Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Tidak Perlu Membantu Mereka!


__ADS_3

Baru saja Fatiya melongokkan kepalanya ke dalam dan belum sempat melihat penghuni kamar tersebut, Fatiya buru-buru mundur karena gadis itu mendengar suara isak tangis di dalam ruang perawatan ibunya Daniel.


"Siapa yang menangis? Suaranya seperti tak asing bagiku, seperti suara ibunya Santi bukan, sih?" gumam Fatiya bertanya pada diri sendiri.


"Tolong anak kami, Bu. Saya tahu Santi sudah sangat bersalah pada ibu dan keluarga, dia telah bersalah pada Nak Daniel, tapi kami mohon, Bu, pinjami kami uang untuk biaya pengobatan Santi," mohon ibunya Santi yang terdengar sangat menyedihkan, beliau berbicara seraya terisak.


Pintu yang masih terbuka sedikit, membuat Fatiya bisa mendengarkan pembicaraan di dalam sana dengan cukup jelas, dahi Fatiya mengkerut dalam.


'Santi sakit? Sakit apa, dia?' batin Fatiya bertanya.


"Dirawat di rumah sakit mana, dia?" tanya ibunya Daniel. "Kalau bisa, pindahkan saja kesini. Di sini pelayannya bagus, jadi anakmu bisa cepat sembuh," titahnya kemudian.


"Maaf, Bu. Santi tidak mungkin dipindahkan ke rumah sakit ini karena dia mengalami depresi berat dan kemarin ...." Belum sempat meneruskan perkataannya, ibunya Santi terdengar kembali menangis.


Fatiya yang masih berdiri di depan pintu, menajamkan pendengarannya. Rasa penasaran, membuat gadis berhijab itu masih berdiri di depan pintu.


"Depresi berat? Lantas?" tanya ibunya Daniel dengan rasa penasaran.


"Kemarin Santi mengamuk, kemudian sama Pak RT dibawa ke rumah sakit jiwa, Bu," terang suara seorang laki-laki, yang diyakini Fatiya sebagai ayahnya Santi.


Ya, Fatiya hanya dua kali bertemu dengan ayahnya Santi karena beliau bekerja di perkebunan kelapa sawit di daerah Sumatera. Jadi, putri Bu Saidah itu belum paham betul dengan suara ayah Santi.


"Baiklah, biar nanti sore Daniel ke rumah kalian untuk mengantarkan uangnya. Kalau sekarang saya belum bisa, saya lagi tidak ada uang cash dan kalian tahu sendiri 'kan, saya belum bisa keluar dari rumah sakit ini," tutur ibunya Daniel yang terdengar bijak, wanita anggun itu sama sekali tidak menyimpan dendam pada Santi.


Tengah asyik mendengarkan percakapan dari dalam sana, Fatiya dikejutkan dengan tepukan lembut di pundaknya. "Fafa," sapa suara seorang pria.


"Eh, Om." Fatiya terkejut mendapati ayahnya Daniel, pipi gadis itupun merona merah karena kedapatan sedang menguping. Fatiya kemudian menyalami ayahnya Daniel tersebut.


"Kenapa hanya di sini? Ayo, masuk!" ajak laki-laki paruh baya itu, seraya tersenyum ramah.


"I-iya, Om. Fafa baru mau masuk, tapi sepertinya di dalam sedang ada tamu," ucap Fatiya gugup.


"Oh, itu orang tuanya Santi mungkin. Karena tadi, mereka ke rumah dan sama bibi di kasih tahu kalau mama di rawat di sini," terang ayahnya Daniel, yang menenteng paper bag bertuliskan nama sebuah restoran.


Sepertinya, ayahnya Daniel itu baru saja membeli makanan untuk makan siangnya bersama sang istri.


"Ayo Nak Fafa, kita masuk!" ajaknya seraya membuka pintu, setelah Fatiya memberikan jalan pada ayahnya Daniel tersebut.


Fatiya kemudian mengekor masuk di belakang laki-laki paruh baya yang berperawakan tinggi besar, mirip seperti postur tubuh yang dimiliki Daniel.


"Selamat siang, Tante," ucap Fatiya seraya mendekati bed pasien dan kemudian menyalami ibunya Daniel.

__ADS_1


"Fafa." Netra ibunya Daniel nampak berbinar, wanita itu kemudian memeluk Fatiya dengan begitu erat, seolah takut jika sampai Fatiya menjauh dari keluarganya.


"Tante apa kabar?" tanya Fatiya setelah wanita anggun itu melepaskan pelukannya.


"Tante baik, Nak. Terimakasih ya, sudah mau menjenguk tante," tuturnya dengan netra mengembun. "Tadi Daniel telepon tante, katanya kamu mau ke sini jika sempat," imbuhnya.


Rupanya, Daniel juga sudah menceritakan tentang keputusan Fatiya, sehingga wanita itu terlihat begitu terharu melihat Fatiya datang menjenguknya.


Fatiya menyimpan bingkisan yang dia bawa di atas nakas, gadis itu kemudian menyalami kedua orang tua Santi.


"Om, Tante, apa kabar?" tanya Fatiya dengan sopan.


"Alhamdulillah, Nak, kami baik," balas ibunya Santi, seraya menyeka sisa-sisa air matanya.


"Kamu apa kabar, Nak?" Ibunya Santi balik bertanya.


