Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Pengakuan Santi


__ADS_3

'Aku akan telepon dia, aku harus memastikan apakah dia akan menjawab dengan jujur atau tidak!' kesal Daniel.


"Halo, kamu dimana?" tanya Daniel dengan nada ketus dan tanpa basa-basi, begitu panggilannya di terima oleh seseorang di seberang sana.


"Halo," balas suara di seberang dengan terisak.


Daniel menjauhkan ponsel dari telinga dan kemudian menatap layar ponsel tersebut. "****! Kenapa jadi wanita itu yang aku telepon!" maki Daniel seraya kembali memukul setir mobilnya yang tak bersalah.


"San, sorry ... gue salah pencet," ucap Daniel yang ingin segera menutup panggilannya.


"Niel, tunggu!" seru suara lain dari seberang telepon.


"Mama?" tanya Daniel yang nampak terkejut mendengar suara sang mama ada bersama Santi.


"Ma, sudah dulu ya. Daniel harus ...." Daniel ingin mengakhiri panggilannya ketika melihat Akbar telah masuk ke dalam mobil. Daniel bermaksud menghentikan mereka berdua, tetapi suara sang mama memotong ucapan Daniel.


"Niel! Pulang sekarang, mama tunggu!" titah sang mama yang terdengar penuh emosional.


"I-iya, Ma," balas Daniel patuh.


Daniel menatap nanar kepergian mobil mewah Akbar yang membawa calon istrinya menjauh. "Anjirr!" umpat Daniel sambil berkali-kali memukul setir mobil. Benda berbentuk bulat yang tak bersalah itu, menjadi sasaran kemarahan Daniel.


Setelah mobil Akbar tak terlihat dari pandangan mata, Daniel segera memacu kuda besinya membelah jalanan yang basah akibat air hujan, untuk segera pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan menuju pulang, berkali-kali pemuda calon suami Fatiya itu hampir saja menabrak kendaraan lain, Daniel sangat kacau.


Sang kekasih terlihat semakin dengan Akbar, yang membuat Daniel cemburu berat. Sementara di rumah, entah apa yang dikatakan Santi pada sang mama. Sehingga wanita yang biasanya penuh dengan kelemah lembutan itu tiba-tiba saja menjadi garang.


Sementara di kediaman orang tua Daniel, ibunya Daniel menunggu kedatangan sang putra dengan hati gelisah. Di depannya duduk seorang gadis yang masih terisak, dengan penuh penyesalan.


"Maafkan Santi, Tan. Maaf," isak Santi, entah untuk yang ke berapa.


Sementara ibunya Daniel, masih duduk termenung dengan pandangan menatap ke arah teras rumahnya.


Ya, rupanya Santi yang memang sudah kenal dengan keluarga Daniel itu mendatangi rumah Daniel hendak berpamitan pada orang tua Daniel.

__ADS_1


"Santi? Mau ketemu Daniel, ya? Daniel-nya belum pulang, San. Apa kamu tidak menelepon dia dulu, tadi?" tanya ibunya Daniel ketika melihat kehadiran Santi.


Santi menggeleng lesu. "Tidak, Tan. Santi bukan hendak menemui Daniel, tetapi ketemu sama Tante," balas Santi.


"Tan, Santi mau pamit," ucap Santi kemudian.


"Loh, memangnya kamu mau kemana, San? Duduk dulu, yuk!" ajak wanita bersuara lembut itu seraya menuntun Santi menuju sofa.


"Kamu mau pergi kemana, San?" tanya ibunya Daniel kembali, setelah Santi duduk berhadapan dengan wanita anggun tersebut.


"Ke Yogya, Tan," balas Santi.


"Kenapa? Ada apa, San? Apa ada sesuatu diantara kalian? Apa kalian berdua sedang marahan?" cecar ibunya Daniel yang bisa menebak, pasti ada sesuatu antara Daniel dan gadis di depannya.


"Enggak ada apa-apa kok, Tan," kilah Santi yang masih mencoba menutupi kisahnya dengan Daniel.


