
Akbar tersenyum lebar. 'Daddy memang paling jago kalau memanfaatkan momen. Idenya boleh juga, ini berarti judulnya lamaran dadakan,' gumam putra sulung Papa Alvian tersebut.
"Bagaimana, Bu. Apakah lamarannya diterima?" desak Daddy Rehan.
Fatiya langsung terbatuk, gadis itu tersedak air liurnya sendiri.
Pemuda tampan yang berdiri di belakang Fatiya, sigap menepuk lembut punggung putri Bu Saidah. "Bentar aku ambilkan minum," ucap Akbar kemudian.
Putra sulung Papa Alvian itu kemudian berjalan menuju nakas untuk mengambilkan air putih buat Fatiya. "Nih, minum dulu, Fa. Pelan-pelan aja, ya," pinta Akbar seraya menyodorkan segelas air putih.
Semua mata tertuju pada kedua muda-mudi tersebut, tak terkecuali Bu Saidah. Wanita itu mengulas senyuman di bibir, melihat perhatian Akbar yang begitu besar pada putrinya.
'Pemuda itu sepertinya benar-benar tulus, dia juga baik dan sopan. Keluarga Nak Akbar juga sangat baik, mereka memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi,' monolog Bu Saidah yang terus memperhatikan Akbar.
"Maaf, Pak Rehan. Untuk masalah itu, biar putri saya yang menjawab karena Fafa yang akan menjalaninya," balas Bu Saidah kemudian, setelah Fatiya terlihat tenang.
Fatiya menundukkan kepala. Sejujurnya, gadis itu merasa belum siap untuk menjalin hubungan baru dengan laki-laki. Masih ada sedikit rasa trauma di hati Fatiya.
Mengingat, Daniel dulu juga perhatian dan sangat mencintai Fatiya. Selama empat tahun menjalin hubungan dengan dirinya, mantan tunangannya itu pun selalu menjaga kesetiaan.
Hingga Fatiya sempat tidak percaya, ketika mengetahui bahwa Daniel tega mengkhianati Fatiya dan berhubungan dengan temannya sendiri.
"Bagaimana, Fa? Mereka menunggu jawaban kamu, Nak?" tanya Bu Saidah, mengurai lamunan Fatiya.
Gadis cantik itu mendongak, menatap Mama Susan yang tengah tersenyum hangat kepadanya, menatap Papa Alvian yang juga tersenyum ramah dan kemudian menatap Akbar yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Fatiya kemudian menatap sang ibu. "Kalau menurut Ibu, bagaimana?" tanya Fatiya. "Fafa ikut saja apa kata Ibu," lanjutnya.
"Kenapa tanya sama Ibu?" wanita berbadan kurus itu menatap putrinya. "Jawab saja sesuai kata hatimu, Nak," lanjut Bu Saidah dengan bijak.
"Maaf, apa boleh kami bicara berdua sebentar?" pinta Fatiya, seraya menatap Daddy Rehan dan Papa Alvian bergantian.
__ADS_1
"Oh, tentu saja boleh, Fa. Lama juga boleh," balas Daddy Rehan yang langsung disenggol lengannya oleh Papa Alvian, seraya menatap protes pada suami dari keponakannya itu.
"Ya enggak masalah 'kan, Bang? Ini 'kan di rumah sakit, banyak orang lagi. Mereka enggak bakal ngapa-ngapainlah," bela daddy tampan tersebut.
"Benar Opa. Kalau mereka mau ngapa-ngapain, pasti sudah dari semalam ketika mereka berdua terjebak di dalam sumur. Hanya berdua, gelap dan hujan lagi," timpal Malik seraya tersenyum penuh arti pada Akbar.
Ya, pemuda tampan putra kedua Daddy Rehan itu dapat menebak, pasti telah terjadi sesuatu antara Akbar dan Fatiya semalam sebelum mereka datang. Entah itu disengaja ataupun tidak, tapi feeling Malik mengatakan demikian.
Akbar hanya tersenyum tipis. "Maaf, kami keluar dulu, ya," pamit pemuda tampan itu sambil mendorong kursi roda Fatiya keluar dari ruangan tersebut, untuk menghindari tatapan Malik yang menyelidik terhadap dirinya.
Putra sulung Papa Alvian itu membawa Fatiya menuju taman yang berada di antara paviliun dan gedung rumah sakit. Akbar kemudian duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang dan berhadapan dengan gadis yang telah berhasil mencairkan hatinya yang membeku selama ini.
