Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Merebut Harta Milik Fafa


__ADS_3

Di tempat lain, mobil yang membawa Fatiya, berhenti tepat di sebuah gudang kosong yang terletak agak jauh dari perumahan penduduk.


"Ayo, turun!" paksa laki-laki yang lengannya dipenuhi gambar ular naga itu dengan menyeret kasar tangan Fatiya.


"Aw ... sakit, Om," rintih Fatiya kembali.


"Masuk!" Lelaki berbadan kekar itu kembali menyeret Fatiya, memasuki gedung tua yang hanya diterangi oleh lampu senter yang sengaja digantung di tengah pintu masuk.


Terseok, gadis berhijab itu mengikuti langkah laki-laki bertampang sangar layaknya preman pasar tersebut, masuk ke dalam gedung.


'Ya, Rabb, tolong selamatkan aku. Jika memang umurku hanya sampai di sini, semoga Engkau tetap menjaga kesucianku,' rintih Fatiya berdoa, memohon perlindungan hanya pada Yang Maja Kuasa.


Fatiya tak tahu bagaimana nasibnya nanti, dua orang yang membawanya memiliki tampang penjahat dan sepanjang perjalanan tadi, tak henti laki-laki bernama Cecep yang duduk tepat di samping Fatiya, menatap putri Bu Saidah itu seperti menelanjangi.


Cecep terus memindai tubuh Fatiya dari atas hingga kebawah sambil menelan ludah. Jakunnya terlihat naik turun, sedang napasnya yang berbau alkohol terdengar memburu.


Kalau saja orang yang menyuruh Cecep dan temannya tidak berpesan melalui sambungan telepon yang di dengar oleh Fatiya tadi di dalam mobil, agar Cecep tidak menyentuh tawanannya, mungkin saja Cecep akan menggerayangi tubuh Fatiya.


"Om, apa sebenarnya mau, Om? Dan apa salah saya, sehingga saya dibawa kemari?" Fatiya mengulang pertanyaan yang sama, sejak dari dalam mobil tadi.


"Diam! Nanti kamu juga akan tahu sendiri!" bentaknya sambil mendudukkan Fatiya dengan kasar di atas kursi kayu dan kemudian mengikat kedua tangan Fatiya ke belakang agar tawanannya itu tidak kabur.


"Om, sakit, Om," rintih Fatiya karena ikatan tangannya begitu kuat, hingga tangan gadis berhijab yang diikat dengan tambang kasar itu menjadi lecet.


"Makanya diam, biar enggak sakit!" hardik Cecep.


"Tidak perlu dilepas, Om, Saya janji tidak akan kabur," mohon Fatiya mencoba menawar.


"Sudah, diam! Bos kami sudah datang!" seru Cecep ketika melihat pengemudi mobil Jeep yang sampai di gedung tua itu terlebih dahulu, masuk ke dalam gedung dengan diiringi oleh pengemudi mini bus yang tadi membawa Fatiya.

__ADS_1


"U-uwa Dodi?" tanya Fatiya tak percaya. Netra Fatiya membulat sempurna melihat ayah dari Pendi, ada di hadapannya.


"A-apa maksud Uwa dengan semua ini?" tanya Fatiya dengan bibir bergetar. Rasa sakit menyelinap begitu saja di dasar hatinya, mengetahui bahwa dalang dari penculikan dirinya adalah keluarga dari mendiang sang ayah.


"Tidak perlu terkejut seperti itu, Anak Kecil!" Pak Dodi tersenyum seringai.


"Sudah lama aku menunggu kedatanganmu ke Bandung, akhirnya penantianku tidak sia-sia," lanjutnya, yang membuat dahi Fatiya berkerut dalam.


"Menanti, Fafa? Tapi kenapa Uwa malah menyakiti Fafa seperti ini, Wa?" tanya Fatiya tak mengerti.


"Karena kamu anaknya Asep, Fa! Aku benci sama ayahmu karena dia selalu mendapatkan apa yang aku mau! Perhatian orang tua dan juga kakaknya, termasuk istriku! Bahkan ibumu, yang merupakan wanita incaranku saat itu!" Netra Pak Dodi nampak merah, menahan amarah yang bertahun lamanya dipendam dan baru bisa diungkapkan sekarang.


Ya, ayah Fatiya dulunya adalah putra dan adik kesayangan. Semenjak Asep mengenalkan Saidah sebagai calon istrinya, Dodi yang saat itu bekerja di š˜©š˜°š˜®š˜¦ š˜Ŗš˜Æš˜„š˜¶š˜“š˜µš˜³š˜ŗ milik orang tua Asep merasa ditikung oleh putra bungsu majikannya, dia pun kemudian mendekati kakaknya Asep.


