
"Fafa juga minta maaf karena sempat terpancing emosi tadi," balas Fatiya.
"Bang, kita harus bicara. Kapan Bang Daniel punya waktu?" tanya Fatiya.
Wajah Daniel langsung pucat pasi. "Em, Dik. Maaf, aku buru-buru," kilah Daniel yang langsung hendak berlalu dari hadapan Fatiya.
"Bang, tunggu!" cegah Fatiya.
Daniel terpaksa mengurungkan niatnya. "Kapan Bang Daniel mau menemui Pak Ustadz?" pancing Fatiya bertanya.
Daniel menatap dalam netra bulat Fatiya, tiba-tiba Daniel menjadi merasa kecewa pada calon istrinya itu. Terngiang kembali ucapan Santi sore itu ketika mereka berdua berada di dalam mobil, di telinga Daniel. Santi mengatakan bahwa jika memang Fatiya cinta pada Daniel, maka Fatiya tidak akan menuntut apapun termasuk untuk pindah keyakinan.
"Bang ...." Suara lembut Fatiya membuyarkan lamunan Daniel.
"Oke, nanti sore abang akan jemput kamu!" pungkas Daniel yang terdengar menahan amarah. Calon suami Fatiya itu bergegas meninggalkan meja Fatiya dan berjalan tergesa-gesa keluar dari š“š©š°šøš³š°š°š® mobil.
Gadis manis berhijab motif bunga-bunga itu menghela napas panjang, Fatiya tak dapat menebak apa yang membuat sikap Daniel tiba-tiba saja berubah.
'Ada apa lagi dengan kamu, Bang?' batin Fatiya seraya menatap kepergian Daniel, hingga punggung calon suaminya tersebut menghilang dari pandangan mata.
Fatiya kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya yang terjeda. Gadis berlesung pipi itu tak menyadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan dirinya sedari tadi dari lantai atas.
"Bang Akbar, kok masih di sini?" tanya Diandra, yang membuat Akbar mengalihkan pandangannya dari Fatiya.
Ya, sepasang mata tersebut ternyata milik Akbar. Pemuda kalem yang telah jatuh hati pada Fatiya, sejak pandangan pertama.
"Iya, Kak," balas Akbar tersenyum malu karena kepergok Diandra tengah memperhatikan Fatiya. Akbar mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
Akbar juga langsung pamit tadi, setelah Daniel keluar dari ruangan Angga. Namun, Tuan Muda Antonio itu tak langsung turun, dia justru ingin tahu apakah Daniel akan menemui Fatiya atau tidak.
Dugaan Akbar benar adanya, ternyata calon suami Fatiya itu memang menemui gadis yang telah mampu membuat Akbar kembali tersenyum. Akbar mencuri pandang pada Daniel dan Fatiya, dari tempatnya berdiri sekarang.
"Pepet terus dan tikung dia dengan doa di sepertiga malam, Bang. Jangan lupa dekati pula ibunya!" Diandra tersenyum pada putra sulung keluarga Alvian Antonio seraya menepuk lembut lengan Akbar, yang sudah seperti adik bagi Diandra dan Angga.
"Fafa sangat menyayangi ibunya," lanjut Diandra yang kemudian mendekat ke pagar pembatas untuk melihat ke bawah.
"Dia memang gadis yang istimewa, Bang Akbar. Fafa pantas mendapatkan kebahagiaan dari pemuda yang tulus seperti Bang Akbar," imbuh ibu dua anak tersebut seraya menatap Fatiya dari tempatnya berdiri.
Akbar yang juga masih berdiri di tempatnya semula dan mengikuti pandangan Diandra, tersenyum. "Kak Didi benar, dia memang istimewa. Hanya Fafa yang bisa menggetarkan kembali hati Akbar, setelah empat tahun lamanya hati Akbar membeku," timpal Akbar dengan lirih.
Gadis yang dibicarakan itu tiba-tiba mendongak ke atas, Fatiya kemudian tersenyum pada Diandra dan juga pada Akbar seraya menganggukkan kepala dengan sopan. Sedetik kemudian, Fatiya kembali menunduk dengan wajah yang merona merah.
"Lihatlah, Bang. Betapa pemalunya, dia," ucap Diandra seraya menoleh pada Akbar.
"Kak, Akbar balik dulu, ya," pamit Akbar kembali.
"Beneran mau balik? Enggak nyesel, enggak nyamperin Fafa dulu?" goda Diandra.
Akbar menggeleng. "šš¦š¹šµ šµšŖš®š¦, Kak. Biar Fafa menyelesaikan dulu masalahnya dengan Daniel," pungkas Akbar yang langsung berlalu menuruni anak tangga dengan wajah š§š¶šš senyum.
"Bang, nomornya udah kakak kirim," seru Diandra, sebelum Akbar sampai lantai bawah.
Akbar mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya, sebagai tanda ucapan terimakasih.
āāā
__ADS_1
Bakda sholat ashar, Fatiya duduk di parkiran untuk menunggu jemputan Daniel. Semua teman-temannya sudah pada pulang, hanya menyisakan Fatiya dan beberapa orang petugas kebersihan.
Fatiya duduk dengan gelisah, setelah lima belas menit menanti tetapi Daniel tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Gadis manis itu kemudian mengambil ponsel dari dalam tas dan menatap layar ponselnya, berharap ada pemberitahuan dari Daniel apakah calon suaminya itu jadi menjemput atau tidak.
Nihil. Tidak ada notif apapun di ponsel Fatiya. 'Abang jadi jemput Fafa enggak, sih?' batin Fatiya bertanya. Gadis berhijab itu mulai resah karena waktu terus bergulir menuju petang dan langit di atas sana pun mulai gelap tertutup oleh awan.
'Kayaknya mau turun hujan, deh,' gumam Fatiya seraya mendongak ke atas, menatap langit yang berwarna gelap, segelap kelangsungan hubungannya dengan Daniel.
'Apa, aku telepon saja, ya?' Fatiya hendak membuka layar ponselnya kembali, ketika tiba-tiba ada notif pesan masuk.
Dia gulir layar ponsel untuk membuka pesan tersebut.
"Assalamu'alaikum,Fa. Belum pulang?"
'Pesan dari siapa? Nomornya belum aku š“š¢š·š¦?' Fatiya bertanya-tanya, dahinya berkerut dalam membaca deretan kata tersebut.
Fatiya nampak ragu untuk membalas pesan tersebut, dia abaikan saja tanpa membalas dan kemudian menutup kembali layar ponselnya, hingga gadis itu melupakan tujuannya untuk menelepon Daniel.
"Fatiya melihat jam di pergelangan tangan. "Huh ... sudah setengah jam lebih, tapi kenapa kamu tidak memberi kabar, Bang?" gerutu Fatiya, bertanya.
Ponsel Fatiya tiba-tiba bergetar. Buru-buru dia lihat layar ponsel dan berharap sang calon suamilah yang menghubungi dirinya. Namun, Fatiya harus kecewa karena ternyata itu telepon dari nomor asing.
'Ini nomor siapa, ya?' Dahi Fatiya kembali berkerut dalam. Dia kemudian menggeser gambar ponsel berwarna hijau, memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum." Suara yang beberapa hari ini sudah sangat š§š¢š®šŖššŖš¢š³ di telinga Fatiya menyapa dari seberang sana.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš