Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Ibunya Fafa Sakit?


__ADS_3

"Paling Kak Didi mau ngomongin tentang Kak Fafa itu, Bang. Dia batal nikah sama calon suaminya, terus Abang yang disuruh menggantikan posisi calonnya Kak Fafa," ucap Attar. "Jadi macam suami pengganti gitu, Bang, kayak judul-judul novel yang laris manis," imbuhnya seraya terkekeh pelan.


Akbar tersenyum getir. 'Andai saja benar seperti itu, Dik, dengan senang hati akan abang lakukan,' batin Akbar.


"Ya sudah, Abang buruan berangkat sana. Nanti malah keduluan sama Kak Didi," titah sang mama.


"Iya, Ma. Assalamu'alaikum," pamit Akbar, mengucapkan salam.


"Bang, tunggu!" cegah Attar, ketika sang abang hendak berlalu.


Akbar kembali menoleh. "Apa lagi, Dik?" Dahi Akbar berkerut dalam.


"Ponsel Mirza, Bang," pinta Abang seraya menghampiri abangnya.


Setelah mendapatkan ponselnya kembali, Mirza pun pamitan pada kedua orang tuanya.


Kedua pemuda tampan itu kemudian segera berlalu, untuk berangkat ke tempat tujuan masing-masing.


β˜•β˜•β˜•


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Akbar yang duduk di bangku belakang terus memikirkan kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Diandra dan Angga.


Pemuda itu menyandarkan kepala pada sandaran jok yang nyaman, netranya pun terpejam, tetapi Akbar tidak tidur. Pikirannya terus berkelana, memikirkan segala kemungkinan tentang Fatiya.


Mobil mewah yang dikendarai salah satu pengawal Akbar terus melaju, hingga tanpa Akbar sadari, mobil yang dia tumpangi telah memasuki area perkantoran milik keluarga Antonio dan berhenti tepat di depan lobi.


Salah seorang pengawal pribadi Akbar yang duduk di samping pengemudi, segera turun untuk membukakan pintu bagi tuan mudanya.


"Tuan muda, kita sudah sampai," tutur 𝘣𝘰π˜₯𝘺𝘨𝘢𝘒𝘳π˜₯ tersebut dengan pelan seraya menepuk punggung tangan Akbar.


"Oh, iya," balas Akbar sedikit terkejut. Pemuda tampan itu baru saja tersadar dari lamunannya.


Bos Muda Antonio Group itu kemudian segera turun dan kemudian melangkah dengan pasti melintasi lobi untuk menuju 𝘭π˜ͺ𝘧𝘡, dengan pengawalan dua 𝘣𝘰π˜₯𝘺𝘨𝘢𝘒𝘳π˜₯-nya.


"Pak, tolong nanti kalau Mbak Didi dan Kak Angga datang, langsung suruh masuk saja," pinta Akbar pada dua pengawal pribadinya tersebut.


"Siap, Tuan Muda," jawab keduanya dengan kompak.


Akbar kemudian segera masuk ke dalam ruangannya yang dingin, sedingin hati Akbar saat ini. Baru saja pemuda tampan itu hendak duduk di kursi kebesaran miliknya, ketika pintu ruangan Akbar diketuk dari luar.


Pintu itu kemudian dibuka dan nampaklah Angga bersama sang istri yang kemudian masuk ke dalam ruangan presiden direktur tersebut.

__ADS_1


"Kak, kok cepat sekali perjalanannya? Katanya tadi waktu Kak Didi telepon, baru saja jalan dari Bandara? Memangnya, tidak macet?" cecar Akbar dengan banyak pertanyaan, seraya menyalami pasangan yang selalu romantis tersebut.


"Alhamdulillah, kebetulan lancar, Bro," balas Angga.


"Ayo, silahkan duduk, Kak!" ajak Akbar seraya menuntun tamunya menuju sofa mewah di salah satu sisi ruangan.


"Kak Angga, Kak Didi, mau kopi atau jus barangkali?" tawar Akbar seraya menatap kedua tamunya bergantian.


"Enggak perlu repot, Bang. Kami enggak lama, kok," tolak Diandra.


"Maaf, Kak. Memangnya ada apa, sih? Sepertinya, urgen sekali?" tanya Akbar dengan dahi berkerut dalam.


"Ini mengenai Fatiya, Bang," balas Diandra yang tiba-tiba wajahnya menjadi sendu.


"Fafa? Memangnya, dia kenapa, Kak? Dia, baik-baik saja 'kan?" tanya Akbar. "Bukankah, lusa dia akan menikah?" lanjutnya.


Diandra menggeleng. "Dia membatalkan pernikahannya, Bang," balas Diandra, yang membuat netra elang Akbar membulat sempurna.


