
"Kita ini orang lain, Mas. Tidak ada ikatan darah diantara kita," tolak Fatiya dengan halus.
Akbar tersenyum dan mengangguk mengerti. "Maaf," ucap Akbar.
'Tapi aku yakin, Fa. Akan segera ada ikatan diantara kita, ikatan pernikahan,' doa Akbar dengan sepenuh hati.
Mereka berdua kemudian melanjutkan menikmati pemandangan dari balkon yang berada di lantai teratas gedung perkantoran Antonio Group tersebut, hanya dengan saling diam.
Tak ada obrolan lagi diantara mereka berdua, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
Fatiya yang masih memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Daniel, sementara Akbar memikirkan bagaimana cara untuk mengambil hati Fatiya dan membuat gadis itu melupakan rasa sakit hatinya karena dikhianati oleh sang calon suami.
Dering ponsel Akbar, mengurai lamunan mereka berdua.
"Aku terima telepon dulu, ya," pamit Akbar, yang langsung menggeser gambar ponsel berwarna hijau dan menerima telepon dengan tetap berada di samping Fatiya tanpa menjauh sedikitpun.
Hal sederhana yang membuat gadis manis berhijab itu merasa dihargai.
"Makanan kita sudah datang," ucap Akbar setelah menutup ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku celana.
"Ayo, Fa!" ajak Akbar yang kembali menuntun Fatiya.
Ketika mereka berdua tiba di ruangan Akbar, nampak seorang OB tengah menata hidangan makan siang di atas meja, lengkap dengan lilin di tengah meja dan seikat mawar segar yang tersimpan rapi di sana.
"Ayo, duduk!" ajak Akbar, ketika OB tersebut telah selesai melakukan pekerjaannya.
"Maaf, Tuan Muda. Jika sudah tidak ada lagi yang Anda perlukan, saya mohon undur diri," pamit OB yang masih muda tersebut dengan membungkuk sopan.
Akbar mengangguk. "Terimakasih," ucap Akbar singkat.
OB itu segera meninggalkan ruangan sang bos dan menutupkan kembali pintunya dengan rapat.
Akbar kemudian mengambil seikat bunga mawar segar dan menyodorkannya pada Fatiya. "Bunga cantik, spesial untuk gadis cantik yang siang ini mau menemani aku makan siang," ucap Akbar.
Fatiya menatap Akbar dengan membisu, gadis itu kehilangan kata-kata. 'Ya Allah, kenapa harus dia lagi? Daniel bahkan tak seromantis ini!'
Sedetik kemudian Fatiya menepis pelan bunga tersebut. "Maaf, Mas. Fafa enggak bisa menerimanya," tolak Fatiya dengan tak enak hati.
Akbar terlihat sangat kecewa, tetapi pemuda itu kemudian teringat bahwa saat ini status Fatiya masih belum jelas.
"Maaf, Fa. Aku tak bermaksud membuatmu bersedih," ucap Akbar kala melihat wajah murung gadis yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Bunga ini sebagai tanda pertemanan kita," lanjut Akbar seraya tersenyum hangat.
Fatiya menatap Akbar.
"Ya. Kami mau 'kan, jadi temanku?" tanya Akbar.
Fatiya mengangguk, gadis berlesung pipi itu kemudian menerima bunga dari Akbar.
"Kita bisa saling bercerita dan berbagi tanpa sungkan, Fa. Karena kita adalah teman," lanjut Akbar, ketika Fatiya telah menerima bunganya. 'Teman hidup, selamanya,' doa Akbar dalam hati.
"Yuk, kita makan!" Akbar segera menyendokkan nasi dan mengisi piring untuk Fatiya.
"Segini cukup, Fa?" tanya Akbar seraya menunjukkan isi piringnya.
"I-itu buat Mas Akbar saja, biar nanti Fafa ambil sendiri, Mas," tolak Fatiya.
"Kita barter, Fa. Kamu ambilkan untukku," balas Akbar dengan keras kepala.
Fatiya menghela napas panjang. Gadis berhijab itu kemudian menyimpan bunga yang masih dia pegang, di atas meja. Fatiya kemudian menyendokkan nasi untuk Akbar.
"Mau lauk apa, Fa?" tanya Akbar ketika Fatiya masih mengisi piring dengan nasi.
Akbar segera memenuhi piring untuk Fatiya dengan lauk yang diinginkan oleh gadis tersebut.
"Mas Akbar, mau lauk apa?" tanya Fatiya yang bingung karena ada beberapa lauk yang terhidang di atas meja padahal mereka hanya berdua saja.
