Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Apa Aku Tersesat?


__ADS_3

"Bro, arahkan lampunya ke lahan situ!" titah Akbar sambil menunjuk arah sumber suara.


Setelah Pendi menyorotkan lampu motornya ke lahan kosong di sebelah kanannya itu, Akbar langsung berlari masuk ke dalam lahan untuk mencari dari mana suara tadi berasal sambil meneriakkan nama Fatiya.


"Fa, Fafa! Apa kamu di sana!" teriak Akbar sambil terus berlari masuk ke dalam lahan yang semakin rimbun, ke arah sumber suara yang tadi pemuda itu dengar.


Akbar terus berlari semakin masuk ke dalam lahan yang ditumbuhi pohon pisang, yang batangnya tinggi dan daunnya sangat lebat, meski tak ada jawaban dari seseorang yang dia harapkan.


"Siapa di sana?" tanya Akbar berteriak, ketika mendengar suara daun kering terinjak oleh kaki seseorang.


Akbar menghentikan larinya, dia tajamkan pendengaran dan penglihatan untuk mengetahui keadaan sekitar.


Tak ada jawaban, hanya desau angin malam yang terdengar berisik menerpa dedaunan pohon pisang yang telah mengering.


Sorot lampu motor Pendi, tak mampu menembus sampai di tempat Akbar berdiri saat ini. Pemuda itu masih terpaku di tempatnya berdiri, dengan posisi siaga penuh.


Netra Akbar terus memindai sekitar, dalam keremangan cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah daun pisang yang rimbun. Bidadari malam itu pun nampak malu-malu menampakkan diri, setelah tadi mendung menguasai cakrawala tempatnya bersemayam.


'Tadi aku mendengar dengan jelas suara orang mengaduh dari arah sini, kenapa sekarang sepi dan tak ada suara apapun?' bisik Akbar bertanya pada diri sendiri.


Pemuda itu tetap siaga dan waspada.


"Bang Akbar, di belakangmu, Bang. Minggir!" suara seruan peringatan dari seseorang yang sangat dia kenali, membuat Akbar menoleh dan pemuda itu dengan gesit langsung menghindar ketika sebatang kayu besar diayunkan oleh seseorang kearah Akbar.


"Syukurlah, Abang tidak apa-apa." Suara Malik yang baru saja datang bersama yang lain, terdengar ngos-ngosan.


"Thanks, sudah memperingatkan," balas Akbar.


"Siapa kamu? Dimana Fatiya?" cecar Akbar kemudian, setelah berhasil menghindar dari bahaya. Akbar menatap laki-laki bertubuh kekar tersebut dengan penuh amarah. Pemuda itu sangat yakin, bahwa laki-laki di hadapannya pasti salah satu penculik Fatiya yang berhasil lolos tadi.


"Dia sudah aku buang ke tengah lahan sana, anak muda," balas laki-laki tersebut seraya tersenyum seringai.


"Bohong!" geram Akbar dengan tangan terkepal sempurna. Akbar yang menguasai ilmu bela diri itu, hendak menghajar laki-laki tersebut tapi Malik mencegah.


"Bang, jangan buang tenaga Abang untuk hal yang tidak berguna."


Malik kemudian mendekati Akbar, sementara saudaranya yang lain telah bersiaga mengelilingi Cecep yang masih membawa balok kayu.


"Polisi sudah mendekat, sebaiknya kita fokus mencari Fafa," saran Malik berbisik.


"Jangan bergerak!" Benar saja, baru saja Malik selesai berbicara, beberapa orang petugas polisi datang dan langsung meringkus Cecep tanpa perlawanan berarti karena fokus laki-laki bertato itu tengah tertuju pada Akbar dan Malik yang sedang berbisik.


☕☕☕


Di rumah sakit. Setelah Mama Susan ditangani oleh dokter, semua bernapas dengan lega.

__ADS_1


"Bang, ikut mommy, yuk!" ajak Mommy Billa pada putra pertamanya, ketika Tante Nisa, Tante Lusi dan Tante Jihan sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing.


"Kemana, Ma?" tanya Kevin.


"Kita lihat kondisi Bu Saidah, ibunya Fafa," balas Mommy Billa.


"Kalian di sini saja ya, Bang Rahman, Bang Dion, Bang Bayu. Takutnya, Oma Susan kebangun dan tidak ada siapa-siapa," pesan Mommy Billa pada ketiga sahabat Kevin.


Mereka bertiga mengangguk patuh. "Baik, Mom," balas Rahman, menantu ketiga keluarga Alamsyah.


Mommy Billa segera melangkah untuk menuju ruang IGD, tempat ibunya Fatiya di rawat, dengan ditemani sang putra yang berjalan sambil memeluk pundak mommynya.


"Memangnya, Mommy tidak capek dan mengantuk?" tanya Kevin ketika mereka menyusuri koridor rumah sakit yang lengang karena malam telah begitu larut.


"Lelah, sih, Bang. Tapi, mommy mana bisa tidur kalau daddy masih diluar sana dan kita juga belum tahu, kabar berita nasib Fafa bagaimana," balas Mommy Billa.


"Benar juga ya, Mom. Semoga saja Fafa bisa segera diselamatkan," ucap Kevin, terselip do'a tulus untuk Fatiya.


Setibanya di tempat yang dituju, Mommy Billa kemudian meminta ijin pada perawat yang berjaga, untuk melihat kondisi Bu Saidah dari dekat.


