
Ketakutan bertemu dengan laki-laki bertampang preman tadi menyergap hatinya, hingga membuat Fatiya tetap melanjutkan untuk terus berlari.
Fatiya yang masih berlari tak menyadari, bahwa jarak Cecep sudah semakin dekat dengan dirinya.
Hingga tepat di tikungan jalan, Cecep berhasil menarik tangan Fatiya. "Jangan coba-coba lari dariku, kelinci kecil! Karena kamu takkan pernah bisa menjauh dariku!" Tawa Cecep terdengar menggema di udara.
Cecep kemudian menyeret lengan Fatiya untuk menjauh dari jalan dan membawa gadis itu masuk ke dalam lahan kosong yang ditumbuhi banyak pohon pisang.
Terdengar deru suara motor dari kejauhan, membuat Cecep semakin menyeret Fatiya masuk ke dalam lahan tersebut.
"Kira-kira, Fafa ke arah mana, ya?" tanya Pendi lebih pada diri sendiri, ketika sampai di tikungan jalan. Ada jalan setapak kecil ke arah kanan dan itu yang membuat Pendi ragu, untuk mengikuti jalan setapak atau tetap mengikuti jalan yang lurus.
Akbar menepuk pundak Pendi. "Matikan dulu mesin motornya," pinta Akbar, yang memiliki š§š¦š¦ššŖšÆšØ kuat, bahwa Fatiya ada di sekitar mereka saat ini.
Pendi kemudian mematikan mesin motornya. Kedua pemuda tersebut menajamkan pendengaran, seraya mengedarkan pandangan untuk mencari-cari sesuatu yang barangkali bisa dijadikan petunjuk.
Sementara Cecep membekap mulut Fatiya agar tidak mengeluarkan suara. "Diam, jangan bergerak dan jangan berisik!" ancam Cecep.
Fatiya menurut, gadis itu berlagak seperti kelinci yang manis, tetapi dia terus berpikir bagaimana caranya agar bisa lepas dari Cecep.
Tenaga laki-laki bertubuh kekar dengan banyak tatto di lengannya itu begitu kuat, sementara tenaga Fatiya juga sudah mulai habis karena berlari dengan jarak yang cukup jauh.
āāā
Sementara di rumah sakit. Sepeninggal Akbar, Mama Susan langsung jatuh pingsan, hingga membuat semua yang berada di sana menjadi panik.
"Mom, Inez telepon opa, ya," ijin Nezia yang ingin menghubungi Papa Alvian, untuk mengabarkan apa yang terjadi.
"Jangan, Nez. Nanti opa malah terpecah konsentrasinya," cegah Mommy Billa.
"Lila, apa kamu sudah panggil dokter, Nak?" tanya Mommy Billa pada salah satu putri kembar Om Devan.
"Sudah, Mom. Sebentar lagi dokternya datang," balas Lila.
"Mommy akan hubungi Bang Kevin saja, Nez. Mereka 'kan belum jauh, biar mereka balik saja ke sini," tutur Mommy Billa yang khawatir terjadi apa-apa pada Mama Susan, sementara di sana tidak ada kaum adam.
__ADS_1
Mommy Billa kemudian menelepon putra pertamanya itu.
"Halo, Bang, assalamu'alaikum," ucap salam Mommy Billa ketika panggilannya diterima sang putra.
"Wa'alaikumsalam, Mom," balas suara di seberang sana yang dapat di dengar oleh semua orang karena Mommy Billa sengaja menyalakan mode šš°š¢š„ š“š±š¦š¢š¬š¦š³.
"Abang belum jauh, kan, dari rumah sakit? Bisa balik lagi, Bang," pinta Mommy Billa.
"Kenapa, Mom? Apa Fafa sudah ditemukan?" tanya Kevin yang terdengar penuh harap.
"Belum, Bang. Tapi ...." Mommy Billa kemudian menceritakan bahwa Akbar nekat pergi untuk ikut mencari Fatiya, sedangkan Mama Susan jatuh pingsan begitu mengetahui putra sulungnya itu nekat meninggalkan ruang perawatannya.
"Ya Allah, Akbar ... kok bisa senekat itu, sih, dia!" seru Kevin, yang menyayangkan keputusan Akbar.
"Ya sudah, Mom. Mommy jangan khawatir ya, Abang dan yang lain akan segera balik ke rumah sakit," pungkas Kevin. "Assalamu'alaikum, Mom."
"Wa'alaikumsalam," balas Mommy Billa yang kemudian menutup teleponnya.
