
"Kalau Abang bersedia untuk membantu, bantulah, Bang. Tetapi jika tidak, jangan pernah melarang orang lain untuk membantunya," pungkas Fatiya.
Perkataan Fatiya yang tidak menyimpan dendam pada wanita yang telah menyakiti hatinya itu, membuat Daniel merasa semakin menyesal karena telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Hingga Daniel harus kehilangan mutiara berharga seperti Fatiya.
"Terimakasih banyak, Nak Fafa," tutur ibunya Santi dengan perasaan campur aduk tak karuan. Rasa malu, sedih, kecewa, bercampur menjadi satu.
"Nak Daniel, Ibu minta maaf atas apa yang telah dilakukan Santi pada Nak Daniel," pintanya kemudian seraya menatap Daniel sekilas dan kemudian kembali menunduk.
Sementara ayah Santi hanya terdiam, laki-laki paruh baya itu terlihat begitu kacau.
Daniel hanya mengangguk.
"Baiklah, Bu, Pak. Fafa permisi dulu, ya," pamit Fatiya yang segera memacu langkah setelah menganggukkan kepala pada Daniel.
"Dik, tunggu!" Daniel segera mengejar langkah Fatiya tanpa menghiraukan kedua orang tua Santi yang masih terpaku di tempatnya.
"Dik, aku antar, ya," tawar Daniel seraya mensejajarkan langkah di samping Fatiya.
"Tidak perlu, Bang. Terimakasih," balas Fatiya tanpa menghentikan langkahnya.
"Kalau begitu, kita makan dulu di kantin sini, yuk!" ajak Daniel yang tidak mau menyerah.
"Makasih, Bang. Tapi ibu sudah menunggu Fafa," tolak Fatiya.
"Ayolah, Dik. Anggap saja sebagai ungkapan permintaan maafku," bujuk Daniel, memohon.
Fatiya menggeleng. "Fafa sudah memaafkan Abang," balas Fatiya, yang kekeuh dengan pendiriannya.
"Ayolah, Dik. Aku akan merasa sangat bersalah padamu seumur hidupku, jika kamu tidak mau menerima ajakanku ini, Dik. Aku anggap, kamu tidak benar-benar bisa memaafkan kesalahanku," rajuk Daniel dramatis.
Fatiya menghentikan langkah tepat di depan lobi rumah sakit, gadis cantik itu menghela napas panjang. "Baiklah, tapi hanya minum," balas Fatiya dengan terpaksa. 'Tak mengapalah, toh cuma sekali ini dan untuk yang terakhir,' batin Fatiya.
"Terimakasih, Dik. Kamu sudah bersedia menerima ajakanku," ucap Daniel dengan netra berbinar. "Mau minum dimana, Dik? Di kantin rumah sakit atau di kafe?" tanya Daniel memberikan penawaran.
"Di kafe seberang sana aja ya, Bang," pinta Fatiya seraya menunjuk sebuah kafe tepat di seberang rumah sakit.
"Baiklah, ayo!" ajak Daniel.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian berjalan bersisihan menuju kafe yang dimaksudkan oleh Fatiya.
Tepat di saat keduanya menyeberang di š“š¦š£š³š¢ š¤š³š°š“š“, ada sepasang mata yang terus memperhatikan keduanya dari dalam mobil mewah yang berjalan perlahan, karena jalanan di depan rumah sakit tersebut sangat ramai dan banyak orang berlalu lalang untuk menyeberang.
Fatiya dan Daniel yang berjalan sambil terus mengobrol, tidak tahu kalau ada yang memperhatikan keduanya. Mereka terus berjalan masuk ke dalam kafe, sementara mobil yang membawa pemuda tadi terus melandas menyusuri jalanan beraspal.
'Apa benar, kamu tetap melanjutkan rencana pernikahan kamu, Fa?' bisik Akbar bertanya yang entah ia tujukan pada siapa, setelah barusan melihat Fatiya masih jalan dengan calon suaminya itu.
Dada Akbar terasa nyeri melihat pemandangan barusan, meski sebelumnya pemuda itu tahu resiko yang harus dia terima karena mencintai wanita yang sudah memiliki tunangan.
Akbar menghela napas berat. 'Ya, Rabbb... Engkaulah sang pemilik hati. Engkau yang telah menumbuhkan benih cinta ini di hati hamba dan hamba meyakini bahwa sesuatu yang telah Engkau tumbuhkan ini, niscaya membawa kebaikan untuk hamba,' bisik Akbar dengan penuh keyakinan.
"Tuan muda, kita langsung ke kantor atau Tuan Muda mau ke kafe yang tadi?" tanya salah seorang š£š°š„šŗšØš¶š¢š³š„ yang mengikuti arah pandangan Akbar sedari tadi.
"Kantor saja," balas Akbar singkat.
Akbar menyandarkan kepala pada sandaran jok empuk dan kemudian memejamkan mata, pemuda itu mencoba untuk bisa mengikhlaskan semua jika memang gadis yang sudah berhasil membuat semangatnya kembali, bukan jodoh yang dikirimkan Allah untuknya.
Netra Akbar memang terpejam sepanjang perjalanan menuju kantornya kembali, setelah bertemu dengan beberapa š¬ššŖš¦šÆ di sebuah restoran mewah yang berada di dekat rumat sakit yang dia lewati barusan, tapi pemuda itu sama sekali tidak tidur.
