Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Pulang ke Kampung Ayah


__ADS_3

"Selamat tidur, ya."


"Mimpi indah ...."


"Boleh enggak ya, aku mengharapkan dalam titik-titik di atas itu isinya 'bersamaku'?" tulis Akbar dalam rentetan pesan yang dikirim untuk Fatiya.


Fatiya tersenyum membaca rentetan pesan dari Akbar yang dikirimkan sepenggal-sepenggal, seperti š˜“š˜±š˜¢š˜® š˜¤š˜©š˜¢š˜µ tersebut.


Tapi buru-buru gadis itu menepis perasaan yang tiba-tiba saja muncul, Fatiya menggeleng pelan. 'Tidak, ini pasti hanya karena aku kecewa sama Daniel. Makanya aku merasa senang ketika ada laki-laki lain yang memberiku perhatian.'


Fatiya kemudian beranjak. "Aku tidak boleh memikirkannya, aku harus fokus dengan kesembuhan ibu dan kelanjutan hubunganku dengan Daniel. Apapun yang ibu minta, aku akan turuti karena hanya beliau yang aku punya," gumam Fatiya memantapkan hati.


"Pun jika ibu memintaku untuk melanjutkan pernikahan dengan Daniel, aku ikhlas," lanjutnya dengan bulir bening yang tiba-tiba saja menetes. Cerita Santi kembali terngiang di telinga Fatiya, hatinya kembali terasa nyeri.


Baru saja Fatiya hendak membuka pintu ruangan sang ibu, ponsel di tangannya bergetar sebagai pertanda ada pangilan masuk. Fatiya melihat ke layar ponselnya, dahi gadis itu terlihat berkerut dalam.


'Mas Akbar, ada apa pagi-pagi begini dia telepon?' Fatiya kemudian mendudukkan kembali dirinya di tempat semula.


"Halo, assalamu'alaikum," ucap salam Fatiya yang menyapa orang di seberang telepon, setelah dia menggeser gambar telepon berwarna hijau ke atas.


"Wa'alaikumsalam, Fa," balas suara yang mulai familiar di telinga Fatiya. Suara di seberang telepon itu terdengar begitu hangat di hati putri Bu Saidah tersebut.


"Sudah mau berangkat kerja? Aku jemput, ya?" tanya dan tawar Akbar kemudian.


Fatiya menggeleng, seolah mereka sedang berhadap-hadapan. "Enggak usah, Mas. Fafa hari ini enggak masuk kerja karena ada urusan lain," balas Fatiya yang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Apa itu urusan sama, Daniel?" tanya Akbar yang terdengar sedikit kecewa.


"Iya," balas Fatiya singkat. Gadis itu menjadi gugup sendiri karena tidak terbiasa berbohong.


Terdengar di seberang sana, hembusan kasar napas Akbar. "Ya sudah, Fa. Semoga yang terbaik untukmu," ucap Akbar ambigu.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Akbar, mengakhiri panggilannya.


"Wa'alaikumsalamsalam," balas Fatiya.


Meski panggilan dari Akbar telah berakhir, Fatiya masih memandangi layar ponselnya. Entah apa yang dia pikirkan tentang Akbar, pemuda yang selalu memberinya perhatian lebih selama beberapa hari terakhi.


Setelah beberapa saat bengong sendiri, gadis itu kembali beranjak dan kemudian membuka pintu kamar rawat sang ibu. Fatiya masuk ke dalam kamar dengan berjalan perlahan, dia engambil pakaian ganti dan membawanya ke kamar mandi. Fatiya mandi dengan cepat karena khawatir jika sang ibu terbangun dan mendapati siapa-siapa di sampingnya.


Tepat disaat Fatiya menyelesaikan membaca do'a, sang ibu memanggil namanya. "Fa."


Fatiya segera beranjak dan mendekati ibunya yang masih memakai alat bantu pernapasan, yang dipasang kembali setelah Bu Saidah menghabiskan sarapan paginya tadi. "Iya, Bu. Ada apa?" tanya Fatiya yang kemudian duduk di tepi pembaringan sang ibu.


"Apa kamu sudah mengambil keputusan, Nak?" tanya sang ibu balik.


Sejenak, Fatiya tediam. Gadis itu menghela napas panjang dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Belum, Bu. Fafa ikut saja apa kata Ibu. Fafa tahu, Ibu seperti ini karena Ibu kepikiran tentang pernikahan Fafa yang undangannya sudah tersebar, kan?" Fatiya menatap ibunya dengan dalam, perasaan bersalah menyelimuti hati Fatiya.


"Jika Ibu harus menangung malu karena batalnya pernikahan Fafa, tak mengapa, Bu, jika Fafa melanjutkan rencana pernikahan ini. Fafa ikhlas, yang penting Ibu bahagia." Gadis cantik yang masih mengenakan mukena itu tersenyum, seraya menggenggam tangan sang ibu.


Bu Saidah menggeleng, netra teduhnya berkaca-kaca. "Tidak, Nak. Jika ada keragu-raguan di hatimu terhadap sesuatu, hendaknya tidak kamu lanjutkan," cegah sang ibu.

__ADS_1


"Memang benar, ibu kepikiran dengan undangan yang sudah terlanjur di sebar. Semua tetangga pasti akan membicarakan kita, Fa." Tatapan Bu Saidah kini menerawang ke atas.


Beliau sudah cukup letih karena selama ini menampung begitu banyak cibiran dan hinaan dari orang-orang di kampung. Statusnya yang janda dan pekerjaannya hanya membuatkan kue pesanan orang-orang, tetapi Bu Saidah bisa menyekolahkan putrinya hingga Perguruan Tinggi, membuat para tetangga julit di kampungnya menganggap bahwa Bu Saidah memiliki sampingan lain, yaitu sebagai penggoda orang kaya.


Belum lagi ketika mereka tahu bahwa Fatiya dipinang oleh Daniel yang anak orang kaya, para tetangga juga menganggap bahwa Fatiya pastilah sudah menjual kehormatannya terlebih dahulu, sehingga pemuda sekelas Daniel mau menikahi gadis dari keluarga yang sangat sederhana seperti Fatiya.


'Omongan mereka itu sangat pedas, Fa. Biar ibu saja yang mendengar dan merasakannya,' batin Bu Saidah.


Ya, semuanya itu, beliau simpan sendiri di dalam hati tanpa memberitahukan pada sang putri. Bu Saidah tidak mau, putrinya ikut bersedih dan ikut kepikiran sehingga akan menggangu konsentrasi Fatiya dalam belajar.


"Daripada Ibu sedih karena omongan para tetangga, tidak mengapa kok, jika Fatiya melanjutkan rencana menikah sama Daniel. Lagipula, Daniel sudah mengakui kalau dia khilaf, Bu," bujuk Fatiya.


Bu Saidah kembali menggeleng. "Bukan itu, Fa. Ibu memang tidak mau lagi mendengar cibiran dan hinaan mereka, tapi tidak kemudian kamu harus menikah dengan Daniel, Nak!" tolak Bu Saidah.


Hening, sejenak menyapa ruangan sempit itu.


"Ibu ingin kita pulang ke kampung halaman ayahmu, apa kamu keberatan, Fa?" Bu Saidah menatap sang putri dengan penuh harap.


"Pulang ke kampung halaman ayah?" tanya Fatiya yang mengulang permintaan sang ibu.


Bu Saidah mengangguk yakin.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2