Mommy Billa kemudian mendekati dokter yang datang ketika beliau tengah menelepon putra pertamanya tadi, dokter wanita tersebut sedang memeriksa keadaan Mama Susan.
"Bagaimana kondisi saudara kami, Dok?" tanya Mommy Billa, yang berdiri di samping Tante Nisa dan Tante Lusi yang menemani dokter tersebut memeriksa Mama Susan.
Mommy Billa dan yang lain, yang mendengarkan penjelasan dokter tersebut, mengangguk lega.
"Saya akan berikan suntikan vitamin dan obat tidur agar beliau beristirahat dengan cukup. Besok ketika terjaga, InsyaAllah kondisi beliau sudah fit kembali," imbuh dokter tersebut.
"Mom, bagaimana kondisi oma, Mom?" tanya Kevin yang baru saja masuk. Di belakang Kevin menyusul Rahman, Dion dan juga Bayu.
"Alhamdulillah, tidak apa-apa, Bang," balas Mommy Billa. Mommy yang masih terlihat cantik meski usianya sudah melebihi angka lima itu kemudian menjelaskan kepada sang putra dan teman-temannya, apa yang tadi beliau dengar dari dokter yang nampak baru saja selesai memeriksa Mama Susan.
"Syukurlah, Mom," ucap Kevin lega. "Mommy benar, tidak perlu menghubungi opa, nanti mereka malah jadi kepikiran lagi sama Oma Susan," lanjutnya membenarkan keputusan sang mommy, yang tidak ingin mengabarkan kejadian ini pada Papa Alvian dan yang lainnya.
āāā
Di tempat kejadian, tepatnya tak jauh dari gudang tua tempat Fatiya disekap tadi, Malik yang juga melihat Akbar bersama Pendi melaju ke arah kiri gedung, langsung ikut berlari mengejar.
__ADS_1
"Dad, Pa, Malik mau ikut mengejar mereka!" pamitnya sambil berlari.
"Kami juga ikut," pamit keempat pemuda lain, yang langsung berlari mengejar untuk menemani Malik.
Usia yang masih muda, serta tenaga yang fit, membuat lari mereka berlima, begitu cepat. Attar, Mirza, Malik, Damian serta Abraham, mereka seolah saling mengejar, untuk bisa sampai garis finish lebih dulu dari yang lain.
Sementara di dalam ladang rimbun dan gelap, Cecep masih mendekap tubuh ramping Fatiya.
"Sialan! Mereka malah berhenti di sana!" umpat Cecep, ketika mendengar suara mesin motor dimatikan.
'Aku tidak mau tertangkap sia-sia, akan kubawa gadis ini sebagai sandera,' batin Cecep.
"Ikuti aku! Jangan berisik apalagi melawan!" Cecep berjalan tertatih sambil mendekap Fatiya, masuk lebih dalam ke lahan kosong yang semakin rimbun.
Fatiya mulai meronta kembali setelah tadi menurut pada Cecep karena putri Bu Saidah itu tidak mau diajak semakin menjauh dari jalan.
"Diam! Atau kuperkosa kamu di sini!" gertak Cecep pelan, tapi penuh penekanan.
Fatiya tiba-tiba menggigit keras tangan laki-laki itu yang membekap mulutnya dari tadi, hingga Cecep melepaskan tangan karena rasa sakit Akibat gigitan gadis yang dibekapnya.
"Kurang ajar!" seru Cecep, tertahan.
Cecep masih sibuk meniup tangan kirinya, ketika tanpa dia duga, Fatiya menghadiahi tendangan keras di alat vital Cecep, hingga membuat laki-laki berbadan kekar itu mengaduh dengan keras tanpa sadar.
Fatiya langsung melepaskan diri ketika Cecep lengah karena rasa sakit di pangkal pahanya, akibat tendangan keras gadis yang disangkanya lemah itu.
Gadis berhijab itu kemudian kembali berlari, menjauh dari Cecep.
āāā
"Kita jalan lagi, aja. Tidak ada apa-apa di sini," ucap Pendi yang hendak menghidupkan kembali mesin motornya. Namun, kakak sepupu Fatiya itu urungkan ketika mendengar suara mengaduh dari tengah lahan yang rimbun.
"Bro, arahkan lampunya ke lahan situ!" titah Akbar sambil menunjuk arah sumber suara.
Setelah Pendi menyorotkan lampu motornya ke lahan tersebut, Akbar langsung berlari masuk ke dalam lahan untuk mencari dari mana suara tadi berasal sambil meneriakkan nama Fatiya.
__ADS_1
"Fa, Fafa! Apa kamu di sana!"
ššššš tbc ššššš