Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Spam Chat


__ADS_3

Fatiya membuka pintu dari kayu yang sudah mulai lapuk itu perlahan-lahan, dia melongokkan kepala untuk melihat ke dalam.


"Ibu! Ibu kenapa?" Gadis itu langsung menghambur masuk ke dalam kamar sang ibu ketika melihat tubuh ibunya meringkuk di atas sajadah.


"Bu, ibu kenapa, Bu?" tanya Fatiya seraya meraba kening ibunya.


Tubuh sang ibu tidak panas, tapi berkeringat banyak dan wajah letih itu terlihat sangat pucat. Bu Saidah juga nampak mengalami kesulitan bernapas.


Bu Saidah hanya menatap lemah pada sang putri, wanita itu membuka sedikit mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi Fatiya mencegah.


"Ibu jangan bicara dulu, Ibu tenangkan diri dulu, ya. Ibu harus bertahan, Fafa akan bawa ibu ke rumah sakit sekarang," ucap Fatiya yang langsung berlari keluar untuk mengambil ponsel di dalam kamarnya.


Setelah mendapatkan ponselnya yang berada di atas tempat tidur karena semalam Akbar mengiriminya banyak pesan, Fatiya kemudian menyambar hijab, tas dan juga jaket untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai kaos lengan pendek.


Gadis cantik itu kemudian segera melangkah kembali menuju kamar sang ibu, sambil memesan taksi online. "Semoga segera dapat taksinya," gumam Fatiya seraya menekan tombol š˜°š˜³š˜„š˜¦š˜³ untuk memesan taksi.


Tiba di kamar sang ibu kembali, gadis yang telah mengenakan hijab itu kemudian melepaskan mukena ibunya dan membaringkan tubuh sang ibu dengan sempurna, masih di atas sajadah yang sama.


Sambil menunggu taksi datang setelah ada notifikasi bahwa taksi pesanannya akan segera tiba, Fatiya menyiapkan baju ganti untuk sang ibu juga untuk dirinya sendiri. Fatiya harus berjaga-jaga, siapa tahu sang ibu harus menjalani perawatan sebab ini bukan yang pertama kalinya jantung lemah Bu Saidah kambuh.


Gadis itu juga memastikan kondisi rumah aman untuk ditinggalkan. Fatiya mengecek dapur, mengecek meja makan dan menyimpan makanan yang masih ada di dalam almari pendingin. Semuanya Fatiya lakukan dengan sangat cepat.


Fatiya juga mengecek kembali isi tasnya, memastikan dompet dan kartu ATM-nya ada di dalam tas punggung kecil yang selalu dia bawa kemanapun.


"InsyaAllah cukup, gaji dua bulan terakhir masih utuh dan bonus dari penjualan mobil kemarin juga sudah masuk," gumam Fatiya seraya menyimpan kembali semuanya ke dalam tas.


Suara deru mesin mobil, menuntun Fatiya untuk melangkah keluar dan membuka pintu. Fatiya segera menghampiri taksi tersebut untuk meminta bantuan pada sopirnya.


Gadis cantik itu kemudian mengetuk kaca jendela bagian kanan. "Maaf, Pak. Tolong bantu saya angkat ibu saya ya, Pak," pinta Fatiya dengan sopan, pada laki-laki š˜„š˜³š˜Ŗš˜·š˜¦š˜³ taksi online yang berusia sekitar empat puluh tahun tersebut.

__ADS_1


"Baik, Mbak," balas sopir taksi yang segera turun dari mobil.


Sebelum mengikuti langkah Fatiya masuk ke dalam rumah, sopir tersebut membuka pintu bagian belakang terlebih dahulu untuk memudahkan penumpang yang sedang sakit, masuk ke dalam mobil.


"Biar saya sendiri yang angkat ibunya, Mbak," tolak sopir taksi tersebut, ketika Fatiya hendak membantu untuk mengangkat tubuh sang ibu yang lemah.


