Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Tuhan, Ambil Saja Nyawaku


__ADS_3

"Fafa ikut saja, apa keputusan ibu."


"Tidak, Nak. Kamu yang akan menjalani kehidupanmu sendiri. Jadi, kamu yang lebih tahu mana yang baik dan mana yang kurang atau tidak baik bagimu."


"Gunakan hatimu juga, jangan hanya akalmu untuk mengambil keputusan karena antara akal dan hati nurani harus berjalan seimbang. Agar kelak tidak menimbulkan masalah baru dan supaya hidupmu mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan."


"Baiklah, Bu. Fafa akan minta petunjuk sama Allah, terimakasih atas nasehat ibu. Terimakasih karena ibu bisa ngertiin Fafa," ucap Fatiya seraya meraih tangan sang ibu dan mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu dengan takdzim.


Bu Saidah mengusap lembut kepala sang putri. "Kamu putri ibu, Fa. Tentu ibu akan selalu mengerti kamu," tutur sang ibu dengan lembut, yang membuat hati Fatiya menjadi adem mendengarnya.


"Sudah, Fa. Istirahatlah," pinta sang ibu.


Fatiya mengangguk patuh setelah melepaskan tangan sang ibu. Gadis yang masih mengenakan hijab itu kemudian segera beranjak untuk beristirahat di kamarnya.


Sementara Bu Saidah masih duduk terdiam di tempat semula, beliau usap dadanya yang terasa sesak.


Bu Saidah sebenarnya sangat hancur perasaannya, mendengar obrolan Fatiya dan Daniel tadi sewaktu beliau mencuri dengar obrolan mereka berdua.


Namun, wanita bermata teduh itu menutupi kesedihannya di hadapan sang putri karena Bu Saidah tidak mau membuat Fatiya semakin bersedih.


'Ibu tahu bagaimana perasaan kamu, Nak. Semoga kamu sabar menghadapinya dan mendapatkan jalan terang untuk mengambil keputusan yang berat ini,' do'a tulus Bu Saidah untuk putri semata wayangnya tersebut.


Bu Saidah kemudian beranjak, perlahan beliau berjalan menuju kamarnya dengan memegangi dada yang semakin terasa sesak.


ā˜•ā˜•ā˜•


Sementara Daniel yang belum juga mendapatkan taksi, berjalan dengan langkah terseok menyusuri trotoar.

__ADS_1


Gerimis yang tiba-tiba saja turun dari langit, mulai membasahi pakaian Daniel tetapi pemuda itu tak perduli.


Dia terus berjalan tak tentu arah, sebab bukan jalan arah pulang yang Daniel lalui. "Tuhan, hukum aku sekarang atas semua salah yang telah aku perbuat tapi jangan Engkau hukum orang-orang yang aku sayang!" teriak Daniel sambil menendang batu kecil yang ada di hadapannya ke sembarang arah.


"Aw ...." Terdengar suara orang mengaduh dari arah taman di samping jalan. Taman tersebut nampak remang-remang, yang hanya disinari oleh beberapa lampu kecil berwarna kuning.


"Sialan! Siapa yang melempariku dengan batu!" teriak suara bariton dari arah keremangan taman. Rupanya, batu kecil yang ditendang Daniel, telah mengenai seseorang di taman tersebut.


Daniel yang pikirannya sedang kacau, tak memperdulikan suara tersebut. Pemuda itu terus berjalan, hingga membuat marah orang yang terkena tendangan batu dari Daniel tadi.


"Hei, kamu! Berhenti!" teriak laki-laki bertato yang segera mengejar Daniel.


Daniel masih tetap melangkah, sehingga laki-laki tersebut langsung menendang tubuh Daniel dengan sekuat tenaga. Membuat Daniel yang tak menyadari adanya serangan dari arah belakang, jatuh tersungkur mencium aspal.


Beruntung, tidak ada kendaraan dari arah kanan, sehingga Daniel masih selamat. Hanya bibirnya yang berdarah karena berciuman dengan aspal jalan yang keras.


