
Bakda maghrib, di kediaman peninggalan almarhum ayah Fatiya. Gadis cantik itu terlihat sedang terlibat pembicaraan serius dengan sang ibu dan beberapa sanak saudara dari sang ayah.
"Maaf, Wa. Jika Fafa sudah membuat kalian malu," lirih Fatiya yang terlihat sendu
"Jangan salahkan anak saya terus, Teh! Fafa juga enggak tahu kalau akan seperti ini akhirnya," bela Bu Saidah pada sang putri.
"Kalau dari awal kalian tahu bibit, bebet dan bobot pemuda itu, hal ini pasti tidak akan terjadi!" ketus seorang wanita yang usianya terlihat lebih tua dari Bu Saidah.
"Kami malu pada para tetangga karena mereka semua sudah tahu, kalau besok seharusnya kami berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Fafa!" Netra Wanita tua itu terlihat marah.
"Ditambah lagi, malah kalian datang kesini!" imbuhnya dengan suara meninggi.
Rupanya, keluarga besar almarhum sang Papa kecewa dengan keputusan Fatiya yang membatalkan pernikahannya. Sedangkan para tetangga di kampung tersebut, sudah mengetahui kabar pernikahan putri Bu Saidah itu.
Fatiya menatap sang ibu, dengan penuh keprihatinan. Gadis itu khawatir, sang ibu akan kembali ngedrop dan jatuh sakit. Padahal, tujuan mereka menjauh dari kampung halaman di Jakarta, adalah untuk menghindari suara-suara yang pasti tidak akan mengenakkan dari para tetangga.
"Maaf, Wa. Jika Uwa tidak berkenan kami kembali ke sini, kami akan pergi dari sini secepatnya," ucap Fatiya, gadis itu memegang tangan sang ibu yang terasa dingin.
"Bu, Ibu yang kuat, ya. Fafa akan cari tempat tinggal, dimana tidak ada orang yang bisa mengenali kita. Ibu jangan khawatir tentang biaya kontrakan karena Fafa sudah bekerja, kan?" hibur Fatiya yang mencoba menenangkan sang putri.
"Kamu tidak boleh kemana-mana, Fa, Bibi." Suara Pendi yang baru saja masuk ke rumah sederhana tersebut, membuat mereka semua menoleh ke arah pemuda yang merupakan kakak sepupu Fatiya tersebut.
"Ma, Fafa dan Bibi itu saudara Mama dan Papa, saudara Uwa juga!" seru Pendi pada orang-orang yang berada di ruang tamu rumah Fatiya.
"Harusnya kita ikut prihatin dan mencoba membuat Fafa dan Bibi nyaman tinggal di sini, sehingga bisa melupakan kesedihan mereka dan bukannya malah menyudutkan seperti ini!" lanjutnya, yang tersulut emosi mendengar sekilas pembicaraan tadi.
"A', jangan terlalu kasar pada orang tua!" Fatiya memperingatkan kakak sepupunya, lirih.
"Tapi mereka memang keterlaluan, Fa," ucap Pendi.
Fatiya menggeleng. "Tidak apa-apa, A' Pendi," balas Fatiya.
"Wajar jika mereka kecewa dan marah karena tiba-tiba kami datang dan membawa berita yang tidak mengenakkan seperti ini, A' Pendi," tutur Bu Saidah yang mencoba untuk bersikap tenang, meski kesedihannya tak dapat beliau sembunyikan dari pandangan sang putri.
Fatiya terus menggengam tangan sang ibu.
"Para tetangga pasti mikirnya, kalian ini pembawa sial karena punya anak gadis yang ditolak oleh calon suaminya! Mereka mana mau mendengar penjelasan, bahwa ternyata calonnya Fafa yang selingkuh!" ucap salah seorang uwa Fatiya dengan ketus.
Netra Bu Saidah mulia berkaca-kaca, ada rasa tidak terima mendengar sang putri dikatakan sebagai pembawa sial. Namun, sang putri memberikan isyarat agar Bu Saidah tidak membalas perkataan saudaranya tadi.
"Wa!" seru Pendi, pemuda itu juga merasa tidak nyaman mendengar perkataan uwanya barusan.
__ADS_1
Bu Saidah menatap Pendi, seraya menggelengkan kepala.
"Maaf, Wa. Kami butuh istirahat," usir Fatiya dengan halus. Gadis itu sudah tidak tahan mendengar perkataan dari saudara-suadara ayahnya yang selama ini memang tidak dekat dengan dirinya dan sang ibu.
Fatiya tidak mau jika ibunya semakin tertekan, jika terus-terusan di hujat seperti ini.
"Besok pagi, Fafa pastikan Uwa sekalian tidak akan melihat kami berada di sini lagi. Jadi, tolong hentikan hujatan kalian," harap Fatiya seraya menatap para orang tua itu bergantian.
"Fa, kalian mau kemana?" tanya Pendi.
"Belum tahu A'," balas Fatiya seraya menggeleng.
"Pendi! Ayo, pulang!" ajak mamanya Pendi dengan tatapan melotot tajam pada sang putra.
"Pendi nanti nyusul, Ma," tolak Pendi.
"Pulang sekarang atau semua fasilitas yang papa berikan, akan papa cabut!" ancam laki-laki berwajah tegas yang merupakan kakak ipar ayahnya Fatiya.
Pendi menciut, pemuda itu langsung melangkah mengikuti para orang tua yang keluar dari rumah orang tua Fatiya dengan raut wajah kesak.
