ke rumah sakit jiwa.
"Bang, kenapa Bang Daniel berkata seperti itu?" tanya Fatiya yang mengurai lamunan Daniel, dari mengenang kejadian semalam.
"I-iya, Dik," balas Daniel tergagap. "Karena Santi memang tidak pantas untuk diberi hati!" kecamnya.
Fatiya semakin mengerutkan dahi dengan dalam.
Daniel kemudian menceritakan semua yang dia alami pada Fatiya, sementara ibunya Santi semakin menunduk malu. "Dia tidak akan pernah berubah menjadi baik, Dik," ucap Daniel yang masih menyimpan kemarahan pada Santi.
"Tidak baik men-π«πΆπ₯π¨π¦ seseorang bahwa dia tidak akan pernah bisa berubah menjadi baik, Bang. Siapa tahu saja 'kan, setelah Santi sehat kembali dia akan berubah?" Fatiya menatap Daniel dengan tatapan lembut.
"Kalau Abang bersedia untuk membantu, bantulah, Bang. Tetapi jika tidak, jangan pernah melarang orang lain untuk membantunya," pungkas Fatiya.
Perkataan Fatiya yang tidak menyimpan dendam pada wanita yang telah menyakiti hatinya itu, membuat Daniel merasa semakin menyesal karena telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Hingga Daniel harus kehilangan mutiara berharga seperti Fatiya.
πππππ tbc πππππ
__ADS_1