Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Melamar Kerja


__ADS_3

Adam hanya menjadi pendengar setia, meski sesekali ikut menimpali obrolan para pria paruh baya yang sudah banyak makan asam garam kehidupan tersebut.


Dering ponsel papa Alvian, sejenak menjeda obrolan mereka. "Dari pengawal Akbar," ucap papanya Akbar, memberitahukan pada yang lain siapa yang menghubunginya.


"Iya, ada apa?" tanya papa Alvian tanpa basa-basi, setelah menerima panggilan dari pengawal pribadi sang putra.


"Maaf, Tuan Besar. Tuan Muda barusan nekat pergi sendiri keluar kota untuk mencari Non Fafa ketika kami masih sholat dhuhur, Tuan," lapor salah seorang pengawal Akbar, yang terdengar sangat panik.


"Apa? Dia pergi sendiri?" Wajah tampan nan berwibawa itu nampak sangat khawatir. "Segera susul dia dan temukan putraku secepatnya!" titah Papa Alvian dengan panik.


"Ada apa, Bang?" tanya Daddy Rehan, setelah Papa Alvian menutup ponselnya.


"Akbar, Rey. Dia keluar kota sendirian untuk mencari Fafa," balas Papa Alvian.


"Tolong telepon Malik, Rey. Suruh putramu untuk menghubungi Akbar, Malik pasti bisa membujuk Akbar agar mau menunggu kedatangan kita dir rumah Malik," pintanya kemudian.


"Baik, Bang," balas Daddy Rehan.


"Lex, Dev. Hubungi Damian dan Bram, agar segera menyusul Akbar. Putraku butuh support dari sahabat-sahabatnya," pinta Papa Alvian, seraya menatap Om Alex dan Om Devan bergantian.


"Oke," balas kedua pria paruh baya tersebut dengan kompak.


β˜•β˜•β˜•


Sementara di tempat yang berbeda, di tempat tinggal Fatiya yang baru.


Pagi-pagi sekali Fatiya telah bersiap karena akan diajak pergi oleh kakak sepupunya yang baru diwisuda kemarin, untuk melamar pekerjaan di pusat kota yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal Fatiya.


Ya, semalam Fatiya yang sudah bertemu dengan kakak sepupunya mendapatkan informasi, bahwa ada perusahaan ekspedisi yang membuka lowongan pekerjaan dengan posisi 𝘒𝘀𝘀𝘰𝘢𝘯𝘡π˜ͺ𝘯𝘨 yang sesuai dengan ijazah yang dimiliki oleh Fatiya.


"Bu, Fafa pamit dulu, ya." Dengan penuh antusias, Fatiya menyalami ibunya dan mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya itu dengan takdzim.


"Do'akan Fafa ya, Bu. Mudah-mudahan, Fafa diterima," lanjut Fatiya.


Bu Saidah mengusap lembut pundak sang putri. "Aamiin, Nak. Mudah-mudahan mendapatkan yang terbaik," balas sang ibu.


Suara klakson motor, membuat Fatiya bergegas keluar dari rumah untuk segera berangkat.


"Udah siap, kan?" tanya seorang pemuda berwajah manis yang membuka kaca helm 𝘧𝘢𝘭𝘭 𝘧𝘒𝘀𝘦-nya.


Pemuda itu kemudian tersenyum pada Bu Saidah.

__ADS_1


"Sudah, A'," balas Fatiya yang langsung mengambil helm dari tangan pemuda tersebut.


"Hati-hati ya, A' Pendi, bawa adiknya. Jangan ngebut!" pesan Bu Saidah, sebelum pemuda itu melajukan motor sport berwarna merah membelah jalanan beraspal.


"Siap, Bi," balas pemuda tersebut.


"Assalamu'alaikum, Bu," ucap salam Fatiya seraya melambaikan tangan, yang dibalas Bu Saidah dengan senyuman seraya teriring doa untuk putri dan keponakannya.


Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, motor sport yang melaju kencang itu mulai berkurang kecepatannya dan kemudian berhenti tepat di depan gedung bertingkat yang nampak ramai lalu lalang kendaraan yang keluar masuk ke area parkir yang luas tersebut.


"Aa' parkir di sini saja ya, Fa. Agak adem," ucap Fendi yang kemudian men-standarkan motornya. Fendi kemudian membuka helmnya dan menyimpan di atas motor, yang diikuti oleh Fatiya.


"A', kayaknya saingannya banyak, deh," ucap Fatiya ketika mereka berdua tiba di depan ruangan yang digunakan untuk π˜ͺ𝘯𝘡𝘦𝘳𝘷π˜ͺ𝘦𝘸.


"Kenapa, Fa? Kamu minder?" tanya Fendi, yang sejujurnya juga grogi karena ini kali pertama baginya melamar pekerjaan.


Fatiya menggeleng. "Tidak, A'. Kenapa harus minder? Yakin saja pada kemampuan diri dan Bismillah, jika memang di sini yang terbaik untuk kita, InsyaAllah akan ada jalannya," balas Fatiya penuh keyakinan.