"San, sebentar lagi 'kan Daniel mau nikah. Masak kamu malah pergi," tutur ibunya Daniel yang membuat Santi menunduk karena merasa sangat bersalah.


"Apa kamu enggak ingin melihat pernikahan Daniel dan Fafa, San? Fafa teman kamu juga, kan?" ibunya Daniel menatap Santi dengan penuh tanya, melihat ekspresi teman baik putranya itu.


"Ada apa, Santi? Katakan pada Tante, jangan buat hati tante menjadi was-was," pinta ibunya Daniel dengan lembut.


Santi menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Tan. Santi hanya mau meminta maaf sama Tante, barangkali selama ini ada perilaku Santi yang kurang berkenan di hati Tante." Gadis temannya Daniel dan Fatiya itu tetap tak mau berterus terang.


Wanita anggun yang tutur katanya lembut itu menghela napas panjang. "Ya sudah jika kamu tidak mau berterus terang pada tante, San. Semoga memang tidak ada apa-apa antara kamu dan Daniel." ibunya Daniel menatap Santi yang masih berlutut di hadapannya, dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Tante tahu, San. Kamu sebenarnya mencintai Daniel. Benar, bukan?"


Santi nampak kebingungan.


"Tante harap, memang tidak terjadi sesuatu diantara kalian berdua yang bisa merusak hubungan Daniel dan Fafa," tutur ibunya Daniel.


Mendengar penuturan ibunya Daniel, membuat tangis Santi pecah. "Ma-maafkan Santi, Tante. Ma-maaf," ucapnya terbata, di sela isak tangis.


Wanita paruh baya itu menghela napas panjang, beliau sudah bisa menebak sejak awal, pasti ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi antara Santi dan sang putra.

__ADS_1


Ibunya Daniel itu membiarkan untuk sementara waktu Santi menangis di pangkuannya.


"Duduklah, San," titahnya, setelah Santi cukup tenang. Ibunya Daniel kemudian menepuk bangku kosong di sebelahnya.


"Katakan sejujurnya pada tante, San," pinta ibunya Daniel, setelah Santi duduk dengan tenang di sampingnya.


"Maaf, Tante. Santi yang salah," ucap Santi lirih. "Santi memutuskan untuk pergi karena Santi tak ingin mengganggu hubungan Daniel dan Fafa, Tan. Santi juga sadar, kalau Daniel tidak pernah mencintai Santi," lanjutnya.


"Kalau hanya tidak ingin mengganggu, kenapa harus pergi? Apa Daniel yang memintamu untuk pergi?" cecar ibunya Daniel seraya menoleh ke arah Santi.


Santi menggeleng. "Bu-bukan itu, Tan. Santi pergi karena semalam ...." Santi sejenak menjeda ucapannya, gadis itu nampak ragu untuk melanjutkan.


"Maaf, Santi yang salah," ulangnya meminta maaf. "Sa-santi semalam menggoda Daniel, Tan," lanjutnya, yang membuat wanita paruh baya di sampingnya mengerutkan dahi dengan dalam.


"Apa Daniel tergoda?" tanya ibunya Daniel dengan perasaan tak menentu.


Santi mengangguk ragu.


"Astaga, Santi!" seru ibunya Daniel yang nampak sangat kecewa mendengar pengakuan Santi.


Melihat berapa kecewanya wanita baik hati yang sudah banyak membantu keluarganya, Santi kembali terisak. Maafkan Santi, Tante. Santi janji tidak akan muncul lagi di kehidupan mereka berdua, Tan," janji Santi.


Ibunya Daniel yang netranya telah basah itu, menggeleng. "Tidak, jangan pergi dulu. Kita harus bicara sama Daniel."


Terdengar ponsel Santi berdering. "Daniel telepon Santi, Tan," ucap Santi masih dengan terisak.


"Terima," titah ibunya Daniel.


Dengan tangan bergetar, Santi menerima panggilan dari Daniel.


Lamunan ibunya Daniel buyar, ketika mendengar deru mesin mobil sang putra, memasuki halaman rumah.


"Tan, itu Daniel," ucap Santi yang terlihat gugup.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


__ADS_2