
Akbar tersadar dari lamunan dan kemudian tersenyum manis pada Fatiya. "Kamu seperti ibu peri, Fa. Ibu peri penyembuh luka," gumam Akbar yang masih dapat didengar oleh gadis cantik itu.
Fatiya mengerutkan dahi, tapi Akbar mengabaikannya.
"Ayo, berangkat sekarang!" ajak Akbar.
"Mari, Bu," ajaknya kemudian dengan sopan, pada ibunya Fatiya.
Mobil yang dikendarai Akbar segera melaju menuju kediaman Malik. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, mereka telah tiba di rumah megah bak istana tersebut.
"Mau aku gendong?" tawar Akbar yang melihat Fatiya berjalan dengan sedikit kesulitan menaiki anak tangga menuju teras kediaman Malik.
Gadis cantik itu menggeleng tegas. "Enggak, ah! Malu dilihatin orang," balas Fatiya.
Memasuki ruang tengah, Fatiya dibuat terkejut dengan dekorasi ruangan yang seperti sebuah taman di kerajaan dalam negeri dongeng.
"Lha ini, putri Cinderella yang ditunggu-tunggu sudah datang," sambut Tasya selaku MC pada acara spesial untuk Fatiya tersebut.
Ya, dengan gaun indah yang dipakainya, Fatiya bak putri dari Kerajaan di negeri dongeng. Gaun indah yang dipesan Mama Susan atas permintaan Akbar yang ingin memberikan kejutan spesial di hari ulang tahun Fatiya.
Fatiya tersenyum tersipu malu.
Akbar kemudian membawa Fatiya menuju ke tengah ruangan diantara keluarganya, sementara Bu Saidah dituntun oleh Tasya bergabung bersama para mama.
"Sesuai janji Fafa kemarin, bahwa hari ini dia akan memberikan jawaban atas lamaran Bang Akbar, maka saya persilahkan pada Bang Akbar untuk mengutarakan kembali niatnya melamar Fatiya." Tasya memberikan mike yang sedari tadi dia pegang, kepada Akbar.
"Fa, nanti bisa langsung kamu jawab, ya," bisik Tasya.
Gadis itu terlihat gugup. "Kak, apa harus pakai pengeras suara?" tanya Fatiya yang merasa malu, berada diantara keluarga besar Akbar.
"Iya, Fa. Kalau enggk pakai, nanti yang lain enggak dengar. Kamu lihat 'kan, anak-anak itu. Mereka tuh, berisik," balas Tasya sambil menunjuk ke arah adik-adik dan keponakan yang bercanda sendiri-sendiri.
Sebelum Akbar mulai bicara, Fatiya membaca basmallah dalam hati, dia kemudian menatap sang ibu.
Bu Saidah mengangguk, mengisyaratkan bahwa apapun keputusan Fatiya, mereka semua pasti akan bisa terima.
Fatiya kemudian berbisik pada Akbar, yang berdiri di sampingnya. "Mas, maaf sebelumnya. Apa Mas Akbar benar akan menerima apapun jawaban Fafa, nanti?" tanya Fatiya memastikan.
Akbar mengangguk pasti. "InsyaAllah, Fa. Aku ikhlas, apapun itu," balas Akbar sungguh-sungguh.
Fatiya mengangguk. "Silahkan, Mas."
__ADS_1
Akbar menatap dalam manik hitam Fatiya. "Fa, mungkin kamu sudah bosan mendengar kata cinta dariku, tapi aku takkan pernah bosan untuk mengatakannya. Aku mencintaimu, Fatiya Khumaira. Bersediakah kamu menjadi istriku?"
Hening, sejenak menyapa ruangan yang sangat luas tersebut.
"InsyaAllah, Mas. Bismillah, Fafa mau menjadi istri Mas Akbar," balas Fatiya dengan suara bergetar, gadis itu tak mampu membendung air mata yang menyeruak begitu saja dari kedua sudut netra dan membasahi pipi mulusnya.
