
"Memangnya, Mas Akbar dan yang lain mau pada kemana? Terus kenapa juga Fafa dan ibu harus tinggal di sini dan bukan pulang ke rumah kami? Mas Akbar pasti tahu sesuatu, kan?" cecar Fatiya dengan banyak pertanyaan, begitu mereka berdua tiba di dalam kamar.
Akbar tersenyum. "Jangan lupa, nanti malam sholat istikharah dan meminta petunjuk sama Allah. Aku tunggu jawaban kamu, besok," ucap Akbar tanpa menjawab satupun pertanyaan Fatiya, membuat gadis itu semakin bingung dibuatnya.
Pemuda tampan itu mengusap puncak kepala Fatiya dengan lembut dan menatap gadis cantik yang duduk di kursi roda, dengan tatapan dalam. "Aku sayang kamu, Fa," ucap Akbar.
Sejenak, kedua netra mereka saling bertaut dalam.
"Aku tinggal dulu, ya," pamit Akbar kemudian yang segera berlalu keluar dari kamar Fatiya.
Gadis cantik itu tersenyum, pipinya terasa panas mendapatkan perhatian manis dari pemuda yang selalu ada untuknya beberapa waktu terakhir.
'Bismillah, aku harus yakin dengan hatiku. InsyaAllah ini yang terbaik,' batin Fatiya seraya menatap beberapa š±š¢š±š¦š³ š£š¢šØ dari butik, pemberian Akbar untuk dirinya.
āāā
Sementara di kediaman megah Malik dan Tasya, semua keluarga besar Antonio dan juga Alamsyah telah hadir, termasuk yang dari Singapura juga telah tiba di sana.
Kemeriahan terlihat dengan jelas. Rumah bak istana yang biasanya sunyi dan sepi, kini sangat ramai melebihi keramaian di pasar malam kampung cililitan.
Anak-anak berlarian ke sana kemari sambil bercanda ria, para remaja terdengar memainkan alat musik di studio mini yang pintunya sengaja dibuka sehingga suaranya terdengar sampai di ruang tengah, tempat para orang dewasa sedang berkumpul membahas acara untuk esok pagi.
"Adik, mainnya di halaman belakang saja, Dik! Ayo, ajak yang lain ke sana!" Fira dan Laila Hana, menuntun anak-anak menuju halaman belakang agar lebih bebas bermain, dengan diawasi oleh pengasuhnya masing-masing.
"Dik Iqbal, tutup pintunya! Berisik tahu!" teriak Lili pada putra sulung Om Ilham.
Remaja yang diteriaki, hanya tersenyum nyengir tanpa mau menutup pintu studio mini tersebut.
Akbar yang baru saja datang bersama Malik dan sang istri, serta Diandra dan Angga, langsung bergabung bersama keluarganya di ruang tengah.
Putra putri pasangan pemilik š“š©š°šøš³š°š°š®, tempat pertemuan Akbar dan Fatiya itu juga sudah berada di sana. Mereka datang bersama Salma dan saudara-saudara Akbar yang lain, yang datang belakangan, termasuk budhe dan pakdhenya.
__ADS_1
"Bun, El mau keluar sebentar, boleh?" ijin putra sulung Angga dan Diandra.
"Mau kemana, Kak?" tanya sang bunda.
"Sepedaan, Bun. Keliling komplek sama Vinsa," balas El.
"Di halaman depan saja, Kak. Kalian 'kan belum tahu daerah sini, nanti malah nyasar lagi," larang Diandra.
"Gampanglah, Bund. El sudah hafal kok, jalannya," kekeuh bocah yang duduk di bangku Sekolah Dasar tersebut.
"Biar aja, kak. Paling juga dikawal sama Mamang," ucap Malik.
"Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh, ya," pesan Diandra pada sang putra yang sudah mulai tumbuh besar.
"Jaga adiknya, jangan diajak ngebut!" Wanita yang tengah hamil anak ketiga itu kembali mengingatkan.