"Fa, jangan pergi!" larang Pendi tanpa bersuara, ketika kakinya sudah berada di ambang pintu.
"Maafkan Fafa ya, Bu. Semua ini karena Fafa tidak mendengarkan nasehat Ibu waktu itu," pinta Fatiya dengan lirih.
Bu Saidah menggeleng. "Tidak, Nak. Harusnya, ibu yang minta maaf sama kamu. Tak seharusnya, ibu mengajak kamu pulang ke sini karena sejak awal ayah dan ibu menikah, mereka sudah tidak setuju." Bu Saidah menatap sang putri dengan tatapan sendu.
"Itu makanya, ayahmu memilih untuk menetap di Jakarta dan memutuskan tali silaturahim dengan keluarganya," kenang Bu Saidah, akan masa lalu perjuangannya dengan sang suami.
"Hanya saja, akhir-akhir ini Uwa Dodi sering berkomunikasi sama ibu dan menanyakan kabar kamu. Ibu pikir, mereka sudah bisa menerima kita dan karena itulah ibu mengajak kamu untuk pulang ke sini," terang Bu Saidah seraya menatap sang putri.
"Ibu sudah tidak tahu lagu, Nak. Jika kita pulang ke Jakarta ...."
"Tidak, Bu. Fafa tidak mau pulang ke kampung itu lagi, untuk saat ini," sergah Fatiya, memotong penuturan sang ibu.
"Fafa enggak mau, Ibu mendengar suara-suara yang bisa menyakiti hati Ibu," imbuh Fatiya seraya memeluk sang ibu.
Kumandang adzan isya' terdengar dari Masjid di kejauhan, Fatiya segera beringsut. "Kita sholat isya' dulu yuk, Bu. Semoga setelah sholat, kita bisa mengambil keputusan yang terbaik," ajak Fatiya.
Bu Saidah mengangguk, wanita paruh baya itu kemudian beranjak mengikuti langkah sang putri menuju dapur.
Usai berwudhu, Fatiya dan sang ibu kemudian sholat isya' dengan berjama'ah. Setelah mengucapkan salam, Bu Saidah membaca wirid yang diikuti sang putri dan kemudian berdo'a untuk memohon petunjuk dan pertolongannya.
__ADS_1
"Bu, Fafa ingat. Tadi Kak Tasya bilang, kalau di belakang kantor disediakan mess untuk karyawan yang rumahnya jauh. Bagaimana kalau malam ini kita ke sana, Bu?" tawar Fatiya.
"Memangnya, masih ada tempat kosong, Nak?" tanya Bu Saidah.
"Masih kok, Bu. Ada beberapa kamar yang baru selesai di bangun juga," balas Fatiya. "Besok sore sepulang Fafa kerja, baru Fafa akan cari kontrakan," lanjutnya.
"Baiklah, Nak. Bagaimana baiknya saja, menurut kamu," balas Bu Saidah yang nampak lega.
Fatiya bergegas mengemasi barang-barangnya yang tak seberapa banyak, dan kemudian menyeret koper tersebut ke ruang tamu.
"Bu, Ibu tunggu di sini saja, ya. Fafa akan cari taksi di depan," pamit Fatiya.
āāā
Di paviliun tempat Akbar di rawat. Tepat menjelang sholat isya', hampir semua keluarga Antonio sudah berkumpul di sana, kecuali anak-anak karena besok pagi mereka harus sekolah.
Keluarga Om Devan dan Om Alex, semuanya berkumpul. Om Ilham hanya datang berdua dengan sang istri dan menitipkan kedua anaknya yang masih sekolah, pada orang tua Om Ilham di kediaman Antonio, bersama kedua putri kembar Daddy Rehan yang juga masih sekolah.
Kondisi Akbar sendiri masih sama seperti tadi siang, pemuda tampan itu masih belum sadarkan diri dan sesekali mengigau memanggil nama Fatiya.
Daddy Rehan nampak mendekati Malik. "Bang, apa Abang tahu alamat Fafa di sini?" bisik Daddy Rehan bertanya.
Malik mengangguk. "Tahu, Dad. Tadi data pribadi Fafa sempat Malik foto," balas Malik seraya mengambil ponselnya.
"Simpan saja ponsel Abang, nanti bakda sholat isya' kita cari rumah gadis itu dan bawa Fafa kemari," pinta Daddy Rehan. "Siapa tahu, jika ada Fafa Bang Akbar akan segera sadar," imbuh Daddy Rehan.
Malik kembali mengangguk. "Siap, Dad," balas Malik.
"Ayo, ajak yang lain untuk jama'ah!" titah Daddy Rehan. Ayah enam orang anak itu kemudian segera mengajak sang istri untuk sholat berjamaah bersama anak-anak.
Mereka sholat isya' di salah satu paviliun yang sudah di booking oleh Malik tadi siang, yang berada tepat di samping paviliun tempat Akbar di rawat.
"Mom, Daddy mau keluar dulu sebentar sama Bang Malik," pamit Daddy Rehan ketika sang istri mencium punggung tangannya, usai Daddy Rehan memimpin do'a.
"Mau kemana, Dad?" tanya Mommy Billa.
"Mau mencari gebetan mojang Priangan paling, Mbak. Gadis-gadis di kota ini 'kan terkenal cantik-cantik," sahut Om Ilham sekenanya.
Daddy Rehan hanya tersenyum.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1