"Yang benar, Kak?" tanya Akbar tak percaya. "Tapi kemarin siang, Akbar lihat dia dan calon suaminya baik-baik saja, kok," lanjut Akbar seperti yang dia lihat kemarin di depan rumah sakit.


"Di mana Bang Akbar lihat Fafa, Bang?" tanya Diandra.


"Di depan rumah sakit Husada, Kak," balas pemuda tampan itu, yang masih belum percaya dengan berita yang dibawa Diandra. Namun, jauh di lubuk hati Akbar yang terdalam, Akbar bersyukur karena setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan Fatiya.


Angga mengangguk. "Bisa jadi begitu, Sayang," balas Angga.


"Maksud Kakak Fafa dan ibunya pergi dari rumah, apa? Apa mereka pergi jauh, begitu?" simpul Akbar, mendengar percakapan Diandra dan sang suami.


Suami istri di depan Akbar mengangguk kompak. "Benar, Bro," balas Angga.


Diandra nampak mengambil ponsel dari dalam tas, membuka layar benda pipih tersebut dan kemudian mengulurkan pada Akbar.


"Dia chat kakak sebelum pergi, tapi dini hari tadi sewaktu kakak membuka pesannya dan kemudian menghubungi Fafa, nomornya tidak aktif. Bahkan 𝘀𝘩𝘒𝘡 yang kakak kirimkan dari dini hari tadi, masih centang satu," terang Diandra.


Akbar menerima ponsel tersebut dan kemudian membaca pesan dari Fatiya untuk Diandra. Netra tajam pemuda tampan itu langsung nampak berembun, dadanya tiba-tiba terasa sakit.


'Kamu pergi kemana, Fa? Kenapa kamu tidak berpamitan sama aku? Benarkah, sedikitpun tidak ada namaku di hatimu, Fa?' rintih Akbar dalam hati.


'Pantas saja semalam rumah kamu nampak sepi dan gelap, seperti tak berpenghuni,' lanjut Akbar yang masih bermonolog.


"Kira-kira, dia pergi kemana, Kak?" tanya Akbar dengan lesu. Dia ulurkan kembali benda pipih tersebut, kepada sang empunya.

__ADS_1


Diandra menggeleng. "Dia tidak pernah cerita, apakah ayah atau ibunya memiliki keluarga di luar kota atau tidak, Bang," balas Diandra yang juga lesu.


"Padahal, besok dia harusnya ikut wisuda. Momen yang sangat Fafa nantikan selama ini," lanjut Diandra, netra istri Angga itu kembali berkaca-kaca.


Hening, sejenak menyapa ruangan mewah tempat kerja Akbar.


Dering ponsel Angga dari dalam kantong celananya, mengurai keheningan yang sejenak tercipta tersebut.


"Dari Teddy, aku terima dulu," pamit Angga pada Akbar selaku sang tuan rumah.


Akbar mengangguk, mempersilahkan.


"Halo, Ted. Ada apa?" tanya Angga tanpa basa-basi.


"Maaf, Mas Angga jika saya mengganggu waktu Mas Angga," ucap suara di seberang sana.


"Apa Mas Angga hari ini sudah bisa berangkat ke kantor? Ada hal yang ingin saya sampaikan, terkait dengan pengunduran diri Fatiya kemarin, Mas," lanjut Pak Teddy.


"Iya, nanti siang aku ke kantor," balas Angga.


"Baik, Mas. Kalau begitu, saya tunggu Mas Angga saja," balas Teddy dengan sopan.


"Oh ya, Ted. Apa kemarin, Fafa ada mengatakan sesuatu sama kamu?" tanya Angga sebelum Teddy menutup teleponnya.


"Iya, Mas. Dia ingin bertemu dengan Mas Angga tapi karena Mas dan Mbak Didi tidak di tempat, Fafa bilang mau telepon saja," balas Teddy.


"Oh ya, Mas ...." Teddy kemudian menceritakan pada Angga bahwa sebenarnya sebelum pamitan pada dirinya, Fatiya sempat minta ijin bahwa gadis itu tidak bisa berangkat karena ibunya sedang sakit.


"Ibunya Fafa sakit?" tanya Angga memastikan.


"Benar, Mas," balas Teddy.


"Ya sudah, Ted. Kita ketemu nanti di kantor," pungkas Angga.


"Apa jangan-jangan, kemarin itu sewaktu Akbar lihat Fafa sama Daniel, dia sedang nungguin ibunya ya, Kak?" Akbar menatap Diandra dan Angga bergantian.


"Kalau gitu kita cari Fafa di rumah sakit Husada, Bang!" seru Diandra dengan netra berbinar penuh harapan, yang disambut Akbar dengan tak kalah antusias.


"Ayo, Kak!" ajak Akbar seraya beranjak.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ tbc πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1



__ADS_2