Aqidah Cinta

Aqidah Cinta
Semoga Ada Titik Terang


__ADS_3

'Aku pasti akan menemukan kebahagiaan di tempatku yang baru nanti, seperti kata ibu, kuncinya adalah keyakinan. Ya, aku harus yakin bahwa aku bisa!' bisiknya meyakinkan diri sendiri.


'Tapi, kenapa nama dan wajah itu seolah terus membayangiku? Apa, dia juga sedang memikirkan aku? Atau jangan-jangan, dia sudah tahu kalau aku š˜³š˜¦š˜“š˜Ŗš˜Øš˜Æ dan kemudian dia mencariku saat ini?' Fatiya menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran yang tiba-tiba datang dan memberatkan langkah gadis itu.


Fatiya masih terus merenung, hingga elusan pelan tangan sang ibu di punggung tangannya, membuyarkan lamunan Fatiya.


"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" tanya Bu Saidah yang menyadari perubahan pada wajah sang putri.


Fatiya menggeleng dan kemudian tersenyum, menyembunyikan kegelisahan dan kegalauan hatinya pada sang ibu. "Tidak ada apa-apa, Bu. Fatiya hanya menikmati pemandangan," kilahnya, yang memang sedari tadi menatap ke arah luar jendela kaca mobil taksi yang dia tumpangi.


Bu Saidah menghela napas panjang. "Jangan simpan semuanya sendiri, Nak. Ada ibu yang selalu siap mendengarkan ceritamu," tutur Bu Saidah dengan suara lembut, yang terdengar menenangkan di hati Fatiya.


Fatiya mengangguk. "Iya, Bu. Fafa pasti akan cerita sama Ibu, jika memang Fafa sedang ada masalah. Tapi saat ini, Fafa baik-baik saja kok." Fatiya tetap menyembunyikan perasaannya pada sang ibu.


"Ya, sudah. Sebentar lagi kita sampai," tutur Bu Saidah ketika taksi yang mereka tumpangi telah memasuki sebuah gang yang tak seberapa lebar, hanya cukup untuk berpapasan dua mobil kecil saja.


Benar saja, tepat di depan sebuah rumah yang berhalaman rimbun, taksi yang ditumpangi Fatiya dan ibunya berhenti. Rumah yang tak terlalu besar, hampir sama dengan rumah Bu Saidah yang di Jakarta.


Fatiya dan Bu Saidah kemudian segera turun, begitu pula dengan sopir taksi yang kemudian mengambil barang-barang milik penumpangnya di bagasi belakang.


"Bu Saidah, ya?" tanya salah seorang tetangga yang menghampiri.


"Iya, benar. Maaf, siapa ya?" tanya Bu Saidah seraya mengerutkan dahi.


"Saya pembantunya Pak Dodi, beliau menitipkan kunci Bu Saidah kepada saya," balas wanita muda itu seraya memberikan sebuah kunci rumah kepada Bu Saidah.


"Oh iya, terimakasih. Siapa nama kamu, Neng?" tanya Bu Saidah.


"Saya Ninik, Bu. Baru setahun kerja sama Pak Dodi," balas wanita yang sedikit lebih tua dari Fatiya itu dengan sopan. "Panggil Ninik saja, Bu," pintanya kemudian.


Bu Saidah mengangguk-angguk. "Memangnya, majikan kamu kemana? Apa ke kampus?" tanya Bu Saidah kemudian.


Ninik mengangguk. "Benar, Bu. Bapak dan Ibu menghadiri wisuda putranya," balas Ninik.


Fatiya yang sedari tadi asyik menikmati sejuknya suasana di tempat tinggal almarhum sang ayah, begitu mendengar kata wisuda, wajahnya langsung berubah menjadi sendu.


Fatiya buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, agar sang ibu tak melihat kesedihan di wajahnya.


"Apa yang bisa Ninik bantu, Bu?" tanya Ninik kemudian. "Tadi bapak pesan pada Ninik, agar bantu-bantu Ibu kalau Ibu dan putri Ibu sudah datang. Tadi sih, rumah Ibu sudah Ninik rapikan. Semoga Ibu berkenan, meski mungkin tidak sesuai dengan keinginan Ibu," imbuhnya.


"Tidak perlu, Nik. Ibu enggak bawa banyak barang, kok. Makasih lho, kamu sudah repot-repot," tutur Bu Saidah seraya tersenyum hangat, ibunya Fatiya itu menepuk lembut lengan Ninik.

__ADS_1


"Ya sudah, Bu. Kalau Ibu butuh sesuatu, Ibu dan Neng bisa panggil Ninik," pamit Ninik seraya menatap Bu Saidah dan Fatiya bergantian.


"Makasih ya, Teh Ninik," ucap Fatiya sebelum Ninik berlalu meninggalkan halaman rumah bercat hijau segar itu.


Bu Saidah kemudian segera membuka pintu rumahnya, yang diikuti oleh sopir taksi yang membawakan koper milik penumpangnya tersebut.


"Silahkan masuk, Pak Asep," ajak Bu Saidah kepada sopir taksi yang bernama Asep itu.


"Iya, Bu. Terimakasih," balas Pak Asep yang kemudian duduk di sebuah kursi yang terbuat dari anyaman ban bekas.


