
"Mas Akbar sukanya ngancam!" protes Fatiya sambil melangkah memasuki toko, mengikuti langkah Akbar.
"Bang Akbar! Sudah punya gandengan seperti truk, kok diam saja?" Suara dari dalam toko pakaian tersebut, membuat Akbar seperti tercyduk.
"Dik," sapa Akbar pada dua orang pemuda yang tengah tersenyum jahil pada Akbar.
"Kalian, hanya berdua?" tanya Akbar selanjutnya, seraya mengedarkan pandangan mencari sosok-sosok lain yang barang kali Akbar kenali.
Sementara Fatiya hanya berdiri mematung di samping Akbar.
"Tuh, nganterin cewek-cewek. Entah lagi nyari apaan?" balas salah seorang diantaranya, seraya menunjuk dua orang gadis yang sedang sibuk memilih aksesoris hijab limited edition.
"Kenapa sampai di sini?" tanya Akbar kembali.
"Biasa, Bang, cewek-cewek. Tahu dari sosial media katanya, dan barang itu hanya dijual di sini," balas pemuda lainnya.
"Bang, kakak ipar enggak mau dikenalin sama kita-kita," bisik pemuda yang wajahnya hampir mirip Akbar, hanya saja pemuda tersebut sepertinya sedikit jahil.
"Belum, Dik. Abang lagi usaha," balas Akbar yang juga ikut berbisik.
Fatiya tersenyum simpul mendengar bisik-bisik tersebut karena jaraknya cukup dekat dengan Akbar, gadis yang mengenakan jas kebesaran itu geleng-geleng kepala sendiri.
"Oh ya, Fa. Kenalin nih, adik-adikku," ucap Akbar yang kemudian memperkenalkan kedua pemuda tersebut kepada Fatiya.
Kedua pemuda tampan itu langsung mengulurkan tangan bersamaan, membuat Fatiya bingung harus menyalami yang mana dulu.
"Mirza dulu, Bang. Bang Attar ngalah napa!" seru Mirza.
"Kamu yang harusnya ngalah, Za. Dia 'kan calon kakak iparku," protes Attar yang membuat Fatiya mengerutkan dahi.
"Kalau begitu, Inez dulu," serobot salah seorang dari dua gadis yang tahu-tahu sudah berada bersama mereka.
"Hai kakak ipar, aku Inez. Keponakan Bang Akbar yang paling cantik," ucap Nezia yang langsung menyambut uluran tangan Fatiya yang sudah terulur sedari tadi untuk menyalami Mirza dan Attar, tapi kedua pemuda tersebut malah berebut.
"Cih, yang paling cantik katanya," cibir Attar, adik kandung Akbar.
"Biarin! Syirik aja sih, Bang Attar." Nezia mengerucutkan bibir.
"Fafa," balas Fatiya yang langsung menyebut nama panggilannya.
__ADS_1
"Wah, Kak Fafa cantik banget," puji Nezia dengan tulus. "Pantes aja, Bang Akbar yang dingin kayak salju ini klepek-klepek," lanjut Nezia seraya terkekeh.
Fatiya ikut tertawa kecil. Dia kemudian menyalami gadis yang barusan gabung bersama Nezia.
"Kalau kamu?" tanya Fatiya seraya menjabat tangan gadis tersebut.
"Lila, Kak," balasnya dengan suara lembut.
"Adiknya Bang Akbar cantik-cantik dan tampan-tampan, ya," puji Fatiya.
"Sudah sejak lahir, Kak," celetuk Mirza yang selalu percaya diri tersebut, hingga membuat semuanya tertawa.
"Kalian udah selesai, kan?" tanya Akbar yang melihat Nezia dan Lila sudah menenteng š±š¢š±š¦š³ š£š¢šØ.
Kedua gadis itu mengangguk, kompak.
"Ya, udah. Buruan pulang sana!" usir Akbar karena pemuda itu tak ingin diganggu.
"Yaelah, Abang! Giliran dah ada gandengan aja, kita-kita diusir! Biasanya juga minta ditemenin Inez kalau mau ke mana-mana!" protes Nezia yang merasa tersingkir, tapi gadis itu tak benar-benar marah.
