Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Melihatmu dari Kejauhan


__ADS_3

"Siapa lagi ya, yang aku pamiti sebelum ponsel ini aku non aktifkan,' bisik Fatiya dalam hati.


Jemari gadis itu š˜®š˜¦š˜Æ-š˜“š˜¤š˜³š˜°š˜­š˜­ nomor kontak di ponselnya dan jemari lentik Fatiya berhenti, tepat pada sebuah nama yang beberapa hari ini sering menghubungi Fatiya.


'Mas Akbar? Haruskah aku pamit sama dia?' batin Fatiya bertanya pada diri sendiri.


Fatiya menggeleng pelan. 'Tidak, tidak. Dia bukan siapa-siapaku, hanya š˜¤š˜¶š˜“š˜µš˜°š˜®š˜¦š˜³ yang kebetulan masih saudara Mbak Didi.' Fatiya kemudian melanjutkan melihat nomor kontak yang lain dan mengabaikan nama Akbar.


Dirasa tak ada lagi yang perlu dia hubungi, Fatiya segera melepas š˜šš˜š˜”š˜¤š˜¢š˜³š˜„ dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.


Fatiya menghirup napas dalam-dalam, mengambil sebanyak-banyaknya oksigen yang tersedia dengan bebas di sekitarnya, kemudian dia hembuskan kuat-kuat seolah hendak membuang jauh semua beban yang menghimpit dada dan membuat Fatiya kesulitan bernapas.


"Kenapa dibuang kartunya, Nak?" tanya sang ibu yang ternyata masih memperhatikan Fatiya sedari tadi.


Fatiya tersenyum. "Mulai sekarang, Fafa ingin memulai segalanya dari awal bersama ibu," balas Fatiya.


'Aku pasrahkan semuanya pada-Mu, Ya Rabb. Aku percaya dan yakin, bahwa rencana-Mu lebih indah dari rencana yang telah aku susun sebelumnya. Aku percayakan hatiku pada-Mu, tuntun dia kemana harus berlabuh.' Fatiya mengerjapkan mata berkali-kali, agar bulir bening yang menyeruak keluar tidak sampai menetes dan diketahui oleh sang ibu.


Gadis cantik itu menyimpan ponselnya yang sudah dinonaktifkan ke dalam tas, dia kemudian melangkah mendekati ibunya kembali.


"Fafa makan dulu ya, Bu." Fatiya mendudukkan diri di tempatnya yang tadi, sewaktu menyuapi sang ibu.


Dia mengambil nasi bungkus dan sendok plastik di atas nakas, membuka bungkusan nasi berukuran kecil tersebut dan segera melahapnya seolah tanpa beban.


Padahal jauh didalam lubuk hatinya, ada luka yang menganga. Namun, Fatiya tak ingin menunjukkan kepedihannya pada sang ibu.


ā˜•ā˜•ā˜•


Malam harinya, Bu Saidah yang merasa sudah lebih baik, meminta pada Fatiya untuk mengambil barang-barang di rumah.


"Ibu yakin, besok sudah kuat untuk melakukan perjalanan jauh?" tanya Fatiya memastikan, sebelum dirinya pulang ke rumah.


Bu Saidah mengangguk. "InsyaAllah ibu kuat, Nak," balasnya dengan yakin.


"Baiklah, Bu. Fafa akan cepat kembali ke sini. Ibu kalau sudah mengantuk, tidur duluan saja, Bu," pamit Fatiya seraya mencium punggung tangan sang ibu.


"Bawa saja seperlunya, Nak. Tidak usah banyak-banyak, nanti kamu repot sendiri," pesan Bu Saidah, sebelum Fatiya melangkah meninggalkan kamar perawatan tersebut.


Fatiya mengangguk. "Assalamu'alaikum," ucap salam Fatiya. Putri tunggal Bu Saidah itu kemudian melangkah keluar dan menutupkan kembali pintu kamar ruang perawatan ibunya.


Fatiya melangkah dengan sedikit tergesa keluar dari puskesmas, untuk menuju jalan raya. Baru beberapa saat Fatiya berdiri di pinggir jalan, ada sebuah taksi kosong dari arah selatan yang langsung dia hentikan.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan sopir taksi sebentar, Fatiya segera masuk kedalam taksi yang memiliki logo gambar burung.


"Pak, nanti Bapak tunggu saya sebentar, ya. Saya pulang hanya untuk mengambil pakaian," pinta Fatiya memecah keheningan, setelah beberapa saat taksi tersebut melandas di jalanan ibu kota.


"Baik, Mbak. Berarti nanti, saya antar Mbak ke puskesmas yang tadi?" tanya sang sopir memastikan.


"Iya, Pak," balas Fatiya.


"Siapa yang sakit, Mbak?" tanya sopir taksi yang berusia paruh baya tersebut, mencoba mengakrabkan diri dengan penumpangnya. Sopir itu menatap Fatiya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, dari pantulan kaca spion di depannya.


"Ibu saya, Pak," balas Fatiya.


"Oh, semoga ibu Mbak lekas sehat kembali," do'a sopir tersebut dengan tulus.