Fendi mengangguk setuju.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengumpulkan berkas lamaran pada salah satu meja, dimana sudah ada setumpuk berkas lain yang juga menunggu untuk di verifikasi.


Fendi dan Fatiya kemudian duduk menunggu di kursi yang tersedia, bersama puluhan pelamar lain.


Pemilik yang sekaligus pemimpin perusahaan itu memang tidak mau membuat para pelamar menunggu dalam ketidakpastian, sehingga pihak HRD memberlakukan sistem seleksi langsung.


Waktu terus bergulir dan pagi pun beranjak siang. Fatiya dan Fendi masih duduk manis bersama belasan orang yang memang datang lebih akhir.


Tak lama kemudian, nama Fatiya dipanggil.


"A', Fafa duluan, ya," pamit Fatiya.


"Sukses, Fa!" seru Fendi, memberikan semangat untuk adik sepupunya.


"Aamiin," balas Fatiya sambil berlalu menuju ruang π˜ͺ𝘯𝘡𝘦𝘳𝘷π˜ͺ𝘦𝘸, setelah berkas lamarannya dinyatakan lolos beberapa menit yang lalu.


Fatiya mengetuk pintu ruangan yang ditunjukkan oleh salah seorang karyawan. "Selamat siang, Pak, Bu," sapa Fatiya pada dua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Selamat siang, silahkan masuk," balas dua orang yang berpenampilan santai tetapi tetap rapi tersebut dengan ramah, menunjuk bangku di depannya.


Laki-laki tampan yang duduk di sebelah wanita cantik itu mengamati wajah Fatiya sebentar, kemudian fokusnya beralih pada berkas milik Fatiya.

__ADS_1


"Fatiya Faradilla, asal dari Jakarta?" Pemuda tersebut kembali menatap Fatiya untuk memastikan apa yang barusan dia baca.


Fatiya mengangguk. "Benar, Mas. Eh, maaf ... Pak," balas Fatiya yang terlihat bingung untuk memanggil pemuda maupun wanita cantik di hadapannya.


Jika dipanggil Pak dan Bu, usia mereka berdua tak terlalu jauh dari Fatiya. Sedangkan jika memanggil dengan sebutan Mbak dan Mas, kesannya seperti tidak sopan.


"Panggil bang dan kak saja, tidak apa-apa, kok," ucap wanita cantik yang nampak mesra pada pemuda tampan di sampingnya.


"Iya.Baik, Bang, Kakak," balas Fatiya.


"Jadi, kamu jauh-jauh dari Jakarta, untuk melamar kerja di sini?" tanya pemuda tersebut, kembali memastikan.


"Tidak, Bang. Sejak kemarin, saya sudah menetap di sini. Hanya saja karena KTP saya masih Jakarta, makanya saya pakai alamat sesuai KTP," balas Fatiya.


Pemuda tersebut mengangguk-angguk. Dia kemudian membuka ponselnya dan mengamati layar ponsel yang dibuka, hingga beberapa saat lamanya.


"Ada apa, sih, Bang?" bisik wanita cantik yang duduk di sampingnya.


Pemuda itu hanya membalasnya dengan senyuman.


"Fatiya, berdasar berkas yang kamu lampirkan, kamu tidak menyertakan ijazah asli, kenapa?" tanya pemuda tersebut, sesaat kemudian setelah dia membuka kembali berkas milik Fatiya.


"Padahal dalam informasi rekruitmen calon karyawan yang kami iklankan di sosial media, syaratnya adalah harus melampirkan ijazah asli," terang pemuda tersebut, seraya menatap Fatiya.


"Benar, Bang. Saya minta maaf sebelumnya karena hanya melampirkan ijazah sementara. Ijazah asli saya belum keluar karena saya baru saja lulus dan seharusnya, hari ini saya mengikuti wisuda," balas Fatiya dengan raut wajah yang tiba-tiba menjadi sendu.


Pemuda itu mengangguk, mengerti. "Baiklah, saya bisa mengerti dan khusus untuk kasus ini karena memang kami mencari lulusan akuntansi terbaik seperti kamu, maka kami memberikan kesempatan."


Fatiya membulatkan mata tak percaya. "Benarkah, Bang?" tanya Fatiya tak percaya.


"Bang, Abang beneran terima dia? Biasanya, Abang 'kan selektif dan harus sesuai prosedur?" bisik wanita cantik itu, bertanya dengan dahi berkerut dalam.


"Nanti abang ceritakan di rumah," balasnya yang juga berbisik.


Sementara Fatiya tak berhenti bersyukur, atas segala kemudahan yang dia dapatkan hari ini.


"Kalau begitu, kapan saya bisa mulai bekerja, Bang?" tanya Fatiya dengan tidak sabar.


Dering ponsel yang berbunyi, membuat pemuda itu tak langsung menjawab pertanyaan Fatiya. "Tunggu sebentar," pintanya.


"Assalamu'alaikum, Dad?" sapa pemuda tersebut pada seseorang yang berada di ujung telepon.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ tbc πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2