Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Butuh Vitamin Penambah Stamina


__ADS_3

Kursi roda yang di duduki Fatiya, segera di dorong masuk oleh perawat untuk segera mendapatkan penanganan medis. Diikuti oleh Akbar dan saudara-saudaranya, yang juga harus mendapatkan penanganan medis.


Kehujanan untuk waktu yang cukup lama dan tenaga yang terkuras habis karena mencari Fatiya, membuat semua pemuda tersebut mengalami drop.


Tiba-tiba, tubuh Akbar tumbang ketika kakinya baru memasuki pintu ruangan, membuat semua orang terkejut.


Sigap, Papa Alvian serta yang lain, yang berjalan di belakang putra-putranya tersebut segera membopong tubuh putra sulungnya menuju IGD agar segera mendapatkan pertolongan.


"Bang, sebaiknya Abang balik ke paviliun dan temani Mbak Susan," pinta Daddy Rehan ketika Fatiya, Akbar dan yang lain, telah mendapatkan pelayanan medis.


Para papa tersebut sedang duduk di ruang tunggu IGD, sambil menunggu hasil pemeriksaan Fatiya dan para pemuda yang mencari gadis tersebut.


"Tidak, Rey. Akbar belum sadar, aku tak mungkin meninggalkannya," tolak Papa Alvian dengan tegas.


"Ada kami, Bang. Kami yang akan berjaga di sini sampai anak-anak bisa dipindahkan ke paviliun. Kevin dan yang lain, juga akan segera kemari setelah mengantar Bu Saidah ke paviliun." Daddy Rehan menatap om dari sang istri.


"Abang temani saja Mbak Susan, agar jika dia sadar nanti ada Abang yang bisa menenangkannya," lanjut Daddy enam anak tersebut.


"Maksud kamu apa, Rey? Sadar? Memangnya, istri gue kenapa?" cecar Papa Alvian yang memang belum tahu apa-apa.


"Tadi sewaktu Akbar kabur dari paviliun, Mbak Susan pingsan, Bang ...."


"Pingsan! Kenapa tidak ada yang memberitahukan padaku?" protes Papa Alvian, memotong perkataan Daddy Rehan.


Yang lain ikut menatap Daddy Rehan, menuntut jawab begitu mendengar suara Papa Alvian yang meninggi karena terkejut.


"Tunggu, Bang. Jangan protes dulu!" Daddy Rehan menatap semuanya bergantian.


"Gue juga baru saja tahu dari Kevin. Mommynya anak-anak tidak mengijinkan Kevin untuk memberitahukan pada kita, karena enggak mau kita terutama Abang jadi khawatir dan kemudian konsentrasi kita terpecah."


"Itu makanya tadi, Kevin dan yang lain tidak jadi menyusul kita, begitu dikabari sama mommynya mereka langsung kembali ke sini," terang Daddy Rehan.


"Abang juga jangan khawatir, dokter sudah memeriksa keadaan Mbak Susan dan memberikan obat penenang serta vitamin agar istri Abang bisa beristirahat dengan cukup. Mbak Susan kurang istirahat dan banyak pikiran, Bang," lanjutnya.


Papa Alvian langsung beranjak. "Oke, Rey. Gue ke paviliun sekarang. Tolong jaga anak-anak," pamitnya yang bergegas meninggalkan ruangan tersebut untuk segera ke paviliun menemui sang istri.

__ADS_1


Tepat di saat Papa Alvian berlalu, nampak beberapa orang dokter yang menangani putra-putra mereka, keluar dari ruang IGD.


"Bagaimana kondisi mereka, Dok?" tanya Om Devan yang langsung beranjak, yang diikuti oleh Om Alex.


Sementara Daddy Rehan nampak sedang menerima telepon, wajah tampan nan kharismatik itu terlihat sangat serius.


"Alhamdulillah, kondisi mereka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nanti begitu mereka terbangun, pasti kondisinya sudah benar-benar pulih," balas seorang dokter yang mewakili rekan-rekannya.


"Maaf, Pak. Hanya saja untuk pasien yang tadi pingsan, memang membutuhkan perawatan khusus karena luka-lukanya dan juga kondisinya yang sangat lemah," tutur salah seorang dokter yang menangani Akbar.


"Untuk pasien wanita juga sama seperti itu, Pak," timpal dokter yang lain.


"Apa mereka sudah bisa dipindahkan ke paviliun, Dok?" tanya Daddy Rehan.


