Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Siapa yang Menangis?


__ADS_3

Fatiya keluar dari š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® dengan perasaan yang campur aduk tak karuan. Empat tahun dirinya bekerja di š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® milik Angga ini, tentu banyak kenangan yang dia rajut bersama teman-temannya.


Gadis cantik berhijab itu berjalan melintasi area parkir yang luas dengan langkah berat dan dengan perasaan kehilangan serta hati yang masih tertinggal di belakang sana, hingga Fatiya tak menyadari hadirnya seseorang yang sudah menunggu dirinya di pintu gerbang š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜®.


"Dik," sapa suara bariton, begitu Fatiya sudah mendekati pintu gerbang.


Fatiya yang berjalan dengan menundukkan kepala, langsung mendongak dan menatap pemuda yang selama empat tahun ini telah mengisi hari-harinya. "Bang Daniel?"


"Kamu mau kemana, Dik?" tanya Daniel dengan penuh selidik, mengetahui pakaian Fatiya tak seperti biasanya.


"Mau ke kampus, Bang. Ada yang harus Fatiya bereskan," balasnya jujur.


Ya, Fatiya memang berencana hendak ke kampus, untuk meminta ijin pada pihak fakultas bahwa dirinya tidak dapat mengikuti wisuda.


"Oh," balas Daniel singkat, pemuda itu tersenyum dan kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami Fatiya, yang disambut gadis berhijab itu dengan tersenyum tipis.


"Aku tadi ke rumah kamu, tapi rumah sepi. Apa ibu ke pasar, Dik?" tanya Daniel sambil berjalan mengiringi langkah Fatiya menuju tempat yang teduh, karena sinar matahari mulai terasa panas menyengat meski waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Fatiya kemudian mendudukkan diri di bangku yang tersedia di depan pos satpam, yang diikuti oleh Daniel.


"Mungkin saja, beliau ke pasar," balas Fatiya yang tidak ingin jujur tentang kondisi sang ibu dan juga rencana mereka berdua untuk pergi meninggalkan ibukota.


"Bibir Bang Daniel, kenapa?" tanya Fatiya kemudian seraya mengerutkan dahi, begitu menyadari ada yang berbeda dengan bibir pemuda yang ada di hadapannya.


"Oh, ini semalam, Dik. Sewaktu pulang dari rumah kamu," balas Daniel seraya meraba bibirnya yang masih terasa sedikit perih.


Daniel kemudian menceritakan kejadian yang semalam menimpa dirinya. "Alhamdulillah, Dik, abang masih selamat," pungkas Daniel.


"Ya Allah, Bang, lain kali hati-hati," ucap Fatiya yang masih tetap peduli pada pemuda yang telah mengkhianati kesetiannya itu.


Daniel tersenyum, pemuda itu merasa sangat senang karena Fatiya masih memberikan perhatian kepadanya. 'Apakah ini artinya, kamu masih mau melanjutkan rencana pernikahan kita, Dik?' batin Daniel bertanya.

__ADS_1


Sejenak, keduanya sama-sama terdiam. Hanya terdengar suara deru mesin kendaraan yang berlalu lalang di hadapan mereka berdua, menjadi nyanyian bising yang mengisi ruang hati hampa Fatiya.


Ya, Fatiya merasakan kehampaan di hatinya setelah mengetahui kebenaran perselingkuhan Daniel.


"Oh ya, Dik. Tentang pernikahan kita, apa keputusan kamu, Dik?" tanya Daniel dengan harap-harap cemas, mencairkan kebisuan diantara mereka berdua.


Fatiya menoleh ke arah Daniel. "Maaf, Bang, jika jawaban Fafa tidak sesuai dengan rencana kita dulu," balas Fatiya. "Fafa hanya ingin membahagiakan ibu," lanjutnya.


Daniel yang sudah dapat mencerna kalimat Fatiya barusan, terdiam. Hanya air mata yang menggenang di pelupuk mata, mewakili perasaan pemuda tersebut saat ini.


Penyesalan diri yang mendalam, kekecewaan serta keputusasaan, menyatu dan membuat Daniel seperti kehilangan pegangan hidup.


"Maaf, Bang," ucap Fatiya kembali setelah cukup lama Daniel tidak menanggapi ucapannya.