Akbar meraih tangan Fatiya dan kemudian menggenggamnya erat.
"Jangan menangis, aku ingin kamu selalu tersenyum," bisik Akbar yang semakin membuat Fatiya tergugu.
Akbar merengkuh tubuh Fatiya dan kemudian memeluknya erat.
Fatiya yang masih menangis dalam dekapan Akbar tak menyadari ketika lampu utama dimatikan dan berganti dengan lilin-lilin kecil yang menyala, disekitar mereka berdua.
Gadis itu hanya mendengar lirih instrumen musik yang semakin lama semakin terdengar jelas.
Alunan suara musik dari sebuah lagu yang sangat familiar, membuat Fatiya melepaskan diri dari pelukan Akbar, bersamaan dengan semua orang yang kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
'Selamat ulang tahun ku ucapkan
Sambutlah hari indah bahagia
Selamat ulang tahun untuk kamu
Terimalah kadoku buat kamu
Yang kupersembahkan lewat lagu ku ini'
Fatiya tak mampu berkata-kata, air matanya terus mengucur deras.
Akbar tiba-tiba berlutut di hadapan Fatiya. Pemuda itu mengeluarkan sebuah kotak cincin yang terbuat dari bahan terbaik.
Akbar membukanya, mengambil cincin berlian yang berkilauan di tengah keremangan cahaya.
"Ini cincin pertunangan kita, Sayang. Maaf ya, untuk kadonya kita beli nanti," ucap Akbar seraya menyematkan cincin tersebut ke jari manis Fatiya.
Fatiya menggeleng, masih dengan bercucuran air mata. "Fafa enggak perlu kado apa-apa lagi, Mas. Ini semua adalah kado terindah bagi Fafa," ucapnya seraya mengulurkan tangan agar Akbar berdiri.
Fatiya kembali masuk ke dalam dekapan Akbar. "Selamat ulang tahun, Sayang. Aku akan selalu merayakan ulang tahunmu di setiap tahunnya," bisik Akbar dengan lembut, membuat gadis cantik itu semakin mengeratkan pelukan.
"Ehm ...." Suara dehaman pakdhenya Akbar mengurai pelukan kedua muda-mudi tersebut. Bersamaan dengan lampu yang kembali menyala dan suara musik yang berakhir
__ADS_1
"Kalau sudah peluk-peluk terus seperti itu, lebih baik segera dihalalkan," tutur Pakdhe Ilyas seraya menatap Akbar dan Fatiya bergantian.
"Bukankah begitu, Bu?" tanya orang tua itu kemudian, seraya menatap Bu Saidah.
Bu Saidah mengangguk, setuju.
"Bagaimana, Nak Akbar, Nak Fafa?" tanya kakak ipar Papa Alvian, pada pasangan yang sedang berbunga-bunga itu.
Keduanya saling pandang dan sedetik kemudian, mengangguk bersama.
"Alhamdulillah ...." S E L E S A I
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Selamat Ulang tahun Fafa... 020223 - 020202
Dan ... Selamat Menempuh Hidup Baru, entah kapan?
Gak usah diundang, aku gak bakalan datang π
Terimakasih untuk semuanya .... πππ€π
Pemenang GA Aqidah Cinta yang sudah aku umumkan dan sudah mendapatkan haknya baru satu orang, yah...
Dan, aku sudah mengumumkan tambahan aturan GA-nya di GC, sbb :
Dan, yang mendapatkan GA, sesuai gambar, yah ππ₯°
Buat Mak Devi, buruan konfirmasi di WA, yah... klo enggak segera chat, hangus semangatπ₯π₯ ππ
Jangan lupa, mampir ke novel baruku yang rilis kemarin dan hari ini π
Yang aku kasih lingkaran sama kotak orange, jangan lupa diisi, yah π₯° subscribe dan bintang β lima.
__ADS_1
Terimakasih πππππππ