Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Berduaan dengan Cowok Lain


__ADS_3

Fatiya mengerutkan dahi.


"Siapa, Fa?" tanya Akbar.


"Daniel, dia video call," balas Fatiya yang terlihat kebingungan.


"Terima saja, dan katakan dengan jujur bahwa kamu ke sini karena disuruh Kak Angga," ucap Akbar.


Fatiya segera menerima panggilan video dari calon suaminya itu. "Halo, Bang. Assalamu'alaikum," sapa Fatiya pada pemuda yang wajahnya memenuhi layar ponsel Fatiya.


Gadis itu mencoba untuk bersikap biasa, meskipun dirinya telah mengetahui perselingkuhan Daniel dan Santi.


Mendengar Fatiya memanggil Daniel dengan sebutan bang, membuat Akbar merasa cemburu. Putra sulung keluarga Alvian Antonio itu kemudian mengambil ponsel dan memainkan benda pipih tersebut, untuk menetralisir perasaannya.


"Wa'alaikumsalam, Dik. Kamu di mana? Enggak lagi di š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜®, ya?" tanya Daniel yang merasa asing melihat š˜£š˜¢š˜¤š˜¬š˜Øš˜³š˜°š˜¶š˜Æš˜„ Fatiya.


Fatiya menggeleng. "Fafa lagi di tempat š˜¤š˜¶š˜“š˜µš˜°š˜®š˜¦š˜³, Bang. Tadi Pak Angga nyuruh Fafa untuk datang ke kantor Antonio Group," balas Fatiya sambil netranya tertuju ke arah dinding yang bergambar logo perusahaan.


Daniel mengangguk. "Bang, apa nanti sore Abang bisa jemput Fafa?" tanya Fatiya, yang membuat Akbar langsung menatap Fatiya.


Rasa cemburu pemuda itu semakin menjadi, ketika mendengar Fatiya meminta dijemput oleh Daniel.


Fatiya melirik sekilas ke arah Akbar, yang tengah menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ada yang harus kita bicarakan berdua, Bang," lanjut Fatiya, membuat Akbar sedikit lega.


"Maaf, Dik. Kalau nanti sore, sepertinya aku enggak bisa. Di kantor kalau tutup tahun seperti ini, sibuk banget, Dik," tolak Daniel beralasan. Calon suami Fatiya itu seperti sengaja menghindar.


Fatiya nampak kecewa, gadis itu sebenarnya tak ingin masalahnya berlarut-larut dan tak ada titik temu, sedangkan pernikahannya dengan Daniel sudah semakin dekat.


"Kamu tidak apa-apa 'kan, Dik?" tanya Daniel yang melihat wajah calon istrinya itu menjadi sendu.

__ADS_1


Fatiya membalasnya hanya dengan gelengan kepala. Gadis itu tak ingin bersuara karena sudah dipastikan, jika dirinya berbicara pasti akan langsung menangis.


"Ya, sudah. Abang cuma pengin tahu keadaan kamu saja," pungkas Daniel yang entah apa maksudnya.


Kata-kata terakhir Daniel, memancing Fatiya untuk bertanya. "Pengin tahu keadaan, Fafa? Memangnya, Fafa kenapa, Bang? Bukankah tadi pagi, kita juga berangkat bersama?" cecar Fatiya, membuat wajah pemuda yang memenuhi layar ponselnya tersebut kebingungan sendiri.


Hening, keduanya sama-sama terdiam. Mereka berdua hanya saling pandang, mencoba menyelami pikiran pasangannya.


"Oh ya, Bang. Abang sudah tahu belum, kalau tadi pagi Santi mengundurkan diri dari š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜®?" pancing Fatiya bertanya.


"Sa-santi, š˜³š˜¦š˜“š˜Ŗš˜Øš˜Æ?" tanya Daniel yang terlihat salah tingkah.


Fatiya hanya mengangguk. Gadis itu menanti, barangkali Daniel mau berterus terang tentang kejadian semalam bersama Santi.


Namun, hingga beberapa saat, Daniel tak kunjung membuka suara.


"Ya sudah, Bang. Fafa tutup, ya. Enggak enak sama š˜¤š˜¶š˜“š˜µš˜°š˜®š˜¦š˜³ kalau lama menunggu. Assalamu'alaikum," pungkas Fatiya seraya melirik Akbar sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya. Gadis berhijab itu langsung menutup telepon tanpa menunggu balasan salam dari sang calon suami.