"Siap, Bunda," balas El yang langsung berlari seraya menggandeng tangan Vinsa.
Mereka masih terus melanjutkan obrolan sambil melepas rindu dengan Opa Sultan dan Oma Sekar, serta keluarga Ayah Yusuf dan Bunda Fatima, yang datang bersama anak cucu dan menantunya.
āāā
Malam harinya, Akbar yang baru pulang dari menemui Fatiya dan tak ikut ngobrol bersama saudara, di dalam kamar pemuda itu tak dapat memejamkan mata.
Sedari tadi, pemuda itu nampak gelisah di atas ranjang yang empuk. Meski Akbar sudah mencoba memejamkan mata, tapi hingga lewat tengah malam, dia masih tetap terjaga.
'Apa Fafa benar mau menerimaku seperti yang kuduga, ya?' batin Akbar bertanya.
Di saat gelisah dan tak dapat tidur seperti ini, ingin rasanya Akbar berkirim pesan pada Fatiya, tetapi gadis itu kini belum memiliki nomor baru, setelah nomor yang lama dia buang.
'Kenapa tadi aku enggak kepikiran untuk membelikan Fafa ponsel dan nomor baru, ya,' sesal Akbar pada diri sendiri.
__ADS_1
"Besok aja, deh. Begitu dia memberikan jawaban, aku akan mengajaknya membeli ponsel,' monolog Akbar seraya mencoba memejamkan mata.
Sementara di kediaman orang tua Tasya, Fatiya yang baru saja terbangun setelah berhasil terlelap sebentar sepulang Akbar dari sana, bergegas mengambil air wudhu.
Gadis itu berjalan sedikit tertatih karena luka di kakinya belum begitu kering.
Fatiya segera mengenakan mukena yang telah disediakan sang tuan rumah, dia kemudian menghadap kiblat untuk menjalankan sholat sunnah tahajjud, hajat dan istikharah.
Khusyuk Fatiya mengangkat kedua tangannya menghadap langit, setelah serangkaian sholat sunnah tersebut dia laksanakan. Gadis itu berdo'a, memohon pada Tuhannya agar diberikan keteguhan hati dalam menentukan pilihan hidup yang bisa membawa pada kebaikan dan kebahagiaan dunia akhirat.
Usai melaksanakan sholat, membaca wirid dan berdoa, putri Bu Saidah itu mencoba kembali memejamkan mata karena waktu shubuh masih cukup lama.
āāā
Fatiya dan ibunya nampak telah bersiap karena sebentar lagi Akbar akan datang untuk menjemput. Gadis itu mengenakan busana yang kemarin dipesankan Mama Susan di butik.
"Kamu cantik sekali, Nak. Seperti putri dalam negeri dongeng," puji sang ibu, begitu melihat putrinya yang tumben-tumbenan kali ini mau berdandan.
Ya, Fatiya mengikuti saran dari Tasya semalam yang menyuruh gadis cantik itu memakai make up yang telah disiapkan istrinya Malik tersebut.
"Sudah tidak terasa sakit, Fa, buat jalan?" tanya Akbar yang baru saja datang, ketika melihat Fatiya berdiri dan tidak ada kursi roda di dekat gadis cantik itu.
Akbar terpaku menatap Fatiya.
"Kalau pakai kaos kaki seperti ini, enggak terlalu sakit, Mas," balas Fatiya.
"Mas," panggil Fatiya kembali ketika Akbar tak merespon jawabannya.
"Eh, iya." Akbar tersadar dari lamunan dan kemudian tersenyum manis pada Fatiya. "Kamu seperti ibu peri, Fa. Ibu peri penyembuh luka," gumam Akbar yang masih dapat didengar oleh gadis cantik itu.
Fatiya mengerutkan dahi, tapi Akbar mengabaikannya.
__ADS_1
"Ayo, berangkat sekarang!" ajak Akbar.
ššššš tbc ššššš