"Bisa, Pak. Tetapi saran saya, untuk dua pasien yang membutuhkan penanganan khusus, mungkin bisa ditempatkan di paviliun yang sama untuk memudahkan pemantauan," balas seorang dokter wanita, yang tadi menangani Fatiya.


"Baik, Dok. Lakukan saja apa yang terbaik untuk mereka," balas Daddy Rehan.


"Baik, Pak. Kami akan segera pindahkan pasien ke paviliun," pungkas dokter wanita tersebut.


"Bro, Ilham kemana? Kok, dari tadi enggak kelihatan?" tanya Om Devan.


"Tadi, dia pamit sama kakaknya. Katanya mau balik ke Jakarta duluan karena anaknya rewel," balas Daddy Rehan sambil berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Mereka berjalan dengan santai, hingga tahu-tahu di belakang Daddy Rehan dan dua orang sahabat, beberapa perawat mendorong brankar pasien yang di atasnya terbaring Fatiya, Akbar dan yang lain, termasuk Pendi.


Setelah masing-masing menempati paviliun, Daddy Rehan dan yang lain kemudian menjalankan sholat shubuh terlebih dahulu karena waktu shubuh telah tiba.


"Dad. Daddy dan Om Dev sama Om Alex, silahkan beristirahat. Biar kami yang berjaga," ucap Kevin, setelah mereka semua selesai sholat shubuh berjamaah di mushola yang berada di komplek paviliun tersebut.


"Iya, Bang. Kami juga sudah lelah dan ngantuk," balas sang daddy yang mengangguk setuju.


Kini, gantian Kevin serta ketiga sahabatnya yang berjaga, bersama para mama yang juga sudah terbangun.


Fatiya ditempatkan di paviliun yang sama dengan Akbar, hanya saja berbeda ruangan.

__ADS_1


Paviliun yang berisi empat ruang perawatan tersebut, masing-masing ditempati oleh Akbar, Attar, Fatiya dan ibunya, serta Papa Alvian dan Mama Susan.


Ya, Bu Saidah yang menginginkan agar bisa satu ruangan dengan sang putri. Sehingga di ruangan yang ditempati Bu Saidah, di tambah satu bed lagi untuk Fatiya.


Waktu terus bergulir, sang surya malu-malu mulai menampakan sinarnya.


Di dalam ruangan yang ditempati Mama Susan dan Papa Alvian, mama cantik itu baru saja membuka matanya.


"Abang!" seru Mama Susan yang langsung duduk.


"Ma, mama sudah sadar?" tanya Papa Alvian yang tadi ketiduran setelah sholat shubuh karena kantuk yang menyerang serta kondisi fisik dan psikis yang kelelahan.


Papa Alvian kemudian ikut duduk, laki-laki paruh baya tersebut kemudian menggenggam tangan sang istri.


"Pa, kalian sudah kembali? Apa Fafa sudah ditemukan, Pa? Bagaimana keadaan gadis itu?" cecar Mama Susan.


"Sudah, Ma. Dia sedang istirahat di kamar ibunya," balas Papa tampan tersebut.


"Ibunya? Apa beliau sudah sadar?" tanya Mama Susan yang memang belum tahu bahwa Bu Saidah sudah sadar dan telah dipindahkan ke paviliun yang sama dengan dirinya.


"Sudah, Ma. Semalam," balas sang suami. "Dan begitu sadar, sama Billa dan Kevin dipindahkan ke sini. Mereka di ruangan sebelah Akbar," lanjut Papa Alvian.


"Mama mau lihat keadaan Fafa, Pa." Mama Susan hendak beranjak tapi Papa Alvian buru-buru mencegah.


"Mereka baru saja beristirahat, Ma, jangan diganggu dulu," cegah Papa Alvian. "Kalau Mama mau ganggu, Mama ganggu papa saja, ya," godanya seraya mencubit gemas dagu lancip sang istri.


"Papa lelah, Ma. Papa butuh vitamin penambah stamina dari Mama," imbuhnya yang kemudian mencium pipi sang istri.


"Ish, Papa. Sudah berumur juga, masak enggak ingat tempat!" protes Mama Susan.


Namun, laki-laki paruh baya itu tak perduli dengan protes yang dilancarkan sang istri. Papa Alvian langsung menidurkan kembali istrinya dan membawanya masuk ke dalam selimut tebal.


"Papa, ah ...." Suara jeritan kecil Mama Susan menghilang dan beberapa saat kemudian berganti dengan suara-suara seksi yang memenuhi ruangan tersebut.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


__ADS_2