"Santai saja, Fa. š˜Šš˜¶š˜“š˜µš˜°š˜®š˜¦š˜³-nya setia menunggumu, kok," sahut Akbar, ambigu. Membuat Fatiya mengerutkan dahi.


"Mau lanjut makan, enggak? Kalau enggak biar diberesin sama OB," tanya Akbar kemudian.


Fatiya menggeleng. "Fafa mau langsung balik ke š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® aja, Mas," pinta Fatiya.


"Oke, aku antar," balas Akbar yang langsung beranjak. "Tapi kita sholat dhuhur dulu, ya," ajak Akbar seraya menunjuk jam di dinding yang menunjukkan pukul satu siang.


Fatiya mengangguk dan kemudian mengekor langkah Akbar menuju musholla yang masih berada di lantai yang sama.


ā˜•ā˜•ā˜•


Usai sholat berjamaah berdua, Akbar kemudian mengantarkan Fatiya kembali ke š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® milik Angga. Kali ini, Akbar sendiri yang menyetir.

__ADS_1


Dua orang pengawal setia Tuan Muda Antonio tersebut, terpaksa membawa mobil sendiri dan mengikuti mobil Akbar dari belakang. Meskipun Akbar telah melarang, tetapi demi tugas yang telah diamanahkan oleh bos besarnya, š˜£š˜°š˜„š˜ŗš˜Øš˜¶š˜¢š˜³š˜„ itu tetap mengawal Akbar.


Sepanjang perjalanan menuju ke š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜®, Akbar terus saja mengajak Fatiya untuk ngobrol. Pemuda yang sudah lama kehilangan keceriannya itu, kini terlihat kembali bersemangat menjalani hidup.


"Kamu sudah lama, ya, kerja di tempat Kak Angga?" tanya Akbar.


"Iya, Mas. Hampir empat tahun, dari Fafa semester satu," balas Fatiya.


"Berarti, kamu kerja sambil kuliah? Gimana membagi waktunya?" Akbar nampak salut dengan kegigihan Fatiya.


"Alhamdulillah, Pak Angga dan Mbak Didi kasih kelonggaran buat Fafa, Mas. Jadwal kerja Didi, menyesuaikan dengan jadwal kuliah," balas Fatiya yang merasa sangat bersyukur mendapatkan bos seperti pasangan Angga dan Diandra.


"Dari awal melamar kerja, Fafa udah jujur sih, sama Pak Angga kalau Fafa masih kuliah. Bersyukurnya, Fafa langsung diterima begitu Pak Angga tahu kalau Fafa kerja agar bisa membiayai kuliah Fafa," lanjut Fatiya, yang membuat Akbar semakin salut.


"Ibu kerja apa?" tanya Akbar yang ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Fatiya.


"Serabutan, Mas. Apa aja ibu lakuin, yang penting bisa untuk membiayai kami berdua," balas Fatiya yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.


Gadis itu kembali teringat akan sang ibu, yang harus bekerja keras seorang diri, agar Fatiya bisa terus bersekolah seperti teman-temannya yang lain.


"Maaf, jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman." Akbar menoleh sekilas ke arah Fatiya.


Gadis manis itu menggeleng. "Setelah wisuda nanti, Fafa ingin bisa bekerja di tempat yang lebih baik dan mendapatkan gaji yang besar, agar ibu tak perlu lagi bekerja," ucap Fatiya.


'Setelah kamu diwisuda dan kita menikah, maka kamu enggak perlu bekerja kalau hanya untuk membahagiakan ibumu, Fa. Karena aku yang akan membahagiakan kalian berdua,' doa Akbar dengan penuh harap.


Akbar begitu yakin, bahwa Fatiya adalah jawaban dari doa-doanya selama ini. Dia yang tak pernah membuka hati lagi setelah kepergian sang kekasih, hanya meminta satu hal pada Sang Pencipta agar suatu saat nanti, dirinya dipertemukan dengan seorang gadis yang lembut seperti mamanya.


Tanpa terasa, mobil Akbar memasuki area parkir š˜“š˜©š˜°š˜øš˜³š˜°š˜°š˜® milik Angga.


Setelah memarkir mobilnya, Pemuda tampan itu kemudian segera turun yang langsung diikuti oleh Fatiya tanpa menunggu dibukakan pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bagus ya, ternyata kelakuan kamu, Dik. Tadi bilang ke tempat š˜¤š˜¶š˜“š˜µš˜°š˜®š˜¦š˜³, tapi ternyata malah keluar dan asyik-asyikan makan siang dan berduaan dengan cowok lain!" Suara bas di belakang Fatiya, membuat Fatiya sangat terkejut.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2