Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Kuncinya Adalah Keyakinan


__ADS_3

"Apa jangan-jangan, kemarin itu sewaktu Akbar lihat Fafa sama Daniel, dia sedang nungguin ibunya ya, Kak?" Akbar menatap Diandra dan Angga bergantian.


"Kalau gitu kita cari Fafa di rumah sakit Husada, Bang!" seru Diandra dengan netra berbinar penuh harapan, yang disambut Akbar dengan tak kalah antusias.


"Ayo, Kak!" ajak Akbar seraya beranjak.


Akbar, Diandra beserta sang suami segera bergegas menuju rumah sakit Husada untuk mencari tahu keberadaan Fatiya dan ibunya.


Setibanya di sana, Akbar langsung menuju bagian informasi untuk menanyakan ruang perawatan ibunya Fatiya.


"Pagi, Mbak. Saya mau menanyakan ruang perawatan pasien atas nama ...." Akbar menjeda ucapannya dan menoleh ke arah Diandra.


"Nama ibunya Fafa siapa, Kak?" tanya Akbar.


"Bu Saidah, Mbak. Atas nama Bu Saidah," jawab Diandra yang langsung menyampaikan pada wanita cantik yang bekerja di bagian informasi tersebut.


"Baik, tunggu sebentar ya. Saya cek dulu," balas petugas tersebut dengan suara mendayu dan tersenyum ramah menatap Akbar.


Wanita muda dengan tatanan rambut yang anggun dan tata rias yang minimalis di wajah putihnya itu, terlihat begitu menawan. Namun, dia yang selalu tersenyum kearah Akbar tersebut, tak membuat pemuda tampan itu berpaling dan menatapnya.


Tatapan Akbar tetap tertuju pada layar komputer yang sedang di buka petugas wanita itu, meski dari tempat Akbar berdiri saat ini, layar tersebut hanya terlihat dari samping.


Wajah Akbar terlihat tegang, perasaan was-was menghantui pemuda tampan tersebut. Akbar merasa khawatir, jika dia dan Diandra serta Angga tidak dapat menemukan keberadaan Fatiya.


"Maaf, Mbak, Mas. Tidak ada pasien atas nama Bu Saidah," ucap petugas informasi yang membuat Akbar langsung lesu.


"Mbak, bisa tolong di cek lagi. Barangkali saja, ada yang terlewat, Mbak," pinta Diandra, memohon.


Wanita cantik yang tengah hamil anak ketiga itu benar-benar berharap, Fatiya dan ibunya berada di rumah sakit ini dan mereka bertiga berhasil menemukannya.


Petugas yang ber-š˜Æš˜¢š˜®š˜¦ š˜µš˜¢š˜Ø Sita itu menggeleng. "Saya sudah melihatnya dengan teliti, Mbak," tolaknya dengan halus.


"Coba Mbak cek atas nama Fatiya," pinta Diandra yang masih menyimpan harapan, dapat menemukan Fatiya.


"Sayang, sudahlah. Kita cari di rumah sakit lain, barangkali ibunya Fafa memang tidak dirawat di sini," bujuk Angga yang melihat sang istri mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Kehamilan membuat Diandra sangat sensitif, apalagi ini berhubungan dengan seseorang yang sangat dekat dengan istri Angga tersebut.


Diandra masih kekeuh berdiri di sana, ketika suara seseorang yang menyapa Angga, membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.


"Pak Angga," sapa Daniel yang sedang mengunjungi ibunya, untuk membawakan makanan pesanan sang ibu.


"Niel?" Dahi Angga berkerut.


"Siapa yang sakit, Pak, Kak?" tanya Daniel seraya menatap bos nya Fatiya dan pemilik perusahaan tempat Daniel bekerja, secara bergantian.


"Kami ke sini mencari ibunya Fafa, Niel. Apa kamu tahu, beliau dirawat dimana?" cecar Diandra.


Daniel mengerutkan dahi dengan dalam. "Ibu? Memangnya, ibu sakit, Kak?" Daniel malah balik bertanya.


"Kemarin Fafa kok enggak bilang apa-apa ya, Kak, sama Daniel?" Daniel menatap Diandra dengan tatapan bingung.


"Terus, kemarin Fafa sama kamu nyebrang di depan menuju kafe itu, bukan karena ibunya Fafa dirawat di sini?" tanya Akbar.


Mendengar Akbar menanyakan tentang Fatiya, raut wajah Daniel langsung berubah. Ada kecemburuan di sana, meski mantan tunangan Fatiya itu menyadari bahwa dirinya tak lagi punya hak atas Fatiya.