Akbar menatap dalam netra Fatiya. "Aku mencintai kamu, Fa. Entah ini untuk yang ke berapa aku mengatakannya, tapi aku takkan pernah bosan untuk selalu mengatakan kata cinta kepadamu."
Fatiya membeku. Tatapannya terpaku pada netra hazel milik Akbar. Gadis itu membuka mulutnya perlahan, seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi sedetik kemudian menutupnya kembali.
"Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan, Fa. Aku siap, apapun jawaban kamu," pinta Akbar, masih dengan menatap gadis yang duduk di kursi roda.
"Sejujurnya, Fafa juga merasa nyaman berada di dekat Mas Akbar. Tapi ...." Gadis cantik itu sejenak menjeda ucapannya, dia memejamkan mata beberapa saat sambil menghela napas panjang.
"Fafa takut, Mas," lanjutnya dengan lirih.
Reflek, Akbar menggenggam tangan Fatiya. "Takut? Takut kenapa, Fa? Apa kamu takut kalau aku juga akan menyakiti kamu, seperti dia yang telah menyakitimu, Fa?" tebak Akbar, seraya menatap Fatiya dengan penuh perhatian.
Fatiya mengangguk pelan.
Akbar menghela napas panjang. "Masing-masing orang memiliki sifat dan karakter yang berbeda, Fa. Kamu tidak dapat menyamakan aku dengan orang lain, begitu pun sebaliknya." Pemuda itu mengeratkan genggaman tangannya.
"Dulu, aku juga takut untuk memulai karena berpikir bahwa tidak ada gadis yang sempurna seperti almarhumah. Selama ini, gadis-gadis yang mendekatiku karena aku adalah tuan muda Antonio, bukan karena aku seorang Akbar."
"Namun, setelah bertemu dengan kamu, perlahan pemikiranku itu berubah, Fa. Aku menemukan sosok yang berbeda, yang belum pernah aku temui sebelumnya. Sosok yang sederhana, apa adanya, baik dan santun. Sosok yang tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam hatiku, tanpa dapat aku cegah." Akbar kemudian mencium punggung tangan Fatiya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
"I Love You, Fa. Meski kamu akan memberikan jawaban bahwa kamu tidak mencintaiku, tapi aku akan tetap mencintaimu," tegas Akbar.
Gadis cantik itu, tertegun. Sesaat kemudian, Fatiya membuka suaranya. "Mas, beri Fafa waktu semalam untuk memantapkan hati Fafa, ya?" pinta Fatiya. "Fafa mau minta petunjuk sama Allah, agar tidak salah dalam memberikan jawaban," imbuhnya.
Gerimis tiba-tiba saja turun, Akbar bergegas mendorong kursi roda Fatiya untuk kembali ke paviliun.
"Bagaimana, Nak Fafa?" tanya Mama Susan dengan tidak sabar, begitu melihat kedua muda-mudi itu telah kembali.
"Besok, Ma," balas Akbar mewakili Fatiya, tetapi jawaban Akbar tersebut, ambigu. Dia tidak menjelaskan secara detail, kata besok. Sehingga Mama Susan dan yang lain menyimpulkan lain.
"Besok?" tanya Papa Alvian. "Baiklah kalau begitu, biar kami siapkan semua mulai dari sekarang," lanjutnya.
"Benar, Opa. Lebih cepat, lebih baik," sahut Malik, setuju.
"Ya udah, besok di rumah Bang Malik saja," timpal Daddy Rehan.
"Terus, persiapannya gimana, dong? Kalau dadakan gini 'kan, Mama bingung, Pa?" tanya Mama Susan yang nampak bingung sendiri.
"Kenapa mesti bingung, Ma? 'Kan ada mama mertuanya Malik yang bisa mengantar Mama berbelanja," balas Papa Alvian.
"Hem, bener tuh. Ajak Billa sekalian, Mbak," timpal Daddy Rehan.
"Sama ajak Tasya juga, Oma." Malik ikut menimpali.
Pendi dan papanya yang telah berpindah tempat duduk di dekat ranjang pasien, hanya menjadi pendengar setia.
Fatiya mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh keluarga Akbar. Begitu pula dengan Bu Saidah, yang juga tak paham.
Sementara putra sulung Papa Alvian tersebut, hanya bisa senyum-senyum sendiri seraya mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal.
ššššš tbc ššššš
__ADS_1