"Alhamdulillah, Tan, Fafa baik," balasnya seraya tersenyum.


"Fafa kesitu dulu ya, Tan," pamit Fatiya seraya menunjuk bed pasien. Gadis itu kemudian mendekati ibunya Daniel kembali.


"Tante belum makan siang, kan? Fafa bawa kue kesukaan tante, Fafa suapin, ya," tawar Fatiya.


Fatiya membuka bingkisan yang dia bawa, mengambil sepotong kue dan menyimpan di dalam piring kecil yang dia ambil dari atas nakas tersebut, gadis cantik itu kemudian duduk di kursi yang berada di samping bed pasien.


"Makan ya, Tan. Biar Tante cepat pulih dan bisa segera pulang. Kasihan Daniel dan Om, jika Tante lama-lama di sini. Mereka enggak bisa makan enak karena di luar sana, tidak ada makanan yang seenak masakan Tante," puji Fatiya yang membuat ibunya Daniel tersenyum.


"Kamu bisa saja, Nak. Masakan kamu juga sangat enak, kok." Ibunya Daniel menatap Fatiya dengan tatapan dalam.


Dengan telaten, Fatiya mulai menyuapi wanita yang batal menjadi ibu mertuanya tersebut.


Ayahnya Daniel yang sedang ngobrol bersama kedua orang tua Santi, mencuri-curi pandang pemandangan indah di bed pasien, hingga membuat netranya abu-abunya mengembun.


'Dia memang gadis yang sangat baik, pantas saja mama sampai sakit karena takut kehilangan calon menantu seperti Fafa,' bisik ayah Daniel dalam hati.


"Fa, apa keputusan kamu sudah bulat, Nak?" bisik wanita anggun itu bertanya, setelah meminum segelas air putih yang diberikan Fatiya. Tatapan ibunya Daniel tersebut, terlihat begitu sendu.


Fatiya yang baru saja menyimpan piring kosong di atas nakas, menghela napas panjang. "Maafkan Fafa, Tan. Fafa harus mematuhi keinginan ibu," balasnya, sama persis dengan apa yang dia sampaikan pada Daniel tadi.


Bulir bening jatuh dari sudut netra ibunya Daniel, sigap Fatiya mengambil tissue dan kemudian menghapus air mata tersebut dengan penuh kasih.


"Bagi Fafa, Tante tetap orang tua Fafa meski kami tak lagi bersama, Tan," ucap Fatiya, yang membuat wanita paruh baya tersebut semakin bersedih.

__ADS_1


"Bagi Tante, kamu juga tetap anak Tante, Fa," balasnya seraya tersenyum meski dengan sangat terpaksa karena orang tua Daniel itu tidak mau membuat Fatiya bersedih, jika gadis itu tahu bahwa dirinya tidak rela melepaskan Fatiya.


Ya, sejujurnya ibunya Daniel tidak rela jika sampai sang putra berpisah dengan gadis sebaik Fatiya. Namun, sebagai sesama wanita, beliau bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Fatiya dan beliau menghormati keputusan gadis cantik yang saat ini tengah menggenggam tangannya dengan hangat.


Percakapan Fatiya dan ibunya Daniel terjeda, ketika kedua orang tau Santi pamit.


"Tante mau balik sekarang?" tanya Fatiya kepada ibunya Santi.


"Iya, Nak. Kami sudah cukup lama di sini," balas wanita yang wajahnya terlihat sembab karena kebanyakan menangis tersebut.


"Kalau begitu, Fafa juga mohon pamit," ucap Fatiya seraya beranjak. Dia tak bisa lama-lama di sini karena sang ibu juga membutuhkan dirinya


"Nak, kamu 'kan baru sebentar," protes ibunya Daniel seraya memegang tangan Fatiya.


"Maaf, Tan. Tadi ibu juga nitip sesuatu, takutnya ibu nungguin," balas Fatiya yang terpaksa berbohong.


"Baiklah, salam buat ibu kamu dan sampaikan permohonan maaf kami kepada beliau," tutur ibunya Daniel yang akhirnya mengijinkan Fatiya untuk pulang.


"Jika tante sudah keluar dari rumah sakit, tante akan ke rumah kamu," imbuhnya seraya memeluk Fatiya yang menyalaminya.


"Baik, Tan. Nanti Fafa sampaikan pada ibu," ucap Fatiya yang segera beranjak.


"Om." Fatiya kemudian menyalami ayahnya Daniel.


"Terimakasih, Nak Fafa. Sering-seringlah main ke rumah," pesannya sebelum Fatiya meninggalkan ruang perawatan mewah tersebut.


Fatiya segera memacu langkah, menyusul kedua orang tua Santi yang sudah keluar terlebih dahulu.


"Tan, tunggu!" seru Fatiya memanggil ibunya Santi.


"Kamu jadi ikut pamit, Nak?" Wanita berwajah sendu itu menoleh ke arah Fatiya yang berjalan di belakangnya.


"Iya, Tan. Fafa juga buru-buru soalnya," balas Fatiya.


"Oh ya, Tan. Maaf, Fafa enggak bisa besuk Santi. Fafa nitip ini ya." Fatiya mengambil tangan ibunya Santi dan menyimpan lembaran uang merah berjumlah satu juta rupiah ke tangan wanita paruh baya tersebut.


"Tidak perlu membantu dan bersikap baik pada mereka!"


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2