Mama kamu sakit, Niel? Sakit apa?" tanya Diandra penuh perhatian.


Daniel dan Diandra kemudian terlibat percakapan sendiri, sementara Akbar dan Angga nampak berbincang dengan serius.


"Apa Mas Teddy tidak salah menyampaikan informasi, Kak? Apa benar, Fafa sempat minta ijin bahwa ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit?" tanya Akbar kembali memastikan.


"Teddy pasti tidak salah memberi informasi, Bro," balas Angga yakin.


Akbar sejenak termenung. "Akbar akan cari informasi di seluruh rumah sakit terdekat dengan tempat tinggal Fafa, Kak," ucapnya kemudian.


"Hem, ide bagus. Kakak akan bantu kerahkan orang-orang kakak untuk mencari informasi tentang Bu Saidah," dukung Angga.


"Kak, Didi mau besuk mamanya Daniel sebentar, ya. Kak Angga mau ikut, tidak?" tanya Diandra.


Angga menggeleng. "Tidak, Sayang. Kamu sendiri saja, ya. Aku masih ada perlu sama Akbar," balas Angga.

__ADS_1


"Niel, sorry ya. Salam buat mama dan papa kamu," ucap Angga pada Daniel.


"Tidak apa-apa, Pak Angga. Baik, nanti Daniel sampaikan," balas Daniel.


"Mari, Kak Didi," ajak Daniel yang kemudian menuntun bosnya itu menuju ke ruang perawatan sang ibu.


Sementara Akbar dan Angga kemudian duduk di ruang tunggu dan masing-masing sibuk dengan ponselnya, menghubungi orang-orang terbaik untuk mencari informasi keberadaan Fatiya dan ibunya.


"Orang-orangku sudah mulai bergerak, Bro," ucap Angga setelah menutup teleponnya.


Akbar mengangguk. "Iya, Kak. Orang suruhan Akbar juga langsung bergerak," balas Akbar. "Semoga segera ada kabar baik," lanjut Akbar yang terselip doa dari ucapannya tersebut.


ā˜•ā˜•ā˜•


Di dalam mobil taksi yang terus melaju menjauh dari ibukota Jakarta, Bu Saidah nampak akrab berbincang dengan sopir taksi yang mengemudikan kendaraannya dengan lihai, melaju kencang dan menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya.


"Bu Saidah kalau lelah, silahkan istirahat saja. Saya sudah terbiasa terjaga sendiri ketika membawa penumpang dengan jarak yang jauh seperti ini," tutur sopir taksi yang sepertinya sudah mulai mengenal nama Fatiya dan ibunya.


"Tidak kok, Pak. Kemarin di puskesmas, seharian saya sudah tidur terus," balas Bu Saidah seraya tersenyum. "Malah capek semua badan, kalau sudah terbiasa bekerja terus diharuskan untuk berbaring saja," lanjutnya.


"Iya, Ibu benar," ucap Pak Sopir, membenarkan. "Maaf, Bu. Apa sudah lama, Ibu membesarkan putri Ibu sendiri?" lanjut sopir taksi itu bertanya, menjurus ke masalah yang lebih š˜±š˜³š˜Ŗš˜·š˜¢š˜µ.


"Lumayan lama, Pak. Semenjak Fafa masih kecil, baru duduk di bangku Sekolah Dasar sepertinya," balas Bu Saidah.


Obrolan dua orang berusia paduh baya itu pun terus berlanjut, sementara Fatiya hanya terdiam sepanjang perjalanan tersebut.


Hati gadis cantik itu saat ini terasa kosong dan hampa, pikiran Fatiya bingung dan tak tahu apa yang akan dilakukan nanti di tempatnya yang baru.


Fatiya tiba-tiba merasa begitu berat untuk meninggalkan kota yang memiliki banyak kenangan, tetapi dia harus tetap melanjutkan perjalanan tersebut demi sang ibu dan demi dirinya sendiri.


'Aku yakin, aku pasti bisa. Aku pasti akan menemukan kebahagiaan di sana, seperti kata ibu, kuncinya adalah keyakinan. Ya, aku harus yakin bahwa aku bisa!' bisiknya meyakinkan diri sendiri.


'Tapi, kenapa nama dan wajah itu seolah terus membayangiku? Apa, dia juga sedang memikirkan aku? Atau jangan-jangan, dia sudah tahu kalau aku š˜³š˜¦š˜“š˜Ŗš˜Øš˜Æ dan kemudian dia mencariku saat ini?' Fatiya menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran yang tiba-tiba datang dan memberatkan langkah gadis itu.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


__ADS_2