"Oh, jadi dia yang berani nimpuk gue tadi?" tanya laki-laki muda yang wajahnya nampak ayu tersebut.


"Iya, Beib. Aku sudah memberinya pelajaran barusan," balas laki-laki bertatto tersebut yang bicaranya terdengar mesra pada laki-laki muda berwajah ayu itu.


"Apa kau ingin, aku menghajarnya kembali?" tanya laki-laki yang masih mencengkeram tangan Daniel.


Sementara Daniel hanya diam, dia menjilati bibirnya yang terasa asin karena berdarah.


"Jangan, Sayang. Sepertinya, dia boleh juga. Aku ingin mencobanya," cegah laki-laki gemulai tersebut, seraya mendekati Daniel.


Daniel yang menyadari ada yang tidak beres dengan kedua laki-laki tersebut, langsung siaga. "Berhenti, atau saya akan berteriak!" ancam Daniel.

__ADS_1


Kedua laki-laki yang berbeda karakter itu justru tertawa mendengar ancaman Daniel. "Silahkan berteriak sepuasmu, š˜š˜¢š˜Æš˜„š˜“š˜°š˜®š˜¦. Maka kamu akan mengundang mereka semua untuk ikut pesta denganku," ucap laki-laki gemulai seraya menunjuk ke arah tempat yang cukup gelap tetapi Daniel masih dapat melihat aktifitas orang-orang di sana.


'Ya Tuhan ... tolong hamba-Mu yang penuh dosa ini, jangan Engkau tambah dosa hamba, dengan melakukan hubungan terlarang seperti ini,' batin Daniel memohon pada Sang Pencipta.


Di tempat yang agak gelap tersebut, Daniel melihat beberapa pasangan pria, tengah asyik bergulat di atas bangku-bangku kayu yang tersedia di taman dengan beratapkan langit yang gelap.


Titik-titik air yang masih berjatuhan dari langit, sama sekali tak mereka hiraukan. Bahkan sepertinya, gerimis membawa sensasi yang berbeda untuk pergumulan sesama kaum laki-laki tersebut.


"Bagaimana, š˜š˜¢š˜Æš˜„š˜“š˜°š˜®š˜¦? Kita main berdua atau kamu mau kita pesta malam ini?" tanya laki-laki yang kemayu tersebut seraya mengusap pipi Daniel yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.


"Ish, cambangmu sangat seksi, š˜©š˜¢š˜Æš˜„š˜“š˜°š˜®š˜¦. Kamu benar-benar membuatku š˜°š˜Æ š˜§š˜Ŗš˜³š˜¦ ...," lanjutnya seraya membasahi bibirnya dengan lidah, layaknya wanita penggoda yang kencan dengan om-om di tempat-tempat hiburan malam.


"Bagaimana, Beib? Apa kamu ingin, aku membawanya ke sana, hem?" tanya laki-laki bertatto yang tubuhnya sangat kekar tersebut, seraya mencium mesra bibir laki-laki kemayu yang merupakan kekasihnya.


"Apa kamu tidak keberatan, Sayang?" tanya laki-laki gemulai itu seraya memeluk leher sang kekasih. Laki-laki yang wajahnya ayu tersebut menjilati leher kekasihnya, dengan sangat liar.


"Asal kamu bahagia, Beib. Apapun akan aku lakukan," balas laki-laki bertatto, seraya menjulurkan lidah agar sang kekasih **********.


Kedua laki-laki tersebut berciuman dengan begitu liar di depan mata Daniel, sementara tangan Daniel masih berada dalam cengkeraman kuat laki-laki bertubuh kekar tersebut.


"Cukup, Sayang. Aku sudah on dan aku menginginkan dia," pinta laki-laki yang bertubuh lebih kecil.


Daniel menghela napas panjang. 'Tuhan, ambil saja nyawaku sekarang daripada aku harus menanggung malu seumur hidupku jika aku berhubungan dengan orang-orang seperti mereka,' pinta Daniel pasrah.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2