
Wanita paruh baya tersebut terus memegangi dadanya yang semakin terasa sesak, sambil melangkah masuk ke dalam.
Baru saja tubuh ibunya Daniel mencapai ruang tengah, tubuh wanita itu ambruk ke lantai yang menimbulkan suara hingga membuat Daniel yang mendengar langsung berlari ke arah sumber suara.
"Mama!" Daniel berteriak kencang memanggil sang mama yang jatuh tak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang, Daniel membopong tubuh sang ibu dan membawanya keluar menuju mobil. "Bibi, buka pintu cepat!" teriak Daniel pada bibi asisten yang langsung mendekat ketika mendengar suara teriakan Daniel.
"Baik, Den." Asisten berusia sekitar empat puluh tahun itu berlari mendahului Daniel dan kemudian membukakan pintu.
"Pak Amir, tolong bantuin Mas Daniel," teriak bibi pada tukang kebun yang sedang memotong rumput.
Sigap, tukang kebun di kediaman keluarga Daniel segera membantu Daniel dan membawa sang majikan ke dalam mobil.
"Bibi ikut ya, pangku kepala mama," pinta Daniel pada asisten rumah tangganya.
Asisten itu hanya bisa mengangguk, mengiyakan permintaan putra sang majikan.
"Pak Amir, tolong jaga rumah," pamit Daniel yang langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
āāā
Sementara itu, Akbar yang sedang mengantarkan Fatiya pulang ke rumahnya, masih terjebak kemacetan lalu lintas.
"Kok lama banget, ya," ucap Fatiya lirih, nampaknya gadis itu mulai kedinginan karena baju dan hijabnya basah terkena air hujan.
"Biasa, Fa. Jakarta di sore hari, semua pada berebut untuk bisa segera sampai di rumah," ucap Akbar sambil menoleh ke arah Fatiya.
Akbar baru menyadari, bahwa gadis yang duduk di sampingnya ternyata kedinginan. Pemuda itu segera membuka jas miliknya dan menyerahkan pada Fatiya.
"Pakai ini, Fa. Untuk mengurangi rasa dingin," pinta Akbar.
"Enggak usah, Mas. Nanti jas Mas Akbar ikutan basah," tolak Fatiya.
__ADS_1
"Kalau enggak mau pakai jas ini, bagaimana kalau aku peluk, biar kamu enggak kedinginan?" Akbar sengaja menggoda agar Fatiya mau menerima jasnya.
Fatiya terdengar bersin-bersin, hidungnya mulai berair. "Maaf, Mas. Fafa membawa virus di mobil Mas Akbar," sesal Fatiya.
Akbar dengan cekatan menyodorkan tissue kepada Fatiya. "Kamu memang sudah membawa virus sejak pertama kali kita bertemu, Fa," ucap Akbar lirih, tapi masih terdengar di telinga Fatiya.
"Maksud Mas Akbar?" tanya Fatiya setelah membersihkan hidung.
"Ya, kamu telah membawa virus cinta dalam hidupku," terang Akbar seraya tersenyum.
Fatiya yang belum bisa menebak kemana arah pembicaraan Akbar, mengerutkan dahi.
Gadis berhijab itu kembali, bersin-bersin.
"Tuh, kan. Kamu kedinginan, Fa. Aku peluk, ya," ulang Akbar seraya memainkan kedua alisnya turun naik.
"Tidak, Mas?" tolak Fatiya tegas. "Fafa pakai jas Mas Akbar saja." Gadis berhijab itu menerima jas milik Akbar dan kemudian segera memakainya.
Akbar merasa lega. "Nah, gitu 'kan hangat," ucap Akbar seraya mengamati tubuh Fatiya yang tenggelam dalam jas tersebut.
Akbar tersenyum melihat pemandangan tersebut, gadis cantik di sampingnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Kok, Mas Akbar malah senyum-senyum." Fatiya menatap Akbar seraya mengerutkan dahi. "Fafa lucu ya, pakai jas ini?" tanyanya kemudian seraya memainkan kancing jas milik Akbar yang dia kenakan.
'Jarimu memainkan kancing itu, tapi kenapa hatiku yang serasa tergelitik dan berbunga-bunga ya, Fa,' bisik Akbar dalam hati. Senyum di wajah Akbar semakin lebar.
"Mas, kok malah bengong," tegur Fatiya yang membuyarkan lamunan Akbar.
"Iya, Fa. Ada apa?" tanya Akbar yang ternyata tidak fokus dengan pertanyaan Fatiya tadi.
"Fafa kelihatan lucu ya, pakai jas kebesaran ini?" ulang Fatiya bertanya.
Akbar mengangguk dan kemudian terkekeh pelan. "Iya, Fa. Kamu lucu, tapi enggak apa-apa, yang penting kamu enggak kedinginan lagi," balas Akbar.
__ADS_1
Fatiya pun ikut tersenyum. 'Kenapa selalu laki-laki ini yang mengerti aku dan bisa membuat aku tersenyum? Kemana Daniel, dia bahkan tidak menjemputku dan juga tidak memberi kabar?' batin Fatiya bertanya.
Mobil Akbar perlahan mulai berjalan, meskipun jalannya tersendat seperti seekor siput.
"Duh, jam berapa ya sampai rumah?" gumam Fatiya bertanya entah dia tujukan pada siapa.
"Kenapa, Fa? Apa ibumu akan mencarimu?" tanya Akbar yang masih bisa mendengar gumaman Fatiya.
Gadis berhijab itu menggeleng. "Tidak, Mas. Tadi, sewaktu menunggu Daniel lama, Fafa sudah telepon ibu kalau Fafa pulang terlambat," balas Fatiya.
"Fafa hanya khawatir, waktu maghrib tiba kita masih di jalan," lanjutnya seraya melihat jam di pergelangan tangan.
"Kita bisa cari masjid terdekat, Fa," ucap Akbar.
"Masalahnya, baju Fafa basah, Mas."
"Oh iya, ya," Akbar menepuk jidatnya sendiri karena melupakan kondisi Fatiya yang basah dan kedinginan.
"Kalau begitu, kita mampir di toko baju dulu, ya," ucap Akbar yang langsung keluar dari jalur kemacetan dan berbelok ke arah pertokoan di sepanjang kiri jalan tanpa menunggu persetujuan Fatiya.
"Mas enggak usah, Mas," tolak Fatiya, tetapi Akbar telah menepikan mobil dan memarkirkan di depan sebuah toko busana.
Mamang bukan toko pakaian branded yang biasa Akbar kunjungi, tetapi sepertinya toko tersebut cukup lengkap dan pakaian yang dijual juga cukup bermerk.
'Tak mengapa beli baju di toko ini, yang penting Fafa bisa mendapatkan baju ganti,' gumam Akbar ketika memutuskan untuk berhenti di depan toko.
"Ayo, turun!" ajak Akbar seraya membukakan pintu untuk Fatiya.
Gadis berhijab itu nampak ragu.
"Kalau enggak mau turun sendiri berarti minta di gendong," ucap Akbar, yang langsung membuat Fatiya turun dari mobil.
"Ish, Mas Akbar sukanya ngancam!" protes Fatiya sambil melangkah memasuki toko, mengikuti langkah Akbar.
__ADS_1
"Bang Akbar! Sudah punya gandengan seperti truk, kok diam saja?" Suara dari dalam toko pakaian tersebut, membuat Akbar seperti tercyduk.
ššššš tbc ššššš