Daniel menggeleng. "Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, Dik. Aku yang telah melakukan kesalahan. Aku yang bodoh dan tidak bisa menjaga kesetiaan." Suara Daniel tercekat di tenggorokan.


Fatiya yang juga merasakan sesak di dada, tidak dapat mengeluarkan air matanya kembali. Air mata gadis itu mungkin telah habis karena sejak Santi mengatakan bahwa dia melakukan hubungan intim dengan Daniel, Fatiya telah banyak mengeluarkan air matanya.


Fatiya mengulas sebuah senyuman manis. "Fafa juga berterimakasih pada Bang Daniel, untuk empat tahun kebersamaan kita. Fafa juga minta maaf, atas semua kesalahan Fafa."


Daniel ikut tersenyum meski dengan sedikit terpaksa. Pemuda itu kemudian mengusap puncak kepala Fatiya yang tertutup hijab, dengan penuh perasaan.


"Jika berkenan, temui mama di rumah sakit, ya?" pinta Daniel dengan netra yang kembali berkaca-kaca. Pemuda itu sangat berharap, Fatiya mau menjenguk sang mama yang sangat menyayangi gadis yang duduk di sampingnya itu.


"InsyaAllah, Bang," balas Fatiya. "Abang kirimkan saja alamat rumah sakitnya dan ruang rawat mamanya Bang Daniel, nanti kalau masih sempat Fafa akan langsung ke sana," lanjutnya.


"Kalau abang antar saja ke kampusnya, gimana?" tawar Daniel.


Fatiya menggeleng. "Bang Daniel sedang kerja, kan?" tanya Fatiya, memastikan.


Pemuda itu mengangguk. "Iya, Dik. Ada rapat bareng sama pimpinan di cafe resto Pak Adit, ini abang sengaja datang lebih awal agar bisa menemui kamu," terang Daniel.

__ADS_1


"Ya sudah, Bang. Abang buruan ke sana, gih. Nanti terlambat, loh," usir Fatiya dengan halus karena dirinya juga harus buru-buru ke kampus, agar saat makan siang nanti Fatiya sudah berada di puskesmas kembali untuk memastikan sang ibu makan dengan benar.


"Barusan itu, seperti mobil Pak Andrew yang berbelok ke arah cafe rato," lanjutnya seraya menunjuk arah cafe dan restoran milik Aditya.


Daniel segera beranjak, yang diikuti oleh Fatiya untuk menghadang taksi.


"Fa, aku ke sana dulu, ya," pamit Daniel seraya tersenyum, tetapi tatapan matanya terlihat sendu.


Fatiya hanya mengangguk, seraya tersenyum tipis.


Daniel segera menuju ke mobilnya yang di parkir tak jauh dari pos satpam, sementara Fatiya langsung menghadang taksi yang kebetulan melaju pelan dari arah timur.


ā˜•ā˜•ā˜•


Setelah menyelesaikan urusannya di kampus, Fatiya menyempatkan diri untuk menjenguk mamanya Daniel di rumah sakit.


"Jam setengah dua belas, aku harus buru-buru," gumam Fatiya yang baru saja melihat arloji di pergelangan tangan kanannya. Gadis cantik itu baru saja turun dari taksi dengan menenteng sebuah bingkisan.


Fatiya kemudian memacu langkahnya dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit, untuk menuju kamar VIP tempat mamanya Daniel di rawat.


"Nomor ganjil, nomor genap," gumam Fatiya seraya menoleh ke kiri dan ke kanan bergantian.


"Oh, berarti yang itu," ucapnya pada diri sendiri setelah menemukan nomor kamar mamanya Daniel berada di samping kanannya.


Fatiya mengetuk pintu pelan dan kemudian membukanya perlahan, dia melongokkan kepala terlebih dahulu untuk memastikan penghuni kamar tersebut, meski di depan pintu tadi Fatiya sudah membaca nama pasien dan memang sesuai dengan nama mamanya Daniel.


Baru saja kepalanya melongok ke dalam dan belum sempat melihat penghuni kamar tersebut, Fatiya buru-buru mundur karena gadis itu mendengar suara isak tangis di dalam ruang perawatan mamanya Daniel.


"Siapa yang menangis? Suaranya seperti tak asing bagiku, seperti suara ibunya Santi bukan, sih?" gumam Fatiya bertanya pada diri sendiri.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1



__ADS_2