Pak Asep memindai rumah minimalis yang penataannya rapi tersebut. Tak banyak barang di sana karena memang rumah itu sudah sangat lama tidak ditinggali, tetapi cukup terawat.


Ya, istri Pak Dodi, kakak kandung ayahnya Fatiya yang tinggal persis di sebelah rumah peninggalan ayah Fatiya-lah yang merawat rumah sang adik.


Sementara Bu Saidah langsung masuk ke dalam bersama sang putri.


"Ibu temani Pak Asep dulu saja, Bu. Biar Fafa yang buatkan minum," pinta Fatiya ketika gadis itu melihat sang ibu hendak menyalakan kompor.


"Baiklah, Nak. Kamu suguhkan juga kue yang tadi kita beli di jalan, ya," pesan Bu Saidah.


Fatiya mengangguk. Gadis itu kemudian segera menyalakan kompor dan kemudian memasak air untuk membuat teh untuk sang ibu dan kopi panas untuk Pak Asep.


ā˜•ā˜•ā˜•


Setelah hampir seharian menunggu kabar dari orang-orangnya yang menyisir rumah sakit untuk mencari keberadaan Bu Saidah dan Fatiya, tetapi belum juga ada hasil, Akbar kemudian meminta pada sang papa untuk mengumpulkan keluarga besarnya.


Tepat bakda isya', mereka semua berkumpul di kediaman keluarga Antonio meskipun malam ini bukan akhir pekan.


"Gimana awal mulanya, Bang. Daddy hanya dengar sekilas dari Bang Mirza kemarin," tanya papanya Mirza seraya menatap adik sepupu sang istri.


Terpaksa, Akbar menceritakan dengan jujur awal mula pertemuannya dengan Fatiya, yang ternyata telah memiliki calon suami.


"Wah, harusnya saat itu Bang Akbar langsung saja tikung dia, si calon suaminya Fafa," tutur Om Devan.


"Mirza setuju, sama saran Om Dev!" timpal Mirza.


"Hem, benar itu." Attar pun menyetujui.


"Dev!" seru Papa Alvian seraya menatap tajam sang sahabat. "Malah ngajarin yang enggak bener sama yang muda-muda!" protesnya.


"Tahu tuh, si Devan. Sudah tua juga, kelakuan kayak masih muda saja. Bukannya semakin bijak, malah semakin tidak jelas," timpal Om Alex, yang kemudian terkekeh pelan.

__ADS_1


"Halah, kayak lu bijak saja. Kita 'kan sama, Lex!" Om Devan ikut terkekeh.


Putra-putra mereka yang juga ikut dalam rapat tersebut hanya tersenyum, menyaksikan candaan orang tuanya yang tak pernah berubah dari dulu.


"Sudah, malah bercanda!" Daddy Rehan melirik tajam pada dua sahabatnya tersebut.


"Bang Mirza, Bang Attar, jangan ikuti saran sesat dari Om Devan tadi," tutur sang Daddy pada kedua pemuda tampan tersebut.


"Iya, Dad," balas Mirza dan Attar, kompak.


Daddy Rehan kemudian menatap Akbar. "Kalau menurut daddy ya, Bang. Mungkin Fafa dan ibunya sudah meninggalkan kota ini."


Akbar mengerutkan dahi.


"Apa Kak Didi sama sekali tidak pernah mendengar Fafa menceritakan tentang keluarganya?" tanya Daddy Rehan kemudian.


Akbar menggeleng. "Tidak, Dad. Bahkan Daniel, mantannya Fafa, juga tidak tahu menahu tentang keluarga ayahnya Fafa," balas Akbar, yang sewaktu di rumah sakit sempat ngobrol sama Daniel bersama Angga.


"Menurut lu, gimana, Rey?" tanya Papa Alvian.


"Kita cari tahu di semua akses menuju luar kota, Bang. Stasiun, terminal, bandara mungkin, agen travel, juga pool taksi," saran Daddy Rehan.


Yang lain mengangguk setuju.


"Lex, lu kerahkan orang-orang kita segera!" titah Daddy Rehan.


"Siap," balas Om Alex yang selalu patuh dengan titah Daddy Rehan, meski terkadang dengan menggerutu.


"Bang, kirim foto Fafa ke nomorku, ya. Aku akan coba cari di daerahku, barangkali saja 'kan, dia di sana," pinta Malik, yang malam ini kebetulan sedang berada di Jakarta.


"Oke," balas Akbar singkat.


Suara dering ponsel Akbar, mengalihkan perhatian mereka semua.


"Dari Kak Didi," ucap Akbar memberitahukan pada semua yang tengah menatap Akbar dengan tatapan penuh tanya.


"Halo, Kak," sapa Akbar.


"Bang, besok Fafa harusnya diwisuda. Coba Bang Akbar cari tahu ke kampus, barangkali ada teman Fafa yang tahu atau kalau tidak bisa tanyakan pada bagian administrasi tentang data diri Fafa," terang Diandra panjang lebar dari seberang sana.


Semua yang ikut mendengarkan pembicaraan tersebut karena Akbar mengaktifkan mode š˜­š˜°š˜¢š˜„ š˜“š˜±š˜¦š˜¢š˜¬š˜¦š˜³, mengangguk setuju.

__ADS_1


"Kak Didi benar, semoga ada titik terang," balas Akbar, dengan penuh harap.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ tbc šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_2