"Boleh, Bu. Tapi maaf, hanya untuk satu orang, ya. Nanti masnya bisa gantian," terang perawat jaga tersebut.


Mommy Billa mengangguk.


Mommy Billa segera mengenakan jubah hijau, pakaian wajib untuk mengunjungi pasien gawat darurat di ruang IGD. Istri Daddy Rehan itu kemudian mencuci tangan dengan cairan anti septik, sebelum masuk ke dalam ruangan dimana Bu Saidah terbaring lemah.


Perlahan wanita paruh baya itu berjalan menuju ranjang pasien dan kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang tersebut. Mommy Billa menatap sendu wanita kurus yang kira-kira seusia dengan dirinya.


"Cepat sadar ya, Mbak. Putri Mbak butuh do'a dan dukungan dari Mbak," tutur Mommy Billa lirih seraya menggenggam tangan dingin Bu Saidah.


Mommy Billa melafalkan do'a, memohon pada Sang Pencipta untuk kesembuhan wanita yang baru pertama kali ditemuinya itu.


Keheningan tercipta, hanya terdengar suara nyaring dari alat-alat kesehatan yang menempel di tubuh ringkih Bu Saidah.


Wanita cantik itu terus memanjatkan do'a sambil memejamkan mata, hingga Mommy Billa tak menyadari ketika Bu Saidah tiba-tiba saja membuka matanya.


Keringat dingin membasahi kening Bu Saidah, napasnya memburu sehingga dadanya terlihat turun naik tak beraturan.


'Dimana aku? Si-siapa wanita cantik ini?' tanya Bu Saidah dalam hati, setelah netranya terbuka sempurna dan mendapati ada seseorang yang duduk di samping ranjangnya.


Bu Saidah yang masih lemah dan belum bisa mengeluarkan suara itu kemudian menggerak-gerakkan tangannya, memberikan isyarat pada wanita yang menggenggam tangan ibunya Fatiya tersebut.


"Bu, Ibu sudah sadar?" tanya Mommy Billa begitu menyadari ada pergerakan dalam genggaman tangannya. Mommy Billa kemudian menatap Bu Saidah dengan netra berbinar bahagia.


"Alhamdulillah," ucap istri Daddy Rehan itu kemudian, dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


Mommy Billa kemudian memanggil perawat jaga dengan memencet sebuah tombol.


Terlihat, Bu Saidah ingin berbicara, tetapi wanita itu sepertinya mengalami kesulitan.


"Ibu, Ibu tenangkan diri Ibu dulu, ya. Sekarang Ibu sedang di rumah sakit, tadi suami dan anak saya yang membawa Ibu kemari," tutur Mommy Billa mencoba menenangkan Bu Saidah yang sepertinya ketakutan.


Seorang perawat datang dan langsung memeriksa kondisi pasien. Perawat berusia sekitar empat puluh tahu itu mengerutkan dahi dengan dalam. "Maaf, apa Ibu habis mimpi buruk?" tanya perawat tersebut.


Bu Saidah mengangguk. "I-iya, Sus," balasnya terbata.


"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Mommy Billa berbisik.


"Alhamdulillah, semua baik. Hanya saja, pasien seperti baru saja mengalami sebuah mimpi buruk," terang perawat tersebut.


Perawat itu nampak membetulkan selang infus, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan Mommy Billa dan pasien.


Sepeninggal perawat, Mommy Billa membantu Bu Saidah menyandarkan kepala wanita itu pada sandaran ranjang. Beliau kemudian memberikan minum air putih pada ibunya Fatiya tersebut.


"Apa Ibu baru saja memimpikan putri Ibu?" tanya Mommy Billa hati-hati, setelah menyimpan kembali gelas di atas nakas.


Bu Saidah mengangguk, dengan netra yang mulai berkaca-kaca.


"Tentang putri Ibu, jangan khawatir ya, Bu. Kami semua sedang berusaha untuk mencari Fafa, termasuk Akbar. Ibu ingat Akbar, kan? Dia adik sepupu saya, Bu."


Mommy Billa terus mengajak Bu Saidah berbicara, menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana Bu Saidah bisa berada di rumah sakit bersama mommy cantik itu.


Bu Saidah mengangguk mengerti. "Te-terima ka-kasih," ucapnya sangat lirih dan terbata.


"Sama-sama, Bu. Ibu tidak perlu sungkan seperti ini," balas Mommy Billa.


"Kita bantu mereka dengan do'a ya, Bu. Mudah-mudahan, Fafa bisa segera dibawa kesini dan berkumpul sama Ibu."


"Aamiin." Bu Saidah mengaminkan dengan air mata yang semakin mengucur deras.


☕☕☕


Sementara Fatiya yang telah berhasil melepaskan diri tadi, terus berlari menjauh dari laki-laki bertampang sangar layaknya preman pasar, tak tentu arah.


Tanpa gadis itu sadari, dia justru berlari semakin jauh dari arah jalan. Rupanya, ketakutan akan tertangkap kembali oleh orang yang telah menculiknya tadi, membuat Fatiya panik hingga melupakan arah yang seharusnya dia tuju.


'Kenapa jalannya semakin susah?' Fatiya menghentikan langkah dengan napas yang memburu, gadis itu memindai keadaan sekitar yang semakin rimbun dan gelap.


'Apa aku tersesat?'


🍀🍀🍀🍀🍀 tbc 🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2