Pikiran Akbar terus menerawang pada masa awal pertemuannya yang tidak sengaja dengan Fatiya. 'Cinta memang tak pernah salah, hanya waktu datangnya saja yang terkadang tidak tepat,' gumam Akbar dalam hati, ketika dia baru saja membuka mata begitu mobil mewah yang membawanya berhenti tepat di depan lobi.
"Maaf, Tuan Muda. Saya bisa menggagalkan pernikahan mereka, jika Taun Muda mengijinkan," ucap š£š°š„šŗšØš¶š¢š³š„ tersebut seraya menatap Akbar dengan penuh kekhawatiran.
Tentu saja orang kepercayaan papanya Akbar itu sangat prihatin, melihat gadis yang diincar sama bosnya akan menikah dengan pemuda lain karena pengawal pribadi tersebut tidak mau jika sampai tuan mudanya kembali patah hati dan frustasi seperti dulu.
"Tidak perlu!" tegas Akbar. "Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara yang tidak baik, apalagi memaksakan kehendak, hasilnya tidak akan baik," lanjut Akbar.
Pengawal berbadan tinggi tegap itu mengangguk, mengerti.
"Kita punya Tuhan, bukan? Percaya dan yakini saja bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik, jika kita sungguh-sungguh memintanya," imbuh Akbar dengan bijak.
Pernah ditinggalkan dengan cara diambil oleh Sang Empunya, yang sempat membuat Akbar merasa sedih berkepanjangan, membuat pemuda tampan itu kini lebih bijak dalam berpikir dan menyikapi takdir hidup yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa terhadap dirinya.
"Baik, Tuan Muda. Kami paham," jawab pengawal pribadi Akbar tersebut, seraya mengangguk.
Akbar kemudian segera berjalan melewati lobi untuk menuju ššŖš§šµ khusus Presdir, yang akan membawa Akbar ke lantai tertinggi di gedung perkantoran miliknya tersebut.
__ADS_1
āāā
Di ruang rawat Bu Saidah, Fatiya yang sudah kembali, baru saja selesai menyuapi sang ibu makan siang yang agak terlambat tersebut.
"Maaf ya, Bu. Gara-gara Fafa keluarnya lama tadi, Ibu jadi telat makan siang." Fatiya mengusap lembut bibir sang ibu, dengan menggunakan tissue.
"Tidak apa-apa, Nak. Sebenarnya ibu sudah bisa makan sendiri, tapi ibu ingat pesan kamu tadi agar menunggu kamu pulang," tutur Bu Saidah dengan lembut.
"Sudah, sekarang kamu makan tuh nasimu, nanti keburu tidak enak," titahnya kemudian, seraya menunjuk nasi bungkus yang dibeli Fatiya di warung kecil depan puskesmas tadi ketika dia baru saja turun dari angkot.
Daniel sudah membujuk Fatiya tadi agar gadis itu mau sekalian makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih ketika mereka berdua sampai di kafe. Namun, Fatiya menolak karena dia tidak bisa berlama-lama di sana.
"Iya, Bu. Nanti pasti Fafa makan," jawab Fatiya. "Fafa mau telepon Pak Angga dulu untuk pamitan, mumpung ingat," lanjutnya seraya beranjak.
"Memangnya, kamu tadi tidak ketemu sama bosmu itu, Fa?" tanya Bu Saidah.
"Pak Angga dan Mbak Didi lagi berada di luar kota, Bu. Mungkin ke Bali karena Mbak Didi kemarin bilang, mau ke sana dalam waktu dekat," terang Fatiya.
Setelah mengambil ponsel dari dalam tas, Fatiya kemudian mendial nomor Angga.
'Nomor Pak Angga, enggak aktif? Aku coba telepon Mbak Didi, moga aja nyambung,' monolog Fatiya setelah beberapa saat menempelkan ponsel di telinganya tadi, gadis itu kemudian mendial nomor Diandra.
Fatiya kembali menjauhkan ponsel dari telinga ketika sambungan teleponnya dijawab oleh suara operator, sama seperti ketika dirinya menghubungi nomor Angga.
Gadis cantik itu nampak menghela napas panjang.
"Kenapa, Fa?" tanya sang ibu yang sedari tadi memperhatikan Fatiya.
"Enggak bisa dihubungi semua, Bu," balas Fatiya. "Fafa akan mengirim pesan saja, untuk Mbak Didi," imbuhnya.
Fatiya segera menuliskan sesuatu dan segera dia kirim ke nomor Diandra.
"Semua sudah beres, siapa lagi ya, yang aku pamiti sebelum ponsel ini aku non aktifkan,' bisik Fatiya dalam hati.
Fatiya ingin memulai hidup baru di tempatnya yang baru nanti dan gadis itu tak ingin membawa masa lalunya, sehingga dia memutuskan untuk menonaktifkan ponsel setelah semua urusannya selesai.
Jemari gadis itu š®š¦šÆ-š“š¤š³š°šš nomor kontak di ponselnya dan jemari lentik Fatiya berhenti, tepat pada sebuah nama yang beberapa hari ini sering menghubungi Fatiya.
__ADS_1
ššššš tbc ššššš