Fatiya mengangguk, dia kemudian menyambar tas pakaian yang berukuran sedang dan melangkah keluar mengikuti sopir taksi yang membopong tubuh lemah Bu Saidah.


Putri semata wayang Bu Saidah itu tidak lupa mematikan lampu utama ruangan yang dilewati dan kemudian mengunci pintu rumahnya dengan benar, sebelum menyusul masuk ke dalam taksi dan duduk di jok belakang menemani sang ibu.


"Ke rumah sakit sesuai yang ada di aplikasi ya, Mbak?" tanya sopir taksi sambil menoleh ke belakang.


Belum sempat Fatiya menjawab, Bu Saidah yang duduk sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, menggeleng lemah. "Puskesmas saja," pintanya dengan sangat lirih.


Demi menuruti kehendak sang ibu, Fatiya pun merubah tujuannya. "Ke puskesmas saja, Pak. Bisa, kan?" pinta dan tanya Fatiya.


"Baik, Mbak," balas sopir tersebut yang kemudian segera melajukan mobil taksinya membelah jalanan beraspal di tengah dinginnya malam.


Pagi hari, di salah satu kamar di puskesmas tempat Bu Saidah di rawat.


'Alhamdulillah, setelah tubuh ibu dibersihkan dan berganti pakaian, ibu makan cukup lahap tadi. Semoga kondisi ibu cepat pulih,' batin Fatiya seraya menatap sang ibu yang tengah terpejam di bed pasien.


Setelah memastikan sang ibu tidur dengan lelap, Fatiya kemudian berjalan keluar dan duduk di teras kamar ruang perawatan ibunya.


'Ibu pasti kepikiran tentang hubunganku dengan Daniel. Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin, ibu memikirkan omongan tetangga kalau sampai pernikahanku batal. Mereka 'kan memang julit banget.' Fatiya menghela napas panjang.


"Entahlah ... yang akan terjadi, biarlah terjadi. Aku pasrahkan semuanya, hanya pada-Mu Ya Robb," gumam Fatiya pasrah, sambil membuka layar ponsel.


"Sebaiknya, aku minta ijin sama Pak Teddy kalau hari ini aku enggak bisa masuk kerja." Fatiya kemudian memencet nomor atasannya di š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® tersebut.

__ADS_1


Setelah panggilan teleponnya diangkat oleh Pak Teddy, Fatiya nampak berbicara dengan serius dengan orang kepercayaan Angga di š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜®.


"Terimakasih banyak atas perhatian Bapak, Fafa akan segera berangkat kembali jika ibu Fafa sudah sehat," pungkas Fatiya dengan bernapas lega, setelah mendapatkan ijin dari š˜“š˜¶š˜±š˜¦š˜³š˜·š˜Ŗš˜“š˜°š˜³-nya itu.


Setelah menutup panggilannya, Fatiya tak langsung keluar dari aplikasi perpesanan dengan logo gambar telepon berwarna hijau tersebut. Gadis cantik itu malah membuka kembali obrolannya semalam dengan Akbar.


Setelah Daniel pulang, Fatiya yang baru saja masuk ke dalam kamar dan berniat untuk segera tidur, dikejutkan dengan bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselnya yang beruntun.


"Assalamu'alaikum, Fa."


"Sudah tidur, belum?"


"Aku baru saja masuk kamar, nih."


"Makasih ya, untuk makan malam spesialnya."


"Jujur, aku ketagihan." Yang disertai emoticon tersenyum.


"Lain kali, aku boleh main ke rumah kamu lagi, enggak?"


"Ya, sudah."


"Selamat tidur, ya."


"Mimpi indah ...."


"Boleh enggak ya, aku mengharapkan dalam titik-titik di atas itu isinya 'bersamaku'?"


Fatiya tersenyum membaca rentetan pesan dari Akbar yang dikirimkan sepenggal-sepenggal, seperti š˜“š˜±š˜¢š˜® š˜¤š˜©š˜¢š˜µ tersebut.

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€



__ADS_2