"Samain aja, Fa. Sama kayak kamu, aku tidak ada pantangan makanan. Apapun yang kamu ambilkan, pasti akan aku habiskan," balas Akbar, yang membuat pipi Fatiya merona merah
"Jangan sama, Mas. Mas Akbar pasti punya kegemaran makanan sendiri, kan?" Fatiya yang masih ragu mengambilkan lauk, menatap Akbar.
"Sebagai teman yang baik, aku 'kan harus belajar untuk menyukai apa. yang kamu suka, Fa," balas Akbar yang membuat pipi Fatiya semakin merona.
"Ya, udah. Awas ya, kalau tidak dihabiskan!" Fatiya tersenyum lebar, dia yang tak mau berlama-lama dan ingin segera kembali ke š“š©š°šøš³š°š°š® itu segera mengambilkan sayur hingga piring hampir terisi penuh.
Akbar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kala melihat isi piringnya.
"Fa, kamu mau buat aku jadi gendut?" tanya Akbar yang bernada protes.
Fatiya terkekeh pelan, hingga menampakkan lesung pipinya yang membuat wajah Fatiya semakin terlihat menggemaskan di mata Akbar.
Akbar terus menatap wajah Fatiya, menikmati pemandangan indah di hadapannya. Akbar bahkan tak perlu lagi mengisi perutnya yang tiba-tiba saja sudah terasa kenyang.
__ADS_1
Menyadari bahwa dirinya sedari tadi diperhatikan, Fatiya kemudian menghentikan tawanya. "Yuk ah, Mas, buruan makan!"
"Jangan tergesa-gesa, Fa. Allah itu tidak menyukai segala sesuatu yang tergesa-gesa," ucap Akbar kala melihat Fatiya makan dengan sangat cepat.
"Kalau enggak cepat, Fafa bisa terlambat ke š“š©š°šøš³š°š°š®, Mas," bantah Fatiya setelah menelan makanannya.
"Cepat sama tergesa itu beda, Fa. Kalau yang kamu lakuin barusan itu, tergesa-gesa namanya," balas Akbar dengan santai.
'Tapi yang kamu katakan barusan, ada benarnya, Fa. Kalau aku enggak cepat menikungmu, aku bisa terlambat untuk mendapatkanmu,' batin Akbar sambil menikmati hidangan lezat di mulut dan di depan matanya.
Ya, Akbar makan sambil terus mengamati wajah manis Fatiya.
Fatiya tiba-tiba terbatuk, sepertinya gadis itu tersedak makanan. "Minum dulu, Fa." Sigap, Akbar menyodorkan segelas air putih kepada Fatiya.
Fatiya segera meminum air tersebut hingga separuh gelas. "Makasih," ucap Fatiya.
Akbar tersenyum. "Lap dulu, nih," Akbar kembali menyodorkan tissue untuk gadis yang telah mampu membuatnya tersenyum.
Wajah Fatiya iba-tiba menjadi sendu, gadis itu teringat saat sering makan bareng Daniel. 'Daniel juga tidak pernah perduli ketika aku tersedak, dia hanya akan bilang agar aku hati-hati dan setelahnya, Daniel akan melanjutkan makan,' batin Fatiya.
"Hai, kenapa lagi?" tanya Akbar penuh perhatian. "Jangan sering bengong, Fa. Kata budheku, kalau sering bengong nanti bisa kesambet. Ya, kalau kesambet setan tampan kayak aku sih, enggak apa-apa, Fa. Lah kalau setannya serem 'kan, ngeri," ucap Akbar yang mencoba bercanda.
Benar saja, Fatiya terkekeh mendengar candaan receh Akbar. "Mana ada setan tampan, Mas. Kalau setannya tampan, pasti udah jadi rebutan. Fafa mau ah, ikut rebut perhatian setan tampan," balas Fatiya yang mulai bisa mengimbangi candaan Akbar.
Keduanya kemudian tertawa bersama, bahkan melupakan bahwa makanan dalam piring belum habis.
Dering ponsel Fatiya, mengakhiri tawa mereka berdua.
Gadis itu segera mengambil ponsel dari dalam tas. Fatiya mengerutkan dahi.
"Siapa, Fa?" tanya Akbar.
"Daniel, dia video call," balas Fatiya yang terlihat kebingungan.
ššššš tbc ššššš
Setannya itu kamu, Akbar ... karena kamu telah menggoda imanku š
Ah ... Opa Al, sulungmu bikin hatiku meleleh š„°
Yuk, yang baru banget gabung di lapakku dan penasaran sama papanya Akbar, si opa tampan Alvian Antonio dan juga budhe-nya, simak kisah mereka dalam novel; KETULUSAN CINTA NABILA š
__ADS_1