Dodi berhasil menikah dengan kakaknya Asep, sebelum Asep menikah dengan Saidah. Dodi mencoba mempengaruhi istrinya dan juga keluarga sang istri, bahwa Saidah bukan wanita baik-baik. Saidah adalah kupu-kupu malam, yang bersembunyi dibalik hijab yang dia kenakan.


Alhasil, hubungan Asep dan Saidah kemudian ditentang oleh orang tua dan keluarga Asep. Ketika Asep memutuskan untuk tetap menikahi Saidah, orang tua Asep hanya memberinya rumah kecil di samping rumah sang kakak yang super besar.


Asep juga sama sekali tidak diberikan tempat, di dalam usaha milik orang tuanya. Pemuda itu berusaha sendiri bersama sang istri, merintis dari bawah usaha toko roti hingga akhirnya berhasil memiliki nama.


Asep hanya merawat dan membenahi rumah pemberian orang tuanya itu sedikit, sama sekali tak ingin merenovasinya karena fokus Asep dan sang istri adalah bagaimana caranya agar usaha mereka dikenal dan memiliki pasar terlebih dahulu.


Ketika usaha Asep sedang di atas angin, berhasil membeli ruko dua lantai dan sudah memiliki cabang di dua tempat, Dodi yang iri pada Asep kembali berulah.


Dia membayar juru masak Asep, agar memberikan obat pencahar dosis tinggi pada kue-kue yang hari itu dibuat. Rencana Dodi sukses besar, banyak pelanggan yang komplain dan melaporkan Asep pada pihak yang berwajib.


Orang tua Asep yang kala itu masih hidup merasa malu, sehingga mengusir putra bungsu dan istrinya yang saat itu baru saja melahirkan putri pertamanya, Fatiya.


"A-apa maksud, Uwa?" Pertanyaan Fatiya membuyarkan lamunan Pak Dodi.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya itu kemudian mengeluarkan sebuah kertas putih yang sudah bertuliskan baris-baris kalimat, serta ditempel sebuah materai.


"Aku ingin, kamu menandatangani surat jual-beli ini!" pinta Pak Dodi penuh penekanan.


"Ju-jual beli apa, Wa?" tanya Fatiya yang memang belum mengerti apa-apa.


"Apa Saidah belum memberitahu padamu, kalau Asep meninggalkan tiga ruko dan satu rumah besar di kota ini atas namamu, Bocah Kecil?" tanya Pak Dodi penuh selidik.


Fatiya menggeleng karena ibunya itu, memang tidak pernah menceritakan apapun tentang keluarga sang ayah yang ada di kota Bandung. Termasuk harta benda yang masih mereka miliki.


Hanya akhir-akhir ini saja, Pak Dodi kembali menghubungi Bu Saidah dan bersikap baik pada wanita yang pernah dicintainya itu, sehingga ibunya Fatiya juga memberikan undangan untuk keluarga sang suami pada acara pernikahan Fatiya yang ternyata batal.


Bu Saidah juga tidak ragu, memutuskan untuk kembali ke kota sang suami guna menghindari gunjingan para tetangga karena menyangka, bahwa keluarga suaminya telah berubah. Nyatanya, semua adalah jebakan Pak Dodi.


Pengendara motor sport yang sedari tadi mengikuti Fatiya yang dibawa paksa dan dinaikkan ke dalam sebuah mobil mini bus, mengintip dari celah jendela di samping gedung.


Pemuda itu mengepalkan tangan dengan sempurna dan rahangnya mengeras menahan amarah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


'Jadi, papa yang melakukannya? Dan tujuannya adalah, untuk merebut harta milik Fafa?' Pendi bertanya pada dirinya sendiri.


'Aku harus segera mencari bantuan,' gumamnya seraya beranjak.


'Tapi, enggak mungkin aku memanggil warga, apalagi menghubungi polisi karena papa pasti akan kena masalah.' Sisi lain batin Pendi tetap ingin melindungi sang papa, meskipun papanya sudah jelas bersalah.


Pendi berjalan mengendap dan segera meninggalkan gedung tua itu, dia berjalan menuju motornya yang diparkir jauh dari gedung tua tersebut.


'Sebaiknya, aku meminta bantuan pada Kak Tasya, Fafa bilang Kak Tasya orangnya baik. Suami Kak Tasya pasti akan mempunyai cara untuk bisa menyelamatkan Fafa, tanpa membuat papa mendekam di penjara.'


Pendi segera melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi untuk menuju kantor milik Tasya, guna mencari tahu alamat rumah pemilik kantor tersebut.

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2