"Aamiin. Terimakasih, Pak," balas Fatiya seraya tersenyum.


Tak berapa lama, mobil taksi tersebut berhenti tepat di halaman rumah Fatiya.


"Bapak tunggu sebentar, ya. Saya tidak lama, kok. Hanya mengambil beberapa pakaian saja," pinta Fatiya.


"Siap, Mbak," balas sopir taksi.


"Mbak!" panggil sopir taksi tersebut yang ternyata ikut turun.


Fatiya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. "Iya?"


"Apa, Mbak butuh bantuan saya?" tanya sopir tersebut, menawarkan bantuan.


"Tidak, Pak. Terimakasih," balas Fatiya. Gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya kembali, dia membuka kunci pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam.


Fatiya menyiapkan pakaian ibunya terlebih dahulu dan memasukkan ke dalam koper besar, tak lupa Fatiya menyambar bingkai foto pernikahan ayah dan ibunya yang berada di atas nakas.


Setelah memasukkan sebagian besar isi almari sang ibu yang memang tak seberapa banyak itu, Fatiya memindai kamar ibunya, barangkali masih ada barang milik sang ibu yang terlewat.


'Sepertinya, sudah tidak ada lagi yang tertinggal,' gumam Fatiya.


Merasa sudah tak ada lagi yang perlu dibawa, Fatiya bergegas menuju ke kamarnya.


Gadis itupun melakukan hal yang sama pada isi almarinya. Dia pindahkan sebagian besar isi almari, ke dalam besar tadi.


Fatiya juga memasukkan semua dokumen penting miliknya Semua ijazah, piagam-piagam penghargaan dan surat penting lain.

__ADS_1


Terakhir, netra Fatiya tertuju pada meja rias dimana ada foto dirinya bersama Daniel. Fatiya tersenyum miris menatap foto mereka berdua yang terlihat tertawa bahagia.


'Masih ingatkah kamu dengan foto ini, Bang?' bisik Fatiya, bertanya.


Dia usap bingkai kaca foto tersebut dengan bulir bening yang terus menetes dan Fatiya membiarkan saja air matanya itu mengalir, membasuh luka laranya.


'Ini kebersamaan kita di hari wisudamu setahun yang lalu, Bang. Dan di hari itu pula, kamu berjanji akan menikahi aku setelah aku wisuda. Lusa, Bang. Lusa seharusnya aku diwisuda dan hari berikutnya kita menikah.'


Fatiya mendudukkan diri di tepi pembaringan, dia menangis sesenggukan di sana. Melepaskan semua kepedihan yang dia pendam seorang diri.


Setelah cukup puas menangis, dia usap air matanya. Fatiya kemudian melangkah menuju dapur dan membuang foto tersebut ke tempat sampah, berharap semua kesakitan yang dia rasakan ikut terbuang bersama foto dirinya dan Daniel.


Fatiya berjalan menuju kulkas di sudut dapur, dia bawa semua isi almari pendingin itu dan kemudian mematikan kulkas tersebut. Dia lanjutkan mengecek satu persatu dan memastikan semuanya aman jika ditinggal untuk waktu yang entah sampai kapan.


Beberapa menit kemudian, Fatiya melangkah keluar seraya menyeret koper besar dan menenteng sebuah tas dari kain yang berisi makanan dari kulkas.


"Maaf ya, Pak. Lama menunggu," ucap Fatiya, begitu sopir taksi membukakan bagasi mobil.


"Tidak apa-apa, Mbak," balas pak sopir. "Apa, ibu Mbak masih lama berobat di sana?" tanya sopir itu kemudian, ketika melihat tas besar yang dibawa penumpangnya.


"Tidak, Pak. Besok ibu saya sudah boleh pulang, tapi kami berencana untuk keluar kota. Ibu butuh istirahat di sana," balas Fatiya.


Sopir tersebut mengangguk.


"Mari, Mbak!" ajak sopir taksi yang telah membukakan pintu untuk penumpangnya.


"Terimakasih," ucap Fatiya tulus. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil, diikuti sang sopir yang duduk di belakang kemudi.


"Besok kalau Mbak mau, saya bisa antar Mbak ke terminal atau stasiun?" tawar pak sopir, sesaat setelah taksi yang dikendarainya meninggalkan halaman rumah penumpangnya.


"Boleh, Pak. Pagi, ya," balas Fatiya yang menyetujui. "Kalau langsung mengantar sampai tujuan, bisa enggak, Pak?" tanya Fatiya kemudian.


Gadis itu teringat kondisi sang ibu, tak mungkin Fatiya membawa ibunya menaiki angkutan umum yang pastinya akan memakan waktu lebih lama di jalan.


Fatiya yang tengah asyik ngobrol dengan sopir taksi, tak melihat ada mobil yang pasti sangat dia kenali berpapasan dengan taksi yang gadis itu tumpangi, tepat di gang masuk ke kampungnya.


'Aku hanya ingin melihatmu dari kejauhan, boleh 'kan?' gumam pemuda itu bertanya pada diri sendiri, dia kemudian menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Fatiya.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2