Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Mengorbankan Perasaan


__ADS_3

"Abang seharian ini seolah menghindar dari Fafa, padahal ada hal penting yang harus kita bicarakan!" imbuhnya dengan penuh penekan di akhir kalimat yang Fatiya ucapkan.


Jantung Daniel langsung berdegup kencang. 'Apa yang akan Fafa bicarakan, ada hubungannya dengan Santi? Apa Fafa sudah tahu semuanya?' batin Daniel bertanya dengan perasaan was-was.


"Aku ke sini, juga karena ada yang mau aku katakan, Dik," ucap Daniel sesaat setelah pemuda itu terdiam. Tangan pemuda itu berkeringat dingin dan jantungnya berdebar semakin kencang, Daniel menghela napas panjang agar bisa sedikit lebih tenang.


"Apa itu, Bang?" tanya Fatiya.


Daniel tak langsung menjawab karena Bu Saidah terlihat menghampiri mereka dengan membawa teh hangat untuk Daniel, Bu Saidah juga membawa sepiring gorengan pisang yang masih mengepulkan asap panas.


Rupanya, Bu Saidah cukup lama berada di dapur karena menggoreng pisang terlebih dahulu.


"Silahkan diminum tehnya, Nak Daniel," tutur Bu Saidah dengan lembut seraya menyimpan


segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng di atas meja.


"Terimakasih, Bu," balas Daniel.


"Oh iya, Dik. Aku baru baca pesan dari kamu tadi sewaktu di rumah sakit, makanya aku putuskan untuk langsung kemari," ucap Daniel yang mengalihkan pembahasan karena Bu Saidah ikut duduk di sana.


"Siapa yang sakit?" tanya Fatiya, dahi gadis imut itu mengkerut dalam.


"Mama, Dik," ucap Daniel seraya menatap Fatiya dengan tatapan yang berubah menjadi sendu.


"Mamanya Nak Daniel sakit apa?" tanya Bu Saidah dengan raut wajah khawatir.


"Hanya kecapekan, Bu," balas Daniel berbohong. Pemuda itu memang sudah membulatkan tekad ingin jujur pada Fatiya, tapi tidak di hadapan Bu Saidah karena Daniel tahu, ibunya Fatiya itu memiliki riwayat jantung lemah.


"Oh, semoga mamanya lekas sehat kembali ya, Nak Daniel," do'a tulus Bu Saidah.


"Aamiin ... makasih, Bu," balas Daniel.

__ADS_1


"Ya sudah, ibu mau istirahat dulu. Kalian ngobrolnya jangan kemalaman, ya," pesan Bu Saidah seraya melihat ke arah jam dinding.


Daniel mengangguk, mengerti.


"Dik, sebelumnya aku minta maaf sama kamu," ucap Daniel yang terlihat sangat gugup, setelah Bu Saidah masuk ke ruang dalam.


"Minta maaf? Untuk?" Fatiya menelisik netra hitam pemuda di hadapannya, membuat Daniel langsung mengalihkan tatapannya karena merasa sangat bersalah pada sang calon istri.


"Aku bingung, Dik, harus menceritakan ini dari mana," ucap Daniel. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan berat.


Daniel juga menyugar kasar rambutnya, rasa bersalah, khawatir dan takut, bercampur menjadi satu, hingga membuat Daniel menjadi sangat gelisah.


"Bang, katakan ada apa?" tanya Fatiya. "Apa yang akan Abang katakan, ada hubungannya dengan Santi?" tebak Fatiya dengan perasaan yang mulai tak karuan. Gadis berhijab itupun takut, jika ternyata apa yang Santi katakan padanya tadi pagi, benar adanya.


Daniel menatap Fatiya dengan tatapan yang sulit diartikan, bibir pemuda itu bergetar seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi Daniel tak mampu mengucapkannya. Calon suami Fatiya itu hanya mengangguk lemah, dengan netra yang mulai berkaca-kaca.


"Ma-maafkan a-aku, Dik," ucap Daniel dengan suara tercekat di tenggorokan.


Hening, menyapa ruang tamu tersebut. Hanya derai air mata dari kedua muda-mudi itu yang terlihat dan menggambarkan perasaan masing-masing.


Daniel dengan segala penyesalan dan rasa bersalahnya yang mendalam terhadap sang kekasih, sementara Fatiya dengan kekecewaan dan kemarahannya yang tertahan.


"Aku minta maaf, Dik. Aku khilaf," aku Daniel dengan suara bergetar.


Fatiya menggeleng. "Empat tahun kita bersama, Bang ...," ucap Fatiya di sela isak tangis. "Aku selalu menjaga kesetiaan dan kehormatan diriku, untuk Abang." Fatiya menatap Daniel dengan tatapan yang tak bisa Daniel mengerti.


"Aku tahu itu, Dik. Kamu memang gadis yang baik," balas Daniel.


Hening, keduanya kembali terdiam.


"Dik, apakah kamu tidak bisa memaafkan aku?" tanya Daniel memecahkan keheningan.

__ADS_1


"Aku tahu ini pasti sangat menyakitkan bagimu, Dik. Aku masih berharap, kamu bersedia memaafkan aku dan memberiku kesempatan kedua." Daniel menatap Fatiya, dengan penuh harap.


Fatiya masih terdiam, air mata gadis itu masih mengucur deras.


"Selama ini, kita menjalani hubungan dengan segala perbedaan yang ada dan kita mampu melewatinya bersama-sama, Dik, hingga kita bisa berada di titik ini."


"Jadi, aku juga berharap ... kita bisa melewati semua ini, bersama-sama pula," mohon Daniel.


"Bang Daniel benar, selama ini kita mampu melewati segala perbedaan tersebut tapi permasalahannya saat ini berbeda, Bang. Keyakinan adalah masalah yang sangat prinsip, yang berhubungan dengan akal sehat dan keyakinan hati, tetapi kita sudah menemukan titik temu dari masalah tersebut." Fatiya menyeka air mata dengan ujung hijabnya.


"Sementara kesetiaan adalah masalah prinsip yang lain, yang berhubungan dengan perasaan, Bang. Fafa enggak tahu mesti bicara apa, tapi Fafa enggak bisa menerima pengkhianatan."


Bibir Fatiya kembali bergetar, air mata terus berjatuhan membasahi wajah imut gadis berhijab itu ketika membayangkan sang calon suami tidur dengan teman dekatnya sendiri.


Keheningan kembali tercipta diantara keduanya.


"Maaf, Dik. Apa ini karena sudah ada pemuda itu?" tanya Daniel penuh selidik.


"Siapa maksud, Abang?" tanya Fatiya.


"Pemuda yang tadi mengantar kamu pulang," balas Daniel.


Fatiya menggeleng cepat. "Ini tidak ada hubungannya dengan Mas Akbar, Bang, tetapi murni permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini," tegas Fatiya.


Daniel menghela napas berat. "Jadi, kamu tidak bisa memaafkan aku dan memberiku kesempatan, Dik?" tanya Daniel kembali setelah berapa saat keduanya terdiam.


"Aku sudah mengalah, Dik dan bersedia mengikuti aqidahmu asalkan kita bisa bersama. Sekarang, aku berharap ... kamu juga bersedia untuk sedikit saja mengorbankan perasaan, agar kita bisa tetap bersama."


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2