Nezia justru ikut bahagia karena Akbar akhirnya membuka kembali hatinya untuk seorang Fatiya.
"Kak, Fafa. Ini buat kakak." Lila memberikan sebuah bros cantik pada Fatiya sebelum mereka berlalu dari toko tersebut.
"Ini beneran, buat Kakak?" tanya Fatiya, ragu.
Lila mengangguk. "Iya, Kak. Tadi cuma tinggal empat, jadi kami ambil semua. Buat Lila, Inez, Lili dan yang satu buat kak Fafa aja," balas Fatiya.
"Terima aja, Kak. Lila tulus kok, dia 'kan ibu peri yang baik hati," timpal Mirza, yang terselip modus dari ucapannya barusan.
Lila tersenyum simpul, seraya melirik Mirza yang juga tengah tersenyum padanya.
"Bang Mirza selalu gitu, suka beda-bedain Inez sama Lila. Pasti selalu manis kalau sama Lila," protes Nezia.
Sementara Attar hanya tertawa tanpa bersuara.
"Wah, makasih ya. Kakak pasti akan pakai, ini cantik banget," ucap Fatiya dengan netra berbinar.
"Kalau Lili siapa? Apa saudara kembar kamu, Lila?" tebak Fatiya bertanya.
__ADS_1
"Iya, Kak," balas Lila.
"Udah, cepetan balik, gih," usir Akbar kembali. "Kak Fafa udah kedinginan ini, bajunya basah dan sekarang mau cari baju ganti," lanjut Akbar menjelaskan.
Reflek Nezia menyentuh hijab Fatiya. "Iya, lho. Saking terpesona sama Kak Fafa, kita sampai enggak ngeh kalau Kak Fafa pakai jas Bang Akbar," ucap Nezia sambil mengamati pakaian yang dikenakan gadis yang bersama Akbar.
Ketiga saudaranya pun ikut meneliti pakaian Fatiya dan kemudian mereka tertawa bersama.
"Bang Akbar sungguh terlalu, masak ceweknya diajak hujan-hujanan," celetuk Attar.
"Eh, enggak hujan-hujanan, kok. Tadi kakak ...."
"Udah, enggak perlu dijelasin, Fa. Memang pada rese mereka itu," sergah Akbar yang memotong ucapan Fatiya.
"Bang, kami mau makan dulu," ucap Attar memberi kode.
Akbar segera membuka dompet dan kemudian memberikan sebuah š¤š³š¦š„šŖšµ š¤š¢š³š„ kepada Attar. "Nih, kalau urusan kalian udah selesai segera pulang," pesan Akbar.
"Siap, Abang," balas mereka kompak.
"Bang, jangan lupa. Malam minggu nanti, bawa Kak Fafa ke rumah!" seru Attar yang sudah berada di ambang pintu keluar.
Akbar mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda oke. 'Moga aja jalan gue lancar,' do'a Attar dalam hati.
"Tadi yang wajahnya mirip banget sama Mas Akbar, adik kandungnya, ya?" tanya Fatiya sambil mengikuti langkah Akbar menuju gerai baju wanita.
"Iya, adik satu-satunya. Kami dua bersaudara," terang Akbar.
"Kalau yang tiga? Berarti adik sepupu?" tanya Fatiya kembali.
"Bukan adik sepupu, sih, tapi keponakan. Mereka itu anaknya kakak sepupuku, ada juga yang anak dari sahabat papa," balas Akbar. "Ya, harusnya manggil om sih, tapi karena ngikut sama Attar jadi manggilnya bang," terang Akbar kembali.
Fatiya mengerutkan dahi, gadis itu terlihat sedikit bingung mendengar penjelasan Akbar.
"Pokoknya gitulah, Fa. Ribet kalau diceritain, keluargaku keluarga besar banget soalnya," pungkas Akbar.
"Fa, pakai baju ini mau, enggak?" tanya Akbar yang menghentikan langkah, ketika netranya menangkap sebuah gaun malam yang seksi terpajang pada manequin.
Fatiya membulatkan mata, menatap Akbar.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš