
"Tak masalah, dia itu siapa dan darimana, asalkan gadis itu gadis yang baik dan taat beribadah," tutur Pakde Ilyas dengan bijak.
Yang lain langsung mengangguk, setuju.
"InsyaAllah, Fafa gadis yang baik Pakdhe. Hanya saja, status dia saat ini masih tunangan laki-laki lain," ucap Akbar yang membuat mereka semua yang berada di sana, membulatkan mata tak percaya.
"Tunangan laki-laki lain? Lantas, kenapa Abang mendekatinya? Kenapa juga, Kak Fafa mau sama Abang?" cecar Attar.
Akbar menggeleng. "Bukan seperti itu, Dik. Abang memang mendekatinya tapi dia jalan sama Abang bukan karena kami pacaran, Dik. Yang tadi kamu lihat itu, Abang hanya membantu Kak Fafa yang kebetulan sampai sore dan sedang hujan pula, tapi dia belum juga mendapatkan angkot," terang Akbar.
"Kalau memang dia sudah bertunangan, kenapa Abang masih mendekatinya?" tanya sang mama dengan lembut. "Mama enggak mau nantinya Abang kecewa dan kemudian putus asa seperti dulu," lanjut mama Susan yang menatap sang putra penuh kekhawatiran.
Akbar menggeleng. "InsyaAllah enggak, Ma. Akbar akan baik-baik saja. Akbar memang menyukai Fafa, tapi Akbar juga tetap menyandarkan semua pada Sang Pencipta seperti pesan kalian semua selama ini pada Akbar," balas Akbar.
"Fafa memang sudah bertunangan, tapi sepertinya hubungan mereka berat untuk bisa lanjut ke tahap selanjutnya. Ada beberapa hal prinsip yang menjadi problema dalam hubungan mereka, Pa, Ma," terang Akbar seraya menatap papa, mama, pakdhe dan budhenya bergantian.
"Hal prinsip?" Dahi sang papa berkerut dalam.
"Iya, Pa." Akbar kemudian menceritakan tentang perbedaan keyakinan antar Fatiya dan Daniel seperti yang dia dengar dari Angga dan Diandra. Akbar juga menceritakan, perselingkuhan Daniel dengan teman dekatnya dari mulut Fatiya sendiri ketika gadis itu curhat sama Diandra.
Mama Susan menghela napas panjang. "Meski hubungan mereka sedang dalam masalah dan kemungkinan besar bakalan bubar, mama tetap tidak setuju jika Abang masuk ke dalam kehidupan Fafa di saat statusnya masih tunanangan Daniel."
"Itu sangat tidak etis, Bang. Kesannya, Abang yang merebut Fafa dari tunangannya." Mama Susan menatap sang putra, berharap agar putra sulungnya itu mengerti.
__ADS_1
Papa Alvian mengangguk setuju, dengan apa yang disampaikan oleh sang istri tercinta. "Benar, Bang. Kalau menurut papa, biarkan Fafa menyelesaikan dahulu urusannya sama Daniel. Abang jangan pernah coba-coba untuk masuk dan ikut campur dalam masalah mereka," nasehat sang papa.
"Hem, Attar setuju apa kata Papa dan Mama. Kecuali, jika Kak Fafa statusnya belum bertunangan, bolehlah kita tikung," ucap Attar yang langsung mendapatkan jeweran dari budhenya, yang kebetulan duduk di samping kanan Attar.
"Kamu itu lho, mau niru siapa? Main tikung menikung!" Budhe Lin menatap tajam pada keponakan bungsunya terebut, yang membuat Attar terkekeh pelan.
"Kalau mau nikung boleh, tapi pakai cara yang halus yaitu dengan bersujud di sepertiga malam. Langitkan do'amu dan mintalah sama sang pemilik hati," tutur Papa Alvian yang membuat Mama Susan tersenyum, mengenang kisah cinta mereka dahulu.
Ya, ketika Papa Alvian mendekati Mama Susan, status mamanya Akbar dan Attar itu adalah pacar salah seorang tetangga di apartemen sempit tempat Mama Susan tinggal.
Berkat kegigihan Papa Alvian dalam mendekati Mama Susan yang saat itu menjadi sekretaris, serta do'a-do'a yang dilangitkannya, akhirnya kedua orang tua Akbar dan Attar tersebut dapat hidup bersama mengarungi biduk rumah tangga yang sangat bahagia hingga saat ini.
"Ya, Pa, Ma. Akbar akan ingat nasehat Papa dan Mama," balas Akbar.
"Enggak usah, Ma. Akbar sudah makan tadi di rumah Fafa, disuruh sama ibunya Fafa," tolak Akbar. "Akbar mau langsung istirahat saja," lanjutnya seraya beranjak.
"Cie-cie, belum jadi pacarnya aja sudah disuruh makan malam di rumahnya. Attar yakin, begitu Abang jadian sama Kak Fafa, pasti ibunya Kak Fafa bakalan menyuruh Abang untuk langsung menikahi putrinya," goda Attar yang terselip do'a di sana.
Adik bungsu Akbar itupun turut bahagia melihat binar bahagia di mata sang Abang, ketika mereka bertemu di toko pakaian tadi sore.
Para orang tua pun tersenyum, seraya mengaminkan dalam hati.
"Apaan sih, Dik!" Akbar pura-pura kesal, padahal dalam hati pemuda tampan itupun tersenyum. 'Aamiin. Semoga aja ya, Dik,' batin Akbar yang mengaminkan candaan Attar.
__ADS_1
"Akbar ke atas dulu ya, Pa, Ma. Mari Budhe, Pakdhe," pamit Akbar yang kemudian segera berlalu sambil menyeret lengan sang adik.
"Tidur, besok kuliah 'kan?"
Attar mengangguk seraya mengikuti langkah sang abang.
āāā
Pukul dua dini hari, Fatiya terbangun, kali ini gadis itu terbangun lebih cepat satu jam dari biasanya.
Fatiya bergegas keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi yang ada di samping dapur, gadis cantik itu berniat untuk mengambil air wudhu.
Usai berwudhu, Fatiya yang berjalan pelan melintasi depan kamar sang ibu berhenti sejenak. "Ibu sudah bangun apa belum, ya?" gumam Fatiya bertanya pada diri sendiri.
"Tapi baru jam dua. Bangunkan sekarang, apa nanti, ya?" Putri tunggal Bu Saidah itu nampak ragu, tetapi tangannya tergerak untuk membuka handle pintu yang memang tidak pernah dikunci tersebut.
Fatiya membuka pintu dari kayu yang sudah mulai lapuk itu perlahan-lahan, dia melongokkan kepala untuk melihat ke dalam.
"Ibu! Ibu kenapa?" Gadis itu langsung menghambur masuk ke dalam kamar sang ibu ...
ššššš tbc ššššš
__ADS_1